Cinta Klasik Pemuda Desa

Cinta Klasik Pemuda Desa
Rintik Hujan Pagi


__ADS_3

Ayah kukirimkan doa


Semoga engkau tenang di alam surga


Ayah kan kuingat selalu


Pengorbanan yang telah engkau berikan


Ayah terlalu cepat kau pergi


Meninggalkan aku sendiri


Ayah tak bisa aku ingkari


Tanpa engkau hidupku terasa sunyi


" Hiks .... Hiks ... Hiks," tangis Flo sudah meliputi setiap detik menit bahkan jam.


Menangislah sayang. Setelahnya berbahagialah.


Dua orang yang ku sayangi


untukmu papi dan mami


meski saat ini Raga kalian tak bersamaku


Tapi kenangan kalian Kan bersamaku


Meski hati ini pilu


Ku berharap papi dan mami bahagia


Tak adil itu bagiku


Tapi bagi Allah pasti yang terbaik.


" Sayang ... Kita pulang! Semua orang sudah pulang," ucap Atha.


Pagi ini Flo benar - benar kehilangan raga papinya dalsm bentuk realita. Tak akan ada senyumannya lagi, tawa bahkan kerinduan flo akan sangat mendalam.

__ADS_1


" Pi ... Tidak bisakah ini mimpi saja! Flo tidak siap," tangisnya lagi.


" Sayang .... Ujian datang untuk menguatkanmu. Kita terima semuanya dengan ikhlas. Mas tahu kamu kecewa pada takdir ini," ucap Atha.


" Mas ... Flo sakit sekali tidak bisa melihat ini semua terjadi pada papi," tangisnya di dekat pusara papi.


Saat Atha sibuk menenangkan istrinya. Suara paman Rahman menghampiri mereka.


" Flo ... !" serunya. Flo menatap sendu ke arah paman Rahman.


" Paman ... Tidak bisakah kau melihat betapa papi sangat menyayangimu dan keluargamu. Bahkan di saat terakhirnya papi minta agar aku memaafkan kalian. Bukan tentang itu paman .... Tapi karena hal ini aku tidak bisa melihat papiku lagi dan mama serta adik-adikku bahkan papi tidak bisa melihat kesuksesan mereka. Aku menyesal sudah melibatkan papi dalam masalahku, Hiks ... " tangis Flo tak terelakkan lagi. Rahman pun terpukul di saat terakhirnya Daniah tak mengizinkannya datang ke rumah sakit.


" Flo .... Aku ada Daniah yang harus aku jaga perasaannya. Paman sayang pada kalian tapi permasalahan ini membuat paman gila mencari jalan keluar," jawabnya dengan kesal pada diri sindiri.


" Jika paman gila. Lalu? Papiku ... Bahkan dia sudah tidak ada di antara kita lagi paman. Dia peegi hanya untuk kebahagiaan semua orang! Maafkan aku jika besok paman menyesali sesuatu," jawab Flo kemudian beranjak pergi dari sana. Rahman menatap nanar punggung putri sahabatnya itu. Kemudian matanya tertuju pada nisan di bawahnya.


Jika ini hukuman bagimu karena telah membentak putrimu maka jangan lakukan Rangga. Aku tahu meskipun kalian orang berada tak sekali pun kamu merasa hebat. Bahkan kamu adalah orang yang welcome pada siapapun. Kenapa kamu pergi secepat ini. Jelaskan dulu padaku apa yang terjadi. Sumpah demi apapun akan aku abdikan diriku pada putri dan keluargamu jika Daniah yang bersalah. Maaf teman ... Berbahagialah di sana.


Di rumah Atha ...


Ketiga bayi mungil itu saling sahut menyahut menangis bagaikan paham akan keadaan yang sedang terjadi saat ini. Flo masih nampak terpukul dengan kematian sang papi.


Kata - kata itu terus terngiang - ngiang di telinga dan benaknya. Flo masih berdiam diri di ruang santai. Dia teringat papi datang dengan senyuman ke rumah ini.


Sayang.


" Papi ... " lirihnya.


" Maaf ... Nyonya mengganggu! Tas ini adalah titipan bapak tadi yang datang kemari. Mau saya berikan pada Tuan beliau sedang sholat," ucap sang bibi.


" Terima kasih mbok ... " jawabnya sambil menatap tas itu. Flo kemudian mengecek isi tasnya.


Dia mendapati barang - barang papinya mulai dari ponsel hingga memory kecil. Flo memutarnya dan saat menontonnya degup jantungnya berpaci dengan cepat. Lelehan air matanya mengalir dengan derasnya.


Allahu akbar.


Tidakkah seharusnya aku bersyukur? Haruskan aku marah pada takdirku? Kejam. Rasanya menyedihkan sekali. Papi pergi setelah menemukan semua buktinya. Kebahagiaan apa ini??


" Sayang ... Masih sedihnya? Istighfarlah .... Yakinlah ini yang terbaik untuk papi. Tidak ada yang bisa lari dari takdir-Nya," ucap sang suami yang nampak sedih. Flo hanya menunjukkan sesuatu.

__ADS_1


Pupil mata suami Flo itu menegang melihat adegan dirinya yang di kuasai oleh Daniah. Mereka memang tak melakukan apapun tapi Atha di telanjangi oleh Dannis di dekat Daniah. Lututnya terasa kebas dan lemas. Mertuanya menemukan bukti terbaik itu yang bisa membebaskan dia dari segala tuduhan.


" Dannis .... " lirih Atha tak percaya.


" Dia harus bertanggung jawab ... " jawab Flo kemudian mengambil ponselnya.


Tut.


Ponsel seluler terhubung. Nampak di seberang jalan Dannis tersenyum ketika mendapati nama Flo tertera. Dia yakin semuanya akan terbongkar dengan sendirinya.


" Sudah rindu padaku Flo?" tanyanya tanpa beban.


" Sudah puas membuat papiku hilang dari dunia ini," ucap Flo penuh dengan penekanan.


" Salahkan Daniah! Aku hanya laki-laki yang kehilangan arah. Aku hanya berlaku sesuai kewajaran," jawab Dannis terdengar gila bagi Flo.


" Wajar bagimu????!!!! Laki-laki tak berperasaan," marah flo. Dannis pun tertawa sumbang kala ini.


" Bahkan Papimu lebih kejam dariku Flo. Dia begitu membenciku sehingga memisahkan kita. Karena egonya yang ingin menyatukanmu dengan Atha," jawab Dannis Sinis.


" Itu Haknya Dannis. Dia papiku dan aku putrinya!" seru Flo.


" Maka ini hakku jika membantu Daniah," jawabnya setenang Danau di malam hari yang tanpa beban sama sekali.


" Kau ... Berubah Dannis," lirih Flo.


" Aku tidak berubah Flo. Jika aku tidak mencintaimu maka akan ku biarkan suamimu menjamah Daniah malam itu. Tapi karena aku sangat mencintaimu maka aku ikut menjaga kehormatan suamimu meskipun aku sudah membuatnya dalam masalah," jawabnya.


" Apapun itu kau sudah membuat permasalahan ini tambah rumit," jawab Flo lagi.


"Aku tahu ... Jadi biarkan saja aku menerima hukumannya. Di dunia ini sudah tidak ada yang membuatku tertarik. Aku sudah kehilamgan arah saat kau memilih Atha sebagai suamimu. Tapi aku berjanji akan menjaga hubungan kalian sebisa-ku. Maaf jika takdir malah membuat jalanmu semakin gelap karena kehilangan om Rangga. Itu bukanlah skenario-ku," jawab Dannis.


Flo mematikannya tanpa banyak bicara lagi. Dia kembali menangis mendengar penuturan pemuda yang pernah menjadi kekasihnya itu. Atha yang mengamati saat ini sudah memeluk istrinya.


" Seharusnya ... Kamu tidak memiliku mas. Mereka berdua gila!" tangis Flo.


" Tidak sayang ... Papi memberikan hadiah terindahnya sebelum meninggalkan dunia ini. Kamu adalah perempuan yang sangat baik. Papi begitu memberikan kepercayaan terpentingnya padaku. Aku akan selalu membahagiakanmu. Ku mohon bersabarlah atas ujian ini," tangis Atha. Saat ini cintanya pada sang istri kian bertambah karena dia melihat bagaimana dia berusaha mempertahankan rumah tangganya di kala istrinya itu mengasuh tiga buah hatinya sekaligus. Atha menghujani banyak kecupan sayang pada perempuan surganya itu.


Papi thank's. Atha akan menjaga putrimu sebaik engkau menjaganya. Semoga Allah memberikan tempat terbaik bagimu di sisi-Nya. Atha akan memberikan yang terbaik untuk kedua putra putrimu yang lain. Tak akan Atha biarkan mereka kehilangan sosok papinya terlalu lama. Tenanglah saat menghadap sang Khalik Pi. Biarlah kami yang masih hidup mengurus perihal di dunia Fana ini.

__ADS_1


Bawangggg lagiiiii. Janga lupa likeeeee, hadiah, voteeeeee.nya. Bahagia-in aku dongggg. Kasih bom likeee biar karyanya makin baik. Makasiiihhhhh ya!!!!


__ADS_2