
Di tengah kebingungan Rangga sebagai seorang ayah dan seorang sahabat. Dia harus mengambil tindakan yang bijak agar tidak menyakiti siapapun. Dia sayang pada putrinya tapi mas rahman juga orang baik dalam kehidupannya. Saat Rangga sibuk melamunkan hal - hal itu dengan menyetir mobil tiba - tiba saja ada mobil arah berlawanan nampak cepat namun sedikit oleng. Dia sudah membunyikan klakson tapi rangga nampak tidak fokus.
Ciiiiiìiiit. Duuuuuuaaaaarrrrrrrr.
Kecelakaan itu tidak terelakkan lagi. Rangga mengalami sebuah kecelakaan yang tak bisa di hindari. Pikirannya kemana-mana. Meski saat menyetir mobil pun dia tidak fokus.
" Cepatlah! Tolong dia kasihan!!!" rangga masih mendengar lalu lalang orang - orang yang memghampirinya.
" F ... Flo ... Se ... mua .. " Rangga mengatakannya dengan sangat lirih dan terbata. Di saat seperti ini dia masih memikirkan putrinya bersama mendiang Rubi.
" Cepat sedikit !!!!" teriak seseorang di sana.
Saat semua bergegas mengantar Rangga ke rumah sakit. Semua barang yang mereka temukan di dalam mobil langsung di amankan. Ponsel rangga yang tidak terkunci membuat warga bisa menghubungi salah seorang di sana. Mereka yanh mendengar nama Flo segera mencari pada ponselnya dan segera menelpon.
" Iya ... Pi. Ada apa?" suara Flo yang terdengar serak.
" Maaf mbak ... Papi anda sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Mobilnya mengalami kecelakaan. Kami akan segera mengirimkan alamatnya," jawabnya membuat Flo menjatuhkan ponselnya.
" Pi ... ? Ada apa? Kenapa bisa?" tangisnya bimbang. Atha yang baru saja masuk kamar jadi di buat bingung.
" Ada apa sayang??" namun pertanyaan Atha tak di gubris oleh Flo. Dia langsung menarik Atha keluar dari ndalem untuk keluar segera. Atha di buat tak paham. Namun saat di depan ndalem ...
" Papi kecelakaan mas! Antarkan aku ... " tangis Flo. Atha mengangguk dan segera meminta flo masuk mobil. Atha pun ikut bergegas sekaligus cemas. Pasalnya baru tadi siang papi pamitan pulang tapi malam ini kabar buruk itu datang di saat tidak tepat bagi insan yang melihat.
Atha nampak menggenggam tangan istrinya dengan mesra sekali. Flo tak hentinya menangis. Atha hanya mengingatkan untuk istighfar dan berdoa.
" Sayang ... Istighfar dan berdoalah! Doakan yang terbaik untuk papi," ucap Atha. Flo memeluk satu lengan Atha. Dia sungguh merasa terpuruk kali ini. Sulit baginya jika melihat sesuatu terjadi pada papinya. Dia merasa tak memiliki siapapun kecuali papi. Mama memang baik sekali. Tapi semenjak Flo tahu jika Mama bukanlah mama kamdungnya ada sedikit jarak dalam hati Flo. Dia kecewa karena bukanlah putri kandung mama. Bukan karena dia benci pada mama.
Sesampainya di rumah sakit ...
Flo berlarian menghambur ke ruang IGD. Di sana banyak warga yang membantu masih di sana. Mereka memandang Flo dengan sedih. Mereka nampak terkejut karena melihat putra Kyai Izdi berada di belakangnya.
__ADS_1
" Gus ... ?!" tanya salah seorang dengan bingung.
" Bagaimana papi mertua saya?" tanya Atha pada salah satu santrinya saat mondok dulu.
" Beliau kritis gus ... " jawabnya.
Flo langsung terduduk lemas. Tak ada tenaga lagi baginya untuk kembali berdiri. Papi yang selama ini merawat dan menyayangi serta menjaganya dengan baik saat ini sesang lemah tak berdaya. Atha segera menopang istrinya.
" Sayang ... " lirih Atha.
" Tidak boleh mas ... Flo tidak punya siapa - siapa! Mas tolong papi!" tangis flo pecah. Atha memeluknya. Dia bisa apa saat ini. Hanya doa yang dapat dia panjatkan untuk sang mertua.
Nampak dari kejauhan mama Flo dan adik-adiknya berlari menghampiri. Flo sudah tidak bisa fokus pada siapapun saat ini. Dia merasa bukan siapa - siapa tanpa ayah. Dia sudah tak menangis namuj dia diam saja. Abi dan Ummi juga ikut hadir di rumah sakit.
Allahu akbar. Rangga ada apa? Kamu lihai mengendarai mobil apa yang sebenarnya terjadi?
Izdi nampak lesu menatap keadaan sahabatnya yang kritis. Dia menatap anak dan menantunya serta menatap istri Rangga. Dia terpukul saat melihat ini semua. Dia berharap rangga masih bisa di berikan kesempatan bersama keluarganya lagi.
" Ada yang bernama Flo? Pasien memanggil," ucap dokter. Flo mengangguk dan berdiri. Dia berjalan dengan langkah gontai menuju ruangan itu. Dia menatap sekeliling. Dimana ruangan ini begitu menakutkan baginya. Dia takut kehilangan orang yang dia sayangi.
" pi ... Kenapa? Apa yang papi lakukan sampai terjadi hal ini," flo mati -matian menahan air matanya.
" Sayangku ... Papi sangat mencintaimu nak. Apapun akan papi lakukan untuk membantumu," lirih papi rangga yang hampir tak terdengar.
" Tidak ... Pi. Sembuhlah dulu jangan membuat Flo takut," jawab Flo sambil menggeleng.
" Nak di ponsel papi ada bukti bahwa suamimu tidak melakukan apapun pada Daniah. Berbahagialah kalian ... Papi bangga pada Atha. Dia mampu bertaham dalam keadaan itu, uhuuukk ... " jawab Rangga sampai terbatuk. Kini tangis Flo jadi pecah. Dia yakin papinya ini mencari bukti itu sendiri. Flo meneteskan air matanya dengan deras. Jika masalahnya selesai tapi bukan berarti dia harus mendapatkan ujian berat lainnya lagi.
Ya Allah ... Jangan! Flo mohon sembuhkanlah papi. Dia orang baik ... Dia masih harus membahagiakan 3 orang lagi .
" Flo ... Berjanjilah apapun yang papi alami bahagialah. Maafkanlah paman Rahman dan Daniah," ucap papi tertatih. Flo menangis di buatnya. Flo benar - benar tak sanggup berada di ruangan yang tercium aroma disenfektan ini. Sungguh membuatnya ingin marah.
__ADS_1
Bahkan di saat seperti ini papi masih memikirkan mereka. Aku kah yang sebenarnya jahat? Pi .... Sembuhlah! Please ... Jangan siksa Flo seperti ini.
" Nak ... Berjanjilah!" seru rangga dengan nada lemah.
Deg.
Ini kali pertama papi memanggilnya lembut sekali. Bolehkah flo memikirkan kembali ke masa lalunya. Dia ingin bersama papi saja. Rasanya dia terlalu cepat memilih menikah.
" Pi ... Floo janji .. Tapi papi janji harus sehat lagi," pinta Flo. Rangga hanya tersenyum.
" Bolehkah papi bertemu dengan Abi izdi-mu sayang?" tanya Rangga. Flo mengangguk cepat.
" Terima kasih ... " jawabnya lirih. Flo keluar dan memanggil Abi. Izdi melangkah gontai. Ini kali kedua ia merasa seperti akan kehilangan Rangga. Saat izdi masuk rangga tersenyum lebar seperti tak sakit.
" Apakah kamu bosan bertemu denganku hah? Kenapa memilih menabrakkan mobilnya? Sungguh menyebalkan membuatkan kaget setengah mati," omel izdi sambil memegang lengan sehabatnya.
" Iz ... Bolehkah aku menitipkan keluargaku padamu? Aku tak bisa mengatakan pada putriku bahwa dadaku terasa sesak sekali dia terus menangis," canda Rangga pada sahabatnya.
" Maka aku akan menangis supaya kamu tidak bercerita padaku," jawab izdi yang ikut kesal dengan keadaan ini.
" Iz ... Aku sedang tidak bercanda! Ku mohon jagalah mereka meskipun dari kejauhan. Kau tahu bagaimana perjuanganku selama ini menjadi orang baik," jawabnya lirih sekali.
" Lalu? Apakah kamu siap bertemu malaikat?" tanya izdi nampak agak bercanda.
" Jika mereka sudah muncul bagaimana mungkin aku mengusirnya. Semoga saja ... Aku tidak di cambuk," jawabnya nyengir di saat dadanya berasa memanas.
" Sahabat sialan! Bisa-bisanya membebaniku sebanyak itu," jawab izdi.
" Please ... Aku takut tak bisa bersama mereka. Jika aku sembuh maka aku yang akan menjaga mereka sendiri," kali ini sudut mata Rangga sudah menitikkan air mata.
" Baiklah ... Tapi berusahalah sembuh sahabatku. Mereka semua menunggumu!" pinta izdi. Rangga mengangguk.
__ADS_1
Aku harap semuanya akan berjalan normal. Tidak masalah bagiku jika harus berkorban nyawa asalkan ke depan anak cucuku bahagia. Tidak akan sia -sia pengorbananku untuk mereka. Aku bahagia bisa berada di antara kalian. Berbahagialah flo - Atha pasti papi akan merindukan kebersamaan kita. Pasti rindu.
Likeeeeeee ya sayangkuuuu. Makasihhh.