Cinta Klasik Pemuda Desa

Cinta Klasik Pemuda Desa
Terpuruknya kedua putra Ummi


__ADS_3

" Zay ... Aku harus pulang lebih awal. Ku mohon kondisikan kelompok kita!" pinta Atha. Zay mengangguk mengiyakan permintaan ketua kelompok study bandingnya ini.


" Baiklah ... Hati-hati di jalan. Semoga lekas sehat kembali," jawab Zay khawatir melihat muka pucat Atha. Atha hanya mengulas sedikit senyum pada Zay.


Maafkan aku Zay! Ini aib yang tak bisa ku ceritakan pada siapapun. Saat ini aku butuh waktu untuk menyelesaikan hal besar dalam hidupku. Bagaimana bisa aku melakukan dosa besar di saat aku sudah memiliki anak-anak. Ya Allah ... Astagfirullah. Batinnya.


Sepanjang perjalanan Atha memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi. Dia tak bisa mengingat semuanya dengan jelas. Tapi tanda merah di ranjang itu bahwa dia telah melakukan dosa besar dengan menjamah seseorang tanpa ikatan apapun. Dia memang meremang semalam dan tergoda akan kemolekan tubuh Daniah yang lagi-lagi terpampang jelas di matanya. Namun dia lupa bagaimana dirinya menikmatinya. Di gamang telah melakukannya namun ada buktinya.


" Tha ... Bagaimana denganku???!" seru Daniah dengan wajah memelas. Tatapan Atha begitu menusuk jantung.


" Biarkan aku berfikir sejenak. Hatiku tak mungkin mengkhianati Umma dari putra-putraku. Dia begitu berarti dalam hidupku bahkan aku tak bermimpi sekali pun untuk menyakitinya. Haram bagiku membuatnya kembali menangis," ucap Atha tegas dan lugas.


" Tapi kamu sudah melakukannya!" seru Daniah mengingatkan kembali dengan lantang.


" Aku akan butuh waktu. Jangan mendesak apapun dariku. Kamu bahkan ingat aku menolak dan menanyakan kenapa aku di bawa ke tempatmu ini! Aku ingat betul kamu menjawabnya apa. Permisi! Kita bicarakan kembali jika aku sudah menemukan jawabannya. Assalamualaikum," ucap Atha melenggangkan pergi Daniah di sana sendirian.


Maaf Daniah bukan maksudku menyakitimu namun aku tidak siap menyakiti istri yang aku cintai. Dia sudah sempurna bagiku dia sudah menjadi tujuan terakhirku. Tidak mungkin aku yang akan menyebabkannya kembali menangis. Aku sudah berjanji akan membahagiakannya. Aku ambil alih kebahagiaan yang di berikan papinya padaku. Maaf biarkan aku berpikir sejenak untuk kesalahan besar yang kulakukan. Aku tidak akan lari dari sebuah kenyataan.


Sejenak Atha mengingat sekilas kejadian tadi pagi. Dimana dia meninggalkan daniah sendiri di penginapannya. Hatinya sakit dan noda darah itu terngiang -ngiang dan menari-nari di otaknya mengejek tanpa hentinya. Atha menangisi hidupnya dadanya sesak seakan berharap Dunia runtuh saat ini saja. Dia tiba-tiba takut kehilang ke empat orang yang dia sayangi.


Setengah hari sudah dia menempuh perjalanan ke pesantren dimana rumah itu membesarkannya. Sesampainya di sana dia melihat dan mendengar jika Adzkan sang kakak meminta untuk menikah lagi kepada umminya. Nampak ummi syok. Atha berdiam diri memilih bersembunyi di belakang tembok sambil memegang dadanya.


Ya Allah ... Maafkan kami Ummi sudah menjadi anak tidak baik. Ummi mungkin trauma dengan poligami itu tapi kami tidak tahu kenapa harus terjebak dalam masalah ini. Batinnya sendu.

__ADS_1


" Gus ... Kok tidak masuk!" sapa mang ujang. Sopir Abi.


" Sebentar lagi mang Ummi sedang menasehati bang Adzkan," jawabnya sambil menatap mang ujang yang kini menemaninya.


" Saya temani gus?" tanyanya sopan.


" Boleh mang di gardu sana saja!" ajak Atha dan mang ujang mengangguk.


Mereka pun menuju gardu dimana tadi Atha sudah menunjuknya. Sesari tadi mang ujang memperhatikan putra kyainya itu. Gus Atha nampak bersedih. Mang ujang yang pernah merawatnya sedari kecil memberanikan diri untuk bertanya.


" Punten gus ... Ada masalah apa? Kenapa gus nampak risau?" tanya mang ujang. Bukan mang ujang jika tak memahami Atha. Mang ujang seperti ayah kedua bagi Atha. Beliau selalu merasakan apa yang Atha rasa. Mungkin telepati antar mereka berdua sangat baik sebab mang ujang sudah merawatnya bertahun-tahun. Atha memeluk mang ujang sambil menangis.


" Mang ... Saya sudah melakukan dosa besar!! Bagaimana saya menghadapi abi, ummi dan istri jika mereka sampai tahu mang. Sumpah kang demi Allah Atha tidak sengaja melakukannya. Ya Allah bagaimana dosa itu menghampiri Atha. Atha mersa sudah menunaikan kewajiban dengan benar kenapa dosa sebesar sini bisa Atha lakukan mang," tangisnya. Mang ujang mengelus punggunh Atha yang berada di hadapannya. Atha menangis sesunggukan di dalam pelukan mang ujang.


" Istighfar gus ... Ujian datang untuk mengingatkan kita untuk membuat kita semakin dekat dengan gusti Allah. Tidak ada dosa yang tidak di ampuni jika kita bersungguh - sungguh gus. Sampun nangis gus ... Jangan terlalu lama itu Abi sudah melihat ke arah sini. Monggo gus bisa ke Abi!" seru mang ujang. Atha mengusap air matanya dan menatap sendu ke arah mang ujang yang kini memberikan senyum terbaiknya. Mang ujang mengangguk.


Kakinya terasa keluh. Air matanya bak hujan yang kian deras. Namun dia mencoba bertahan dalam keadaan ini. Dia langkahkan mendekati Abi dan mengucap salam.


" Assalamualaikum bi ... " sapanya dengan wajah yang sudah kehilangan aura tampan dan tegas karena air mata jatuh tidak pada posisinya.


" Waalaikumsalam ... Masuklah ke kamar Abi. Biar abi memerintahkan ketua pengurua untuk menghandle jadwal abi," jawab Abinya paham. Atha hanya mengangguk dan masuk.


Atha tidak pernah sekalipun bercerita tentang hatinya pada sang abi. Hanya saja sebelum pernikahan di gelar. Abi pernah mengatakan jika memiliki masalah pelik dalam pernikahannya abi pinta agar datang padanya jika sudah sangat tak bisa di selesaikan.

__ADS_1


" Le! Imami sholat maghrib dan jelaskan halaman 25 di kitab Ta'limul muta'allim. Saya sedang ada keperluan," ujar Abi pada ketua pengurus.


" Nggeh kyai ... " jawabnya langsung pergi undue diri tanpa membantah sekalipun.


Abinya pun melangkah masuk tanpa ragu. Dia menutup pintu dan mengajak putranya sholat dulu sebelum berkisah. Sedangkan ummi aedang berada bersama putra sulungnya.


Di Ndalem tengah ...


" Salah apa toh nak ummi! Bisa-bisanya kamu hendak poligami. Jangan pernah menyerah tentang keturunan. Jangan tergesa-gesa menikah adzkan. Jalani pernikahan dengan santai bak sungai mengalir. Jangan berkata ingin menikah lagi. Jika kamu memaksa maka berikan alasan dimana ummi tidak bisa menolak permintaanmu lagi," ucap sang Ummi dengan tegas namun sedih. Adzkan yang sedari tadi diam kini menatap sang ummi dengan sedih dan tidak tega.


" Ummi sudah hampir 2 tahun belakangan kami menikah dengan harapa menjadi keluarga bahagia sesuai tuntunan agama islam. Adzkan sudah berusaha menerima Zahra dengan hati terdalam. Namun adzkan tidak bisa menyentuh perempuan halal bagi adzkan namun dia masih memikirkan orang lain saat bersama adzkan ummi. Maaf ... Maaf ... Adzkan harus mengatakannya ummi," jawab adzkan jujur.


" Adzkan ... Jangan katakan kamu tidak menyentuh Zahra sama sekali???" tanya ummi penasaran dan menatap tajam putra sulungnya itu.


" Maaf ummi ... Adzkan tidak bisa melakukannya! Dia begitu mencintai Atha hingga detik ini. Adzkan tidak bisa menyetubuinya hanya karena nafsu semata ummi. Maka dari itu biarkan menikah kembali mencari perempuan yang siap menikah dengan adzkan dan siap memberi cucu dan generasi penerus pesantren ini.


" Adzkan ... Astagfirullahal adzim. Laa haula wala quwwata illah billah ... Ampunilah anakku ya Allah," lirih Ummi nampak sedih.


" Maaf mi .... " lirih Adzkan tanpa berani menatap umminya lagi.


" Bawalah calonmu kemari ke sini! Atau kita yang ke rumahnya adzkan. Clearkan semuanya paham?? Bagaimana dengan Zahra?" tanya ummi menatap putranya.


" Dia menyerahkan semuanya pada adzkan ummi. Asalkan tidak akan menceraikannya karena itu adalah keburukan bagi keluarganya," jawabnya dengan tegas. Ummi menghela nafas berat. Beban pikirannya kian tambah dengan adzkan mengatakan hal itu.

__ADS_1


" Pertemukan kami adzkan. Calon Istri keduamu!" pinta ummi pada akhirnya.


Likeeeeeeee.


__ADS_2