
"Aku bisa bayangkan betapa sakitnya hatimu saat itu," ucap Ricky.
"Tapi semua ini sudah berlalu, aku juga tidak ingin mengingatnya lagi. karena cinta yang tak terbalas sangat menyakitkan," ujar Valencia.
"Valencia, aku berjanji padamu. kita akan saling mencintai selamanya. walau kamu bukan cinta pertamaku tapi kau adalah cintaku yang terakhir. selamanya tidak akan ada yang bisa merusak hubungan kita," kata Ricky yang mencium bibir Valencia.
Valencia membalas ciuman tunangannya itu. di malam itu mereka berciuman selama beberapa menit. Ricky mendorong tunangannya ke sandaran kursi dan ciuman pria itu menurun ke leher calon istrinya.
Valencia yang mengetahui niat tunangannya itu ia hanya pasrah dan memejamkan matanya. ia merasakan ciuman yang begitu berna*su dari pria itu.
"Valencia, kau harus bisa melakukannya, karena dia adalah pria yang akan menjadi suamimu,"batin Valencia.
Bagi Valencia sebenarnya dirinya itu masih belum bersedia melakukan hubungan yang lebih jauh dengan tunangannya itu, hanya karena ia tidak ingin mengecewakan pria itu ia pun menerima setiap sentuhan dari tunangannya.
Ricky mulai memasukan tangannya ke dalam baju Valencia dan mulai meraba punggung calon istrinya itu.
"Valencia, aku tidak sabar ingin mendapatkanmu, tapi aku tidak ingin melakukannya sekarang. karena kita belum menikah. dan aku ingin menghargaimu sehingga kita menikah aku baru memilikimu," ucap Ricky yang mengeluarkan tangannya.
"Terima kasih, Ricky. aku tidak menyangka kau bisa berpikir seperti itu."
"Aku mencintaimu bukan karena ingin segera memiliki tubuhmu, tapi aku ingin memiliki hatimu," jawab Ricky yang mencium bibir calon istrinya.
Keesokan harinya.
Ricky datang menemui Markus. mereka duduk bersama bermain catur di salah satu ruangan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Valencia?" tanya Markus.
"Hubungan kami baik-baik saja, dan kami sangat bahagia," jawab Ricky.
"Baguslah kalau begitu!"
"Pa, kenapa papa melakukan itu?"
"Kenapa, apa kamu menyalahkan papa?"
"Kalau saja aku mengetahuinya di enam tahun yang lalu, mungkin aku akan marah dan kecewa padamu."
"Lalu, apa bedanya kalau kamu mengetahuinya sekarang?"
"Karena sekarang aku sudah memiliki Valencia dan aku tidak ada alasan merasa kecewa lagi."
__ADS_1
"Kalau begitu baik-baiklah bersamanya! jangan karena masa lalu kau melukai yang ada di depan matamu!"
"Aku tahu!"
"Dia bermain dengan pria lain, suatu malam papa sedang minum bersama klien di club malam dan melihat dia bersama dengan seorang pria masuk ke dalam salah satu ruangan karaoke. oleh karena itu papa mengunakan cara mengancam agar dia pergi. papa tidak mau wanita tidak jelas menjadi menantu keluarga kita!"
"Ternyata dia adalah wanita yang tidak benar."
"Hiduplah bahagia bersama Valencia! rayuan wanita itu jangan membuat mu goyah. tetapkan hatimu pada satu wanita agar tidak menyesal di kemudian hari!"
"Iya, Pa. aku mengerti. Pa, bagaimana perjalanan papa ke paris? apakah ada bertemu dengan orang yang ingin papa temui?"
"Semua sudah berubah, dia meninggal bunuh diri," jawab Markus yang merasa sedih.
"Sudah begitu lama perasaan papa terhadapnya masih saja tetap ada."
"Walau waktu saat kami bersama sangat singkat, tapi cinta kami adalah abadi."
"Lalu, apa rencana papa? dan kenapa...bibi itu membunuh diri?"
"Perselingkuhan suaminya dan juga tindak kekerasan yang dilakukan oleh suaminya membuat dia putus dan memilih jalan terakhir, yaitu mati."
"Sangat menyedihkan sekali," ucap Ricky.
"Iya, Pa. aku tidak akan termakan rayuan wanita mana pun. karena di saat kita mencintai seseorang rayuan wanita lain tidak akan mempan untuk kita," jawab Ricky dengan senyum.
"He-he-he-he, bagus...ini baru putraku," ujar Markus.
"Dan aku juga sangat salut pada papa."
"Kenapa?"
"Karena papa dan mama menikah karena permintaan kakek, tapi papa dan mama selalu saja harmonis, sementara di hati papa hanya da bibi itu."
"Ricky, papa dan dia mungkin tidak berjodoh. sedangkan mamamu selama ini selalu saja melayani papa dengan baik, tidak ada alasan Papa mengabaikan mamamu."
"Kalau aku di posisi papa pasti akan menolak menikah dengan wanita yang tidak ku cintai, dan walau terima pasti juga tidak akan bahagia."
Beberapa hari kemudian
__ADS_1
Mansion Frankey.
Di kamar Valen.
Siang itu Valen sedang melipat bajunya dan memasukan ke koper, putri Frankey itu duduk di atas kasur sambil menyusun pakaiannya dengan rapi, dia ditemani oleh seorang pengasuh yang berdiri di samping sambil melihat gerak-gerik Valen dengan tangan mungilnya. Valen tidak mengizinkan siapa pun yang membantunya setiap ia melakukan sesuatu.
"Nona, tuan tadi ada pesan tidak perlu membawa banyak barang, karena tuan akan membeli barang keperluan saat sudah tiba di sana," ucap pengasuh itu dengan sopan.
"Tapi Valen sudah memiliki banyak pakaian, papa sering membelinya. lihat kamar Valen yang sudah ada tiga lemari besar. semua adalah pakaian Valen. kalau papa membelinya lagi maka kamar Valen akan menjadi toko pakaian," jawabnya yang panjang lebar sambil sibuk dengan tangannya.
"Nona, sangat pintar bicara," ucap pengasuh itu dengan tertawa.
"Valen...," suara panggilan Frankey yang baru melangkah masuk ke kamar putrinya.
"Papa...," sahut Valen yang sedang melipat baju.
"Valen, untuk apa membawa begitu banyak bajumu? di sana kita bisa membelinya," tanya Frankey yang tersenyum melihat koper putrinya dipenuhi oleh pakaian.
"Papa, jangan membeli lagi! pakaian Valen sudah banyak."
"Kita bukan pindah rumah, untuk apa Valen membawa satu koper pakaian?" tanya Frankey tertawa lucu.
"Lebih baik Valen membawanya dari sini, dari pada papa beli lagi di sana," jawab Valen yang masih sibuk dengan tangan mungilnya.
"Mari kita makan dulu! sisanya biar bibi yang melakukannya!" ajak Frankey.
"Sebentar lagi, Pa!"
"Kenapa, apa Valen tidak lapar?"
"Sudah lapar, tapi kerja Valen belum selesai," jawab Valen.
"Ha-ha-ha, Valen, serahkan saja pada bibi yang mengerjakannya!"
"Tidak mau! Valen ingin melakukannya sendiri," jawab Valen yang masih sedang sibuk dengan tanganya.
Frankey tersenyum melihat putri kecil yang selama ini suka melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. selama ini Frankey selalu mengajarnya jangan terlalu berharap pada orang lain. walau ia sangat mencintai putrinya, akan tetapi ia tidak ingin terlalu memanjakan buah hatinya agar tidak terlalu mengharapkan orang lain setelah dia dewasa.
"Papa pernah mengatakan selesaikan pekerjaan sendiri, jangan meminta bantuan orang kalau tidak darurat, dan sekarang Valen ingin melakukan semuanya dengan tangan sendiri," ucap Valen.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Selamat pagi teman-teman, author lanjut tidur dulu. jam 12 tadi bangun untuk up dua bab "Cinta Lama" dan satu bab "Di nikahi Oleh Tuan Muda Dingin" 🥱🥱🥱🥱🥱🥱