
Valencia melepaskan pakaian putrinya dengan perlahan, tubuh mungil itu terlihat jelas lebam di bagian tubuh depannya karena berulang kali jatuh dengan hentakan keras dalam posisi terlungkup.
Valencia yang melihat tubuh putrinya ia merasa sangat sakit hati, sementara Frankey semakin menahan emosi karena putri kesayangannya harus menanggung sakit yang tidak seharusnya.
"Papa, tubuhku sakit sekali," rintihan Valen yang masih menangis. wajah bulat gadis kecil kemerahan karena menangis terlalu lama.
"Valen, sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa lukamu," ujar Frankey yang mengusap air mata putrinya.
"Papa...," tangisan Valen yang memegang erat telapak tangan Frankey dengan erat. gadis itu ketakutan sehingga gemetar dan tidak berhenti menangis dari tadi.
"Sayang, ini salah mama. maaf karena mama tidak melindungimu dengan baik," ucap Valencia.
"Mama, jangan tinggalkan Valen ya," pinta Valen yang memegang tangan Valencia dengan erat.
"Mama tidak akan meninggalkan Valen selamanya," ucap Valencia yang mencium pipi putrinya.
Setelah beberapa menit kemudian Dokter datang mengoles luka yang di alami oleh Valen dan juga memeriksa kondisi mental gadis kecil itu.
Valen yang melihat Dokter mengeluarkan jarum suntik ia langsung menangis dengan histeris dan berteriak," Papa...Valen tidak mau disuntik!"
"Valen, jangan takut! paman dokter ingin menghilang rasa sakit pada luka Valen, dengan begini rasa sakitnya akan menghilang," bujuk Frankey.
"Valen, lihat mama, sayang! dan Valen tidak akan merasa sakit," kata Valencia dengan senyum.
"Apakah benar tidak sakit?" tanya Valen yang sesegukan.
"Valen adalah anak yang pintar, jadi kalau disuntik tidak akan sakit. Valen juga anak yang pemberani dan ini hanya jarum kecil saja tidak mungkin sakit. dia hanya akan menyembuhkan lukamu," ucap Dokter itu yang berusaha menenangkan gadis kecil itu.
__ADS_1
"Paman Dokter, pelan-pelan ya suntiknya!" kata Valen yang langsung memandang ke arah Valencia.
"Baiklah, paman dokter akan melakukannya dengan perlahan," jawab Dokter yang menyuntik bagian tangan mungil gadis itu.
Setelah beberapa menit kemudian Dokter selesai mengobati dan memeriksa kondisi Valen. sementara Valen sendiri ketiduran karena efek obat dari suntikan itu.
"Dokter, bagaimana dengan putri saya?" tanya Frankey yang merasa khawatir.
"Lukanya hanya luka luar dan tidak membahayakan, hanya saja atas kejadian tadi telah membuatnya trauma. untuk anak lima tahun tentu saja butuh waktu untuk melupakan kejadian tadi," jelas Dokter.
"Dokter, apakah putri saya akan menangis lagi di saat dia bangun nanti?" tanya Valencia.
"Menangis karena trauma, sering-sering menemaninya akan mengurangi rasa takutnya. dengan begini dia akan merasa aman dan terlindung. luangkan waktu untuk menyembuhkan kondisi mentalnya. anak kecil paling mudah terkejut kalau terjadi sesuatu," jawab Dokter.
"Tadi saya menyuntik obat penenang agar bisa tidur malam ini, dan mudah-mudahan bisa cepat sembuh," lanjut Dokter.
Setelah sesaat kemudian Dokter meninggalkan kediaman Frankey.
"Dari kecil aku melindunginya dengan baik, dan sangat hati-hati agar tidak terluka sedikit pun. tidak menyangka karena ulah si breng.sek itu Valen harus menanggung sakit ini. dan bahkan luka hampir di seluruh tubuhnya," ucap Frankey yang mengepal kedua kepalan tangannya.
"Valencia, tolong jaga putri kita dulu, aku ingin keluar sebentar."
"Frankey, kamu ingin ke mana?"
"Aku harus menemui si breng.sek itu, dia berani menyentuh keluargaku. maka dia harus menanggung akibatnya," jawab Frankey.
"Hati-hati," ucap Valencia.
__ADS_1
"Aku akan segera pulang, tunggu aku!" kata Frankey yang melangkah keluar.
Setelah Frankey keluar Valencia duduk di tepi kasur dan menaikan roknya yang melewati lutut, bagian kaki Valencia terluka akibat gesekan di aspal tadi. ia menahan sakit selama putrinya menangis histeris. ia mengutamakan putri semata wayangnya dan mengabaikan rasa sakit yang dia alami.
"Lukanya sangat besar, untung saja aku pakai rok yang berwarna hitam sehingga Frankey tidak melihat bercak darahnya," ucap Valencia.
Valencia mengoles obat pada lututnya yang kulitnya terkelupas. ia meniup karena merasa sangat perih. lalu ia menoleh ke putri kecilnya yang sedang tidur dengan begitu pulas.
"Valen pasti sangat sakit karena lukanya yang banyak, pantas saja dia menangis terus," gumam Valencia.
Di sisi lain Frankey melajukan mobilnya menuju ke tempat tinggal sahabatnya itu.
Di sepanjang jalan raut wajahnya seakan ingin menelan seseorang, ia mengenggam setirnya dengan erat. kemarahannya tidak bisa ditahankan karena kondisi putrinya sekarang.
Mansion Ricky
Sore itu Ricky sedang bersama dengan ayahnya dan juga Carlos yang adalah asisten Josio.
"Carlos, saat itu aku mengundangmu datang karena pesta pernikahan putraku dan tunangannya, siapa sangka pernikahan ini dibatalkan," kata Markus dengan sedih
"Kenapa bisa terjadi hal seperti ini?" tanya Carlos.
"Aku dan dia...sudah pisah," jawab Ricky dengan menunduk, ia merasa bersalah dengan kejadian tadi.
"Ricky, apakah gadis itu yang menolaknya?" tanya Carlos
"Dia sudah bertemu dengan pria yang dia cintai selama ini, selama lima tahun aku hanya hadir untuk sementara di dalam hidupnya," jawab Ricky.
__ADS_1