
"Frankey, katakan apa yang harus ku lakukan agar kami bisa menerimaku?" tanya Markus yang bangkit dari tempat duduk.
"Tidak ada yang bisa kau lakukan, pulang dan jangan sampai putramu datang menganggu keluarga ku lagi!" jawab Frankey.
"Aku tahu aku bukan seorang papa yang baik, tapi aku rela melakukan apa saja untuk menebusnya," kata Markus.
"Menebusnya dengan cara apa? aku sudah dewasa dan sudah memiliki keluarga. masa-masa kecilku sudah berlalu dan aku melewatinya dengan begitu sulit. sekarang dirimu baru muncul apa tidak terlambat?"
"Aku tahu Josio pasti sangat menyulitkan hidupmu, ini adalah kelalaianku karena tidak tahu kalau kamu adalah putraku," ucap Markus yang menyesal.
"Untuk apa kamu menyesalinya, dirimu meninggalkan mamaku setelah kau puas bermain dengannya dan setelah hampir empat puluh tahun kau baru kembali. dan menyesali semua yang sudah terjadi untuk apa lagi?" bentak Frankey.
"Frankey, aku...."
"Kita sudah berpisah selama hampir empat puluh tahun dan tidak perlu lagi kita saling mengakui. jalani saja hidupmu dengan putramu itu. dari kecil aku juga tanpamu dan hidup bersama dengan papaku yang kejam itu. dan sekarang aku sudah memiliki keluargaku sendiri. jadi, aku sudah tidak butuh kamu lagi. dan kamu juga tidak butuh aku. di saat kamu pergi meninggalkan mamaku seharusnya kau tidak perlu kembali lagi," kata Frankey.
"Apakah kamu sangat kecewa padaku?"
"Untuk apa aku kecewa kalau semua sudah terjadi, dan mamaku juga tidak akan kembali lagi, aku tidak ingin memikirkan masa lalu. bagiku yang paling penting sekarang adalah keluargaku, itu saja," ucap Frankey yang kemudian melangkah masuk.
Markus hanya bisa pasrah atas penolakan putranya yang tidak ingin mengakuinya sama sekali. kemudian ia hanya bisa pergi dengan rasa hampa dan sedih.
Frankey menghubungi Carlos karena ingin mengetahui hubungan Diana dan juga Markus yang mengakui sebagai ayahnya.
Setelah menghubungi asisten rumah lamanya, Frankey kembali ke kamar yang di mana calon istrinya dan putrinya sedang berada di sana.
__ADS_1
Saat Frankey melangkah masuk ke dalam kamar ia di sapa oleh Valen.
"Papa, di mana kakek paman yang mirip papa itu?" tanya Valen yang duduk di kasur sambil memeluk bonekanya.
"Dia sudah pulang," jawab Frankey yang duduk di samping Valencia.
"Frankey, siapa dia?" tanya Valencia.
"Markus Filan," jawab Frankey.
"Paman Markus? kenapa dia ke sini?" tanya Valencia.
"Dia adalah papa kandungku yang dulu pernah menjalin hubungan gelap dengan mamaku," jawab Frankey.
"Valen masih kecil dan belum mengerti," jawab Frankey dengan senyum.
"Papa, jadi kakek itu siapa? kenapa dia begitu mirip dengan papa?"
"Hanya kebetulan saja, sayang," jawab Frankey yang mengelus kepala putrinya.
"Papa, apakah dia bukan kakek Valen?"tanya Valen.
"Valen, apakah Valen ingin memiliki seorang kakek?" tanya Valencia.
"Kalau ada kakek pasti seru juga, Ma. jadi, Valen memiliki banyak yang sayang pada Valen," jawab Valen dengan polos.
__ADS_1
"Valen, cukup papa dan mama yang sayang dengan Valen, kita tidak butuh kakek ya," kata Frankey.
"Iya, Pa," jawab Valen.
"Frankey, apakah kamu dan Ricky adalah saudara kandung?" tanya Valencia.
"Iya, aku hampir tidak percaya di saat aku mendengar kata Markus," jawab Frankey.
"Papa, apakah paman itu adalah paman Valen?" tanya Valen yang ingin tahu.
"Valen, jangan memikirkan hal itu! dalam keluarga kita hanya kita bertiga saja, tidak ada yang lain," jawab Frankey
"Papa, Valen juga tidak ingin bertemu dengan paman itu lagi, Valen tidak menyukainya," ujar Valen.
"Sayang, jangan bicara seperti itu! semua sudah berlalu," kata Valencia.
"Mama, tapi paman itu ingin membawa mama pergi," ucap Valen.
"Itu hanya masa lalu, tidak akan terjadi lagi, sayang. jadi, jangan ingat kejadian itu lagi!" kata Valencia.
"Iya, Ma," jawab Valen.
"Valencia, aku keluar sebentar! aku ingin bertemu dengan paman Carlos," ujar Frankey.
"Iya Baiklah," jawab Valencia.
__ADS_1