
"Nanti kalau Valen selesai mengambar Valen baru menunjukkan pada papa," jawabnya dengan senyum lucu.
"Putri papa sangat pintar, baiklah. Valen bisa mengambar apa saja," jawab Frankey.
"Papa pergi lanjutkan kerja dulu! nanti kalau Valen sudah siap mengambar, baru Valen antarkan ke ruangan papa!"
"Sepertinya putri papa ingin mengambar sesuatu yang istimewa", ujar Frankey yang menyubit pipi putrinya.
"Ha-ha-ha, kalau sudah siap Valen tunjukkan!"kata Valen dengan tertawa lucu.
"Kalau begitu papa ke ruang kerja dulu," ujar Frankey yang bangkit dari tempat duduknya.
Frankey yang masuk ke dalam ruangannya ia mengambil minuman favoritnya di lemari yang khusus ia simpan minuman anggur atau minuman beralkohol lainnya.
Tanpa mengunakan gelas Ia langsung minum minuman beralkohol itu. dengan raut wajah yang sedih dan masih mengingat gadis yang dia cintai.
"Valencia...."
Tidak lama kemudian datanglah seorang wanita cantik yang adalah kenalan Frankey, sambil membawa file di tangannya ia melangkah masuk ke dalam kediaman mewah itu.
"Nona Nella, apakah Anda ingin bertemu dengan tuan?" sambut seorang pelayan rumah tangga dengan sopan.
"Benar, ada yang ingin saya bicarakan dengannya, apakah saya boleh tahu di mana dia sekarang?"
"Tuan ada di ruangan pribadinya, saya akan sampaikan kepadanya kalau Anda ingin bertemu dengannya. silakan menunggu sebentar!"
"Tidak perlu! saya akan langsung masuk ke dalam saja, kami sudah kenal lama. lagi pula proyek yang ingin kami bahas juga sangat penting," ujar wanita cantik itu yang berniat ingin bertemu dengan Frankey.
"Tapi-"
"Jangan takut! dia tidak akan marah, kami sudah akrab dia tidak akan marah ketika saya masuk ke ruangannya, di mana putri kecilnya?"
"Nona kecil sedang belajar di ruang belajar."
"Baiklah...tolong saya berikan ini padanya, saya akan menjumpai Frankey sekarang," ucapnya sambil memberikan sebuah kado kepada pelayan itu.
__ADS_1
"Baiklah, Nona Nella. akan saya berikan kepada nona kecil," jawab pelayan dengan sopan dan melangkah masuk ke dalam, sementara Nella menuju ke ruangan pribadi Frankey.
Klek.
Nella membuka pintu ruangan itu dan melangkah masuk dengan pelan, kemudian ia pun mengunci pintunya dari dalam. setelah itu ia berjalan menghampiri pria tampan itu yang sedang ketiduran di sofa.
Nella menatap senyum melihat pria tampan itu yang sedang tidur dengan pulas. tangan kiri pria di letakan di atas dahi, sementara tangan kanannya sedang memegang botol minuman keras.
"Apakah dia sudah mabuk? ini akan lebih kalau dia mabuk, maka aku bisa menikmati tubuh indah ini," ucap Nella yang meraba tubuh kekar pria itu yang sedang ketiduran.
Nella yang sangat menginginkan pria tampan itu ia melepaskan pakaian bagian atasnya sehingga menampakan dua buah dada besarnya yang menonjol itu. dan setelah itu ia melepaskan pakaian bagian bawahnya sehingga tanpa sehelai benang.
"Selama ini aku sangat mencintaimu, dan kamu hanya fokus pada kerja dan putrimu. aku bisa menjadi ibu dari putrimu. dan sore ini aku ingin menjadi milikmu seutuhnya," batin Nella.
Nella membuka kancing kemeja Frankey satu-persatu dan kemudian ia mulai meraba dada pria itu, tubuh pria itu kekar membuat wanita mana pun tidak akan sanggup untuk menolak.
Sesaat kemudian Frankey membuka matanya dan melihat sesosok wanita yang bertelanjang di depan matanya, tubuh wanita itu sangat seksi dan senyumannya yang sangat cantik
"Frankey, kau sudah sadar, mari kita melakukannya!" goda Nella yang duduk di atas tubuh pria itu, ia memegang tangan Frankey menyentuh bagian dadanya yang menonjol agar bisa membuat pria itu terangsang dan ingin melakukan dengannya.
Frankey dengan tersenyum saat merasakan betapa kenyalnya buah dada besar milik wanita itu.
"Iya, aku ingin menjadi ibu dari putrimu dan selain itu aku juga akan melayanimu kapanpun kau mau," jawabnya dengan mengoda.
Frankey tersenyum dan langsung menghantam kepala wanita itu dengan botol yang dia pegang.
Bruk..
"Aarggh...," rintihan Nella yang terjatuh ke lantai. ia kesakitan dan tak berdaya akibat hantaman kuat dari Frankey.
Prang..
Botol kaca tersebut pecah berkeping-keping akibat hantaman yang kuat yang mengenai kepala Nella.
Frankey lalu bangkit dan berdiri di depan wanita itu dengan berkata, " ingin mengodaku dengan tubuhmu ini? aku tidak berminat sama sekali. dan kau ingin menjadi ibu dari putriku? maka kau sudah salah. kau sama sekali tidak layak untuk posisi itu," ketus Frankey.
__ADS_1
Nella merintih kesakitan dan ketakutan, ia melihat pria yang dia kenal selama ini sangat kejam dan tanpa merasa ragu untuk membunuhnya. darah yang keluar dari lukanya sehingga mengenai wajah menetes ke lantai.
"Nella Savior, aku ingatkan padamu! jangan berani menginjak kaki mu ke dalam rumahku lagi! siap-siap saja kau menunggu berita buruk dari keluargamu," kata Frankey dengan mengancam.
"Frankey, jangan...aku hanya menyukaimu saja," tangisan Nella yang kesakitan.
"Menyukaiku? kau tidak akan mampu membangkitkan hasratku hanya dengan tubuhmu itu, lebih baik kau segera angkat kaki dari sini sebelum aku menghancurkan kepalamu," bentak Frankey yang sedang kesal.
Nella yang kesakitan bahkan juga pitam hanya bisa memaksakan diri untuk bangkit, ia mengambil semua pakaian yang berserak di lantai itu, darah berserakan karena tetesan dari bagian lukanya. setelah beberapa saat kemudian ia melangkah keluar dari ruangan Frankey.
"Menjijikan," ketus Frankey yang menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena merasa jijik dengan sentuhan wanita itu.
Setelah satu jam kemudian ruangannya yang berserakan dengan darah telah dibersihkan oleh pembantu rumah tangganya.
Putri kecilnya memasuki ruangan sambil membawa buku gambar yang besar, ia telah selesai mengambar dan ingin menunjukan kepada papanya.
"Papa...."
"Valen, mari sini!" sahut Frankey yang melambai tangannya.
Valen berlari ke arah papanya itu dan kemudian duduk di pangkuannya.
"Apakah Valen sudah selesai memgambar?" tanya Frankey yang mencium pipi putrinya.
"Sudah, Pa. silakan lihat apa yang Valen gambar!". jawab Valen dengan dengan senyum.
Saat melihat gambaran dari putrinya mata Frankey lagi-lagi basah karena air mata. ia merasa sedih karena putrinya itu mengambarkan sebuah impian yang tak kunjung tercapai.
"Papa, bagaimana dengan gambar Valen?"
"Valen, apakah bisa terangkan siapa saja tiga orang yang di dalam gambar ini?"
"Kalau yang pria ini adalah papa, dan yang wanita ini adalah mama, sementara yang di tengah ini adalah Valen. kita sama-sama melihat matahari terbit," jelas Valen sambil menunjuk dengan jari mungilnya.
"Apakah ini ada impian Valen?"
__ADS_1
"Iya, Pa. kapan kita bisa begini?"
"Valen...," ucap Frankey yang terhenti karena tidak tahu apa yang harus dia jawab.