
Valen masih mengejar mobil yang membawa Valencia pergi, mobil itu sudah semakin jauh. gadis kecil itu menangis histeris sambil berlari dengan kedua lututnya yang sedang mengeluarkan darah.
"Mama...jangan tinggalkan Valen lagi....Paman...kembalikan mamaku...," tangisan Valen yang terjatuh dengan hentakan keras tubuhnya ke aspal itu.
Bruk.
"Uhuk...uhuk...Mama...Mama...," tangisan Valen yang dalam posisi terlungkup dan melihat mobil itu semakin jauh dan tidak berhenti.
Ia menangis dan sakit hati melihat mamanya dibawa pergi begitu saja. bukan hanya menangis Valen juga muntah untuk kedua kali.
Sementara di dalam mobil Valencia semakin emosi karena melihat putrinya yang lagi-lagi terjatuh sehingga tidak berdaya. ia langsung mengigit tangan Ricky yang mengenggam tangannya dengan erat.
"Aarrghh...," jeritan Ricky yang melepaskan tangannya karena merasa sakit.
Valencia yang mencemaskan putrinya ia langsung membuka pintu dan melompat keluar dari mobil yang sedang berjalan.
"Valencia...," teriak Ricky yang khawatir saat melihat wanita itu nekad keluar dari mobilnya
Bruk..
Hentakan keras tubuh Valencia yang terhempas ke aspal.
"Aarrggh...," rintihan Valencia yang kesakitan di seluruh tubuhnya. ia menahan sakit dan bangkit serta berlari ke arah putrinya.
__ADS_1
"Valen...," teriak Valencia.
"Mama...," teriak Valen sambil menangis histeris, air matanya telah membasahi seluruh wajah gadis kecil itu. kondisi Valen terluka di kedua kakinya, ia juga muntah terus menerus akibat kelelahan berlari cukup jauh.
"Valen...," suara teriak Valencia yang berlari menuju ke arah putrinya itu.
"Mama...," teriakan Valen yang berusaha untuk bangkit dan ingin berdiri, kedua kakinya yang terluka membuatnya kesulitan untuk berdiri dengan lurus.
Valencia langsung memeluk putri kecilnya dengan erat, ia merasa sakit hati melihat putrinya yang mengejar dirinya sehingga jatuh berulang kali dan juga menangis dengan histeris.
"Mama, jangan meninggalkan Valen lagi, Valen mohon sama mama jangan pergi lagi," tangisan gadis kecil itu yang sedang histeris dalam pelukan Valencia.
"Sayang, mama berjanji tidak akan pergi," ucap Valencia yang sambil membujuk putrinya, ia mengeluarkan sapu tangan dan melilit lutut putrinya yang terluka.
Ia menghentikan langkahnya karena melihat kedua kaki putri sahabatnnya itu mengeluarkan darah, gadis kecil itu yang dikenal sangat ceria kini ia dalam kondisi histeris. Valen menangis tanpa berhenti dan memeluk Valencia dengan erat.
"Valen...."
"Jangan mendekat!" bentak Valencia yang mengeluarkan air mata, ia sedang sakit hati karena kondisi putrinya.
"Paman, jangan membawa mama Valen pergi!" pinta Valen sedang terisak.
Valencia mengendong putri dan berkata," apa sudah cukup dengan semua yang kau lakukan? apakah ini hasil yang kau inginkan? aku sudah memintamu untuk berhenti. tapi kau seperti kerasukan setan yang tidak peduli dengan kondisi seorang anak kecil. Ricky, selama ini aku sangat menghargaimu. aku bahkan tidak tega melukaimu. tapi sekarang tolong jauhi aku. jangan membuatku semakin membencimu."
__ADS_1
Setelah meluapkan kemarahan Valencia langsung melangkah pergi.
Sementara Ricky hanya bisa diam melihat kepergian wanita itu, ia merasa menyesal dengan perbuatannya yang telah menyebabkan gadis kecil itu menangis dan terluka.
"Apa yang sudah ku lakukan? aku sangat gila," ucap Ricky yang mengeluarkan air mata.
Valencia melangkah masuk ke dalam rumah, ia mengendong Valen yang masih sedang menangis tanpa berhenti. rasa cemas melanda Valencia dengan kondisi putri kesayangannya itu.
Ia membawa putrinya ke kamar dan mendudukan Valen ke atas kasur, lalu Valencia mengambil obat-obatan dan mengobati luka kedua kaki putrinya.
"Jangan menangis, sayang! semua baik-baik saja. mama akan mengobati lukamu," bujuk Valencia.
"Mama...jangan pergi lagi ya," tangisan Valen dengan terisak.
"Mama tidak akan pergi, mama berjanji padamu. percayalah pada mama!" ucap Valencia yang berusaha menenangkan putrinya.
Selama Valencia mengobati luka kaki putrinya ia meneteskan air mata. ia mengingat di saat Valen mengejar dirinya sehingga jatuh dan juga muntah. seorang anak kecil yang baru berusia lima tahun begitu takut kehilangan ibunya sehingga rela berlari jauh dan menahan sakit yang luar biasa.
Setelah beberapa saat kemudian Valencia selesai mengobati luka putrinya, ia membalut perban di bagian lutut dan juga kedua tangan Valen yang juga tergores.
"Valen, apa masih sakit?" tanya Valecia yang memangku putrinya.
"Mama, tolong suruh papa cepat pulang!" pinta Valen yang masih sedang menangis.
__ADS_1
"Baiklah, sayang. mama hubungi papa sekarang juga," jawab Valencia yang meraih handponenya di meja samping kasur.