
Setelah dua jam kemudian sebuah mobil mewah tiba di depan rumah Frankey, saat itu Cici dan putranya masih menunggu di sana.
"Frank, lihat itu adalah papamu, sapa papamu dan dekati dia!" ujar Cici pada putranya.
"Baik, Ma," jawab Frank.
Setelah menghentikan mobilnya Frankey dan Valencia langsung keluar bersama putri mereka. Cici yang melihat Valencia merasa cemburu dan kesal.
Saat mereka ingin menuju ke dalam rumah sambil memegang tangan putri kecilnya, langkah mereka dihentikan oleh suara panggilan dari anak laki-laki itu.
"Papa...," suara panggilan Frank yang berlari ke arah Frankey dan langsung memeluknya.
Kemunculan anak laki-laki itu tentu membuat Frankey dan Valencia merasa heran.
"Anak kecil, kamu sudah salah orang, aku bukan papamu!" kata Frankey yang menjauhi anak laki-laki itu darinya.
"Frankey, dia adalah putramu. kau masih ingat, kan denganku?" tanya Cici yang ingin menghampiri Frankey.
"Jaga jarakmu!" bentak Frankey.
"Papa, aku sangat merindukanmu, kenapa tidak datang mencari kami?" ujar Frank yang hampir menangis.
"Papa...Papa, apakah Valen memiliki seorang kakak atau adik?" tanya Valen yang memegang tangan papanya.
__ADS_1
"Tidak ada, sayang. ini hanya salah paham saja," jawab Frankey yang menyentuh kepala putrinya.
"Frankey, ini adalah putra kita, apakah kamu sudah lupa hubungan kita di saat itu? hampir setiap malam kita bersama. dan ini adalah hasil cinta kita. usianya empat tahun dan namanya adalah Frank. nama ini adalah namamu," kata Cici.
"Tentu saja aku masih ingat denganmu, tapi pria yang menyentuhmu bukan aku. kau sudah salah paham mengenai hal ini," ungkap Frankey.
"Apakah karena Valencia di sini oleh sebab itu kamu tidak ingin mengaku? kita melakukannya dengan perasaan cinta. selama ini aku menanggung
penderitaan selama masa kehamilan hingga melahirkan. aku tahu kau sangat menyayangi putrimu. tapi aku melahirkan seorang putra untukmu. bukankah kau sangat berharap ingin mendapatkan seorang anak laki-laki," ucap Cici.
"Bagiku sama saja anak laki-laki atau anak perempuan, akan tetapi anakmu bukan anakku. kalau kau ingin bukti aku memilikinya, dan akan ku berikan padamu!" jawab Frankey.
"Frankey, aku tahu kau hanya tidak ingin wanita ini dan putrimu terluka. tapi ini adalah kenyataannya. kita bisa melakukan tes DNA," ujar Cici.
"Valencia, mari kita masuk dulu! aku ingin mengambil rekaman untuk wanita ini!" ajak Frankey yang mengendong putrinya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. sementara Cici hanya bisa kesal sendiri karena putranya diabaikan begitu saja.
"Bukankah dia suka anak laki-laki? kenapa dia malah begitu sayang dengan anak perempuan itu?" ketus Cici dengan nada kecil.
Setelah beberapa saat kemudian Frankey keluar dengan melempar bukti rekaman kepada wanita itu.
"Ambil ini dan bukalah, setelah itu kau akan tahu siapa ayah dari anakmu ini, jangan datang ke sini lagi. kalau tidak, aku akan menuntutmu karena menganggu hidupku," kecam Frankey yang kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Cici menahan emosi dan sakit hati setelah mendengar perkataan Frankey, selama ini dia sangat berharap bisa melahirkan seorang putra untuk pria kaya itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin! ini tidak mungkin sama sekali!" gumam Cici.
"Mama, apakah yang dikatakan oleh papa apakah benar? aku bukan putranya?" tanya Frank.
"Tentu saja tidak benar! kamu adalah putra Frankey Christoper. hanya dia papamu," jawab Cici.
Setelah sesaat kemudian Cici pergi bersama putranya.
Sementara Valen sedang berdiri di sofa kamar dan melihat keluad jendela.
"Mama, bibi itu siapa?" tanya Valen yang melihat wanita itu dan anaknya berjalan pergi.
"Hanya kenalan biasa," jawab Valencia.
"Siapa anak laki-laki itu? apakah dia bukan saudara Valen?"
"Bukan, sayang. bibi itu hanya bercanda saja. jangan diingat apa katanya ya!" jawab Valencia.
"Mama, mata bibi itu kelihatannya jahat, sangat menakutkan," kata Valen yang menghampiri Valencia yang sedang duduk di sofa.
"Jangan takut! lain kali kalau Valen bertemu dengan bibi itu jangan dekat dengan dia ya!"
"Baik, Ma," jawab Valen.
__ADS_1