Cinta Lama ( Hamil Bayaran Season 2 )

Cinta Lama ( Hamil Bayaran Season 2 )
Harapan Valen


__ADS_3

"Valen, berapa usiamu?"


"Lima tahun," jawab Valen yang menunjukkan lima jari mungilnya.


"Lima tahun? dia seusia putriku," batin Valencia.


"Bibi kenapa?"


"Tidak ada apa-apa, bagaimana kalau kamu kembali ke papamu, karena kalau kamu masih berada di sini, maka papamu akan khawatir denganmu."


"Iya, Valen akan mencari papa sekarang, Bibi, tolong jangan memberitahu papaku ya, Valen tidak mau papa marah kalau Valen memanggil bibi sebagai mama."


"Valen, tenang saja! bibi tidak akan memberitahu papamu," jawab Valencia.


"Kalau begitu sampai jumpa, Bibi," ucap Valen sambil melambai tangannya.


"Sampai jumpa!" balas ucapan Valencia yang menatap gadis kecil itu tanpa beralih pandangan.


"Bibi, apa bisa kita bertemu lagi?" tanya Valen dengan berharap.


"Bisa! kita akan bertemu lagi," jawab Valencia dengan senyum.


"Bibi, bye...bye...bye...," ucap Valen sambil melambai tangannya dan kiss bye pada Valencia," muach."


"Anak ini begitu lucu, dan aku sangat menyukainya, alangkah bagusnya kalau dia adalah putriku,"batin Valencia.


"Valencia...," suara panggilan Ricky.


"Ricky," sahut Valencia yang menoleh ke arah tunangannya.


"Sedang melihat apa?" tanya Ricky dengan senyum.


"Aku melihat seorang anak kecil dia sangat lucu dan manis. aku sangat menyukainya."


"Setelah kita menikah kita juga akan memiliki anak yang lucu dan manis," ujar Ricky yang mencium wajah tunangannya.


"Mari kita pergi!" ajak Ricky yang merangkul pinggang calon istrinya.


Di sisi lain Frankey sedang mencari buah hatinya, ia mengelilingi toko mainan itu sambil memanggil nama putrinya," Valen...Valen...."


"Papa, Valen di sini," jawabnya yang berdiri di belakang Frankey sambil mengendong boneka beruang yang berwarna pink.


"Valen, tadi kamu kemana? kenapa papa tidak melihatmu?" tanya Frankey yang mengendong putrinya.


"Tadi Valen melihat seorang bibi yang cantik, dan Valen mengira bibi itu adalah mama," jawab Valen dengan polos.


"Valen, jangan dekat-dekat dengan orang asing ya, sangat membahayakanmu!"


"Valen hanya ingin mencari mama, Papa, bibi itu sangat baik dan lembut. Valen sangat menyukainya."


"Valen, sebaik apapun bibi itu dia adalah orang yang tidak kita kenal, maka jangan dekat. kita harus selalu waspada di mana pun kita berada!"


"Iya, Pa."


"Tapi aku sangat merindukan bibi tadi, alangkah bagusnya kalau dia adalah mamaku," batin Valen.


Villa Frankey.


"Papa, hari ini papa membeli terlalu banyak mainan, dan juga pakaian."


"Agar Valen tidak bosan di rumah."

__ADS_1


"Kenapa tidak membawa mainan Valen yang di rumah saja?"tanya Valen yang membongkar mainan barunya.


"Kalau bermain dengan mainan lama Valen akan merasa bosan."


"Papa, Valen mau main pasang rumah!" kata Valen yang mengeluarkan kotak besar yang berisi susunan rumah.


"Apakah Valen ingin papa membantu pasang rumah ini?" tanya Frankey yang mengambil kotak itu dari tangan mungil putrinya dan membuka penutup kotak tersebut.


"Iya, Pa. Valen mau pasang rumah yang cantik dan mewah, kalau sudah siap Valen mau mengambar."


"Baiklah, biar papa membantumu membangun rumah," ucap Frankey yang menuangkan semua isi kotak itu ke atas kesur.


Valen memasang rumah mainan dengan ditemani oleh papanya.


"Papa, kapan kita bertemu dengan paman Ricky?"


"Malam ini paman Ricky akan datang."


"Apakah paman Ricky akan membawa calon istrinya?"


"Mungkin tidak! karena paman Ricky akan datang lebih malam. karena dia sedang berkumpul dengan keluarganya," jawab Frankey sambil memasang rumah mainan.


"Papa, apa Valen bisa bertemu dengan bibi itu lagi?"


"Valen...bibi itu adalah orang asing, jangan terlalu dekat dengannya. kita bukan warga sini dan kenal tidak banyak orang," ujar Frankey.


"Tapi bibi itu sangat lembut, saat Valen bersamanya seperti bersama dengan mama."


"Papa tahu Valen sangat merindukan mama, papa juga sama merindukan mama. tapi kita tidak bisa mengunakan orang lain untuk melepaskan rindu."


"Valen hanya ingin bertemu sekali saja dengan bibi itu!"


"Mana mungkin bisa bertemu lagi, apakah Valen tahu di mana bibi itu tinggal?"


"Oleh karena itu jangan berpikir ke sana lagi ya!"


"Iya, Pa," jawab Valen dengan menunduk kecewa.


Setelah beberapa jam kemudian.


Ricky mendatangi ke kediaman Frankey.


Saat dua sahabat itu bertemu mereka saling berpelukan.


"Sudah dua tahun tidak melihatmu," kata Ricky yang melepaskan pelukannya.


"Selama ini kita sama-sama disibukkan dengan urusan masing-masing," jawab Frankey dengan senyum.


"Benar! aku disibukan dengan bisnisku dan calon istriku," kata Ricky sambil bercanda.


"Dan aku disibukkan dengan bisnisku dan putri kecilku," lanjut Frankey yang kemudian duduk di ruang tamu bersama sahabatnya itu.


"Di mana gadis kecil itu?"


"Sedang bermain di kamar, dan bagaimana dengan calon istrimu? kenapa tidak membawanya bersama?


"Sudah malam! kami barusan kumpul dengan papaku," jawab Ricky.


"Papa...papa...," suara panggilan Valen yang berlari sambil memeluk boneka ke ruang tamu.


"Ada apa, sayang?" tanya Frankey yang memeluk putrinya.

__ADS_1


"Apakah ini adalah putri Valen yang lucu dan pintar?" tanya Ricky yang sedang mengusik gadis kecil itu.


"Paman pasti sahabat papa, kan?"


"Benar! paman adalah sahabat papamu, dan wajahmu...,".ucap Ricky yang terhenti.


"Ada apa dengan wajahku, Paman?"


"Seperti mirip seseorang, dan mungkin hanya kebetulan saja."


"Mirip siapa? selain mirip denganku dan mamanya, Valen mana mungkin mirip dengan orang lain," ujar Frankey yang mencium pipi putrinya.


"Tentu saja mirip denganmu," kata Ricky.


"Kenapa gadis ini agak mirip dengan Valencia? kelihatannya mataku sudah bermasalah," batin Ricky.


"Valen, mari paman mengendongmu!" ucap Ricky yang mengangkat tinggi-tinggi tubuh mungil itu.


"He-he-he-he-he," suara tawa Valen yang merasa gembira.


"Apa Valen suka?"


"Suka!"


"Panggil paman dulu!"


"Paman!"


"Setelah dewasa Valen ingin menjadi apa?" tanya Ricky yang mengendong putri sahabatnya itu.


"Menjadi orang hebat, agar Valen bisa merawat papa dan mama," jawab Valen dengan senyum.


"Hebat sekali! kecil-kecil begini sudah bisa berbakti."


"Setelah besar Valen juga ingin membantu papa dan mama," jawab Valen.


"Setelah besar Valen harus menikah."


"Valen mau bersama dengan papa dan mama untuk selamanya," ujar Valen.


"Frankey, kenapa putrimu sangat pintar bicara? bagaimana caranya kamu mengajarnya?"


"Putriku memang harus pintar, karena dalam tubuhnya mengalir darahku," jawab Frankey dengan senyum.


"Paman, di mana bibi yang akan menikah dengan paman?"


"Tadi paman mengantarnya pulang ke rumah," jawab Ricky yang menurunkan Valen.


"Apakah bibi cantik?"


"Bibimu sangat cantik dan Valen pasti akan menyukainya," jawab Ricky yang menyubit pipi gadis kecil itu yang mengemaskan.


"Kapan Valen bisa bertemu dengannya?"


"Besok...kita makan bersama di siang hari."


"Baiklah...Valen menunggu besok untuk bertemu dengan calon istri paman," jawab Valen yang memanjat ke sofa dan duduk di samping Frankey.


Jam dinding menunjukan pukul 23.00.


Valen yang berada di kamarnya sedang mengambar seorang wanita, ia duduk di kursi dan mengambar wajah seorang wanita yang berambut panjang.

__ADS_1


"Kalau bertemu lagi dengan bibi siang tadi Valen akan memberikan gambar ini kepada bibi itu," gumam Valen.


Wajah yang ia gambar adalah wajah Valencia, bermata besar, hidung mancung dan bibir yang tipis. walau masih di bawah umur Valen tidak sembarang asal mengambar, ia berhenti sejenak sambil memikirkan wajah Valencia yang dia jumpa siang tadi


__ADS_2