
"Kenapa, Pa?"
"Valen, bersabar ya...suatu hari kita pasti bisa berkumpul kembali dengan mamamu," ujar Frankey.
"Valen sudah merindukan mama, Pa. Valen ingin dimanjakan mama, disuapi mama dan tidur di dalam pelukan mama," ucapnya yang berharap.
"Valen begitu menurut mama pasti akan kembali," jawab Frankey yang membujuk putrinya itu.
"Papa, Valen selama ini sudah belajar untuk mandiri seperti yang papa pesan. agar mama bisa cepat pulang dan sekarang Valen sudah menunggu mama begitu lama. tapi kenapa mama masih tidak mau pulang? apa karena Valen belum cukup mandiri, Pa?" tanya Valen dengan polos dan mengeluarkan air mata.
"Tidak sayang, Valen selama ini sangat menurut dan baik, hanya saja mama belum mengetahuinya," jawab Frankey dengan alasan.
"Papa, apa bisa kita segera ke ceko?"
"Kenapa tiba-tiba saja ingin cepat ke sana?"
"Valen ingin ke sana karena berharap bisa segera bertemu dengan mama. mungkin saja mama ada di sana," jawab Valen dengan berharap.
"Bulan depan Valen baru libur, untuk saat ini kita masih belum bisa ke sana ya."
"Iya, Pa," jawab Valen dengan kecewa dan menunduk.
"Sayang, papa berjanji padamu! di saat kamu libur kita langsung berangkat," ucap Frankey yang mencium pipi putrinya.
"Iya, Pa. Valen akan menunggu bulan depan. mungkin saja di saat itu Valen bisa bertemu dengan mama. semalam Valen bermimpi Mama. mungkin saja ini adalah petunjuknya," jawab Valen dengan menurut.
"Benar sayang, dan Valen harus berusaha belajar agar mama tahu kalau Valen begitu pintar," kata Frankey.
"Iya, Pa. Valen berjanji," jawabnya dengan senyum.
Frankey memeluk putrinya dengan erat, dan melihat gambar yang dilukis putrinya itu. mata Frankey berfokus pada gambar wanita dewasa itu.
"Valencia, akankah kau kembali ke sisiku? " batin Frankey.
Keesokan harinya.
Sekolah tempat Valen belajar.
Siang itu semua murid telah keluar dan menunggu orang tua mereka yang akan datang menjemput mereka. begitu juga dengan Valen yang sedang berdiri di dalam pagar sambil memegang gambar yang dia lukis semalam. karena rasa rindu pada mamanya yang begitu mendalam Valen membawa gambar itu sambil melihat wanita dewasa yang dia lukis.
__ADS_1
"Mama, hanya dengan cara ini Valen bisa melihat mama setiap saat, tunggu Valen ya! bulan depan Valen akan ke ceko untuk menemui mama. Valen yakin Tuhan pasti akan temukan kita berdua," ucap Valen yang menyentuh wanita dewasa yang di dalam gambar itu.
Saat Valen sedang memegang gambarnya tiba-tiba saja seorang anak laki-laki merebut gambar itu dan melempar ke atas tanah serta menginjaknya.
"Kembalikan gambarku!" teriak Valen yang mendorong anak laki-laki itu sehingga terjatuh.
Bruk....
"Argh...," jeritan anak laki-laki itu yang sakit pada bagian sikunya.
"Hei, anak setan, berani sekali kau mendorong anakku," bentak seorang wanita yang mendorong Valen hingga terjatuh dan dahinya terbentur ke kursi kayu itu.
"Aargh...," jeritan Valen yang kesakitan sehingga dahinya mengeluarkan darah
"Mama, dia bersikap kasar padaku," kata anak laki-laki itu pada itu
Wanita itu dengan kasarnya menarik kerah baju Valen yang terkancing rapat sehingga membuat Valen kesulitan untuk bernafas.
"Hei, kau ini anak siapa ha? berani sekali kau menyakiti anakku? siapa mamamu? dia pasti wanita yang tidak bisa mendidik anakkan!" bentak wanita itu dengan kasar.
"Jangan...menghi...na...ma...ma...ku!" ucap Valen yang terputus-putus akibat lehernya terlilit erat akibat tarikan wanita itu.
"Mamamu pasti hanya seorang pela.cur yang tidak bisa mendidik anaknya," ketus wanita itu dengan nada tinggi.
"Hentikan! apa yang kalian lakukan!" bentak dua orang wanita yang menghampiri wanita itu.
Karena bentakan dari dua guru itu wanita tersebut melepaskan tangannya dengan kasar sehingga menyebabkan Valen terjatuh.
"Uhuk...uhuk...uhuk," suara batuk Valen yang hampir kehabisan nafas. ia menangis akibat kekasaran wanita itu.
"Nyonya Smith, Anda tidak boleh begitu kasar terhadap anak- anak," kata salah satu guru sekolah.
"Anakku didorong olehnya, kenapa aku tidak boleh kasar padanya?" jawab wanita itu yang tidak mau kalah.
"Valen, kamu tidak apa-apa?" tanya gurunya yang memapah muridnya itu.
"Nyonya Smith, Anda tidak seharusnya melukai Valen, Valen terluka seperti ini. pihak keluarganya bisa saja menuntut Anda," kata salah satu guru itu dengan nada tegas.
"Memangnya aku takut dengan keluarganya? siapa memang keluarganya dan aku yakin juga bukan siapa-siapa," tanyanya dengan menghina.
__ADS_1
"Gambarku!" ujar Valen yang ingin mengambil gambarnya yang sudah di pijak sehingga kotor oleh anak laki-laki itu. saat ia ingin mengambil, anak laki-laki itu langsung merebut gambar itu dan merobeknya beberapa kali.
"Aaarrgh...," teriakan Valen yang merasa kesal dan mengigit tangan anak laki-laki itu.
"Aarrghh...," jeritan anak laki-laki itu itu yang sedang kesakitan.
"Valen...!" teriak guru-gurunya yang menghampiri dua murid yang sedang berkelahi itu.
"Kurang ajar!" bentak nyonya Smith yang menarik lengan Valen dengan kasar dan menghempaskan ke atas tanah.
Bruk..
Hentakan tubuh mungil Valen menyebabkan luka gores pada tangannya.
"Mama...," jerit Valen yang melihat gambar itu yang sudah dirobek sehingga tidak berbentuk.
Valen menangis sambil berteriak, ia merasa sedih bukan karena lukanya, melainkan karena gambar keluarga yang dia lukis telah dirobek oleh anak laki-laki itu.
Tidak lama kemudian Frankey tiba dengan asistennya, Kane. saat melihatnya putrinya terluka di bagian dahi dan menangis, ia dan Kane langsung keluar dari mobil
"Papa...," teriak Valen yang bangkit dan berlari ke arah Frankey.
"Valen, ada apa denganmu? siapa yang melukaimu?" tanya Frankey yang sedang menahan emosi melihat putrinya yang menangis dan terluka.
"Papa, dia...merobek gambarku," jawab Valen yang masih sedang menangis sambil menunjuk ke arah anak laki-laki itu
"Apakah kalian yang menyakiti nona kecil?" tanya Kane dengan nada tegas pada nyonya Smith.
"Iya, dia menyakiti putraku, sangat kurang ajar. kelihatannya orang tuanya juga sama saja tidak bisa mendidiknya dengan baik," jawabnya dengan tatapan sinis.
Frankey membuka kancing kerah putrinya itu dan melihat ada bekas luka yang terlilit tadi, serta tangannya dan dahinya yang berdarah, ia merasa sakit hati melihat putri semata wayangnya yang harus mendapat perlakuan kasar sehingga menangis dengan histeris. sejak putrinya dilahirkan Frankey sama sekali tidak pernah meninggikan suaranya terhadap Valen, apa lagi sampai melukainya.
Lalu Frankey mengendong putrinya dan menghampiri wanita itu.
"Siapa namamu?" tanya Frankey dengan tatapan aura membunuh.
"Namaku adalah Licone Claudia Smith, sedangkan suamiku adalah Jank Smith seorang pengusaha yang bisa menjatuhkan siapa pun," jawabnya dengan membanggakan diri.
"Kane, ingat namanya mereka!" perintah Frankey.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya wanita itu
"Karena kalian akan dituntut telah melakukan kekerasan terhadap nona kecil kami," jawab Kane dengan ketus.