
"Valen, panggil saja tidak apa-apa!" jawab Valencia yang menyentuh pipi putrinya yang bulat dan mengemaskan itu.
"Mama...," sebut Valen yang memeluk Valencia dengan erat.
Valencia merasa bahagia saat putri kecilnya memanggilnya mama, tentu tidak disangka olehnya bahwa dia memiliki kesempatan untuk mendengar panggilan itu.
"Maaf, sayang. bukan mama tidak ingin mengakuimu. mama tidak bisa karena sudah melakukan perjanjian awal dengan papamu. setelah melahirkanmu mama tidak boleh muncul di hadapanmu lagi," batin Valencia.
Valencia memeluk sambil mengelus kepala putrinya dengan lembut. mereka saling berpelukan selama beberapa menit. dan kemudian Valen melepaskan pelukannya.
"Bibi, terima kasih," ucap Valen dengan senyum.
"Valen, anak yang baik. kamu harus menjalani hidup yang bahagia dan menurut ya!"
"Bibi, selama ini Valen selalu menurut kata papa, agar suatu saat kalau Valen bertemu mama, mama bisa menyukai Valen," jawab Valen dengan polos.
"Valen, apakah kamu tahu, kalau saja mamamu mengetahui bahwa Valen begitu pintar maka mama Valen pasti merasa bangga dan bahagia," ucap Valencia.
"Benarkah? mama Valen akan merasa bahagia?"
"Tentu! Valen begitu menurut, mana mungkin mama Valen tidak merasa bangga dan bahagia," jawab Valencia dengan senyum.
"Bibi, Valen tetap akan menunggu kedatangan mama sampai kapanpun," ucap Valen yang kemudian berlari ke pangkuan Frankey.
"Aku ke kamar kecil sebentar!" kata Valencia yang beranjak dari tempat duduknya.
"Valen, apakah kamu sangat berharap bisa bertemu dengan mamamu?" tanya Ricky.
"Iya, Paman, merasa rindu itu sangat menyakitkan, penantian juga sangat menyakitkan, apa lagi yang kita nantikan tidak kunjung datang. maka perasaan ini sangat sedih dan menderita," jawab Valen.
"Papa, apa bisa lebih cepat bawa mama pulang? Valen tidak mau mainan ataupun pakaian baru lagi. Valen hanya mau mama saja. bagi Valen papa dan mama sudah cukup," ujar Valen yang memeluk Frankey.
"Putriku sayang, mamamu akan kembali pada kita, papa akan membawanya tinggal bersama kita. walau mamamu adalah calon istri Ricky. papa juga akan tetap membawanya kembali," batin Frankey.
Di sisi lain Valencia berdiri di depan cermin wastafel sambil menahan diri agar tidak menangis.
"Aku sangat ingin mengakui putriku, tapi apakah Frankey mengizinkan ku melakukan itu?" batin Valencia.
"Kalau saja aku memintanya apakah dia akan menjauhkan Valen dariku?" batinnya.
Selama beberapa menit ia menenangkan dirinya, dan akhirnya ia mengusap air matanya dan melangkah keluar dengan bersikap tegar.
__ADS_1
Setelah dua jam kemudian mereka meninggalkan restoran dan kembali ke rumah masing-masing.
Malam hari.
Villa Valencia.
Ricky sedang duduk di sofa dan memilih gaun pengantin untuk Valencia, sementara Valencia sedang menyeduh kopi. saat ia mengaduk kopi di cangkir itu ia sama sekali tidak fokus dan mengingat putrinya itu.
"Valencia...."
"Valencia...."
"Hah... ada apa?" tanya Valencia yang baru sadar ia sedang mengaduk kopi.
"Aku melihatmu sedang melamun, apa yang kamu pikirkan?" tanya Ricky yang melangkah menghampiri calon istrinya itu.
"Tidak ada! aku hanya...hanya kasihan dengan Valen," jawab Valencia.
"Kalian sangat cocok sekali, selama ini aku tidak pernah melihatmu begitu dekat dengan anak siapa pun. jika aku tidak tahu aku akan mengira bahwa dia adalah putrimu," kata Ricky dengan senyum.
"Aku sangat merindukan putriku juga, dan tidak tahu bagaimana dengan dia sekarang," ucap Valencia dengan menunduk.
"Kita juga akan memiliki putri yang lucu seperti Valen," ucap Ricky yang mencium bibir tunangannya. mereka berciuman selama beberapa menit, ciuman Ricky menurun hingga ke leher dengan tangannya mulai masuk ke dalam baju tunangannya.
Valencia yang merasakan sentuhan pria itu ia lalu mendorong jauh calon suaminya itu.
"Maaf, aku belum...belum bersiap," ucap Valencia yang perasaannya sedang kacau
Ricky yang mendapat penolakan dia pun merasa kecewa yang terpendam, akan tetapi ia tetap tersenyum karena tidak ingin membuat tunangannya merasa tertekan.
"Aku yang seharusnya meminta maaf! tidak seharusnya aku memaksamu, sudah malam. cepatlah istirahat!" kata Ricky yang mengecup dahi Valencia.
"Selamat malam!" balas ucapan Valencia yang merasa bersalah.
Sesaat kemudian Ricky meninggalkan tempat tinggal Valencia.
"Maafkan aku, Ricky. selama ini aku mengira aku sudah melupakan dia, tapi saat tadi siang bertemu lagi dengan dia, aku baru sadar aku sama sekali belum melupakan dia," ucap Valencia.
"Aku berusaha selama lima tahun dan ingin mulai hidup baru, akan tetapi setelah dia muncul perasaan yang sudah ku buang selama ini akhirnya muncul lagi. dan aku baru tahu ternyata selama ini perasaanku ini telah tersimpan di lubuk hati yang dalam, sangat dalam. hingga pada akhirnya muncul lagi setelah dia di hadapanku," batin Valencia.
Di sisi lain Ricky yang baru tinggalkan rumah tunangannya, ia melajukan mobilnya. ekspresi wajahnya tidak gembira dan kecewa karena telah menyadari semuanya.
__ADS_1
Ia mengingat kembali gambar yang dia lihat saat di restoran, wanita yang dicari sahabatnya itu ternyata adalah calon istrinya. bukan hanya itu saja, calon istrinya juga adalah wanita yang melahirkan anak sahabatnya itu.
"Kenapa bisa begitu kebetulan? dunia ini begitu luas kenapa harus dia? wanita yang ku cintai selama ini adalah wanita yang paling dicintai sahabatku sendiri. mereka bahkan telah memiliki seorang putri yang selama ini merindukan kehadiran mamanya," batin Ricky.
Ricky yang sedang menyetir mengingat kembali reaksi Valen terhadap Valencia.
"Bibi, apa Valen bisa memanggil mama?"
"Ma-mama?"
"Iya, tidak tahu kenapa Valen merasakan bahwa bibi seperti mama Valen saja."
"Bibi, hanya untuk kali ini saja! lain kali Valen tidak akan memanggil mama lagi!"
"Gadis kecil itu sangat merindukan mamanya, mereka adalah ibu dan anak sehingga Valen bisa merasakan kedekatannya. ini adalah suatu penyiksaan bagiku," gumam Ricky.
Mansion Frankey
Frankey menghabiskan segelas demi segelas minuman keras dengan berniat ingin memabukan dirinya.
Ia mengingat pertemuan dirinya dengan Valencia yang paling dia cintai, dan yang tak lain adalah calon istri sahabatnya juga.
"Valencia, selama lima tahun tidak bertemu kau malah bersama dengan sahabatku. kenapa harus dia? sekian banyak pria di dunia ini kau malah jatuh cinta pada sahabatku," batin Frankey.
Frankey lalu bangkit dan melangkah keluar dari villanya, ia masuk ke dalam mobil dan kemudian menuju ke suatu tempat.
Sementara Valencia sedang duduk melihat lukisan yang diberikan oleh Valen. ia tersenyum dan juga merasa sangat sakit hati karena tidak bisa mengakui putrinya itu.
"Putri mama sudah besar dan pintar, Frankey mendidikmu dengan baik, mudah-mudahan dia tidak menjauhkan mu dari ku!" gumam Valencia.
Mobil Frankey tiba di depan rumah Valencia, saat Frankey keluar dari mobil ia langsung berjalan ke arah pintu rumah itu.
Tuk...tuk...
Valencia yang duduk di ruang tamu mendengar ketukan dari luar ia pun beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke pintu.
Tuk...tuk...
Klek.
Suara pintu dibuka oleh Valencia. saat Valencia melihat pria yang berdiri di depan pintunya ia merasa tidak bisa percaya, bahwa pria itu akan datang mencarinya.
__ADS_1