
"Frankey akan melakukan apa saja kalau ada yang berani menyakiti putrinya. sebelumnya juga terjadi sesuatu di sekolahnya. dia ditindas oleh seorang wanita yang adalah seorang istri pengusaha. dan kemudian suami wanita itu bangkrut, dan wanita itu sendiri harus mendekam dalam penjara. itulah Frankey," ungkap Carlos.
"Tidak bisa salahkan dia, sebagai orang tua pasti akan melakukan apa saja demi melindungi buah hatinya," ujar Markus.
Mansion Frankey.
Valencia sedang membalut luka di kakinya. ia menganti pakaian yang robek akibat gesekan ke aspal tadi. setelah selesai menganti pakaian ia duduk di samping putrinya itu.
"Aku tidak menyangka Valen melakukan ini, anak seusianya bisa begitu menahan sakit. tidak bisa ku bayangkan lagi sakit dan takut yang dia alami. putriku sangat pintar. mama berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi," batin Valencia.
Tidak lama kemudian Frankey kembali dan ia langsung menuju ke kamarnya.
Klek.
"Frankey," sahut Valencia yang sedang duduk di tepi kasur.
"Valencia, bagaimana dengan putri kita?"
"Dia tidur dengan nyenyak," jawab Valencia yang melihat ke arah gadis kecil itu.
Mata Frankey lalu berfokus pada kaki calon istrinya yang sedang dibalut oleh perban.
"Valencia, kau juga terluka?" tanya Frankey yang menjongkok melihat kaki Valencia.
"Hanya luka ringan saja, tidak apa-apa."
"Kenapa tadi kamu tidak mengatakannya?"
"Aku lebih mencemaskan Valen, lagi pula luka ini tidak berarti apa jika dibandingkan dengan luka Valen," jawab Valencia.
"Valencia, seharusnya tadi kita menyuruh dokter mengobati lukamu."
"Aku sudah mengobati lukaku sendiri, hanya luka ringan. setelah diberi obat tidak merasa sakit lagi."
"Valencia, kalau saja aku tidak keluar mungkin tidak terjadi hal seperti ini, seharusnya aku melindungimu dan Valen," kata Frankey.
__ADS_1
"Bukan salahmu! aku yang tidak menyelesaikan dengan baik masalah ini. aku juga tidak ingin menyakiti dia. tapi tidak ku sangka dia nekad melakukannya. dan mungkin dia hanya sekadar emosi saja," ujar Valencia.
"Aku juga tahu mungkin dia tidak sengaja, tapi aku tetap sulit melupakan apa yang terjadi pada Valen. kenapa dia harus begitu mementingkan dirinya sehingga mengabaikan kondisi Valen di saat itu. kalau saja dia menghentikan mobilnya. maka...aku tidak akan begitu marah," kata Frankey.
"Frankey, jangan bermusuhan dengannya, aku berhutang budi dengannya dan selamanya tidak akan terbayar. walau aku marah ketika Valen terluka. tapi aku yakin dia pasti sudah menyesal. dan penyebab dari kejadian ini adalah aku. seharusnya aku yang disalahkan," ucap Valencia.
"Valencia, kita tinggalkan saja semua yang ada di sini! besok kita akan kembali ke rumah kita."
"Apakah rumah itu yang pernah kita tempati?"
"Iya, aku pernah mengatakan padamu, putri kita akan tinggal dan tumbuh besar di sana. dan sudah saatnya kita berkumpul. kita akan sama-sama melindunginya, merawatnya dan memanjakannya," ujar Frankey.
"Frankey, aku sangat bodoh karena tidak tahu selama ini kamu dan Valen sedang menungguku. andaikan aku tahu dari awal. aku sangat ingin bersatu semula dengan kalian," ucap Valencia.
"Walau lima tahun bukan jangka waktu yang pendek, tapi masih belum terlambat untuk kita berkumpul," kata Frankey dengan menyentuh wajah Valencia.
"Aku tidak sabar ingin pulang," ucap Valencia dengan senyum.
"Besok kita akan pulang dan tinggal di sana selamanya, sampai anak-anak kita dewasa," ujar Frankey.
"Valen, mama ada di sini, sayang," ucap Valencia yang memegang tangan mungil putrinya.
"Mama...."
"Tidurlah dan bermimpi indah malam ini, kita akan pulang besok. mama akan merawatmu setiap saat," ucap Valencia yang mencium pipi putrinya.
"Valencia, apa perlu kita ke dokter dulu untuk periksa lukamu," ujar Frankey.
"Jangan! kita pulang saja. aku sudah mengobati lukaku. jadi tidak perlu diperiksa lagi!" jawab Valencia.
"Baiklah, kalau begitu kita istirahat lebih awal!"
"Iya, aku ingin tidur di samping Valen," jawab Valencia.
"Berbaringlah! kakimu jangan terkena air dulu!"
__ADS_1
"Selamat malam," ucap Valencia.
"Selamat malam," balas ucapan Frankey.
Keesokan harinya.
Frankey dan Valencia telah siap berkemas pakaian-pakaian mereka. kali ini Valencia yang menyusun pakaian putrinya ke dalam tas. Valen yang masih belum sembuh ia masih diam dan tidak banyak bicara. ia hanya duduk di kasur sambil melihat ibunya sedang menyusun barangnya.
"Sayang, sebentar lagi kita berangkat. apakah kamu sudah siap?" tanya Valencia dengah senyum.
"Sudah, Ma."
"Apakah Valen bahagia?"
"Iya, Ma."
"Baiklah, mama sudah selesai berkemas," kata Valencia yang menurunkan koper dan menjinjing tas milik putrinya.
"Valencia, apakah sudah siap semuanya?" tanya Frankey yang melangkah masuk ke dalam kamar.
"Sudah siap," jawab Valencia.
"Ayo sayang, mari kita berangkat!" ucap Frankey yang mengedong Valen dan mencium pipinya.
Cup..
"Putri kesayangan papa dan mama akan segera kembali ke paris," ucap Frankey pada Valen yang dalam gendongannya.
Saat mereka ingin melangkah ke arah pintu Carlos datang menjumpai mereka sambil membawa boneka beruang yang berwarna coklat.
πππππππππ
Jangan lupa singgah ya teman-temanπ€π€π€π€π€
__ADS_1