
Frankey mengecup dahi Valencia dan kemudian ia pergi meninggalkan tempat tinggal wanita itu.
Valencia merasa bersalah dengan kedua pilihannya, ia sangat mencintai putri dan Frankey sementara ia juga memiliki perasaan pada Ricky, bukan hanya itu saja, Ricky selama ini sangat melindunginya dengan baik sehingga Valencia dia tidak tega untuk melukainya. tapi di satu sisi ia tidak bisa kehilangan Valen dan Frankey untuk kedua kalinya.
"Frankey, sifatmu sama seperti dulu. selalu tega terhadapku. dirimu tidak memberiku kesempatan. dan harus memaksaku memilih antara kamu dan dia. apa kamu tahu? betapa sakit yang ku rasakan sehingga aku hampir mati di saat itu. Ricky, maafkan aku kalau aku membatalkan semuanya. aku sangat mencintai Valen. ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk bisa merawatnya," batinnya.
"Ku akui aku juga mencintaimu, tapi aku lebih mencintai Frankey, walau bagaimanapun aku berusaha, aku tetap saja gagal melupakan dia," batin Valencia.
Frankey yang masih sedang menyetir ia sedang memikirkan Valencia.
"Valencia, semua piihan ada di tanganmu, aku harus merebutmu kembali, demi diriku sendiri dan juga demi Valen. Ricky, aku akan mementingkan diri sendiri. walau harus kehilangan sahabat sepertimu aku juga terpaksa menerima. aku mengenal Valencia lebih dulu darimu. dan kami terpisah juga karena salah paham. dan kini aku ingin mendapatkannya kembali," batin Frankey.
Keesokan harinya.
Mansion Frankey.
Di pagi hari itu cuaca mendung dan sedang gerimis, Valen sedang duduk di sofa yang dekat dengan jendela menatap luar. ia mengulurkan tangan mungilnya dan mengenai rintik-rintik hujan yang berjatuhan.
"Kapan mama bisa pulang? apa mama tidak tahu jalan pulang? atau tidak tahu kami tinggal di mana? Tuhan, tolong tunjukan jalan kepada mama Valen, agar mama tahu kami di sini!" pinta Valen yang memandang ke langit.
"Tuhan, Valen bersumpah akan menjadi anak yang baik dan berbakti pada orang tua, Valen tidak ingin mengecewakan papa dan mama. Valen hanya meminta mama pulang dan kemudian kumpul bersama kami!"
"Tolong Valen ya...banyak teman-teman Valen memiliki mama yang mengendong mereka dan menyuapi mereka makan. Valen juga ingin seperti mereka. tolong kabulkan permintaan Valen ya! sebagai ganti Valen akan menjadi anak yang berbakti," ucap Valen yang sambil menatap ke langit.
Klek.
"Valen, kamu sedang melakukan apa di sana?" tanya Frankey yang melangkah masuk ke dalam kamar putrinya.
"Papa, Valen sedang meminta kepada Tuhan agar menunjukan jalan pulang untuk mama. mungkin mama akan segera pulang kalau sudah tahu jalan," jawab Valen dengan polos.
Frankey yang mendengar ucapan putrinya ia hanya bisa merasa sedih yang mendalam. gadis kecil yang polos itu sama sekali tidak mengetahui apa alasannya hingga saat ini ia masih mengira mamanya tidak tahu jalan pulang.
"Valen, sangat pintar karena bisa meminta pada Tuhan untuk membantu mama," kata Frankey yang menghampiri putrinya.
"Papa, Tuhan pasti akan membantu mama, kan?"
"Iya, sayang. mamamu pasti akan kembali berkumpul bersama kita. dan kita harus menunggu dengan sabar," jawab Frankey.
"Valen akan sabar menunggu, Pa," jawab Valen yang menghadap keluar jendela.
__ADS_1
"Valen, apa yang kamu lihat?"
"Valen sedang menunggu mama, Pa. mungkin mama akan pulang cepat karena sudah tahu jalan pulang," jawab Valen yang sambil memandang ke arah luar.
"Valen, harus mandi dulu dan sarapan, sekarang sedang hujan mama juga tidak bisa keluar," bujuk Frankey yang mengendong putri kecilnya.
"Iya, sedang hujan, Valen lupa. mudah-mudahan saja setelah hujan berhenti. mama bisa mencari alamat kita," kata Valen yang digendong oleh ayahnya itu.
Setelah beberapa saat kemudian Frankey dan Valen sedang sarapan bersama.
Valen makan dengan begitu lahap, roti panggang dengan daging ayam dan sayuran mentah adalah makanan kesukaan Valen dari sejak empat tahun.
"Bagaimana dengan sarapannya, Valen?"
"Enak, Pa."
"Makan yang banyak ya!"
"Iya, Pa."
Di sisi lain Ricky sedang bermain catur dengan Markus, tidak ada pembicaraan ataupun tawaan dari putra Markus Filan itu.
"Permainan ku cukup buruk," jawab Ricky dengan wajah datar.
"Apakah ada masalah denganmu?"
"Pa, andaikan papa masih bisa memilih, maka di saat itu siapa yang akan papa pilih?"
"Kalau soal perasaan papa akan memilih Diana, karena kami kenal duluan dan saling mencintai. sehingga papa tidak bisa melupakan dia walau hingga saat ini."
"Apakah papa mencintai mama?"
"Terus terang...perasaan papa terhadap mamamu hanya untuk berterima kasih, mamamu sangat baik, sehingga papa tidak tega meninggalkannya, dan pada akhirnya mamamu melahirkanmu dan sekarang dirimu juga sudah dewasa," jawab Markus dengan senyum.
"Pa, apakah papa menyesal menikahi mama?"
"Tidak bisa dikatakan menyesal, papa yang menerima pernikahan ini, dan mencoba untuk menjalankan hubungan dengan mamamu. tentu saja papa sangat menjaga hati dan perasaan mamamu."
"Apakah papa merasa bahagia?"
__ADS_1
"Ricky, kebahagiaan yang sebenarnya adalah kita bisa bersama dengan orang yang kita cintai."
"Kebahagiaan yang sebenarnya adalah kita bisa bersama dengan orang yang kita cintai," gumam Ricky.
"Ada apa denganmu? apa kau sedang bertengkar dengan Valencia?"
"Tidak ada, Pa."
"Jangan kau mengatakan bahwa dirimu memiliki perasaan lagi terhadap Natalie."
"Tentu saja tidak, Pa."
"Lalu...kenapa kamu diam saja dan seperti ada masalah?"
"Pa, apakah masih ingat masa lalu Valencia?"
"Tentu ingat! dia sangat kasihan dianggap sebagai wanita hamil bayaran," jawab Markus sambil menyusun kembali bidak catur
"Sekarang dia bertemu kembali dengan pria itu," ujar Ricky dengan wajah lesu
"Bertemu kembali dengan pria itu?"
"Iya, sebenarnya selama ini mereka saling mencintai, pria itu tidak menikah hanya demi mencari Valencia selama ini."
"Kenapa kamu bisa mengetahui soal ini?"
"Karena pria itu adalah sahabatku sendiri, aku sudah mengenalnya cukup lama. bahkan putrinya juga sudah berusia lima tahun dan sangat merindukan mamanya selama ini."
"Ricky, di saat kamu membuat keputusan untuk memilih Valencia, kamu harus bersiap menanggung resikonya!"
"Resikonya? maksud papa adalah...."
"Karena Valencia sudah memiliki seorang putri dengan pria lain. dan mungkin saja suatu saat mereka akan bertemu kembali. hubungan mereka bukan sekadar pasangan yang sudah putus. tapi mereka sudah memiliki anak."
"Apa yang harus ku lakukan?"
"Tergantung pada Valencia! kita jangan memaksanya tinggal atau menyuruhnya pergi. biarlah dia yang tentukan jalannya. dengan begini kau juga akan lebih tenang!"
"Aku hanya tidak ingin kehilangan dia, tidak mudah bagiku untuk mendapatkan dia. selama lima tahun aku menunggunya, dan di saat dia sudah menerimaku. pria itu malah muncul di hadapannya."
__ADS_1