
Keesokan harinya.
Janet yang terbangun duluan ia menatap senyum pria itu yang masih ketiduran.
"Akhirnya aku memberikan mahkotaku padanya, walau sakit tapi sangat berharga bagiku," batin Janet.
Paris.
Sekolah tempat Valen belajar.
Frankey telah mendaftarkan sekolah terbaik untuk putrinya di paris. siang itu ia dan Valencia mengantar putri kesayangan mereka ke sekolah dan menunggu di luar sehingga jam pulang sekolah.
"Papa...Mama...,"suara panggilan Valen yang berlari keluar dengan girang.
"Hai, sayang. bagaimana di hari pertamamu?" tanya Valencia yang menjongkok di depan putrinya.
"Sangat menyenangkan, Ma. Valen sangat menyukai sekolah ini. teman-teman juga sangat ramah," jawab Valen dengan gembira
"Baguslah kalau putri papa menyukainya, mari kita jalan-jalan!" ajak Frankey yang mengandeng tangan putrinya
"Kita jalan-jalan ke mana, Pa?"
"Ke mana saja yang Valen inginkan," jawab Valencia yang berdiri dan memegang tangan mungil putrinya.
"Keliling kota dan melihat keindahan perancis," jawab Valen dengan girang dan berlari menuju ke mobilnya.
__ADS_1
"Anak ini...lihatlah dia begitu gembira ketika kita mengajaknya jalan-jalan," ucap Frankey dengan tersenyum.
"Kita bawa saja ke mana pun dia suka," kata Valencia.
"Mama, apakah Valen boleh duduk di pangkuan mama?" tanya Valen yang membuka pintu mobil depan.
"Tentu boleh, sayang," jawab Valencia yang menghampiri putrinya.
Valencia memangku putri kesayangannya sambil melihat pemandangan indah kota itu, siang itu Frankey membawa calon istrinya dan putrinya keliling kota itu.
"Papa, apakah kita bisa keliling kota setiap hari?"
"Apakah Valen ingin melakukannya setiap hari?" tanya Frankey yang sedang menyetir.
"Kalau Valen menyukainya kita akan jalan-jalan setiap hari, apakah Valen menginginkan sesuatu?" tanya Valencia.
"Tidak ada, Ma. Valen tidak butuh yang lain, Valen hanya ingin seperti teman-teman lainnya bisa bersama dengan papa dan mama setiap saat," jawab Valen dengan senyum..
"Putri papa ini pintar sekali, papa berjanji padamu akan selalu membawamu dan mama jalan-jalan dan sering meluangkan waktu untukmu dan mama," ucap Frankey.
"Baik, Pa. Valen akan ingat janji papa," ujar Valen.
"Anak manja, apakah kamu bahagia?" tanya Valencia yang memeluk putrinya.
"Valen sangat bahagia, Ma," jawab Valen dengan senyum.
__ADS_1
Di sisi lain seorang wanita bersama seorang anak laki-laki berdiri di depan rumah Frankey.
"Mama, rumah besar ini milik siapa, kenapa kita datang ke sini?" tanya anak laki-laki itu yang sebaya Valen.
"Frank, rumah ini adalah rumah papamu, dan hari ini kamu akan bertemu dengan papamu," jawab wanita itu yang tak lain adalah Cici.
Cici adalah wanita pilihan Josio di saat lima tahun yang lalu, ia tidak menyadari sama sekali bahwa di saat itu pria yang bersamanya bukan Frankey melainkan pria bayaran lain yang diatur oleh Frankey sendiri.
"Mama, kenapa papa tidak tinggal dengan kita selama ini?"
"Papamu tidak tahu kalau mama telah melahirkanmu, sayang," jawab Cici dengan senyum.
"Frank, kamu adalah putra papamu satu-satunya, ingat...kalau bertemu dengan papamu nanti kau harus menyapanya!"
"Baik, Ma. apakah kita akan menjadi orang kaya?"
"Tentu saja! setelah papamu tahu kamu adalah putranya, kamu bisa meminta apa saja pada papamu," jawab Cici.
"Dengan begitu aku bisa memberitahu semua teman-temanku bahwa papaku adalah orang kaya. biar mereka takut denganku," kata Frank.
"Di dunia ini kalau kita memiliki banyak uang semua orang akan takut dengan kita. Frank, kamu harus menjadi penerus papamu. dengan begitu kehidupan kita akan semakin lancar dan kaya," ujar Cici.
"Baik, Pa," jawab Frank.
"Frankey, aku yakin kau pasti tidak akan menolak ketika kamu melihat putra kita, aku akan menjadi istrimu dan menikmati hidup mewah setiap hari. siapapun tidak layak bersamamu selain aku," batin Cici
__ADS_1