
"Papa, Valen bertemu dengan bibi cantik itu," ucap Valen yang menghampiri papanya. sedangkan Valencia masih membelakangi pria yang dia cintai selama ini. ia tidak tahu bagaimana berhadapan dengan pria itu.
"Valen, jangan lupa pesan papa sebelumnya!" kata Frankey.
"Iya, Pa. tapi bibi ini sangat baik, dan Valen juga ada melukis wajah bibi ini dan ingin memberikan padanya sebagai tanda hadiah," ujar Valen.
"Melukis wajah bibi? apakah gambar yang ada di dalam tas Valen?" tanya Frankey yang semakin penasaran.
"Iya, Pa."
Frankey langsung memandang punggung wanita itu dan menyadari bahwa wanita yang dia lihat adalah orang dia cari selama ini, sedangkan Valencia hanya diam tanpa berani menatap ke arah pria yang dulunya menjalinkan hubungan dengan dirinya.
Kemudian Valencia memberanikan diri menoleh ke arah Frankey yang di belakangnya.
Frankey yang melihat wanita itu serasa tidak percaya bahwa ia akhirnya bisa berjumpa dengan ibu dari putri kecilnya itu. mereka saling bertatapan selama beberapa menit dan diam tanpa sepatah kata. mata mereka berkaca-kaca karena melihat orang yang di hadapan mereka adalah orang yang paling mereka rindukan selama ini.
Valen merasa heran saat melihat reaksi papanya itu yang terdiam saat melihat seorang wanita. selama ini ia belum pernah melihat papanya itu menatap seorang wanita dan bahkan tidak pernah memperhatikan setiap wanita yang mendekatinya.
"Apakah ini namanya jatuh cinta pada pandangan pertama seperti di film?" batin Valen.
"Sudah lama tidak melihatmu, apa kabar?" tanya Frankey yang menahan air mata.
"Seperti yang kamu lihat sekarang, aku baik-baik saja," jawab Valencia menetes air mata.
"Bibi dan papa kenapa menangis? apakah kalian saling jatuh cinta?" tanya Valen dengan polos.
"Siapa yang jatuh cinta di sini?" tanya Ricky yang muncul di sana dengan tiba-tiba.
Mendengar suara tunangannya Valencia langsung memalingkan wajah dan mengusap air mata.
"Frankey, Valencia, ternyata kalian ada di sini? aku sedang menunggu kalian," ujar Ricky.
"Sedang menunggu kami?" tanya Frankey yang merasa heran.
"Iya, Valencia adalah calon istriku," jawab Ricky dengan senyum.
"Valencia, aku perkenalkan. Frankey adalah sahabatku yang sering ku sebut di depanmu. dan ini adalah Valen si malaikat kecil," ucap Ricky yang memperkenalkan mereka berdua.
Frankey dan Valencia langsung terdiam saat mendengar ucapan Ricky. bagaimana tidak, hubungan mereka dengan Ricky bukanlah hanya hubungan sekadar teman biasa.
__ADS_1
"Ternyata tuan ini adalah...sahabatmu," ucap Valencia.
"Iya, sahabat baikku, dia adalah satu-satunya sahabatku," jawab Ricky.
"Mari malaikat kecil, kita pergi makan! hidangan sudah datang," ujar Ricky yang mengendong Valen.
"Hore...Valen sudah lapar juga," ucap Valen dengan girang.
Saat Ricky melangkah pergi Frankey dan Valencia saling bertatapan dan kemudian Valencia pun ikuti langkan calon suaminya itu.
Frankey yang baru mengetahui bahwa wanita yang dia cintai selama ini telah menjadi calon istri sahabatnya itu, perasaan sakit hati dan rasa bersalah bercampur menjadi satu.
Makan siang bersama.
Selama makan Frankey dan Valencia tidak berbicara sama sekali. Valencia sering menatap putri kecilnya yang sedang menyantap makanan dengan begitu lahap.
"Papa, Valen mau ayam goreng lagi!" pintanya yang menatap Frankey.
"Valen, ini ada ayam gorengnya, makanlah!" ucap Valencia yang memberikan makanan miliknya kepada putri kecilnya.
"Itu punya bibi, Valen tidak boleh makan," jawab Valen.
"Tidak apa-apa, bibi suka tidak makan," jawab Valencia dengan alasan.
"Terima kasih, Bibi," ucapnya dengan sopan.
"Putrimu ini kuat makan juga, tidak cukup dengan satu potong ayam," kata Ricky dengan bercanda.
"Dia hanya makan banyak di saat ada makanan kesukaannya," ujar Frankey.
"Valencia, setelah kita menikah kita juga akan memiliki seorang anak perempuan yang lucu seperti Valen," kata Ricky yang mengambilkan lauk untuk calon istrinya.
Frankey yang melihat kemesraan mereka ia hanya bisa terdiam dan langsung menghabiskan minuman dalam satu tegukan.
"Bibi, apa bisa kita sering bertemu?" tanya Valen dengan berharap.
"Valen baru pertama kali bertemu dengan bibi, kenapa ingin bertemu lagi?" tanya Ricky dengan senyum.
"Valen sangat suka dengan bibi, Paman, sering-sering ya bawa bibi ke rumah dan menemani Valen!" pintanya sambil manarik baju lengan Ricky dengan perlahan.
__ADS_1
"Baiklah, paman berjanji padamu. habiskan dulu makanannya ya!" jawab Ricky dengan menyentuh kepala gadis kecil itu.
"Karena kita sudah berkumpul ada yang ingin ku umumkan," ucap Ricky yang melihat ke arah Valencia dan Frankey.
"Ada hal penting apa?" tanya Frankey yang sambil menyantap makanan.
"Papaku menentukan bulan depan adalah hari pernikahan aku dan Valencia," jawab Ricky dengan senyum.
Valencia yang mendengar ucapan tunangannya dia langsung terdiam dan berhenti makan.
"Valencia, dalam beberapa hari ini kita harus memilih gaun pengantin, bulan depan aku ingin kamu menjadi pengantin yang paling bahagia dan paling cantik," ucap Ricky yang mencium wajah tunangannya.
"Baiklah, kamu harus membantu aku memilih gaunnya," jawab Valencia dengan senyum.
"Itu sudah pasti," ucap Ricky yang menyuap calon istrinya.
"Frankey, aku ingin kau menjadi pedamping pangantin pria, jadi jangan menolak!"
"Karena permintaanmu maka aku akan menyetujuinya," jawab Frankey dengan wajah datar, ia hanya bisa berpura-pura di depan sahabatnya seakan tidak terjadi apapun.
Valen turun dari kursinya dan mengambil gambar yang dia lukis semalam dari tasnya. Kemudian ia memberikan kepada Valencia.
"Bibi, ini adalah hadiah Valen untuk bibi, semoga bibi menyukainya," ucap Valen.
Valencia melihat lukisan putrinya sendiri ia merasa bahagia dan memeluk gadis mungil itu.
"Terima kasih, Valen. kamu sangat pintar," ucap Valencia yang memeluk dengan penuh kasih sayang.
"Bibi, bisa memelukku lebih lama! pelukan bibi membuat Valen merasa seperti dipeluk mama," pinta Valen.
Mendengar permintaan putrinya Valencia memeluknya dengan erat dan mengeluarkan air mata. hatinya ingin mengakui putri kecilnya akan tetapi ia tidak bisa melakukannya sekarang. tentu salah satu alasan karena tidak ingin melukai Ricky yang selama ini sangat perhatian pada dirinya
"Bibi, apa Valen bisa memanggil mama?" tanya Valen.
Frankey dan Ricky yang mendengar pertanyaan Valen mereka pun langsung memandang ke arah gadis kecil itu.
"Ma-mama?" tanya Valencia yang terbata.
"Iya, tidak tahu kenapa Valen merasakan bahwa bibi seperti mama Valen saja."
__ADS_1
Valencia tentu sangat ingin mendengar panggilan putrinya itu, hanya saja karena tidak ingin dicurigai oleh Ricky ia pun tidak menjawab sama sekali.
"Bibi, hanya untuk kali ini saja! lain kali Valen tidak akan memanggil mama lagi," kata Valen.