
Sekolah tempat Valen belajar.
Siang itu datanglah dua orang pria yang berkaca mata hitam menuju ke dalam sekolah dan mencari keberadaan Valen. mereka melihat setiap kelas di dalam sekolah yang besar dan luas itu.
Setelah mencari selama lima belas menit mereka menghentikan langkahnya dan melihat sasaran mereka yang sedang bermain dengan murid lainnya.
"Anak itu ada di sana, mari kita masuk!" ajak salah satu pria itu dengan mengeluarkan pistol mereka.
Mereka berdua mengeluarkan pistol dan menodong ke arah guru sekolah.
"Diam dan jangan berteriak!" kecam salah satu pria itu.
Guru itu yang cemas melindungi murid-murid yang sedang berdiri di belakangnya.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya guru itu.
"Serahkan anak yang bernama Valen! jika tidak, kami akan membunuh yang lain," gertak pria itu dengan nada keras sehingga menakuti semua anak-anak itu.
"Jangan menyakiti mereka! ambil saja apa yang kalian inginkan, tapi jangan sakiti mereka," pinta guru itu.
"Jangan melawan lagi! atau kau ingin melihat aku pecahkan kepala mereka!" gertak pria itu.
"Paman, aku di sini. jangan sakiti teman-teman Valen!" kata Valen yang maju ke depan.
"Valen, jangan ke sana!" ujar gurunya.
"Anak pintar! kau tahu apa yang harus kau lakukan," ketus pria itu yang menarik jaket bagian belakang Valen dan melangkah keluar.
"Valen...," teriak gurunya yang cemas.
"Jangan sakiti dia! dia masih anak kecil!" pinta gurunya mengikuti langkah dua pria itu.
"Diam di sana! jangan memaksaku membunuh kalian semua!"
__ADS_1
"Paman, kalian ingin membawaku ke mana?" tanya Valen yang ditarik oleh pria itu.
Di saat yang sama Markus mendatangi sekolah tempat cucunya belajar, ia melangkah masuk karena mendengar suara gaduh.
Saat itu ia melihat cucunya diseret oleh pria itu ia langsung menghampiri mereka.
"Paman, kaki Valen sakit," tangisan Valen.
"Berhenti! apa yang kalian lakukan? cepat lepaskan anak ini," teriak Markus yang khawatir.
"Kakek Paman...," teriak Valen yang ketakutan.
"Valen, jangan takut!" ucap Markus.
"Kalau kalian hanya ingin uang, aku akan memberikan padamu, lepaskan dia!" ujar Markus.
"Apa hubunganmu dengan anak ini?"
"Dia adalah cucuku, aku akan memberi kalian uang dan tolong jangan sakiti dia," jawab Markus.
"Lepaskan cucuku! aku mohon padamu!" pinta Markus.
Bruk...
"Aarrghhh...," jeritan Markus yang dipukul bagian perutnya. karena merasa sakit dirinya langsung menjongkok sambil menahan sakit.
"Kakek Paman...," teriak Valen.
"Paman, jangan sakiti kakek paman," teriak Valen.
"Jangan coba menghalang kami, jika tidak kami tidak akan ragu memecahkan kepalanya," kecam pria itu yang menarik lengan Valen dengan kasar.
"Aarrghh...," jeritan Valen yang kesakitan.
__ADS_1
"Jangan sakiti dia!" pinta Markus.
"Mari kita pergi!" ujar pria itu yang lagi-lagi menyeret gadis kecil itu.
"Paman, sakit," tangisan Valen yang kesakitan.
Di saat mereka ingin masuk ke mobil tiba-tiba saja tiga mobil datang langsung menabrak mobil mereka.
Brak...
Brak...
Brak...
Tiga mobil yang datang menabrak dari depan, belakang dan samping.
Mereka yang menahan Valen mendekatkan pistol ke kepala gadis kecil itu.
Beberapa pria yang berpakaian jas hitam keluar dari mobil dan menghampiri dua utusan Cici.
"Siapa kalian?" tanya mereka yang sedang menahan Valen.
"Kami ditugaskan untuk melindungi nona, ingin membawa nona pergi harus ada izin dari kami," jawab salah satu pria itu yang bernama Barned.
"Kalian adalah bodyguard anak jahanam ini," bentak mereka
"Jaga mulutmu!" ketus salah satu bodyguard Valen.
"Mungkin saja kalian hanya menginginkan uang saja, berapa nominal yang kalian inginkan?" tanya Barned.
"Siapa yang membayar kalian? berapa yang di bayar? bos kami juga sanggup membayar dua kali lipat. asal putrinya tidak kehilangan sehelai rambut pun," tanya Barned yang mengeluarkan buku cek.
"Kalian hanya ingin menjebakku, setelah aku menyerahkan anak ini kalian akan menangkap kami."
__ADS_1
"Uang menjadi milik kalian setelah lepaskan nona, kami hanya ingin dalang utamanya saja," kata Barned.