
"Ricky, bukankah sahabatmu memiliki seorang anak? bagaimana kalau kita membeli sesuatu untuk anaknya?" tanya Valencia yang masuk ke dalam mobil.
"Dia sudah memiliki segalanya, pakaian dan mainan," jawab Ricky dengan senyum dan menghidupkan mobilnya.
"Itu beda! kita memberikan dia kado itu sebagai tanda perkenalan terhadap dia," jawab Valencia.
"Baiklah, aku mengerti. aku hanya bercanda saja," ucap Ricky dengan senyum.
Restoran.
Frankey dan Valen telah tiba.
Saat itu pelayan restoran sedang memberikan buku menu makanan kepada Frankey.
"Valen, pilih makanan yang kamu suka!" ujar Frankey yang memberikan buku menu itu kepada putrinya.
"Papa, Valen mau ayam goreng dan sop wortel," jawab Valen tanpa membaca menu itu.
"Nanti siapkan pesanan putri saya, kami sedang menunggu teman, setelah mereka tiba baru hidangkan sekalian!" kata Frankey pada pelayan.
"Baik, Tuan," jawab pelayan restoran dengan sopan.
"Papa, Valen mau ke toilet!"
"Mari papa tunjukan jalannya!" kata Frankey yang bangkit dari kursinya.
"Tidak perlu! Valen bisa pergi sendiri, Pa," jawab Valen yang turun dari tempat duduknya.
"Paman, bisa tolong tunjukan jalan untuk ke toilet?" tanya Valen pada pelayan restoran.
"Mari Nona, silakan ikut saya!" jawab pelayan itu dengan ramah sambil memegang tangan mungil putri Frankey.
Setelah beberapa saat kemudian Ricky dan Valencia tiba di restoran itu.
"Valencia, boneka yang kamu beli ini sama besarnya dengan gadis kecil itu, aku yakin dia pasti sulit untuk memeluknya," ujar Ricky dengan seraya bercanda.
"Dia pasti akan menyukainya, nanti aku ke kamar kecil dulu. kamu bertemu dulu dengan temanmu," kata Valencia.
"Baiklah," jawab Ricky yang kemudian keluar dari mobilnya.
Sementara Frankey yang duduk kembali ke kursi menunggu kedatangan temannya, ia sambil membaca menu makanan restoran itu. lalu ia mendapati sebuah gambar yang ada di dalam tas putrinya yang dalam kondisi terbuka. karena merasa penasaran Frankey pun mengeluarkan lembaran kertas itu dan melihat lukisan putrinya.
Saat melihat selama beberapa saat Frankey membulatkan mata besarnya, ia melihat wajah seorang wanita yang dilukis oleh putrinya tentunya tidak asing baginya.
"Ke-kenapa Valen bisa mengambar wajah dia dengan mirip? mata, hidung dan bibir semua sangat mirip," ucap Frankey yang menatap gambar itu tanpa berkedip.
Dan di saat yang sama sahabatnya pun tiba dan menghampiri meja yang di mana Frankey sedang duduk di sana.
"Apa yang kamu lihat sehingga begitu fokus?" tanya Ricky yang sambil memeluk boneka besar.
__ADS_1
"Sudah datang...hanya sendirian?" sahut Frankey yang melihat sahabatnya itu.
"Calon istriku ke kamar kecil, dan aku masuk dulu menemuimu dan Valen, di mana putri kecilmu itu?"
"Dia pergi ke toilet," jawab Frankey yang masih sambil fokus pada gambar itu.
"Boneka ini dibeli oleh calon istriku," kata Ricky yang menarohkan bonekanya ke kursi.
"Hm...," jawab Frankey yang sambil melihat wajah gambar itu.
"Eh...kamu sedang melihat apa? kenapa bisa begitu fokus?"
"Tidak ada...hanya lukisan Valen saja," jawab Frankey.
"Apakah begitu hebat sehingga kau melihatnya tanpa berkedip?"
"Dia mampu melukis wajah seseorang dengan begitu mirip," jawab Frankey.
"Itu tandanya putrimu itu berbakat sebagai pelukis," kata Ricky sambil membaca menu makanan.
"Wajah siapa yang dia lukis?" tanya Ricky
"Mamanya, aku tidak tahu bagaimana dia bisa mengetahui wajah mamanya," jawab Frankey.
"Kamu pilih saja dulu menunya! aku pergi melihat Valen dulu," kata Frankey yang memasukan kembali gambar itu ke dalam tas putrinya, dan kemudian ia pun melangkah pergi mencari putrinya.
Di sisi lain Valencia yang ingin masuk ke dalam toilet wanita ia berpapasan dengan Valen yang keluar dari toilet.
"Bibi...?" panggil Valen dengan hampir merasa tidak percaya
"Bibi, akhirnya kita bertemu lagi," ucap Valen dengan senang hati.
Valencia menjongkok dan berbicara dengan gadis kecil itu," Valen, kamu datang dengan siapa?"
"Dengan papa Valen, dan kami sedang menunggu teman papa," jawab Valen dengan senyum.
"Bibi, kenapa bibi bisa ada di sini?"
"Ada janjian dengan teman," jawab Valencia yang menyubit pipi gadis kecil itu.
"Bagaimana kalau bergabung dengan kami!" pinta Valen yang memegang tangannya Valencia.
Valencia merasakan sentuhan tangan mungil gadis kecil yang tak lain adalah putrinya sendiri. hanya saja ia tidak menyadari bahwa Valen adalah bayi yang dia lahirkan itu.
"Bibi sedang bersama teman, dan...tidak bisa bergabung dengan Valen. bagaimana kalau lain kali kita baru bergabung?"
"Iya, Bibi jangan lupa dengan janjinya ya," jawab Valen denga senyum.
"Bibi akan ingat, Nona manis," ucap Valencia.
"Valen, siapa nama aslimu?" tanya Valencia yang merasa penasaran.
__ADS_1
"Namaku adalah Valen Valencia Christoper."
Mendengar jawaban dari anak kecil itu Valencia merasa aneh dan terkejut," si-siapa namamu?"
"Namaku adalah Valen Valencia Christoper," jawabnya yang mengulangi ucapannya tadi.
"Mungkin hanya kebetulan saja," batin Valencia.
"Apakah itu adalah nama penuh Valen sendiri?"
"Papa bilang Valencia adalah nama mama Valen, sedangkan Christoper adalah nama papa Valen."
"Valen, nama ma-mamamu apa?" tanya Valencia dengan terbata.
"Valencia Valentina," jawab Valen.
Valencia yang mendengar jawaban anak kecil itu lagi-lagi membuatnya serasa tidak percaya.
"Dan...siapa nama papamu?"
"Nama papaku adalah Frankey Christoper."
Valencia menjadi terdiam dan menatap anak kecil yang di hadapannya itu, suatu kejutan karena ia melihat anak kecil itu ternyata adalah putri kandungnya.
"Bibi, kenapa menangis?" tanya Valen yang melihat mata indah wanita itu mengeluarkan air mata.
"Valen? kenapa namamu bisa digabung dengan nama orang tuamu?" tanya Valencia yang merasa penasaran.
"Papa bilang padaku, itu karena papa mencintai mama selama ini. oleh sebab itu namaku di gabungkan dengan mereka."
"Bibi kenapa?"
"Ti-tidak ada kenapa-kenapa," jawab Valencia yang mengusap air matanya.
"Apakah Valen selama ini merindukan mama?" tanya Valencia yang menyentuh pipi putrinya.
"Sangat merindukan mama, bukan hanya Valen saja tapi papa Valen juga merindukan mama setiap saat."
"Papa Valen juga merindukan mama setiap saat?" tanya Valencia yang sulit mempercayai dengan apa yang dia dengar.
"Benar! Selama ini papa mengirim orang untuk mencari mama terus dari negara kanada, amerika, los angeles, swedia, california, san fransisco. dan kemudian di negara ini," jawab Valen dengan terus terang.
"Frankey mencariku selama ini? bukankah dia tidak mencintaiku dan kenapa harus mencariku lagi? bukankah dia seharusnya menikahi Nacy saat itu?" batin Valencia.
"Bibi, kenapa sedih?" tanya Valen yang menyentuh wajah Valencia.
Valencia merasakan sentuhan hangat dari putri kandungnya itu, dirinya sangat ingin memeluk gadis kecil yang di depan matanya, akan tetapi ia harus menahan diri karena mengingat dirinya akan segera menikah dengan pria lain.
"Putriku yang rindukan selama ini ada di depanku," batin Valencia.
"Valen...kenapa kamu lama sekali?" tanya Frankey yang tiba-tiba muncul dari belakang Valen.
__ADS_1
Valencia yang mendengar suara pria itu membuat jantungnya berdetak kencang, selama ini ia sudah berusaha melupakan semua mengenai pria itu, akan tetapi kini ia kembali mendengar suara pria itu dan bahkan muncul di belakangnya.
Di sisi lain Ricky sedang melihat gambar yang dilukis oleh Valen, ia menatap cukup lama pada gambar itu. tidak tahu apa yang ada di pikirannya sehingga tangannya gemetar saat memegang lukisan itu. ia mengingat kembali tatapan Frankey yang begitu fokus pada gambar tersebut.