Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 010 : Kita Bejuang Bersama-sama


__ADS_3

"Kakak, kita kakak beradik sudah hidup saling bergantungan selama bertahun-tahun. Kelak tidak boleh terjadi sesuatu kepada kakak, kamu harus baik-baik saja, karena kamu masih harus terus menemaniku seumur hidup!"


fanie ingin memberikan sedikit dorongan kepada kakaknya, dokter sudah memberitahunya, pasien yang akan menjalani operasi harus memiliki suasana hati yang baik, dan harus secara aktif bekerja sama dengan dokter.


“fanie , kakak,akan berusaha!” Bahkan evan juga tidak ingin meninggalkan adik yang baik ini, belum lagi dia masih sangat muda, dia masih belum memiliki kesempatan untuk mengalami percintaan, dia belum memiliki waktu dan kesempatan untuk berpacaran, dia masih punya banyak keinginan dalam kehidupan ini, dia masih belum sempat menwujudkannya, dan masih banyak hal yang menunggu untuk dia kerjakan. Dan fanie nya, akan segera menghadapi ujian masuk S2, bagaimana dia bisa merasa tenang?


"Kakak, mari Kita berjuang bersama-sama oke? Kamu berjuang di rumah sakit untuk melawan penyakit. Aku juga berjuang di sekolah untuk belajar. Setelah operasimu berhasil, dan setelah tubuhmu sehat,


aku juga bisa masuk ke Universitas yang aku mimpikan, kita bisa sama-sama mewujudkan harapan kita dan berbahagia bersama! "Ini adalah dua hal penting yang paling dia nanti-nantikan.


“Baik, kita berjuang bersama!”evan mengangguk tanpa henti, memiliki adik yang begitu dewasa, dia juga tidak ingin menyerah.


Tanpa sadar fanie menemani kakaknya sampai sore, saat kakak beradik itu sedang bersama, msekipun mereka tidak mengatakan apa-apa, dan hanya duduk diam, fanie juga merasa senang. Setelah hidup bersama kakaknya selama bertahun-tahun, mereka kakak beradik sudah terbiasa saling bergantung.


"Hari sudah sore, cepatlah pulang! Seorang anak gadis tidak baik berkeliaran di luar hingga terlalu malam, aku juga sedikit khawatir kamu sendirian di jalan. Begitu malam tiba kota ini tidak terlalu aman!" Melihat hari sudah senja, evan mulai mendesak adiknya pulang.


Karena tidak ada kerjaan, sore ini fanie membantu kakaknya membasuh badan di kamar pasien, lalu menggantikan pakaiannya dengan pakaian yang bersih, dia yang masih kecil, melakukan segala sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan oleh gadis seusianya dengan terampil dan cekatan.


“Kakak, tidak perlu terburu-buru, aku akan pulang setelah mencuci baju ini!” Sebenarnya, fanie sama sekali tidak takut. Dia sudah terbiasa kesana kemari sendirian, bukankah hanya melakukan perjalanan di malam hari. Dia sudah dewasa dan tahu caranya melindungi diri.


fanie mengambil handuk dan barang-barang lain yang biasa digunakan kakaknya keluar untuk dicuci semuanya, dia juga tidak yakin apakah setiap hari dia bisa datang ke rumah sakit untuk mengunjungi kakaknya, jadi setiap kali dia datang, dia akan berusaha tinggal sedikit lebih lama dan mencuri waktu.


Setelah menggantung semua pakaian dan handuk di tempat jemuran di luar, dia mengelap tubuhnya lalu dia bangkit dan berjalan ke kamar pasien.


"Cepat pulang! Kakak tidak memerlukan apa-apa lagi. Kakak tidak tenang jika kamu tinggal disini hingga terlalu malam?" evan bersikeras.


"Baiklah, Kakak , aku pulang dulu! Jika besok aku ada waktu, aku akan datang menjengukmu! Tentu saja, jika kamu merasa tidak nyaman atau butuh bantuan di sini, ingat untuk menekam bel di sebelah tempat tidur, agar perawat membantumu! Nanti, aku akan berpesan kepada perawat yang bertugas! "


Meskipun dia juga ingin mempekerjakan perawat untuk kakaknya, tetapi perawat di rumah sakit ini tidak murah, dan juga sekarang kakaknya belum menjalani operasi, jadi tidak apa-apa.


Selain saat di infus, dia tidak bisa bergerak, di saat yang lain kakaknya selalu keras kepala, dan selalu mengatakan dia bisa menanganinya sendiri.


Tapi mencari perawat merupakan hal yang harus dilakukan cepat atau lambat. Di kantor dokter tadi, Dokter juga sudah berpesan, setelah operasi harus mempekerjakan perawat dan dia harus dijaga 24 jam, dan kondisi fisiknya harus diamati dari waktu ke waktu, dia harus dijaga dengan sangat hati-hati.


Uang 250 juta rupiah yang dia miliki sudah habis untuk membayar biaya operasi dan yang lainnya. Kelihatannya dia harus memikirkan cara untuk mendapatkan uang untuk mempekerjakan perawat, misalkan memanfaatkan waktu ini, untuk menjadi guru les, atau mencari lebih banyak pekerjaan paruh waktu?


Begitu dia berjalan keluar dari kamar pasien dia langsung pergi ke meja perawat.

__ADS_1


Karena keadaan keluarganya yang tidak biasa, dan kakak laki-lakinya yang sakit masih sangat muda, hampir semua perawat yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya ini, mengenali gadis baik hati dan miskin ini.


"Kakak perawat, selama beberapa hari ini terima kasih karena kakak-kakak sudah menjaga kakakku dengan baik!"


Dia berdiri di depan meja perawat, sambil memberikan penghormatan yang tulus kepada para malaikat berbaju putih ini!


Sering kali, dia tidak bisa tinggal di rumah sakit untuk menjaga kakaknya yang sakit, jadi para kakak perawat ini lebih sering bertemu dengan kakaknya daripada dirinya yang menjadi adik ini


"Adik, jangan sungkan! Ini adalah tugas kami! Seingatku kamu masih seorang mahasiswa kan, kamu jangan terlalu terbebani dengan masalah kakakmu. Belajar yang baik dan fokus pada pendidikanmu. Ini adalah hal yang paling penting untuk kamu lakukan saat ini, bukankah kakakmu yang berada di kamar pasien masih memiliki dokter dan perawat rumah sakit ini, Kamu tidak perlu khawatir! Jika ada masalah yang mendesak, kami para perawat akan langsung menghubungimu! "


Para perawat di meja perawat sangat ramah, tentu saja, sebagian besar dari mereka merasa simpati kepada adik dari pasien evan yang tidak beruntung ini.


Tidak ada ayah dan ibu, kakak beradik hidup saling bergantungan satu sama lain, jadi begitu sang kakak menderita penyakit seperti ini, semua beban langsung berpindah ke pundak adiknya ini.


Jika orang tua mereka masih ada, mungkin gadis kecil ini tidak perlu sendirian menanggung beban yang sangat berat ini.


"Kalau begitu, tolong para kakak terus membantu menjaga kakakku selama beberapa hari lagi. Dokter dan aku membuat jadwal operasi untuk minggu depan, jadi, setelah operasi, aku rasa aku akan mencarikan perawat khusus untuk menjaga kakakku!" Dalam hati dia mengingatkan dirinya, meskipun tidak punya uang, dia harus memikirkan cara untuk mempekerjakan perawat ini.


Dia juga sangat galau, jika sekolahnya memberikan liburan panjang, dia bisa langsung pergi ke rumah sakit untuk menemani kakaknya, tetapi sayangnya, masih ada beberapa waktu sebelum liburan panjang tiba, dan sekarang dia juga memiliki tekanan untuk menghadapi ujian masuk S2.


Ketika dia pergi meninggalkan meja perawat, hatinya penuh dengan perasaan bersyukur.


Meskipun hidupnya sangat tidak beruntung, tapi untungnya, dia masih bisa bertemu dengan begitu banyak orang baik di sekitarnya, baik yang dia kenal ataupun tidak dia kenal, semua mengulurkan tangan untuk membantu kakaknya.


Begitu dia memasuki lift, ponsel tuanya kembali berdering.


Dia mengeluarkannya dan melihat layar ponsel menunjukkan nomor telepon yang lumayan familier.


"Di mana kamu sekarang? Bibi Leni bilang kamu masih belum kembali ke vila, apakah kamu masih di rumah sakit?"


Begitu telepon tersambung, langsung terdengar suara Arya yang sedikit dingin dan tidak terlalu senang.


Tangannya yang memegang ponselnya sedikit keberatan.


"Hmm, aku masih di rumah sakit, aku baru bersiap untuk pergi," jawabnya jujur.


“Kalau begitu kamu tunggu di pintu rumah sakit, dan jangan kemana-mana aku akan kesana untuk menjemputmu!” Arya yang berada di balik telepon berkata sambil mengerutkan dahinya.

__ADS_1


Dia baru saja mengakhiri rapat video call dengan kliennya yang berasal dari luar negeri, saat dia teringat untuk menelepon ke villa, dia malah mendapati gadis itu masih belum pulang.


Tetapi sekarang, begitu mendengar dia masih di rumah sakit dan mendengar nada bicaranya, yang sedikit tidak bersemangat dan frustrasi, Arya menebak suasana hatinya pasti sedang tidak terlalu baik.Amarah Arya langsung menghilang tanpa jejak.


Pada akhirnya, dia melembutkan nada bicaranya dan malah menyetir sendiri untuk menjemputnya pulang. Dia juga tidak tahu apakah saat itu dia kerasukan, atau gimana?


Begitu keluar dari perusahaan, dia mengendarai mobilnya sendiri tanpa meminta sopir pribadi untuk menjemputnya.


Kadang-kadang, dia sangat menikmati kebebasan dan kesenangan saat mengendarai mobil sendirian sambil berkeliling kota, sekarang, dia akan pergi menjemput wanita kecilnya yang imut, tentu saja, dia tidak akan membawa orang luar seperti supir untuk ikut dengannya. Mana mungkin membawa pengganggu saat dia akan pergi berkencan?


Dia tidak sebodoh itu.


Setelah fanie menerima telepon Arya dia menunggunya di pintu rumah sakit dengan patuh, ada mobil yang datang dan pergi di depan pintu rumah sakit, tetapi tidak ada yang dia kenal atau ada hubungannya dengan dirinya. Orang-orang yang berlalu lalang ini bukan orang yang dikenalnya.


Entah kenapa, setelah menerima panggilan telepon dari Arya dan mengetahui dia akan datang untuk menjemputnya pulang, dia tidak merasa tidak nyaman seperti sebelumnya.


Langit mulai gelap, dan cahaya di sekitarnya sudah mulai redup. Di kejauhan, baris demi baris lampu jalan sudah menyala. Kota ini akan menyambut malam hari yang indah, tapi dari begitu banyak lampu, tidak ada satu pun lampu untuk dirinya.


Di kota ini, dia hanya punya kakaknya, sekarang kakaknya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, dan dia sudah pindah dari rumahnya yang tua dan kecil. Tentu saja, rumah itu tidak bisa disebut rumah yang sesungguhnya. Itu hanya tempat tinggal sementara.


Dia menundukkan kepalanya pikirannya melayang kemana-mana, sambil ditemani dengan perasaan yang kesepian. Mungkin orang-orang di rumah sakit cenderung untuk berpikiran yang bukan-bukan, terutama ketika kamu memiliki keluarga yang sakit parah, kamu pasti tidak bisa tenang.


Arya mengemudikan mobilnya dengan cepat ke rumah sakit, dari kejauhan, dia yang berada di kursi pengemudi, melihat seorang gadis muda kesepian yang sedang berdiri sendirian di depan pintu rumah sakit lewat kaca depan mobilnya.


Ada semilir angin malam yang sepertinya meniup roknya hingga roknya jadi tidak beraturan, tetapi dia tidak menyadarinya sama sekali, langit akan menjadi gelap, dia yang berdiri sendirian dibawah cahaya senja yang redup, terlihat sangat kesepian, dan sangat kasihan!


Jarinya sedikit bergerak, buah jakun yang berada di lehernya juga sedikit bergerak. Dia langsung mengendari mobil ke pintu depan rumah sakit, tapi karena ada terlalu banyak mobil yang masuk dan keluar, dia tidak punya pilihan lain, dia tidak bisa langsung mendekat, dia hanya bisa berhenti di sebelah kiri samping, sambil membunyikan klakson mobil.


Begitu klakson mobil berbunyi, suaranya yang sangat dekat, langsung mengagetkan gadis muda yang berdiri di depan pintu rumah sakit.


Tanpa sadar fanie merespon, dan mencari asal suara klakson mobil, akhirnya dia melihat seorang pria tampan yang duduk di kursi pengemudi sebuah mobil mewah.


Dia tidak bisa memungkiri, meskipun dilihat dari kejauhan seperti ini, fanie merasa Arya putra ini sangat tampan! Seorang pria dewasa, yang berwajah seperti ini, benar-benar memabukkan! Wajahnya kaku, ketampannya melebihi orang-orang, di tambah dengan gaya berpakaiannya yang bagus, sekujur tubuhnya memancarkan aura yang elegan, gerak-geriknya menunjukkan gaya pria mapan yang sukses.


Tentu saja, selain kadang-kadang temperamennya buruk, berkepribadian bossy, dan sifatnya sangat posesif, dia termasuk pria yang sempurna!


“Kemari!” Arya duduk di dalam mobil dengan gagah, lalu dia memberikan isyarat kepada fanie untuk menyuruhnya datang!

__ADS_1


__ADS_2