Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 018 : Janji


__ADS_3

Arya bisa-bisanya masih ada keinginan untuk mengobrol dengannya, setelah menyiksanya seperti itu.


"Aku ngantuk, mau tidur!" Fanie membalas dengan pelan, matanya berat sudah tidak bisa terbuka lagi.


"Kelihatannya kamu tidak hanya harus banyak makan makanan bergizi, juga harus banyak olahraga. Lihat saja ini baru berapa lama, kamu sudah begitu lemah!" Arya berkata tidak suka.


Mau menjadi wanita Arya, tentu saja tidak mudah.


"Tubuhku sangat bagus, tidak ada masalah apapun. Apa kamu tidak merasa kamu yang terlalu hebat menyiksa?" Fanie benar-benar tidak terpikir bagaimana bisa pria ini memikirkan begitu banyak cara. Benar-benar banyak sekali caranya.


"Ini bagaimana bisa dinamakan menyiksa? Jelas-jelas sama-sama mau, hal baik, kegiatan yang kita sama-sama senang!" Arya berkata dengan tidak tahu malu.


"Aku tidak ingin terus berdebat denganmu, tapi aku beritahu kamu satu hal. Kamu tidak bisa terus menyiksaku setiap hari. Kakakku minggu depan sudah akan melakukan operasi, sedangkan aku sebentar lagi akan ulangan. Aku harus mempersiapkannya sungguh-sungguh. Kalau tidak, bagaimana bisa aku membalas kakakku?


Kalau tidak dapat masuk ke universitas yang bagus, maka aku juga akan menganggap diriku tidak berguna. Jadi, sebaiknya kamu jangan menyiksaku seperti ini lagi!" meskipun ngantuk, tapi Fanie masih sangat jelas terhadap rencananya untuk beberapa waktu mendatang.


"Benarkah?" Arya sangat tidak senang, "Tapi, kamu dan aku sudah memiliki perjanjian. Peraturan dalam perjanjian, kamu harus melahirkan anak untukku. Kalau kita tidak melakukan hal seperti ini, bagaimana bisa melahirkan anak? Apa kamu kira anak muncul dari dalam tanah?"


Tidak bisa berhubungan badan dengan Fanie, maka bagaimana dengannya? Malam yang panjang, sendirian dan kesepian? Dia tidak mau.


Pemandangan indah di depan mata, waktu indah yang cepat dilalui, dia tidak bisa berbuat apa-apa, bukankah ini sangat menyusahkannya?


"Bukan itu maksudku. Karena aku sudah melakukan perjanjian denganmu, maka pasti akan menepati perjanjian. Hanya saja, masalah ada yang penting dan kurang penting. Tunggu aku melewati waktu dua minggu ini, ya?" Fanie mulai tidak sabar. Saat ini kantuknya sudah mulai hilang.


"Tidak bisa, aku tidak mau tidur sendirian. Aku tidak mau ada wanita di sampingku, tapi malah tidak dapat memeluknya!" Arya berkata dengan yakin.


Yang jelas dia adalah pemilik dari wanita ini, dialah bosnya.


"Apa benar-benar tidak bisa diskusi lagi? Aku kira kalau aku mengungkitnya, kamu pasti akan menyetujuinya. Bagaimanapun masalah operasi dan ulangan adalah masalah besar, tidak boleh dibiarkan begitu saja." Fanie sedikit kesal.


"Masalahmu tentu saja adalah masalah besar. Lalu masalahku, apa bukan masalah besar? Aku sekarang ingin segera menyuruhmu menjabat sebagai wanitaku, melahirkan anak untukku. Masalahku ini juga masalah besar. Melahirkan anak, dan anak itu akan segera menjadi penerus keluargaku!" Arya masih memikirkan kebahagiaannya, tidak ingin menyerah.


"Masalah melahirkan anak juga tidak bisa buru-buru, apa kamu tidak tahu? Hamil harus secara alami. Semenjak aku melakukannya denganmu, aku tidak pernah melakukan penghindaran hamil. Kalau kamu memberikan terlalu banyak tekanan kepadaku, maka itu akan menimbulkan rasa lelah, anak ini juga tidak akan datang!" Fanie mencoba berusaha agar keinginannya tercapai.


"Hanya dua minggu saja. Setelah hamil sampai melahirkan bukankah masih ada banyak waktu? Paling nanti aku lebih banyak temani kamu saja. Aku akan menggantikan waktu dua minggu ini. Oh tidak, berikan aku waktu satu bulan saja! Dua minggu rasanya agak mepet."


"Meminjam satu bulan, mengembalikan satu bulan? Ini sama sekali tidak menguntungkan. Aku adalah pebisnis!" Arya berpikir sebentar, memiringkan kepala dan mengingatkan.

__ADS_1


Sebenarnya sikap Arya ini juga mengungkapkan kalau dia sudah agak mengalah.


Fanie yang pintar, tentu saja mengerti kalau perkataan itu memiliki maksud mengalah. Karena pria itu bersedia mengalah, maka itu artinya masih ada bagian yang bisa dididiskusikan.


Dia segera terus membujuk, "Bagaimana kalau begini, sekarang berikan aku waktu satu bulan, kedepannya aku mengembalikan waktu dua bulan kepadamu, ya? Yang jelas kamu adalah pemilik kontrak, apa aku masih bisa mengelak?"


Fanie benar-benar tidak rela, "Ulangan kali ini, benar-benar sangat penting bagiku. Puluhan tahun belajar, ulangan kali ini sangat menentukan. Kamu juga tidak berharap aku mendapat nilai yang jelek bukan. Kalau sampai diketahui oleh orang lain, maka itu juga akan membuat kamu malu! Benar bukan?"


Sekarang berdiskusi dengan Arya, Fanie tidak boleh memaksa, karena Arya akan semakin mengeraskan hati. Tapi kalau dia mencoba cara yang lebih lembut, mencoba membujuk, maka akan lebih berguna.


"Kelihatannya, kalau aku tidak menyetujui permintaanmu ini, kalau ulanganmu tidak bagus, kamu akan melimpahkan semua kesalahan kepadaku, benar bukan? Aku tidak bisa menanggung tanggung jawab sebesar itu. Baiklah, satu bulan ya satu bulan. Tapi kamu harus ingat mengembalikan aku dua bulan." Arya akhirnya bersedia memberi izin.


"Iya, janji!" takut Arya akan melanggar janji, dia segera tos dengan pria itu sebagai suatu perjanjian.


Tapi siapa tahu, Arya malah berbaring, tidak bergerak. Hanya menarik tangannya, membuat Fanie tidak bisa stabil, lalu masuk ke dalam pelukan pria itu. Sedangkan kepalanya, bersender pada dada pria itu.


"Aduh, setelah dipikir-pikir besok harus Tapa di gunung semeru. Bukankah tidak ada keseruan lagi? Lalu bagaimana dengan satu bulan ini? Bagaimana kalau sekarang kamu melakukan performa yang baik? Mumpung masih ada kesempatan malam ini, belum mulai, maka bagaimana kalau kita melakukan lagi?" seorang tuan muda yang kembali bersemangat, datang lagi dan memulai pertempuran!


Malam semakin larut. Suara binatang di luar sudah beristirahat. Sedangkan suasana di dalam kamar semakin panas.


Apa pria ini menginginkan dia tidak bisa berdiri lagi besok? Aduh, pria ini, kenapa bisa menyiksanya seperti ini? Dia ingin sekali memberikan obat diare kepada pria itu, membuat pria itu tidak henti buang air besar, sampai kolaps!


Semakian kuat, Arya seperti ingin menggantikan kekurangan satu bulan ini malam ini. Tapi bagaimana bisa puas? Sama sekali tidak.


Tapi, Arya adalah pebisnis. Yang dia pedulikan hanya keuntungan dirinya. Mumpung bisa menikmati, maka bisa menikmati sedikit. Jadi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Tapi kalau dihitung-hitung, Arya tidak ada kerugian apa-apa juga.


Keesokan harinya, hari sudah siang. Fanie bangun dengan terpaksa dan tubuhnya seperti telah digilas oleh ban mobil.


"Ini benar-benar bukan hal yang manusia lakukan!"


Fanie mengumpat kecil. Arya ini adalah dukun santet. Kemarin malam bisa-bisanya menyiksanya dengan beragam cara. Tapi sekarang di sampingnya, sangat jelas sudah tidak ada orang.


Biasanya Arya jam segini sudah pergi ke perusahaan. Kenapa perbedaan pria dan wanita sebesar ini? Atas hak apa setelah menyiksa semalaman, pria itu bisa begitu semangat, sama sekali tidak mengganggu aktivitas keesokan hari, sementara dia sebagai wanita, sama sekali berbeda dan bertemu dengan banyak kesulitan.


Kedua kakinya berat seperti diikat dengan batu. Begitu kakinya berdiri di atas lantai, dia merasakan rasa sakit seperti ditarik.

__ADS_1


Saat dia mati-matian menahan sakit dan turun dari atas, Bibi Leni sudah menyiapkan sup yang bergizi dan sedang menunggunya turun.


"Pagi!" wajah Fanie agak masam, tapi tetap memaksakan senyum kepada Bibi Leni.


Bibi Leni adalah orang yang berpengalaman, tentu saja setelah melihat cara jalan Fanie yang sedikit aneh, dia mengetahui kalau kemarin malam pasti terjadi sesuatu!


Haih, Bibi Leni menghela napas. Anak muda sekarang benar-benar tidak tahu apa yang namanya pengendalian diri. Karena tubuh mereka muda, apa artinya boleh melakukan dengan seenaknya?


Kalau tidak mengendalikan diri di saat muda, maka setelah tua, maka yang rugi adalah diri sendiri. Yang rusak adalah tubuh sendiri. Wajah anak muda sekarang sangatlah tipis, jadi Bibi Leni tidak mengatakan apapun.


Bagaimanapun itu, ini adalah masalah pribadi orang lain dan sangat rahasia. Rasanya tidak mungkin ada orang yang bersedia mengungkapkannya kepada orang lain!


"Non Fanie, aku bawakan kamu semangkuk sup ya. Pagi ini baru selesai dimasak, masih segar." Bibi Leni membalikkan badan dan pergi ke dapur.


Fanie duduk di kursi meja makan. Bahkan hanya duduk biasa saja, dia merasa tidak nyaman.


"Bibi Leni, terima kasih ya!" sup panas tiba di hadapannya, dia pun mulai makan.


"Non Fanie, hari ini keluar tidak? Pagi ini sebelum Den aeya pergi, dia berpesan, hari ini kamu harus beristirahat baik-baik di rumah, sebaiknya tidak pergi kemana-mana. Juga jangan asal pergi!" Bibi Leni menyampaikan pesan Den arya tadi pagi kepada Fanie.


"Iya, tidak keluar. Sudah akan ulangan, aku awalnya mau belajar di perpustakaan, tapi, cuaca agak panas, belajar di rumah juga sama saja." tubuhnya sekarang seperti ini, mana bisa lagi keluar rumah? Sekujur tubuhnya sakit. Bahkan berbaring saja dia merasa tidak enak. Jadi lebih baik dia tidak keluar rumah.


"Bagus kalau belajar. Non Fanie masih merupakan seorang pelajar?" hal itu sedikit membuat Bibi Leni terkejut, "Awalnya aku lihat Non Fanie masih sangat muda dan cantik, aku tebak umurmu pasti masih kecil. Tidak disangka masih merupakan seorang murid."


"Tapi, sudah akan lulus sebentar lagi." Fanie sangat menyesal. Kenapa dia mengungkit kalau dia masih pelajar? Jadinya sekarang dia kelihatan seperti murid yang jahat.


"Kalau begitu Non Fanie, kamu belajar baik-baik di rumah. Kalau perlu sesuatu, panggil aku saja. Aku bersih-bersih di lantai satu. Nanti siang aku akan masak beberapa masakan keluarga. Belajar juga merupakan kegiatan yang menguras otak, perlu makan lebih banyak!" Bibi Leni berkata dengan ramah.


Semenjak Fanie datang ke villa ini, masukan paling banyak yang dikatakan kepadanya adalah dia sangat kurus. Dia perlu makan lebih banyak. .


Tapi dia tidak merasa kalau dia sangat kurus!


Terlebih lagi, bukankah bagus kalau lebih kurus? Beberapa temannya setiap hari berteriak ingin kurus, mengomel tidak makan malam, jelas-jelas tubuhnya juga lumayan sama dengan teman-temannya itu.


Tapi, dia sudah terbiasa mendengar masukan seperti itu, jadi malas berdebat dengan Bibi Leni. Dia lalu pergi ke kamar untuk belajar.


Lantai dua villa, ada satu ruang baca, tapi itu adalah satu-satunya ruang baca, dan adalah wilayah kekuasaan Arya.

__ADS_1


Sampai sekarang dia juga tidak ada kesempatan untuk masuk. Setelah dia pikir-pikir, lebih baik dia belajar di kamar utama saja, tidak usah pergi ke ruang baca.


Meskipun dia sangat penasaran terhadap ruang baca pria itu, tapi karena pria itu tidak ada di rumah, kalau dia diam-diam masuk seperti itu, bukankah dia akan dijadikan tersangka karena mengintip?


__ADS_2