Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 117 : Membeli Pakaian


__ADS_3

Ada apa ini ya? Memintanya pergi ke mall terdekat untuk membeli pakaian wanita? Dan juga harus membeli pakaian yang sesuai dengan ukuran fanie, ya ampun, dia hanya pernah bertemu dua atau tiga kali dengan fanie, di waktu-waktu itu dia tidak berani langsung mengamati wajahnya, tidak usah dibilang lagi apakah mengamat-amati tubuhnya, namun, fanie sangat kurus, tubuhnya juga tidak pendek, ukuran pakaiannya, seharusnya tidaklah sulit untuk dipilih.


Tetapi, mengapa mau menolong membelikan pakaian untuk nona fanie? Ini di perusahaan, bukankah semua orang sudah berpakaian formal, dan sebagainya, Meriando di saat ini sepertinya menyadari sesuatu, seketika mukanya memerah, lalu terkejut sampai-sampai mulutnya menganga dengan lebarnya.


Ah, ya ampun! Tidak mungkin seperti yang dia bayangkan kan!


Di dalam ruang kantornya CEO, jangan-jangan dua orang itu bertindak gila-gilaan, gila-gilaan sampai merobek pakaian pasangannya? Ini benar-benar seperti aliran Siluman yang penuh dengan Nabsu, tidak benar juga, pakaian pria tidak diperlukan, hanya perlu pakaian wanita, itu artinya yang bertanggung jawab atas robeknya pakaian orang itu adalah boss besar mereka.


“Gila, CEO Arya ternyata adalah monster sesungguhnya! Aku sebelumnya sungguh tidak menyadarinya, sungguh tidak terlihat seperti itu!” dia seketika dibuat sangat terkejut oleh kenyataan yang ada di dalam pikirannya ini.


Gedung perusahaan mereka ini bisa dibilang berada di kawasan bisnis yang sangat ramai dan berkembang, sehingga setelah keluar dari gedung kantor, mengendarai mobil tidak jauh, kira-kira lima menit perjalanan, tibalah di area pertokoan yang besar, di dalam area pertokoan itu, di antaranya ada tiga gedung, selantai penuh, semuanya adalah beragam jenis pakaian wanita, dan lagipula semuanya dari merek yang terkenal, sangat diminati oleh wanita-wanita muda yang bekerja.


meri bisa sampai mengetahui keadaan di sana, karena satu kali pernah ditarik paksa pergi ke sana menjadi seorang porter, gara-gara ada satu adik sepupunya yang wanita, satu kali waktu ada obral besar hari raya, adik sepupunya itu karena baru habis putus cinta, perasaannya sedih tidak menentu, keluarganya mengkhawatirkannya, maka meminta tolong dia untuk membantu menjaganya, dia sebagai kakak sepupu laki-laki, tentu saja tidak bisa cuek tidak peduli.


Pakaian formal wanita lebih mudah untuk dipilih, karena lebih sedikit, lagipula lebih berkelas dan modis.


“Halo Tuan! Selamat datang, permisi tanya adakah yang bisa kami bantu untuk Anda?” meri juga berpakaian jas hitam, sudah tampan juga berkharisma, belum lagi tangannya mempermainkan kunci mobil, begitu dia berjalan memasuki toko pakaian wanita bermerek, dengan cepat menarik perhatian para pelayan toko yang ramah itu.


“Oh, aku mencari setelan pakaian formal wanita untuk ke kantor!” Dia langsung menjelaskan maksudnya.


Dengan tersenyum manis pelayan wanita itu berkata, “Apakah Tuan sedang memilih untuk kekasih Tuan?” seketika bola matanya mau tak mau meredup, pria yang begitu tampan, pastinya sudah sejak dulu punya kekasih.

__ADS_1


“Bukan.” Dengan wajah memerah Meri menjawab.


Non fanie itu mana mungkin menjadi kekasihnya?


Tapi dia sangat jelas bisa merasakan semangat pelayan wanita itu seperti kembali bergetar, meski tidak tahu alasannya apa, tapi berikutnya dengan tanpa alasan bersikap semakin ramah padanya.


“Permisi tanya, mau cari untuk wanita usia berapa?”


“Aku pikir dulu ya, kira-kira usia awal dua puluh!” Meri sungguh tidak bisa menyebutkan dengan tepat ukuran dada pinggang dan pinggul fanie, karena itu bukan bidang keahliannya, pada akhirnya dia hanya bisa membandingkan dengan pelayan wanita yang ada di depannya ini, dengan ragu dia menjawab.


“Apakah kurang lebih sama dengan aku?” pelayan toko yang ramah itu menjadi agak bingung mendengarnya, mana ada orang mau membelikan baju untuk orang lain tapi tidak tahu ukurannya.


“Tuan, pakaian kami di sini, kalau sudah dibeli dibawa pulang boleh dicoba dulu, kalau tidak cocok, dengan berdasarkan notanya, kembali ke sini bisa langsung kami carikan gantinya, kami akan memilihkan ukuran yang cocok tanpa dipungut biaya!” Pelayan toko wanita yang ramah itu, seketika merasa pria tampan di depannya ini tidak tahu mengapa agak lucu, begitu terlihat kikuk seperti ini, langsung ketahuan belum pernah ada pengalaman membelikan pakaian untuk seorang wanita.


Jadi, seharusnya dia belum punya kekasih nih.


“Ohya? Oke juga kalau begitu! Ikuti dulu apa yang aku katakan tadi, tolong pilihkan untukku yang satu ukuran sedikit lebih besar, kalau begini, dibawa pulang dulu, kalau sampai tidak cocok, aku akan kembali ke sini lagi untuk tukar!” Meri merasa kesal


Pikir-pikir, dia merasa kesal, dia seorang asisten, mengurus urusan membelikan pakaian untuk seorang wanita, apakah sungguh pantas? Dia sedang menimbang-nimbang, apakah seharusnya mengusulkan kepada boss besar Arya ini untuk memiliki seorang asisten wanita, kalau seandainya ada asisten wanita, maka selanjutnya hal-hal yang bikin kikuk seperti ini, bisa langusng diserahkan untuk dibereskan oleh asisten wanita, bukankah ini lebih cocok.


Setelah mengambil pakaian dan membayar, dia cepat-cepat meninggalkan toko pakaian wanita itu, sesaat waktu dia akan pergi, pelayan wanita itu beberapa kali seperti mau berkata sesuatu tapi lalu tidak jadi, terlihatnya seperti siap-siap buka mulut mau menanyakan nomor teleponnya, tapi dia waktu itu hanya mempedulikan menunduk dan menyelipkan nota masuk ke dalam kantungnya, terburu-buru berjalan keluar, sama sekali tidak menyadari kejanggalan yang terjadi di sampingnya, sehingga semuanya itu tidak terjadi.

__ADS_1


Setelah dua puluh menit kemudian, dia dengan lancar mengemudikan mobil tiba kembali di perusahaan.


Ketika Arya sendiri keluar dari ruang kantor, mengambil kantung pakaian yang disodorkan olehnya, Meri mencoba dengan sengaja ingin mengintip melalui celah pintu pergerakan dan keadaan di dalam, tapi siapa sangka, Arya sangat hati-hati, menutup pintu rapat-rapat, apapun tidak ada yang terlihat, tidak ada cara, Meri hanya bisa kecewa.


Menunggu sampai dua kantung berisi pakaian dibawa masuk dalam ruangan, suara pintu ditutup, akhirnya membangunkan seseorang yang sedang terkantuk-kantuk itu.


fanie bangun dari sofa, reaksi pertamanya adalah ada kekosongan yang sesaat, baru saja terbangun, otaknya belum terlalu baik bekerja, tapi ketika dia teringat akan apa yang baru saja terjadi, dia seketika ada dorongan ingin marah.


“Ya tidak, bagaimana bisa aku dan dia bisa-bisanya melakukannya di sofa dalam ruangan kantornya?”


“Kamu masih memiliki waktu dua puluh menit, gunakan untuk seka dan berganti pakaian, setelah dua puluh menit, adalah waktunya bekerja lagi, jangan bilang aku tidak mengingatkanmu ya!” Arya berbaik hati mengingatkan.


fanie dengan refleks menoleh jam yang tergantung di dinding, begitu wajahnya menjadi suram, seketika juga mulai marah, “Hanya ada waktu dua puluh menit, mengapa kamu tidak lebih awal membangunkanku?”


Sebetulnya, yang lebih ingin dia tanyakan adalah, jelas-jelas tahu ini adalah perusahaan, terlebih lagi ini adalah ruangan kantornya, mengapa dia tetap masih bisa begitu agresifnya, langsung menginginkan dirinya di dalam ruangan kantor ini??


Tapi begitu perkataan meluncur dari bibirnya, entah mengapa isinya menjadi berubah.


“Kelihatannya kamu begitu lelah, lagi pula pakaianmu, aku meminta Meriando pergi membeli yang baru, dan baru saja dibawanya kemari!!!” Jawabannya , dipersingkat lagi.


Tetapi, Fanie dari situ menjadi seketika mengerti, ternyata dia menyuruh Meri untuk pergi membantu dia membeli baju yang baru, memudahkannya untuk berganti pakaian di sini, lalu tanpa perlu mengganti waktu kerja siang hari, dalam waktu ketika menunggu meri kembali, jadi dia tidak membangunkannya.

__ADS_1


__ADS_2