
Lalu, Meri melangkah keluar dari lift dan melihat Fanie yang sedang menenteng termos dengan ekspresi putus asa dan bersiap-siap untuk pergi.
Meriando sangat mengenal fanie, sejak kontrak pertama kali dibuat dan masalah kekerasan di sekolah, dia ikut campur di dalam masalah itu semua. Tentu saja bahkan fanie sendiri tidak mengetahui hal ini.
"Tunggu, apakah kamu Non fanie?"
Meri takut salah mengenali orang, sehingga dia melangkah maju dan bertanya dengan hati-hati.
Begitu Fanie mendengar ada orang yang memanggil namanya, dia segera mengadahkan kepalanya dan melihat Meri yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kamu itu? Oh, aku sudah mengingatnya, kamu orang yang berada di sisi Arya Putra kan ."
Hari dimana sedang menandatangani kontrak, pemuda ini juga berada di sana, dia mengenakan setelan jas hitam. Dia masih mengingat wajahnya, dia juga menggunakan sebingkai kacamata hitam.
"Halo, Non fanie, perkenalkan aku adalah Meriando. Aku merupakan asisten pribadi CEO Arya !" Meri memperkenalkan diri dengan sopan.
"Halo, kamu datang di saat yang tepat. Kebetulan aku sedang mencari CEO Arya, apakah dia ada? Apakah sedang sibuk sekarang?" Fanie sangat bersyukur, akhirnya dia bertemu dan orang yang dikenal dan bisa mencari Arya, jika tidak sia-sia sudah kedatangan dia untuk kali ini.
"CEO Arya? Beliau ada di ruangan pribadi dia. Jadi, Nona Fanie kamu datang untuk mencari CEO Aerya?" Meri sedikit terkejut karena ini merupakan pertama kalinya dia melihat fanie datang mencari pemimpin mereka.
__ADS_1
fanie menjadi malu mendengar pertanyaan Meri. Tetapi dia dengan cepat menggoyang-goyangkan termos, "aku hari ini sedang luang, sehingga aku berpikir untuk datang mengantarnya makan siang. Dia belum makan bukan?"
Dirinya sudah datang ke sini dengan terburu-buru, dan sudah datang sebelum waktu makan siang. Dirinya takut bahwa dia akan terlambat.
"Belum, tidak secepat itu. Kebetulan aku sedang ingin memesan makanan untuk dia." Diam-diam Meri merasa senang, dia tidak perlu lagi pergi memesan makanan jika sudah ada makan siang.
"Kalau begitu, sebaiknya tidak perlu memesannya, aku sudah membawanya. Apakah kamu bisa membawaku naik untuk mencari dia? Aku tidak mengenali tempat ini karena ini pertama kalinya aku datang kemari." Fanie memohon.
"Baiklah!" Meri juga sedang bersantai, lagipula dia juga sangat penasaran dengan wanita yang dipilih oleh pemimpinnya ini. Biasanya mereka jarang berinteraksi. Untuk saat ini dia bisa 'menyelidikinya' dari jarak yang dekat.
"Non fanie memang sangat perhatian. CEO Arya ini biasanya selalu memesan makanan luar untuk makan siang di kantor. Terkadang aku sebagai asisten pribadinya merasa sangat sedih, karena bukan hanya sehari, dua hari saja dia memesan makanan luar, melainkan berbulan-bulan. Makanan luar ini tidak bisa disebut tidak baik tetapi bagaimana pun juga yang dimasak oleh orang rumah jauh lebih bernutrisi. Tetapi tidak ada cara lain, CEO Arya ini memang begitu pekerja keras, terkadang dia tidak memiliki waktu untuk makan, jika bukan aku sebagai asisten pribadi yang memantaunya, takutnya penyakit lambung dia akan semakin parah!" Meri berbicara dengan panjang.
"Nona fanie, ini merupakan lift khusus untuk CEO, pegawai kantoran biasanya tidak boleh menggunakan lift ini karena lift ini langsung sampai ke ruangan CEO Arya! Jika Anda datang kembali, Anda bisa langsung menggunakan lift ini!" Meri membawa dia ke depan lift khusus dan memperkenalkannya kepada dia.
Dari lift tersebut, dia bisa melihat pantulan dirinya sendiri. Dia merasa sedikit tenang setelah melihat tidak ada yang salah dengan dirinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
"Dengar-dengar Nona fanie sudah berhasil memasuki University UpI di Kota ? Kalau begitu aku mengucapkan selamat di sini karena keinginan kamu sudah tercapai!" Meri sengaja kembali mengungkit ujian masuk kembali.
"Terima kasih!" fanie menjawab dengan hati-hati.
__ADS_1
Dia ini tidak mudah dekat dengan orang lain. Dia tidak pernah berinisiatif mendekati orang lain terlebih dahulu, hanya ketika orang lain berinisiatif bersikap baik kepadanya dan dia setelah merasakan ketulusan pihak lawan, dia baru akan pelan-pelan menjadi dekat dengan pihak lawan. Terkadang orang yang berkepribadian introvert seperti dia memang tidak memiliki keahlian untuk berinteraksi dengan orang lain.
Lift berhenti, pintu terbuka dengan perlahan-lahan.
"Sudah sampai!" Begitu keluar dari dalam lift dan berjalan dua langkah, terdapat sebuah ruangan yang begitu luas, hanya saja pintu ruangan tersebut sedang dalam keadaan tertutup.
Meri mengetuk pintu sambil tersenyum, terdengar suara Arya yang berat dari dalam, "masuk!"
"Nona Fanie, kamu masuk sendiri saja! Aku tidak ingin menjadi nyamuk di antara kamu dan CEO Arya, lagipula aku juga harus ke kantin bawah untuk makan siang! Sampai jumpa!" Meri tersenyum sambil melambai-lambaikan tangan lalu menghilang dengan cepat.
Tidak ada cara lain, fanie pun menenteng termos dan mendorong pintu ruangan yang belum pernah dia masuki, ruangan pribadi miliknya.
"Meri , kamu hanya pergi memesan makanan saja mengapa pergi begitu lama? Kecepatan kerja kamu semakin lambat!"
fanie baru saja berjalan masuk dan belum sempat menyapa pria yang berada di belakang meja kerja, tidak menyangka pihak lawannya sudah mengoceh tanpa mengadahkan kepalanya.
Dia terkejut, bukannya dia ini bukan Meri ? Lalu, apakah pria ini tidak mengadahkan kepala untuk melihat orang?
Arya merasakan ada yang salah begitu tidak mendengar adanya jawaban, dia pun mengadahkan kepalanya dan baru saja mengetahui ternyata orang yang memasuki ruangan dia adalah Fanie.
__ADS_1