
Liburannya hanya tersisa hari ini. Lalu besok, dia masih harus pergi ke sekolah. Lusa kebetulan adalah hari Selasa. Besok setelah pergi ke sekolah, dia akan izin sehari dengan walikelas. Sisanya adalah mencari suster di rumah sakit. Kewajiban yang ada dibahunya tidaklah ringan.
Dia tidak bisa belajar, di saat sedang melamun, telepon yang terletak di ujung ranjang malah berdering di saat-saat seperti ini.
Dia melihat ke atas layar, tertera nama yang familiar.
Orang yang bisa inisiatif meneleponnya tidaklah banyak. Selain Arya, hanya ada beberapa orang saja. Dan Lidia Putri adalah salah satu yang termasuk dalam daftar itu.
Begitu telepon terhubung, sebelum dia berkata apapun, Lidia dari ujung sambungan sudah buru-buru bertanya.
Fanie, bagaimana? Apakah biaya operasi kakakmu sudah terkumpul? Dua hari ini kamu tidak meneleponku. Apakah kamu marah padakuku karena tidak meminjamkan uang kepadamu waktu itu? Bukannya aku tidak mau meminjamkan kepadamu, tapi karena kamu langsung ingin meminjam 250 juta, lalu dalam waktu singkat juga tidak bisa mengembalikan, aku juga sulit di sini. Kamu tahu bukan?
Lidia menelepon dan langsung mengatakan topik utama. Perkataannya seperti petasan, tidak berhenti sedikitpun.
Fanie menelan ludah dengan sulit. Dia pada dasarnya memang tidak memiliki banyak teman. Mungkin karena teman-temannya tahu kalau keluarganya miskin, selain itu pergi ke sekolah juga memakai pakaian yang kuno. Meskipun nilainya bagus, tapi masih banyak teman sekelas yang menganggap dia rendah, tidak suka berteman dengan dia. Tapi Lidia malah berteman sangat baik dengannya.
Tentu saja saat ini, Fanie masih belum tahu kalau sekarang Lidia menelepon, bukan untuk mempedulikan dia dan kakaknya, melainkan untuk menunjukkan kebaikan palsu dan untuk mengamati saja. Kalau dikatakan lebih jelas lagi, Lidia sengaja menelepon untuk diam-diam menertawakan Fanie.
"Lidia, terima kasih untuk perhatianmu. Kakakku minggu depan sudah akan melakukan operasi. Dokter sudah mengatur jadwalnya.
Fanie masih lumayan berterima kasih terhadap temannya ini. Karena di waktu penentuan, kalau tidak ada Lidia yang mengingatkan menjual diri di Holywings Club, dengan otaknya yang bodoh ini, dia pasti tidak akan terpikir, dan juga tidak mungkin melakukan cara itu.
"Kamu sudah mendapatkan biaya operasi? Fanie, jangan beritahu aku kamu benar-benar melakukan yang aku katakan di telepon waktu itu. Menyuruhmu pergi ke Holywings Club, lalu dipilih oleh orang kaya, menjual tubuh dan dijadikan simpanan bukan?" Lidia yang berada di ujung sambungan terkejut, bersamaan juga merasa senang.
"Lidia, bukan itu yang terjadi. Aku juga tidak bisa menjelaskannya di telepon, yang jelas biaya operasi kakakku sudah bukan masalah lagi. Sekarang aku sedang belajar. Ada masalah apa, kita bicarakan saat bertemu saja, ya?" mengenai rahasia memalukan antara dirinya dan Arya, entah kenapa, dia tiba-tiba tidak ingin memberitahukan kepada Lidia, teman baiknya. Karena masalah ini hanya miliknya, rahasia antara dirinya dan Arya.
Tentu saja, di saat menandatangani kontrak, juga ada peraturan kalau Fanie tidak boleh memberitahu apapun mengenai hubungan dia dengan Arya. Mengenai kalau tubuhnya ditukar dengan biaya operasi kakaknya, hal itu tidak boleh dikatakan kepada orang luar. Jadi, dia harus menjaga rahasia. Bahkan kepada Lidia, teman baiknya juga tidak boleh.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau mengatakannya. Aku tidak akan memaksamu. Tapi, Fanie, kalau dipikir-pikir lagi kamu juga tidak ada kerugian apapun, benar bukan? Kamu menukar tubuhmu dengan uang 250 juta. Uang itu juga tidaklah kecil, tubuhmu juga seperti papan. Jujur saja, sang pria bersedia memberimu uang ini, sudah sangat berbelas kasihan pada kakakmu. Pada zaman ini, untuk apa lagi berpura-pura suci?" Lidia masih terus menyindir di ujung sambungan.
Satu per satu kata, menusuk di Hati lemah Fanie. Kenapa setelah kakaknya sakit parah, bahkan teman baiknya, Lidia juga berubah menjadi aneh? Apa dia tidak bisa menemukan teman yang benar-benar mengertinya?
Sebenarnya itu karena sifatnya buruk, atau orang sepertinya sama sekali tidak layak untuk mendapatkan pertemanan dan penghormatan dari orang lain.
"Lidia, kita mengobrol lagi kalau ada waktu luang. Aku sudah akan ulangan. Kalau tidak belajar, maka benar-benar bisa mendapat nilai jelek!" dia sudah tidak ingin lanjut mengobrol dengan Lidia lagi.
__ADS_1
Pada awalnya dia berterima kasih pada Lidia, tapi setelah selesai menelepon, dia malah tidak ingin mengabaikan Lidia, teman palsunya itu.
"Ya sudah, kamu sekarang juga sudah mempunyai sandaran orang kaya, jadi menganggap aku rendahan ya? Iya tahu. Kamu sibuk urusanmu sana!" Lidia kelihatannya sedikit tidak senang.
Begitu telepon selesai, Fanie yang awalnya tidak terlalu senang, semakin kesal lagi.
Dia juga tidak terlalu jelas dengan kondisinya sekarang. Arya memang benar adalah orang kaya yang dapat dia andalkan, dia juga mendapatkan bantuan dari pria itu, dan menjual tubuhnya. Mereka memang hanya hubungan jual beli biasa, lalu apa bedanya dia dengan para wanita yang dia pernah rendahkan karena menjadi simpanan bapak-bapak tua di luaran sana?
Kalau dilihat-lihat lagi, tidak ada bedanya.
Tapi hanya ada satu, yaitu kalau menjadi simpanan, rata-rata di luaran sana adalah bapak-bapak yang sudah tua, bahkan sudah bisa menjadi ayah dari sang wanita, atau mungkin menjadi kakek. Sedangkan pria yang mengikat kontrak dengannya ini, adalah pria muda yang tampan saja.
Jarum panjang di jam dinding sudah menunjuk ke angka 10. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Suara jarum jam yang kencang baru seketika menyadarkan Fanie yang melamun.
"Salah tidak sih, pagi-pagi belum melakukan apapun sudah jam 10. Gawat, aku harus fokus belajar!" dia dalam hati berteriak gawat, dan memutuskan kali ini harus fokus.
Di lantai bawah, Bibi Leni tiba-tiba mendapat telepon dari ruang tamu. Telepon itu dari Arya yang telepon langsung dari kantor perusahaan.
Den arya!"
"Jawab Jawab Aden Arya : Non Fanie hari ini tidak keluar rumah. Dia ada di lantai atas. Katanya hari ini mau belajar, juga katanya liburan sudah akan selesai dan besok mau pergi ke sekolah. Den Arya, kamu mencari Non Fanie apa ada urusan?
Apa perlu aku pergi memanggilnya?" Bibi Leni selalu teliti dalam mengerjakan suatu hal. Dia rasa sekarang, Den arya yang muda ini, menelepon pulang pasti ingin mengobrol dengan Fanie. Anak muda yang sedang hangat-hangatnya menjalin hubungan, dia sangat mengerti, satu hari tidak bertemu, seperti satu tahun lamanya.
Tapi siapa yang tahu, Arya langsung menolak, "Tidak perlu, cukup dia diam di rumah saja!" lalu Arya menutup sambungan.
Bibi Leni menatap telepon yang sudah ditutup sambungannya lumayan lama dan tidak tersadar untuk waktu yang lama.
Masa dia salah tebak?
Hubungan dua orang anak muda ini belum sampai tahap panas-panasnya cinta, belum sampai kondisi yang tidak ingin berpisah satu sama lain?
Di sisi lain Arya yang sudah menutup telepon juga menghela napas lega.
Bagus kalau tidak keluar rumah. Dia benar-benar takut dengan tubuhnya yang lemah, Fanie berkeliaran di luaran sana.
__ADS_1
Sampai sore, saat Arya pulang ke villa, Bibi Leni masih mempersiapkan makan malam di dapur. Dia di lantai bawah tidak melihat Fanie.
Bibi Leni melihat Den Arya seperti sedang mencari seseorang, berkata sambil menunjuk lantai atas, "Non Fanie ada di atas, tidak turun dari tadi. Hanya saat makan siang saja dia turun untuk makan, setelah itu naik ke atas lagi."
Karena Fanie sedang belajar, Bibi Leni juga tidak enak hati mengganggu, jadi terus melakukan tugasnya di lantai bawah.
Arya naik tangga, lantai atas juga sangat tenang. Sama sekali tidak ada pergerakan apapun. Karena belajar, dia pun masuk ke ruang bacanya, tapi begitu membuka pintu, di ruang baca tidak ada tanda-tanda pernah dimasuki oleh orang lain sebelumnya, dia pun pergi ke kamar utama.
Saat dia masuk, Fanie sedang duduk di depan meja rias. Tangan wanita itu memegang pensil, sepertinya sedang menghitung soal, sangat serius dan fokus. Jadinya saat dia masuk, wanita itu tidak menyadari.
Dia jarang-jarang melihat wanitanya ini sangat serius dan fokus. Semua orang bilang pria yang serius kelihatannya paling seksi, tapi sebenarnya wanita yang serius, juga sangat menarik perhatian.
Sampai dia berjalan ke hadapan wanita itu, wanita itu baru menyadari kalau ada orang yang masuk ke dalam ruangan!
"Kapan kamu pulang? Kenapa tidak ada suara sedikitpun saat masuk? Mengaggetkanku saja!" Fanie menepuk dadanya sendiri, jantung di dalam dadanya terus berdetak kencang sekarang.
"Kamu yang terlalu konsentrasi! Tapi, aku suka tampangmu saat serius!" Arya menundukkan kepala tanpa sadar.
Fanie kira pria ini kumat lagi, ingin mengalihkan wajah, tapi pria itu malah menurunkan badan, mencium dahinya, seperti air, terasa sangat lembut.
Jarang-Jarang Si Arya Begitu Lembut , dan juga seksi.
Bahkan Fanie pun dibuat kaget oleh kelembutan itu.
"Kamu lanjutkan belajarmu. Aku juga sibuk sebentar di ruang baca. Kalau makanan di bawah sudah siap, pasti Bibi Leni akan naik ke atas untuk memberitahu kita!"
sudah sibuk seharian dalam perusahaan, Arya melepaskan dasinya dengan lelah. Di luar, dia harus senantiasa memerhatikan penampilannya, tapi setelah kembali ke villa, dia bisa lebih santai.
Menatap punggung pria itu, Fanie tiba-tiba merasa Arya yang seperti itu juga mempunyai rasa lelah. Orang luar mungkin hanya melihat sisi pria itu yang berhasil dan cemerlang, hanya tahu berapa kekayaan yang dimiliki pria itu, atau berapa banyak uang yang ada di rekening pria itu, berapa banyak perusahaan di tangan pria itu, tapi tidak ada yang tahu di balik keberhasilan itu, butuh berapa kerja keras, tenaga, dan juga waktu.
Ternyata benar, tuhan tidak akan tanpa alasan apa-apa , memberikan keberuntungan dan keberhasilan kepada orang yang tidak berusaha.
Kebalikannya, orang yang semakin berusaha, baru akan mendapat keberhasilan.
Tapi kalau tidak berusaha sama sekali, maka selamanya tidak akan pernah mencapai keberhasilan.
__ADS_1
Setelah mengerti akan hal itu, dia terus mengerjakan soal-soal, terus berjuang!