
Kalau mereka makan, maka yang ada di meja makan lantai satu, selalu hanya ada dua orang, Arya dan Fanie.
Bibi Leni adalah pembantu rumah tangga, tidak boleh ikut makan di meja makan. Itu adalah peraturan yang diketahui semua orang dalam bidang pelayanan rumah tangga. Jadi di villa Arya, juga sama.
"Besok jam berapa ke sekolah? Aku suruh supir antar kamu ke sekolah ya!" Arya berkata sambil makan dengan anggun.
"Tidak usah, aku bisa naik bus sendiri." sekolah Fanie meskipun agak jauh dari villa ini, tapi setidaknya hanya naik bus selama satu jam saja, seharusnya bisa sampai dengan selamat di depan pintu sekolah.
"Kalau kamu naik bus sendiri pasti tidak bisa langsung sampai, harus ganti-ganti bus. Apa kamu tidak merasa ribet? Kamu tidak melihat berita akhir-akhir ini?
Berita mengatakan banyak orang yang mesum di bus. Kadang kala bahkan ada kasus pemerkosaan terhadap wanita yang mukanya polos sepertimu, bisa jadi juga murid yang memakai tas punggung." menyuruh Fanie pergi sendiri ke sekolah, Arya merasa tidaklah tenang.
Apalagi, dia sendiri punya supir pribadi, tidak ngapa-ngapain juga.
"Kalau supir itu mengantarku pergi ke sekolah, lalu bagaimana denganmu? Kamu mengendarai mobil sendiri ke perusahaan?" ada supir yang bertugas mengantarnya pulang pergi sekolah tentu saja Fanie senang, tapi dia hanya takut setelah terbiasa terhadap kehidupan mewah ini, setelah kontrak berakhir dan kembali kepada kehidupan awal, dia akan tidak terbiasa.
"Aku bisa sendiri, bukankah kamu bilang lusa kamu akan izin dan kakakmu akan dioperasi? Kalau begitu besok sore kamu akan pulang bukan? Nanti kamu minta telepon supir, setelah kamu minta izin dan selesai mengurus prosedur sekolah, kamu telepon supir suruh dia mengantarmu pulang!
terhadap supir pribadinya ini, Arya selalu mengatur dan memberinya tugas tanpa segan-segan.
Akhirnya, setelah Fanie berpikir, dia menjawab, "Baiklah!" kalau ada supir yang antar jemput, maka jujur saja, perjalanan dari villa ke sekolah, tidak usah pindah bus, jadi bisa menghemat banyak waktu.
Kalau naik bus, dia harus berangkat dua jam lebih pagi, karena takut terjadi sesuatu di jalan dan terlambat.
Tapi setelah ada supir pribadi, dia bisa tidur lebih lama di rumah. Beberapa waktu ini, waktu istirahatnya sangatlah kurang.
"Bagus 'kan kalau begini. Pengaturanku tidak pernah salah. Apapun keputusanku, itu selalu baik bagimu!" Arya 'menilai' dengan percaya diri. Dalam kamusnya, dia tidak pernah salah dan selalu merupakan pihak yang benar.
Fanie tidak menolak. Kadang kala, pria ini memang berpikir demi kebaikannya. Contohnya masalah di sekolah waktu itu. Tapi kebanyakan, *** pria itu, dan diktator pria itu, juga akan membuat dia merasa kesal. Apa yang boleh, di umur yang sedang aktif-aktifnya, dia malah harus dipesan tidak boleh ini, lalu tidak boleh melakukan itu, hanya boleh begini.kan lieur ka akunya.
Jadi, kalau kadang kala ada pikiran untuk membangkang juga wajar.
Setelah selesai makan, Arya seperti seorang bos langsung naik ke lantai atas. Fanie karena merasa malu makan gratis di sini jadi bermaksud membantu Bibi Leni sedikit. Misalnya sekarang, dia akan membereskan piring-piring yang tadi dia dan Arya makan, lalu membawanya ke dapur.
__ADS_1
Dan selalu, ketika Bibi Leni melihat hal itu akan datang mencegahnya.
"Non Fanie, masalah seperti ini benar-benar tidak perlu non membereskannya sendiri! Serahkan saja padaku. Ini adalah pekerjaanku, adalah hal yang seharusnya aku lakukan. Kamu adalah wanita yang Den Arya suka, tentu saja juga merupakan nyonya rumah ini. Semua ini tidak perlu kamu yang lakukan!"
Bibi Leni menjelaskan kewajiban dan tugas dengan sangat jelas. Bibi Leni selalu tahu terhadap statusnya, jadi tidak berani melewati batas. Tapi, kalau Fanie terus 'rajin' seperti ini, maka pekerjaannya akan direbut oleh wanita itu, dia sangat kemungkinan tidak disukai oleh tuan rumah, dan bisa jadi, dikira sengaja bermalas-malasan, kalau lebih parah lagi, bisa saja dipecat. Dan akhirnya dia akan kehilangan pekerjaan penting ini.
"Bibi Leni, tidak apa-apa. Ini hanya masalah kecil. Dulu saat berada di rumah, aku juga sering membereskan sendiri piring-piring setelah selesai makan!" di mata fanie, ini hanya sekalian saja.
Tapi tentu saja Bibi Leni tidak berpikir seperti ini. Hal ini membuat Bibi Leni kesulitan.
den Arya sudah naik ke atas untuk istirahat. Non Fanie, non juga cepat naik ke atas. Bukankah katanya masih harus belajar? Pekerjaan bersih-bersih di lantai bawah, semuanya serahkan saja padaku!" Bibi Leni menghentikan pekerjaan di tangan lalu segera mendorong Fanie naik ke tangga.
Karena kalau Fanie masih berada di sini, Bibi Leni benar-benar takut Den Arya akan melihatnya dan menjadi tidak senang.
Fanie naik ke atas dengan tidak senang. Terkadang dia merasa tidak bisa benar-benar berbaur di villa ini, misalnya saja, dia benar-benar ingin menganggap Bibi Leni sebagai temannya, di saat dia sedang ada waktu luang, ingin membantu Bibi Leni sebentar. Memangnya salah? Tapi Bibi Leni malah selalu sangat sungkan, menolak niat baik dan bantuannya.
Tapi di villa ini, orang yang pertama kali memberikan kehangatan padanya, bukankah adalah Bibi Leni? Jadi mode berinteraksi sesama manusia, benar-benar sangatlah aneh!
Ketika belajar dia ada suatu kebiasaan, yaitu kalau lingkungan di sekitarnya sangat hening dan tidak ada yang menganggu, maka materi pelajaran akan sangat cepat masuk ke otaknya lalu dia akan sangat fokus. Tidak tahu berapa lama, saat Arya masuk ke dalam kamar, dia tetap tidak menyadari.
Arya sedikit tidak senang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, Arya teringat sesuatu dan menahan ketidak senangan itu. Dia mengeluarkan pakaian dalam dari lemari lalu mandi di kamar mandi ruang tamu.
Saat Arya muncul lagi di kamar dengan handuk putih yang terlilit di pinggang, Fanie baru menyadari keberadaan pria itu.
Hanya saja dada telanjang Arya masih tetap begitu mempesona dan kuat. Membuat Fanie hanya melihat sekali dan tidak berani menatap lurus pria itu.
"Masih berapa lama lagi Mau Aku Tunggu Tidak ?" Arya tidak ada kerjaan, jadi datang bertanya di belakang Fanie.
Saat ini, Fanie duduk di depan kaca meja rias, begitu Arya datang, pria itu berdiri di belakangnya. Di kaca terpantul sosok pria yang tampan dan juga tubuh yang berlekuk jelas. Sebenarnya dengan tampilan luar Arya, pasti tidak akan kalah dari para artis kalau menjadi model iklan. Pria itu mempunyai modal untuk itu.
Hanya saja, Arya pasti tidak menghargai itu!
"Oh, sudah akan selesai. Kamu tidur dulu saja! Tidak usah menungguku!" Arya berdiri di belakang Fanie, kedua tangannya memegang bahu Fanie. Jarak yang begitu dekat, bagaimana caranya Fanie bisa fokus belajar? Bukankah ini namanya menguji kesabarannya?
__ADS_1
Maaf, kesabaran Fanie di hadapan Arya, sama saja dengan nol.
"Serajin ini? Tapi kalau biasanya tidak belajar, dan dengan sistem kebut semalam, rasanya tidak terlalu berguna bukan? Menurutku, seharusnya kamu belajar setiap hari, jadi sebelum ulangan baru tidak akan panik dan mempunyai kepercayaan diri!" Arya sangat jelas tidak ada maksud untuk pergi.
"Aku tahu. Biasanya aku juga sangat berusaha dan juga merupakan murid baik! Hanya saja, akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang terjadi, jadi demi menyelesaikan masalah yang kacau, aku kurang fokus.
Aku takut ulanganku dapat nilai jelek. Kalau nilai ulanganku jelek, maka aku merasa sangat bersalah terhadap pengorbanan kakakku kepadaku. Dia sudah akan menjalani operasi. Aku harap aku bisa mendapat nilai yang bagus, lalu menyerahkan kunci jawaban yang puas dan membawa berita yang bagus kepada kakakku!"
Saat mengungkit tentang kakaknya, perasaan Fanie sedikit tidak terkontrol. Semakin mendekati hari dimana kakaknya menjalani operasi, tidak tahu kenapa dia semakin panik.
"Ok, jangan berikan tekanan yang begitu besar pada dirimu sendiri. Kamu pasti bisa! Aku sangat percaya padamu! Tapi, saranku tadi kamu pertimbangkan juga. Waktunya istirahat kamu harus istirahat, kalau tidak mana ada energi menjalani hari esok?
Ayo, sekarang hal yang paling kamu butuhkan adalah meletakkan buku lalu pergi mandi. Setelah kamu keluar, kamu tidur deh. Dengan begitu, keesokan harinya kamu baru bisa bersemangat!" Arya menutup buku pelajaran Fanie dengan paksa.
Arya melihat tampang Fanie, sebenarnya wanita itu sudah sedikit lelah. Kalau terus belajar dengan lelah seperti ini, sangat jelas tidak akan ada efek bagus. Lebih baik cepat mandi dan istirahat.
"Tapi, aku belum selesai membaca buku ini." Fanie bertahan. Sekarang waktu masih pagi, biasanya dia tidak pernah tidur sepagi ini.
"Jangan baca lagi. Dengarkan kataku, pasti tidak akan salah!" Arya malah sangat yakin. Arya menarik Fanie keluar dari meja rias.
Fanie tidak ada cara lain. Kapanpun itu, dia pasti tidak akan bisa menang dari si arya ini. Mau menggunakan cara baik-baik, atau cara paksa, dia selalu akan kalah dari pria ini, tidak pernah menang! Di depan si arya putra ini, dia selalu orang yang diatur dan yang penurut.
Fanie mengambil baju tidurnya, lalu saat melewati Arya, Arya menatap baju tidurnya dengan tidak senang.
"Kenapa pakai baju tidur yang kuno lagi? Bukankah waktu itu sudah aku suruh buang? Kenapa masih belum dibuang?" Arya bertanya dengan tidak senang.
"Ini masih bagus. Waktu itu memang agak robek ditarik olehmu, tapi sudah aku jahit kembali. Aku rasa masih bisa dipakai, jadi tidak rela untuk dibuang!"
Fanie menjawab dengan suara kecil dan memegang baju tidurnya erat-erat. Dia takut pria itu diktator lagi dan maju untuk menarik dan membuang baju tidurnya.
"Ya sudahlah. Baju tidur yang baru, modelnya masih belum serentak, jadi belum datang. Kamu pakai baju ini dulu dua hari. Iya, hanya dua hari. Setelah itu, baju tidur baru seharusnya sudah akan tiba di sini!"
memikirkan baju tidur model baru yang seksi, juga beberapa ****** ***** seksi yang diam-diam dia pesankan untuk Fanie, Arya merasa sedikit tidak sabar untuk melihatnya.
__ADS_1