Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 016 : Jalan-Jalan , Menikmati Gelapnya Malam


__ADS_3

Arya karena tidak terlalu senang, jadi tanpa sadar menaikkan kecepatan mobil. Mobil melaju cepat dalam kegelapan malam, menjauh dari mobil-mobil di belakang.


Pada akhirnya, fanie sedikit takut pada mobil secepat ini, jadi dia menangkap kursi di sebelahnya dan mengingatkan dengan tidak tenang, "Jangan mengendarai begitu cepat! Pelan sedikit, pelan sedikit! Menakutkan sekali!"


Mungkin karena penakut, dia sebenarnya sangat-sangat takut.


Karena peringatan dan teriakan wanita itu, Arya baru merasa senang dan memelankan kecepatan mobil.


"Tadi kamu sengaja bukan? Sengaja mengendarai mobil begitu cepat. Kamu sengaja menakutiku bukan?" fanie yang awalnya tidak memperhatikan ini, karena menoleh, melihat senyum jahat pria itu, dia rasa pria itu memiliki niat lain, sengaja menakuti dirinya.


Orang jahat ini! Benar-benar jahat!


"Takut apanya? Bukankah ada aku? Selama ada aku, maka kamu tenang saja. Mungkin aku akan bercanda dengan nyawamu, tidak mempedulikan hidup matimu, tapi kamu tenang saja. Aku pasti tidak akan bercanda dengan nyawaku sendiri, juga akan mempedulikan nyawaku, jadi kalau denganku, kamu tenang saja!


Tapi, kamu benar-benar penakut! Hanya begini saja sudah bisa membuatmu ketakutan sampai seperti itu? Lihat saja tampangmu saat ketakutan, bahkan bahu pun tidak henti bergetar. Benar-benar tidak terpikir ya!" Arya berkata dengan sangat senang.


"Apa ini sangat lucu? Aku beritahu ya, sama sekali tidak lucu. Kalau kamu mengendarai mobil seperti ini, cepat atau lambat kamu akan menerima akibatnya. Bagus kalau tidak ada kecelakaan, tapi kalau ada masalah, maka adalah masalah besar, yaitu kecelakaan besar, mengerti tidak?" fanie sangat marah. Dalam pandangannya, ini bukanlah masalah kecil.


"Yo, dari malu sampai marah? Hanya sampai sini saja ketebalan mukamu?" Arya menilai sambil tersenyum. Suasana dalam mobil baru terasa lebih hidup, dan lebih santai.


"Tapi aku harus mengingatkanmu, sebentar lagi sudah akan keluar dari pusat kota. Kamu harus memegang erat sabuk pengaman! Karena keluar menikmati angin, maka kalau tidak cepat, mana ada angin yang bisa dinikmati?" Arya sangat percaya diri, begitu membelokkan mobil ke arah kanan, langsung masuk ke jalan tol.


"Untuk apa masuk ke jalan tol? Bukankah semakin jauh lagi?" fanie semakin tidak mengerti jalan pikir si arya putra ini huh..


"Tenang saja, aku tidak akan menjualmu! Kamu juga tidak melihat badanmu sendiri. Badanmu tidak ada daging, kalau mau menjualmu, juga tidak mendapat harga yang bagus. Bisa jadi, bahkan tidak lebih dari uang bensin aku mengendarai mobil bolak-balik, tidak menguntungkan!" Arya mengangguk-angguk.


"Huh, aku tidak mau bicara denganmu, kamu fokus mengendarai mobil saja!" fanie adalah perempuan yang jujur dan baik. Terhadap hal yang melanggar peraturan, dia jarang sekali melakukannya.


"Nanti, aku biarkan kamu merasakan apa yang dinamakan angin!" mobil sudah melaju di jalan yang lurus. Arya menekan tombol jendela, dengan cepat, jendela di kedua sisi mobil turun, angin yang kencang masuk ke dalam mobil, membuat rambut fanie berantakan.


Karena cuaca sekarang, angin yang kuat masuk ke mobil, tidak terasa dingin, hanya merasa segar dan nyaman.


"Enak bukan!" Arya jelas sekali bukan pertama kalinya merasakan 'angin' yang begitu menyegarkan.


"Iya, memang lumayan enak." ditiup oleh angin segar, fanie yang awalnya merasa sedikit ngantuk, seketika merasa jauh lebih segar.

__ADS_1


"Bagaimana? Rasanya enak bukan!" Arya mengendarai mobil dengan puas, "Aku beritahu ya, kalau mau menikmati angin, harus di jalan tol. Kecepatan secepat ini, jalanan yang lurus, juga pemandangan di kedua sisi, dipadukan seperti ini baru terbaik!" Arya berteriak.


Karena angin terlalu besar, kalau tidak teriak, maka tidak bisa mendengar apa yang lawan bicara katakan.


Angin membuat rambut fanie berantakan. Dia berusaha sekuat tenaga merapikan, tapi sama sekali tidak ada gunanya.


"Dan juga, kalau kamu berani, coba teriak, aaaa, aaaa!" Arya mengajari fanie bagaimana cara berteriak.


Apakah benar boleh begitu?


Tapi di jalan tol ini, tidak membuat orang lain terganggu.


Dia mengumpulkan keberanian, mencoba berteriak dulu, "Aaaa, aaaa!"


"Suaramu tidak cukup besar! Lanjut teriak lagi!" Arya terus berteriak, menyemangati fanie.


"Aaaa, aaaa!" kali ini, teriakan fanie baru lebih besar.


"Benar, benar, seperti itu, begitu baru ada efeknya! Bagus." Arya berkata puas.


"Aaaa, aaaa!" fanie berteriak beberapa kali. Rasa stress beberapa saat lalu, sepertinya menumpuk lumayan banyak. Meskipun kadang-kadang ada senyuman di wajahnya, tapi tetap tidak dapat menutupi kesedihan dan kekesalan dalam hati. Juga tidak ada cara untuk melampiaskan kesedihan serta kekesalan.


Begitu selesai, dia merasa sangat kelelahan, tenggorokannya juga sedikit sakit. Tapi dalam dadanya tidak begitu kesal dan sedih lagi.


Sampai akhir, Arya membelokkan mobil keluar dari tol. Tujuan perjalanan kali ini sudah tercapai, dia sangat puas terhadap pencapaian ini.


Mobil pada akhirnya berhenti di depan bukit.


Arya turun duluan dari mobil, bersender di depan mobil, menatap bulan yang tergantung di langit. Saat fanie turun dari mobil, dia rasa suasana sekitar sangat sunyi, tidak ada orang, rasanya di sini masih berada di pinggiran kota.


"Kamu dulu pernah datang ke sini?" fanie bertanya dengan penasaran.


"Iya, dulu pernah datang. Tapi sudah sangat lama! Tempat ini sama seperti dulu. Sama sekali tidak ada perubahan." menatap beberapa lampu jalan yang berada di kejauhan, Arya menyimpan semua perasaannya dalam Kegelapan malam.


Dia juga tidak tahu kenapa malam ini membawa wanita ini datang ke sini. Mereka belum kenal terlalu lama, mereka bersama juga hanya karena kontrak pernikahan, tapi dia sama sekali tidak mempunyai kewajiban dan tanggungjawab untuk menghibur wanita itu. Tapi kebenarannya adalah, dia malah membawa fanie ke 'markas rahasia'nya.

__ADS_1


Siapapun tidak ada yang tahu, gunung yang tidak menarik, tempat sepi yang tidak ada orangnya ini, bisa menjadi markas rahasinya. Di hatinya, tempat ini mempunyai posisi yang sangat penting, yang suci yang tidak boleh dijajah siapapun.


Angin bertiup pelan, fanie tidak bicara lagi. Dalam malam yang sunyi, di sampingnya ada orang seperti ini menemani, mungkin tidak perlu bicara apapun lagi. Hanya menikmati kesunyian yang ada saja. Bukankah itu juga suatu kepuasan.


Saat kembali ke pusat kota, kecepatan mobil sangat stabil.


"Itu" sampai sekarang, dia masih tidak terbiasa langsung memanggil nama pria itu. Tentu saja, selain itu, juga tidak ada panggilan lain yang bisa menggantikan nama pria itu, "Aku hari ini sudah mengobrol dengan dokter di rumah sakit. Dokter berkata minggu depan sudah boleh menjalankan operasi untuk kakakku."


Arya sudah membantunya menyelesaikan masalah biaya operasi sebesar 250 juta, jadi dia rasa dia perlu memberitahu masalah ini kepada pria itu.


"Oh, kamu masih perlu bantuan apa? Kalau ada, katakan saja, jangan sungkan denganku!" Arya menampilkan sikap gentleman yang jarang ada.


"Untuk sementara tidak ada. Tapi aku sangat berterima kasih padamu! Kalau tidak ada kamu, maka biaya operasi kakakku belum terselesaikan. Mana mungkin secepat ini bisa dioperasi?" bagaimanpun itu, di hatinya, dia sangat berterima kasih pada pria ini.


"Kalau begitu hari itu seharusnya kamu membutuhkan izin, izin untuk menemani kakakmu bukan?" Arya bertanya asal.


"Seharusnya iya, tapi tidak apa-apa. Hanya satu hari saja, apalagi sekarang pagi hari tidak ada pelajaran baru, semuanya hanya mengulang pelajaran saja, tidak ada pengaruh besar." mengenai pelajarannya, fanie sangat percaya diri.


"Bagus kalau begitu." Arya lumayan suka dengan kemandirian dan kepercayaan diri wanita yang berada di sampingnya ini, contohnya seperti sekarang. Sebenarnya wanita ini terkadang juga bisa menampilkan sisi yang lemah. Dia sebagai seorang pria, tentu saja tidak keberatan untuk menolong wanita ini, yang jelas juga sekalian.


Tapi kelihatannya, fanie tidak akan menampilkan sisi lemahnya. Sifat yang blak-blakan kadang kala malah membuat wanita itu semakin menderita.


Mobil dikendarai kembali menuju villa yang berada di tengah gunung. Bibi Leni saat ini sudah istirahat, tapi lampu di villa masih menyala.


Berkeliaran di luar seharian, saat kembali ke villa, bahkan fanie merasa sedikit kelelahan.


"Kamu mandi di kamar mandi kamar utama, aku mandi di kamar mandi ruang tamu!" Arya berbesar hati menyuruh fanie menggunakan kamar mandi utama dan dia sendiri melangkah pergi ke ruang tamu.


fanie mulai mencari baju dari koper yang dia taruh di ujung ruangan. Barang yang disebut koper itu sebenarnya juga tidak ada banyak isi. Bahkan baju pun hanya ada beberapa. Pertama karena sudah terbiasa sederhana, kedua karena dari sisi ekonomi dia juga tidak bisa membeli hal kecil yang tidak terlalu penting seperti pakaian.


Dia mengeluarkan baju tidur dari dalam koper. Di bilangnya baju tidur, tapi sebenarnya adalah baju atasan dan bawahan yang sangat sederhana.


Setelah masuk ke dalam toilet, dia mengunci pintu dua kali, dengan begitu baru ada rasa aman.


Air panas mengalir dari kepala sampai sekujur tubuhnya. Melepaskan kelelahan seharian, juga ketegangan yang ada.

__ADS_1


Tiba-tiba dia merasa ada pergerakan di kamar. Memangnya, Arya itu sudah selesai mandi?


Dan sebenarnya, Arya memang sudah kembali ke kamar dari tadi.


__ADS_2