
Setelah Fanie meninggalkan ruang kerja, Arya masih duduk di kursinya, kegelisahan di matanya sudah menghilang, segelas susu yang dibawa oleh Fanie terletak pada posisi yang menonjol di atas meja.
Dia memegang gelas susu di tangannya, susu itu baru saja dipanaskan, suhu gelasnya sangat pas jadi dia bisa memegangnya tanpa merasa kepanasan.
Mungkin sudah saatnya dia beralih minum susu!
Dia menyesap susu panasnya, rasanya tidak amis seperti yang dia bayangkan, sepertinya dia bisa menerimanya.
Sebelumnya, dia tidak pernah memiliki kebiasaan minum susu pada pagi hari atau malam hari, menurutnya susu hanya diminum oleh anak-anak, orang tua, dan wanita, dia adalah seorang pria, apakah dia perlu minum susu?
Tapi kemungkinan besar dia akan mulai terbiasa.
Arya menunggu hasil laporan dari meriando hingga larut malam. Jika bukan keinginan untuk mengetahui kebenaran dan hasil laporan malam ini, dia tidak akan menunggu hingga larut malam kemudian sudah masuk ke kamarnya untuk tidur.
Kasihan meri, dia sibuk memeriksa insiden tersebut di kampus hingga malam, bahkan sampai pukul sebelas dia baru mengetahui apa yang terjadi melalui rekaman CCTV kampus.
__ADS_1
Lokasi Fanie dipukul tepat berada di sebuah hutan kecil di gunung belakang, rekamannya sedikit buram, ketika pihak kampus bersama meri memeriksa rekaman tersebut juga terkejut ketika mengetahui insiden ini, mereka tidak menyangka ada insiden kekerasan yang akan terjadi di dalam kampus.
Ternyata ada CCTV yang dipasang di pohon yang tidak mencolok di seberang hutan tersebut, tidak banyak orang di kampus yang memperhatikannya, bahkan pihak kampus sendiri juga hampir lupa. Rekaman CCTV di kampus tidak selalu ada staf yang memantaunya setiap hari, sehingga bisa saja terjadi kesilapan.
"Apa hasilnya? Yang ku inginkan adalah kebenaran, kebenaran yang seutuhnya!" Arya sangat marah karena dirinya samar-samar mendengar suara permintaan maaf dari pihak kampus ketika sedang berbicara dengan Meri melalui ponsel.
"Ya, Presiden, Non Fanie dipukul orang di hutan kecil di gunung belakang kampus, aku baru saja mendapatkan rekaman CCTV ......" Meri mengatakan insiden yang sebenarnya.
Dia punya firasat kali ini Bos Arya akan marah dan akibatnya bisa mengerikan.
"Dipukul? Kamu bawa rekaman videonya kesini! Sekaligus informasi data beberapa orang yang melakukan aksi tersebut!" Arya mencoba menahan keinginan untuk mengutuk dan membunuh orang ketika masih sedang menelepon.
Tentu saja apa yang dia laporkan melalui telepon, sebenarnya hanyalah sebagian saja, melalui rekaman CCTV kampus, dia bahkan mendapatkan beberapa informasi lain yaitu Non Fanie sepertinya tidak disukai oleh orang di dalam kampusnya, ketika ada orang yang melihatnya di kampus, mereka akan menghindarinya dengan memutar ke jalan lain atau bahkan ada yang menggosipnya dari belakang, sepertinya ada yang tidak beres.
Tentu saja dia juga akan sekaligus menyelidiki semuanya, namun mereka yang melakukan aksi ini kemungkinan bisa mengalami nasib buruk, mereka benar-benar sangat tidak tahu diri melalukan kekerasan di dalam kampus pada siang hari! Meskipun Presiden Arya tidak marah, dia sebagai asisten kecilnya juga sangat marah setelah menonton rekaman ini.
__ADS_1
Aeya putra berpikir bahwa setelah dia mengetahui hasil penyelidikan ini, dia akan merasa lega, siapa tahu Meri akan menemukan kenyataan lain yang begitu kejam.
Semakin dia berpikir, semakin dia merasa gelisah, dia memasuki kamar tidur dengan pelan.
Fanie meringkuk dalam selimut seperti seekor udang dan membungkus dirinya sehingga terlihat seperti kumpulan kecil di tempat tidur kamar tidurnya.
Ada yang pernah bilang jika posisi tidur seseorang begini berarti dirinya tidak memiliki ketenangan.
Dia menatap posisi tidurnya dengan seksama, dia tidur dalam kegelisahan dan ketakutan, mengapa temannya bisa memperlakukannya seperti ini? Kebencian seperti apa yang dimiliki oleh beberapa dari mereka yang tega menyerangnya sendirian?
Fanie, sebagai wanita milik Arya Putra, kamu benar-benar terlalu lemah!
Alisnya berkerut hampir menempel satu sama lain.
Dia mengulurkan tangan besarnya membantu memisahkannya, meskipun sedang tidur dia bahkan merasakan kegelisahan yang amat dalam, dia menggunakan tangannya untuk melindungi dirinya dari sentuhan orang lain.
__ADS_1
"Jangan takut, Fanie, ini aku, aku adalah Arya Putra! Aku ada disini, tidak ada yang akan menyakitimu! Kamu bisa tidur dengan tenang!" Dia menepuk punggungnya dengan lembut, seperti sedang menepuk anak kecil yang tidurnya tidak nyenyak.
Dia tidak bangun dan matanya tidak terbuka, dia terus menjaga dirinya dan melindungi dirinya sendiri, sepertinya selalu waspada pada orang lain dan tidak bisa rileks.