
Di tempat berkelas seperti begini, lingkungannya baik apalagi privasinya, dia datang kemari bagaikan ikan yang akhirnya kembali kedalam air, dia tiba ditempat yang seharusnya dia berada.
Namun semua yang berada disini membuat fanie tidak bisa terbiasa, dia tidak pernah datang ke restoran mahal seperti begini, apalagi mengonsumsi sesuatu disini, dia terlihat kaku dan tidak tahu harus duduk dimana dan kemana kakinya ditaruh, posisi apa yang harus dipertahankan, barulah tidak malu, intinya dia sangatlah tidak nyaman.
Dua porsi steak disajikan, seterusnya ada dua buah dessert dan sebotol wine .
"Makanlah!" Sekali makanannya datang, arya kembali duduk dengan baik dan mulai bersiap akan makan.
Pelayan yang mengenakan seragam itu tidak langsung pergi melainkan berada disamping pelanggan untuk melayani mereka, terlihat pelayan itu membuka wine itu terlebih dahulu dan menuangkannya setengah gelas ke gelas arya, seterusnya bertanya kepada fanie dengan sopan, "Nona, apakah Anda juga ingin minum sedikit wine?"
"Tuangkan satu gelas juga untuknya!" Sebelum fanie menjawab, arya si bos Muda ini langsung melakukan keputusan untuknya tanpa menghiraukan pemikirannya.
"Diretur Arya, Nona, silakan dinikmati!" Setelah menuangkan wine, disini sudah tidak ada urusan pelayan itu.
fanie benar saja masih lapar, tadi ketika berada direstoran kecil itu, dia masih belum makan seberapa banyak, si Arya putra yang berada dihadapannya ini sudah ribut akan pergi, dan langsung pergi duluan, dan membuat fanie tidak punya suasana hati untuk terus menikmati makanan yang dia bayar itu.
Dan sekarang, sebuah steak yang terlihat bagus tengah berada dihadapannya, pisau dan garpu juga berada di pinggir piring, namun dia malah mulai merasa bingung.
Bagaimana ini? Dia tidak pernah makan makanan barat, dia tidak bisa menggunakan garpu dan pisau, meskipun disini adalah ruangan, namun dia bahkan tidak mengerti dasar untuk makan,
bukankah itu memalukan sekali? fanie dari dulu adalah seorang gadis yang keras kepala dan mempunyai harga diri tinggi, namun saat ini dia malu dan sangat tidak nyaman.
Untung saja, reaksi dan kemampuan belajarnya tidaklah lemah, setelah mencoba beberapa kali, ternyata dia sudah bisa menggunakan garpu dan pisau dengan lumayan bagus.
Tentu saja, intipannya, serta rasa malu dan ketidaknyamanannya tentu saja tidak mungkin sama sekali tidak disadari oleh arya yang duduk dihadapannya, namun arya tidak mengatakan apa-apa, dan juga tidak bertanya, dia tidak menyindir dirinya adalah anak gadis sekolahan yang tidak tahu apa-apa, dia tidak merendahkan kebodohannya.
Wanita ini sudah berkontrak dengan dirinya, maka sesuai kontrak, maka dia adalah wanita yang berada disamping dirinya, setelah ini juga akan mempublikasi identitasnya, sampai saat itu, dia pasti harus bisa beradaptasi dengan kehidupan yang mewah seperti begini, dan juga harus terbiasa dengan sering keluar masuk tempat mewah seperti begini, jika tidak bagaimana mungkin bisa pantas menjadi wanita yang berada disamping dirinya?
Setelah fanie menyicipi dua kali steak, dia sedikit kesusahan untuk menelannya, dimata para orang kaya ini, steak ini adalah makanan yang lezat, namun baginya, ini terasa sedikit amis, amis yang tidak bisa dihilangkan.
Dia tidak suka makanan yang setengah matang seperti begini, dia sama sekali tidak suka.
"Kenapa? Tidak cocok dengan seleramu?" Gerakan kecilnya ini sangat cepat diketahui oleh arya yang duduk dihadapannya yang mana sudah menghabiskan lebih dari setengah steaknya.
"Iya, tidak suka, aku tidak tahu mengapa kalian orang kaya mengapa bisa suka." fanie sudah meletakkan pisau dan garpu ditangannya.
__ADS_1
"Awal-awal makan memang seperti begitu, nanti setelah kamu terbiasa, kamu akan mencintai rasa ini, oh iya, jika kamu tidak suka steak, coba saja dessert dipiring kecil, dessert di restoran ini lumayan, diluar sana sangatlah susah untuk bisa makan dessert yang begitu original." arya dengan jarangnya memuji sesuatu, sepertinya dessert ini memang salah satu kesukaannya.
fanie memang suka Dengan dessert, pasti jarang ada wanita yang akan menolaknya, fanie juga tidak sungkan sungkan.
Setelah fanie hampir menghabiskan dessertnya, arya juga hampir menghabiskan steaknya.
"Piring sisanya itu kamu juga makan saja, lagian dua piring itu sengaja dipesan untukmu!"
"Semuanya untukku? Apakah kamu tidak makan?" fanie sangatlah kaget.
"Aku tidak suka makanan manis!" Memang benar, orang yang beridentitas dan tampan seperti arya tentu saja memilah milih dalam makanan, lelaki memang tidak suka makan makanan manis, itu juga bukanlah sbeuah hal yang aneh, contohnya adalah kakaknya juga tidak suka dengan makanan manis, dititik ini, mereka sama.
"Baiklah!" Yang beruntungnya adalah fanie juga tidak makan banyak direstoran kecil tadi, perutnya sekarang masih saja bisa menampung dessert ini.
"Sepertinya kalian para wanita semuanya hampir sama saja, semuanya suka makanan manis." arya duduk santai disofanya dan menatapi wanita dihadapannya tengah makan dessert, cara makannya terhitung elegan, bukanlah asal makan begitu saja.
"Apa maksudmu ini? Jangan -jangan kamu membawa banyak wanita untuk makan diluar?" fanie dengan jelinya menangkap informasi penting didalam perkataannya dan berbalik bertanya.
"Bagaimana menurutmu?" arya tidak menyangkalnya, namun langsung menaikkan bahunya, sebenarnya orang yang beridentitas sepertinya sungguh mempunyai beribu kesempatan untuk berinteraksi dengan lawan jenis! Tidak ada cara lain, ditambah lagi dengan wajah tampannya dan tata pemakaiannya yang sungghu bagus, susah baginya untuk tidak menarik perhatian wanita muda, itu sungguh nyaris tidak mungkin.
fanie, oh fanie, kamu kira apa identitasmu sekarang? Sekarang dia hanyalah sedang suasana senang dan sekalian membawamu keluar untuk makan steak, dan datang sekali ke restoran barat berkelas ini saja, kamu jangan lupa dengan siapa dirimu, kamu harus tahu jelas apa posisimu serta apa identitasmu.
"Bill, please!" arya menekan sebuah tombol dibawah meja makan, tombol itu digunakan untuk melakukan panggilan, sekali ditekan, pusat pelayanan diluar sana akan langsung mengetahui ruangan ini membutuhkan pelayanan.
Benar saja, hanya sebentar saja langsung ada pelayan yang masuk dengan sopan.
arya juga tidak banyak berkata, dia langsung mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu emas yang bersilau terang itu sungguh membuat mata fanie silau.
Kartu emas seperti ini tidak akan bias diberikan oleh bank jika tidak mempunyai identitas tertentu, sepertinya dikota ini yang bisa mempunyai kartu emas seperti ini juga tidak akan lebih dari 10 orang! kartu emas itu sungguh keren jika dilihat.
Pelayan itu menerima kartu emas itu dan menjawab, "Direktur arya, mohon untuk tunggu sebentar!" lalu pelayan itu keluar.
Sekalipun fanie tidak pernah datang ke retoran mewah seperti begini, apalagi mengonsumsi barang disini, namun lingkungan sebaik ini ditambah lagi adalah ruangan tertutup, dia tebak pengeluaran mereka hari ini disini pasti tidaklah murah, setidaknya tidak mampu di keluarkan oleh orang biasa sepertinya.
Namun bagi orang kaya seperti arya, mungkin saja ini hanya sebuah hal yang asal saja.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pelayan itu kembali dan ketika kembali, selain dari kartu emas itu, ditangannya bertambah satu struk lain, karena terlalu jauh, fanie tidak bisa melihat dengan jelas angka yang tertera diatas sana dengan jelas.
Tentu saja, dia juga hanya penasaran saja, yang penting sekarang yang bayar bukanlah dia, dia juga tidak peduli, mungkin saja bagi orang kaya seperti arya, ini hanyalah recehan saja, dia mungkin saja juga tidak akan melihatnya, untuk apa dirinya tegang sendiri!
"Ayo pergi!" Aeya bangun dari duduknya.
"Hati-hati dijalan Direntur arya!" Pelayan disini benar-benar telah melewati pelatihan professional, sungguh sangatlah sopan.
fanie juga ikut keluar, setelah keluar dari restoran mewah ini, barulah dia lega.
Setelah naik keatas mobil, barulah fanie bertanya, "Kali ini kita akan kembali ke vila kan!"
Sudah makan malam, tentu saja dia mengira akan kembali ke villa.
"Apakah kamu tidak mau pergi berkencan?" arya masih saja duduk dikursi setir dengan santai dan menjawab pertanyaannya.
"Kencan?" Ide ini memang bagus, namun kencan bukanlah hanyalah sebuah tindakan untuk membuang-buang bensin saja? Dia memang sudah terbiasa miskin, sekali melakukan apapun, dia akan sendirinya menghitung apakah hal ini wajib dilakukan atau tidak, apakah pengeluarannya berguna atau tidak, jika tidak diperlukan, dan masih bisa dihemat, dia biasanya tidak akan setuju.
"Kenapa, kamu tidak ingin pergi?" arya tidak mendengar jawabannya, dia lalu mengerutkan keningnya dan menatapi fanie, namun terlihat fanie menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa.
"Bukan, jika kamu ingin pergi maka pergi saja! Aku tidak bermasalah, pergi juga boleh tidak juga tidak apa-apa!" LAgi pula sekarang dia sudah naik keatas mobil pribadai Arya, dia adalah pengemudi mobil ini, kemanapun pergiinya bukannya memang keputusan dari arya ?
Sekalipun fanie mengatakan tidak, mungkin saja jika arya senang dia akan terus mempertahankan pendapatnya dan melakukan yang dia inginkan! Kapan juga arya peduli dengan pendapat fanie, dan mendengar nasihatnya? fanie menyindir dirinya sendiri dengan tersenyum, senyumannya penuh dengan ketidak berdayaan.
"Sungguh canggung! Aku paling tidak suka saat kamu canggung seperti begini! Jika keluar main, maka tentu saja yang dicari adalah kesenangan! Kamu lihat tampangmu sekarnag ini, bahkan hal kecil seperti ini saja juga perlu bimbang seperti beginikah? Sungguh tidak ada menariknya hidup ini!" Arya tidak suka dengan tampang fanie seperti begini.
fanie di kritik lagi, dia memilih untuk tidak berkata.
"Tidak seru!" Arya terus menyetir, dia sepertinya marah dan tidak lagi mempedulikan fanie lagi.
Lewat jendela, fanie melihat pemandangan diluar sana terus saja lewat, dan mereka sepertinya semakin menjauh dari area kota, karna ini adalah jalan menuju keluar kota.
Dia juga tidak enakan untuk mengatakan apa-apa, jika berkata terlalu banyak pasti akan membuatnya tidak senang.
Sekali Arya tidak senang, maka dirinya pasti akan dipersulit.
__ADS_1