Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 119 : Perdebatan


__ADS_3

Karena waktu itu dia pergi ke bagian HRD mencari rekannya untuk melihat data-data riwayat hidup fanie, Gabby mengetahui bahwa fanie adalah anak yatim piatu, lalu kakak laki-laki satu-satunya, sepertinya masih ada di Kota Bandung, kesehatannya juga tidak begitu baik, dulu waktu kuliah di Kota Bandung. sambil kerja di luar jam kuliah, setiap tahun beasiswa dari sekolah bisa dibilang milik dia, tidak tergoyahkan, siapapun tidak ada yang bisa merebutnya.


Jadi, latar belakang keluarga seperti ini, dirinya yang seperti ini, mungkinkah bisa rela dalam sekejap menghabiskan hampir sepuluh juta membeli satu setel pakaian merek dunia yang terkenal? Apa dia gila?


Kecuali seperti dia gadis kaya yang berasal dari keluarga yang hidupnya mewah, pakaian seharga sepuluh empat puluh juta, biasanya tidak pernah sampai membuat kening berkerut, kalau ada yang dirinya suka, langsung panggil pelayan toko, lalu gesek kartu kredit ayahnya, beres urusan.


Gabby seketika teringat setiap hari dengan fanie sama-sama bubar kerja dan meninggalkan perusahaan, lalu bersama naik mobilnya Arya Putra sama-sama pulang ke Beautiful Garden, jadi, mungkinkah ini Arya Putra yang membelikan untuknya?


“Kamu sembarangan bicara apa, apakah tidak mungkin kalau aku sendiri yang memang mau menghabiskan uang untuk membeli sebuah pakaian merek terkenal yang mahal, apakah tidak boleh? Kamu boleh saja berdasarkan hal ini, langsung mencap aku jadi peliharaan miliader? Kalian satu persatu yang biasanya juga berdandan sedemikian hebohnya, kadang juga mengenakan pakaian bermerek, apakah tidak mungkin kalian tiap hari juga menerima pemberian dari miliader?” fanie tidak bisa membendung emosinya hinggal langsung bereaksi, dia paling benci ucapan demikian yang mengatakan bahwa dirinya dipelihara oleh miliader.


Waktu jaman kuliah di Kota Bandung, di dalam kampus pernah di mana-mana terdengar gosip dia dipelihara miliader, saat itu, dia sungguh merasa ke mana pun dia pergi, pasti diremehkan orang dan tidak dianggap, lalu saat berjalan, tidak peduli jalan ke bagian sekolah yang manapun, tempat manapun, dia merasa bahkan tak mampu untuk mengangkat kepalanya, sangat merasa minder, dan juga takut orang menggunakan tatapan yang berbeda dan menghina mengukur dirinya.


Dia kala itu, sangat membenci berita-berita semacam ini. Tentu saja, dia juga merasa rendah diri, karena kenyataannya memang seperti itu, kenyataannya dia, fanie, mahasiswi pintar yang setiap tahun mendapatkan beasiswa, dipelihara oleh seorang miliader misterius, tinggal di sebuah villa di lereng gunung.


Sekarang tiba di Kota jakarta, berganti lingkungan yang baru, dia semula mengira kata-kata “dipelihara” ini, tidak akan pernah didengarnya lagi dari orang di sekitarnya, tapi sekarang, ternyata lagi-lagi ada rekan kerja wanita yang mencurigainya dipelihara oleh miliader, dia langsung menjadi marah.


“fanie, apa maksud sikapmu ini? Malu lantas menjadi marahkah? Aku hanya bercanda denganmu, kamu tidak bisa merasakannya? Mengapa reaksimu demikian hebatnya, jangan-jangan karena ucapanku ini benar ya? fanie, biasa aku melihatmu begitu jujur, lalu juga supel, tidak disangka, ternyata kamu orang yang tidak tahu malu!” Rekan kerjanya itu merasa diserang, seketika juga mulutnya tidak bisa ditahan lagi.


fanie yang tadinya sedang ada beban yang tidak bisa dilepaskan, bertolak belakang dari yang diharapkan rekan kerja wanita ini begitu bertemu langsung agresif!


“Aku tidak tahu malu? Darimana kamu bisa bilang aku tidak tahu malu? Bukannya itu kamu, yang datang-datang langsung bicara macam-macam, bilang aku dipelihara oleh miliader segala? Bercanda, apakah yang kamu lakukan tadi seperti becandaan di antara sesama rekan kerja? Kalau aku yang jadikan kamu bahan becanda dengan mengatakan bahwa kamu dipermainkan di tangan miliader, apa kamu suka mendengarnya? Itu benar-benar hal yang mengada-ada, mengapa harus dijadikan bahan becanda, apakah ini lucu? Maaf ya, aku tidak sedikit pun mendengar ada yang lucu!”


fanie yang sekarang, tidak seperti fanie yang dulu, tidak akan diam saja menerima perlakuan orang, ditindas orang.

__ADS_1


“Sudahlah, semua saling mengalah, jangan ribut lagi, oke?” Anton sejenak merasa sulit, berada di antara dua orang rekan kerja, siapa yang harus dia bantu, rasanya tidak adil, tentu saja, dalam hatinya yang dia paling peduli tentu saja fanie, juga sangat ingin membantunya keluar dari kondisi tidak mengenakkan ini, tapi sikap fanie belakangan agak kelewatan, jadi, dia sejenak menjadi tidak tahu bagaimana harus condong padanya, hanya bisa sementara bersikap sebagai penengah dulu.


“Ini adalah kantor, tempat untuk bekerja, bukan pasar yang hiruk pikuk, kalau kalian berdua, masih ingin melanjutkan pertengkaran kalian, mohon maaf silakan keluar saja! Jangan sampai mempengaruhi pekerjaan di sini!”Anton akhirnya juga marah, wajahnya dingin, sangat marah.


Grup magang ini, terus di bawah koordinasinya, dia adalah penanggung jawab di sini, setiap karyawan di sini, dia harus mengenal dengan baik, sesama anggota grup ini seharusnya saling membantu saling menolong, lalu bersama-sama berjuang mengerjakan setiap pekerjaan dengan baik, lalu seharusnya harmonis dan saling mengasihi.


Tapi sekarang hanya karena satu hal kecil, ribut sampai seperti ini, mana pantas!


“Anton, bukan maksudku ingin bertengkar dengannya, kamu lihatlah sikapnya yang arogan!” Semua yang punya salah duluan mengadu, rekan kerja wanita itu mengerti bagaimana duluan menyerang, dengan santainya satu kalimat saja, menjelekkan Fanie di hadapan Anton.


“Semua juga kalau hanya satu telapak tangan tidak akan berhasil bertepuk tangan, kalau kamu tidak ada salah, apakah pertengkaran ini bisa terjadi? Andai kamu juga mengerti sedikit saja prinsipnya dan ada punya sikap memaafkan, masalah ini bisa dijelaskan baik-baik, bukankah beres? Kamu sendiri juga harus baik-baik introspeksi diri, kalian berdua introspeksi, sebelum bubar kantor, aku mau melihat ada ulasan yang mendalam, kalau tidak, kalian tidak ada yang boleh pulang!” anton jarang marah, tapi sekalinya marah, akibatnya sangat berat.


Hukuman dari Anton, bisa dibilang adil dan juga tegas, langsung fanie dan karyawan wanita itu tidak berbicara lagi, juga tidak berani menunjukkan sikap tidak menurut.


Ketika tiba waktu bubar kerja, fanie pergi lebih lambat dibanding yang lain, dengan susah payah dia selesaikan laporan evaluasi dirinya, dan diserahkan pada Anton yang masih menunggu di sana.


Anton tidak lebih dulu pergi, dia masih menunggu laporan evaluasi yang dibuat oleh bawahannya ini, selain itu juga dia ingin tinggal dulu untuk berbincang dengan fanie, sekalian juga ingin menghiburnya atas apa yang terjadi hari ini.


“Ini adalah laporan evaluasiku, silakan dilihat dulu, kalau sudah tidak ada masalah, aku pulang dulu!” Dia sudah membereskan semua barang-barangnya di atas meja, dan membawa tasnya.


“Tunggu, saya lihat dulu!” Anton melihatnya sekilas, laporan evaluasi seperti ini hanyalah sebuah formalitas, lagipula dia tidak akan sengaja mempersulit fanie.


“Melihat tampangmu tadi kamu benar-benar marah? fanie, ada hal yang aku tidak tahu apakah aku harus katakan padamu, tapi sebagai koordinator grup magang ini, dan sebagai temanmu, aku rasa tetap perlu mengatakannya padamu.” Ekspresi wajah Anton terlihat serius.

__ADS_1


“Baik, katakan saja, aku akan menyimaknya baik-baik!” fanie ini juga sebenarnya orangnya bukanlah tipe pemarah, waktu itu dia marah memang sungguhan, tapi setelah kemarahannya lewat, ya sudah tidak ada terlalu dirasa lagi.


Bicara soal dendam dan sejenisnya, tidak ada dalam kamusnya.


“Sekarang kita bukanlah mahasiswa lagi, bukan juga mahasiswa S2, sekarang kita sudah selangkah demi selangkah masuk ke dalam masyarakat, dan masyarakat itu sangat kompleks, suasana kampus yang seperti menara gading itu sama sekali tidak akan kita dapat rasakan, tempat kerja sangatlah kompleks, hubungan antara manusia ada banyak perubahan yang aneh, di sekeliling kita apakah musuh atau teman, ini sangat banyak masalah, semuanya sangatlah nyata terjadi, fanie, jangan hidup dalam dunia mimpi, sekarang adalah dunia kehidupan yang nyata!” Anton menasehati dengan sungguh.


“Aku tahu, tapi aku tidak bisa terima, mengapa dia begitu merendahkan diriku? Jelas-jelas aku tidak pernah berbuat salah padanya, atas dasar apa dia melakukan itu padaku? Bercanda, kamu juga saat itu ada di sana, kamu juga dengar apa yang dia katakana, apakah ini seperti perkataan sedang bercanda? Anggaplah memang bercanda, apakah aku cukup akrab dengannya, begitu akrabnya sampai di level bisa bercanda untuk hal-hal seperti inikah?” fanie sungguh tidak mengerti, “Sebelum ini, aku dan dia hampir tidak pernah berhubungan.”


“Tapi apa kamu tidak merasa reaksimu juga sedikit berlebihan? fanie, sebetulnya apa yang kamu takutkan atau apa yang sedang kamu pikirkan?” sorot mata Anton seperti panah, langsung tertuju masuk dalam mata hitam Fanie yang menyiratkan kegalauan hatinya.


Dia sedang merasa takut, benar, waktu itu memang dia sedang merasa ketakutan, Anton ini ternyata bisa membaca ketakutannya.


“Kuakui, reaksiku saat itu memang sedikit berlebihan, tapi dia kan yang lebih dulu bersalah, bukankah begitu?” fanie tidak ingin masalah ini lebih dalam dibicarakan lagi, “Sudahlah, sekarang membicarakan ini, tidak ada gunanya lagi, kalau sudah tidak ada apa-apa lagi, aku duluan ya!”


“Tunggu, fanie, apa kamu berani bilang bahwa sekarang kamu tidak memilih untuk menghindar? Kamu tidak berani menghadapiku, terlebih kamu tidak berani menghadapi kata-kata candaan tadi, fanie, sebetulnya ada apa? Apa yang terjadi, bisakah kamu jujur katakan padaku, anggaplah aku tidak bisa membantu banyak, minimal aku bisa membantu memberimu saran!” Anton selalu merasa belakangan ini, di antara mereka berdua semakin hari semakin tidak ada bahan pembicaraan, jarak di antara mereka terasa semakin jauh, tapi ini sama sekali bukanlah akhir yang dia harapkan terjadi.


Tubuh fanie menjadi tegang, dia berdiri di tempatnya tak berani bergeming, Anton yang begitu pintar, apakah sudah menyadari sesuatu atau berhasil menebak sesuatu, tapi, dia sudah tidak ingin lanjut memikirkan hal ini.


“Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, Anton, pikiranmu terlalu jauh! Kalau kamu memang sedang senggang, sebetulnya boleh lebih memperhatikan dirimu sendiri atau teman di sampingmu, urusan hari ini, aku akui aku agak berlebihan bereaksi, ke depannya aku pasti akan berubah, akan berusaha keras mengatur perasaaanku lebih baik lagi, masalah seperti ini, aku berani jamin, tidak akan terjadi untuk kedua kalinya! Kalau ada orang yang begitu kejamnya merendahkanku lagi, aku akan mengambil tindakan yang lebih bijak, dan bukan malah seperti tadi bikin keributan! Tentu saja, aku berterima kasih kamu telah dengan cepat menghentikan semuanya, sehingga masalahnya tidak bertambah parah!”


Bicara sejujurnya, dalam hatinya sungguh dirinya sangat merasa berterimakasih padanya.


“Tidak, fanie, sesungguhnya aku juga mau minta maaf padamu, urusan hari ini, aku seharusnya berdiri di pihakmu, membelamu, bagaimanapun dia yang salah duluan, dia yang sembarangan bercanda, dia yang memulainya, tapi, identitasku di sini sangat khusus, posisiku juga sangat sensitif, aku harus netral berada di posisi tengah, tidak boleh condong pada siapapun, meskipun aku sangat ingin membelamu, ingin membantumu membela diri! Tetapi, pikiranku berkata, aku tidak boleh lakukan itu!”

__ADS_1


Anton sungguh merasa bersalah untuk masalah ini.


__ADS_2