Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 027 : Bersyukur


__ADS_3

“Kalau begitu kamu benar-benar bodoh!” Arya memarahinya, namun meskipun marah dia masih sangat perhatian padanya, menoleh ke arah Bibi Leni, “Serahkan padaku, aku akan membersihkan lukanya, kamu lanjutkan pekerjaanmu di dapur saja! "


Dikarenakan arya sudah berada disini, Bibi Leni mengerti bahwa dirinya sudah boleh meninggalkan mereka, membiarkan pasangan ini bermesraan dan dirinya boleh pergi sejauh mungkin.


Setelah Bibi Leni pergi, sebelah tangan Arya memegang botol alkohol dan sebelah tangannya lagi memegang penjepit yang dipenuhi kapas.


"Arahkan sikumu kesini!" Nada suaranya belum membaik karena marah, baru saja sehari ini, dia bisa begitu ceroboh dan melukai dirinya sendiri, hal yang membuatnya semakin marah adalah dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.


Fanie mengulurkan lengannya dengan sedih, dia bahkan sudah terluka, mengapa masih tidak bisa berbicara baik-baik dengannya? Apakah tidak bisa berbicara lebih pelan dan lembut?


“Ssssss!" Fanie mengeluarkan suara tanda nyeri ketika lukanya terkena alkohol.


“Tahankan! Biar kamu tidak lupa lain kali jangan sebodoh itu!" Aeya masih marah, ekspresinya sangat serius.


Fanie menggigit bibir bawahnya dengan erat, tidak berani mengelurkan suara lagi.


Dia adalah karakter yang kuat menahan emosi dan keras kepala sejak kecil.


Bukannya dia memang sebodoh itu? Kalau tidak, dia tidak akan mengetahui orang yang mengkhianati dirinya sendiri adalah Lidia yaitu teman sekolahnya dan juga teman baiknya, bahkan saat ini siska juga berada di pihak yang mencemarkan nama baiknya, membantu menyebarkan isu dirinya adalah wanita simpanan orang kaya.


Jika dia cukup pintar, dia seharusnya mengetahui Lidia bukan tulus baik kepadanya, bukan tulus membantunya, begitu juga dengan siska.


Jika dia cukup pintar, dia seharusnya tidak meminta bantuan Lidia yang memiliki karakter ganda, bahkan tidak mencurahkan isi hatinya sedikit pun kepada Lidia mengenai wanita simpanan.


Tentu saja jika dia cukup pintar, dia mungkin bisa menemukan orang kedua yang bisa menyelamatkan kakaknya, yang bisa berhasil membantunya mendapatkan biaya operasi sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah, dan bukan menjual malam pertamanya sehingga menjadikan dirinya sebagai wanita simpanan orang kaya.


Jadi semuanya memang karena kebodohannya sendiri.


Dia terdiam karena merasa sangat sedih.


Meskipun perkataan Arya sangat dingin dan penuh sindiran, namun Arya benar-benar peduli padanya, karena melihat luka yang dialaminya, dia menjadi marah karena Fanie tidak bisa menjaga dirinya sendiri, cara dia mengoleskan obat sangat lembut dan sangat teliti.


Dia jarang memiliki kesempatan untuk mengoleskan obat kepada orang lain, hal seperti itu jarang dilakukannya, namun hari ini dia berusaha dengan penuh kesabaran dalam mengoleskan obat untuknya.


Akhirnya Arya menjadi semakin marah ketika melihat Fanie terdiam dengan suasana hati yang tidak kelihatan baik.


"Sudah, dalam dua hari ini hati-hati kalau mau mandi, lukamu jangan menyentuh air, takutnya bisa meradang!"


Dia masih ingin menyalahkannya beberapa kata lagi, tetapi melihat dirinya yang meringis kesakitan, kata-kata yang hendak diucapkannya ditarik kembali.

__ADS_1


"Aku tahu, aku akan hati-hati." Sebenarnya dia sudah pasrah, karena selama ini begitu banyak luka yang muncul di tubuhnya yang tidak bisa dihitung lagi, saat itu dia tidak memiliki kesayangan dari orangtuanya, kakaknya juga sibuk bekerja, dia berada di rumah sendirian, hanya bisa membiarkan luka-luka kecil itu sembuh sendiri dalam waktu yang cukup lama, dia tidak pernah membersihkan lukanya, tidak pernah mengoleskan obat, sejak kapan dia berubah menjadi begini?


Namun di hadapan Arya, dia tidak bisa mengatakan ini secara langsung, karena dirinya yang di panggil tuan atau bos ini bisa saja kembali memarahinya karena alasan ini.


“Apakah ada luka lain selain disini?” Dia sedang memasukkan kembali obat-obat yang dia keluarkan tadi ke dalam kotak P3K, dan tidak lupa bertanya kepadanya.


“Oh, tidak, tidak ada yang lain.” Dia menjawabnya tanpa berpikir.


Tubuhnya masih terasa sakit, jadi kemungkinan masih ada bekas luka di tempat lain, dia ingat bahwa dia ditendang oleh gadis-gadis yang egois dan liar.


Tapi dia tidak ingin Arya mengetahui semuanya.


Ini adalah masalahnya sendiri di kampus, jadi dia berharap bisa menghadapinya sendiri tanpa campur tangan atau ketahuan oleh Arya,


"Baiklah, kamu istirahat sebentar di bawah, aku akan kembali ke ruang kerja." Ketika Arya tiba di villa, dia bergegas membantunya membersihkan luka dan mengoleskan obat, sehingga tas kerjanya dibiarkan di samping kakinya.


Saat ini, dia hanya ingin naik ke atas menuju ruang kerja dengan meletakkan tas kerjanya dan mengurus beberapa email penting, dia tidak menyelesaikan di dalam perusahaan dan kembali ke rumah lebih awal karena khawatir pada gadis kecilnya itu, lagipula email ini juga dapat dibalas menggunakan komputer dalam ruang kerjanya sehingga tidak akan mempengaruhi perkembangannya.


"Baik, kamu sibuk dulu, aku baik-baik saja." Fanie ingin dia meninggalkannya sekarang, terkadang dia benar-benar takut melihat wajahnya yang sedang serius ataupun sedang marah, lagi pula emosinya memang selalu tidak baik, terkadang Fani bahkan tidak mengerti apa yang dipikirkannya.


Intinya, ketika Arya meninggalkan dirinya sendiri, dia akan merasa jauh lebih nyaman.


Jadi ketika Bibi Leni menyelesaikan pekerjaannya di dapur dan keluar ingin bertanya apakah sudah mau makan malam, dia melihat Fanie duduk sendirian di sofa di ruang tamu sedang serius belajar, terkadang mulutnya bergerak seperti sedang menghafal.


Dia menggelengkan kepalanya, gadis ini benar-benar rajin belajar! Kemudian dia diam-diam kembali ke dalam dapur.


Di lantai atas, Arya menggunakan komputer mengurus dan membalas setumpuk email di meja ruang kerjanya, beberapa email yang berisi tulisan bahasa asing juga dibalas Bos Besar Arya Putra tanpa hambatan apapun.


Ketika pekerjaannya telah selesai, dia merasa perutnya sedikit lapar, perutnya mulai berbunyi, siang hari tadi di kantor, dia terlalu sibuk pada pekerjaannya sehingga tidak punya waktu untuk pergi makan, jadi dia hanya menyuruh asistennya yaitu Mari untuk memesan makanan untuknya.


Porsinya tidak banyak, tapi rasanya lumayan, jadi sekarang dia sudah sangat lapar.


Ketika dia turun ke bawah, dia merasa suasananya luar biasa sepi, pelayan di villa tidak menyiapkan makan membuatnya merasa aneh! Ketika dia ingin berjalan ke dapur untuk bertanya, dia melihat gadis kecilnya berada di sofa yang saat ini sedang memegang buku tebal, kadang-kadang terdengar suara yang sedang membalik halaman buku.


Ternyata dia masih sedang belajar, dia tidak menyangka gadis kecil ini benar-benar murid yang rajin dan serius belajar.


Ketika Bibi Leni sekali lagi keluar dari dapur, dia melihat sen Aryq diam-diam berdiri di pintu.


“Den Arya !” Dia memanggilnya akibat kaget dan panik.

__ADS_1


Panggilan ini juga mengejutkan seorang murid baik yang sedang duduk belajar di sofa.


Bibi Leni bergegas menjelaskan, "Dwn arya, sebenarnya makan malam sudah disiapkan, tapi aku melihat Non Fanie sedang serius belajar, jadi aku tidak ingin mengganggunya agar dia bisa belajar beberapa saat lagi, lagipula kamu juga belum turun.”


Bibi Leni ingin menjelaskan bahwa ini bukan kesalahannya, bukan karena dia bermalasan tidak membuat makan malam, tetapi dia ingin membiarkan Fanie belajar dulu.


“Ayo makan!” Ini adalah pelayan yang dicari Arya dari luar, dia sudah bekerja cukup lama di villa ini, jadi Bibi Leni adalah orang yang jujur, rajin, cepat, tidak bermalasan, dia sebagai pemilik villa sama sekali tidak meragukannya.


Pelayan yang bekerja di villanya semuanya sangat rajin dan gerak cepat, karena dirinya adalah orang yang penuh aturan ketat.


Tentu saja gaji mereka juga sangat memuaskan.


"Baik, Den! Aku akan segera menyiapkannya!" Semuanya telah di disiapkan di dapur, setelah semuanya dihidangkan mereka sudah bisa mulai makan malam.


Fanie yang duduk di sofa refleks menutup bukunya ketika mendengar ajakan makan malam, perutnya juga mulai terasa lapar.


“Aku pergi mencuci tangan!” Dia berjalan ke dapur untuk mencuci tangannya sebelum kembali ke ruang makan.


Bibi Leni telah menyiapkan tiga macam lauk dan satu sup di atas meja makan, semuanya adalah masakan rumahan biasanya, namun karena masakan Bibi Leni sangat baik, masakan rumahan yang biasa saja juga kelihatan sangat lezat.


"Makan yang banyak! Beristirahatlah lebih awal setelah makan, besok pagi aku akan meminta supir untuk membawa kamu ke rumah sakit!"


Si Arya putra ini, makan malam seperti biasanya sembari membuat rencana untuk jadwal besok.


Sepertinya semuanya selalu dia yang mengatur, sejak keduanya mengenal satu sama lain, percakapan yang terjadi diantara mereka setiap hari adalah apa yang akan dilakukan besok dan dia akan membiarkan supir mengantarnya di pagi hari dan sebagainya.


Sebelumnya dia tidak pernah merasakan urusan keseharian begini akan begitu indah didengar dan penuh perhatian, saat ini Arya mengambil inisiatif untuk mengurusnya dengan baik agar Fanie dapat menikmati hidupnya.


Dia bahkan sangat berusaha dan perhatian dalam mengurus jadwal keseharian Fanie, sedangkan dia sendiri adalah Bos Besar yang kesehariannya sangat sibuk.


Selain beban kerjanya yang berat, dia juga harus mengurus kebutuhan gadis kecilnya, dapat dikatakan bahwa saat ini, Fanie sangat terharu karena dirinya di kampus telah menderita segala macam tatapan dingin dan tidak senang bahkan mendapatkan penghinaan dan pukulan.


Iya, terharu, dia merasa bersyukur atas “orang ini” yang telah banyak membantunya.


Orang inilah yang menyediakan tempat tinggal baik untuk dirinya, bahkan lebih mewah dari sebuah hotel bintang lima di luar sana, ada pelayan yang mengurus makanan setiap hari, ada seorang supir yang bisa membawanya kemana saja, bukan semua gadis seusianya bisa mendapatkan perlakuan istimewa ini


Bahkan teman-teman sekelasnya yang berasal dari keluarga kaya melakukan bisnis besar juga tidak punya supir khusus yang mengantar jemput, juga tidak ada pelayan di dalam rumah.


Dia bukan sombong, dia hanya bersyukur.

__ADS_1


__ADS_2