
Pada kenyataannya, setelah bersama Arya, dia sering merasakan timbulnya rasa lemah dan kegagalan, adakalanya, jelas-jelas dia yang salah, masalah dia, tapi justru dia bisa membantah dengan sesukanya, dan malah membuat diri sendiri menjadi orang yang bersalah, diri sendiri yang tidak mengerti.
Tetapi, jelas-jelas kenyataannya bukan seperti itu.
Sebagaimana biasanya fanie turun dari mobil sebelum dekat pintu depan perusahaan, dirinya dengan rendah hati memilih untuk berjalan kaki sampai ke kantor, untungnya mengenai sikapnya ini arya menutup sebelah mata, tidak melakukan halangan apa pun.
Hanya saja, kali ini di jalan yang sama, ada lagi mobil yang khusus berhenti untuknya di tepi jalan.
Jendela mobil terbuka, kali ini bukan Anton yang lembut, sopan dan tidak sombong, tapi adalah Gabby rekan kerja yang semakin lama semakin akrab dengan dirinya.
“Cepat naik, aku sekalian antar kamu ke kantor!” Gabby yang sedang duduk di balik kemudi, sebuah kacamata hitam gaya bertengger di batang hidungnya yang sangat bagus, rambut keriting yang sedikit bergelombang, modis dan seksi, sungguh seorang gadis cantik modis yang jarang bisa ditemukan, cita rasa juga sangat tinggi.
“Kebetulan sekali!” Ternyata mobil rekan kerja wanita, maka fanie tidak menyia-nyiakan tumpangan ini, sambil tersenyum dia berputar ke arah samping kemudi, membuka pintu mobil, dan masuk ke dalam.
“Kamu naik kendaraan umum? Yang aku ingat jalur kendaraan umum, sepertinya berhenti di dekat sini, kemudian kamu masih harus berjalan dari halte sampai ke kantor, ini juga bukan perjalanan yang dekat,” Gabby sambil serius menyetir sambil berbicara pada fanie.
“Iya, kamu juga cukup awal!” jawab fanie dengan sedikit rasa bersalah, tampaknya sekarang keputusan dia untuk turun mobil dari jauh sudah tidak begitu tepat lagi. Jalan ini adalah satu-satunya jalan lurus yang terhubung menuju perusahaan, jadi pada jam seperti ini sangat gampang untuk bertemu dengan rekan kerja yang juga berangkat ke kantor.
“Aku, hampir setiap hari jam segini. Tetapi, ada saatnya ada pengecualian, misalnya malas bangun, hahaha, kamu pasti mengerti!” Kepribadian Gabby yang riang, sifatnya yang ekstrovert.
Fanie bergaul dengannya masih termasuk rukun.
“Kalau kamu anggap naik kendaraan umum itu repot, ada waktu kamu pergi mendaftarkan diri untuk mendapatkan surat izin mengemudi, kemudian beli mobil, dengan begini pergi pulang kerja, pasti bisa lebih ringan! Dan kalau di waktu libur, tentunya ingin pergi kemana pun bisa, dan jika kamu berpikir ingin berlibur bisa langsung pergi sendiri, semuanya begitu ok!” ujar Gabby panjang lebar.
“Kalau untuk mendapatkan SIM dan membeli mobil, sekarang aku benar-benar tidak ada rencana dan maksud untuk itu. Dan saat ini, aku hanya berpikir ingin melakukan pekerjaan dengan baik di sesi magang ini!” Untuk saat ini Fanie masih belum berpikir sejauh itu.
Tidak terasa, mobil sudah tiba di lantai bawah perusahaan.
“Kamu naik dulu saja, aku parkir mobil dulu, kemudian kita bertemu di kantor!” Fanie turun dulu dari mobil, kemudian Gabby menuju tempat parkir.
Setelah dia mengisi absensi, sekali berpaling dia melihat Anton, ternyata anton sudah absen, sedang berdiri di situ, sepertinya karena melihat dirinya maka dia menunggu.
Sejak mendengar dari Gabby, kemungkinan pria ini menyukai dirinya, kini dia melihat anton lagi, semakin menambah dirinya tidak leluasa.
“Aku melihat kamu turun dari mobil Gabby, sejak kapan, hubungan kalian berdua menjadi baik, hingga kamu naik mobilnya untuk ke kantor?” tanya anton langsung di depan fanie yang menjadi kebingungan dalam hatinya.
__ADS_1
“Mengapa, tidak boleh?” Fanie balik bertanya tanpa pikir panjang.
“Bukan tidak boleh, aku hanya merasa sifat wanita seperti dirimu, mengapa bisa cocok dengan Gabby seorang wanita yang tindakannya begitu berani, dan juga bisa ngobrol begitu akrab. Aku juga tidak punya maksud lain, hanya semata-mata merasa sedikit aneh saja.” Sebab anton bisa bertanya seperti itu, sebenarnya tidak ada maksud jahat sama sekali.
“Tugas dari kamu, orang lain tidak ada yang bersedia satu kelompok denganku, tapi dia inisiatif sendiri mengajukan diri, menunjukkan bersedia satu kelompok denganku, dan juga kami berdua berhasil menjalankan tugas ini dengan lancar. Masalah perasaan, kalau bicara serius, sebenarnya terbina oleh waktu yang tidak terlihat itu! Kamu pasti tahu, wanita bersama wanita, selalu bisa mencari bahan obrolan yang sama, untuk bisa menjadi akrab mestinya lebih gampang!” jawab Fanie jujur adanya.
“Kelihatannya, hubungan kalian berdua sekarang ada kemajuan yang begitu cepat. Apakah sekarang sudah akrab menjadi sahabat hingga bisa menumpang mobilnya?” tanya Anton lagi ingin tahu dengan dahi mengernyit kencang.
“Begitulah! Ada masalah?” Fanie selalu merasa anton di hari ini sedikit aneh, mengapa dia perhatian kalau dirinya dan Gabby menjadi lebih dekat?
“Ada satu kata, aku tidak tahu pantas dikatakan atau tidak. Namun kalau tidak dikatakan, hatiku tidak tenang, tidak enak mengingatkanmu, aku lebih takut ke depannya kamu akan menderita, kamu dan Gabby, kalian berdua bukan satu golongan, pikiran dan kecerdikan dia jauh melebihi dirimu. fanie, kamu seorang wanita yang pemikirannya murni, kamu tidak akan muncul hati yang jahat, terlebih lagi tidak terpikir untuk membahayakan orang lain. Namun, kalau orang lain? Orang lain belum tentu menggunakan pemikiran murni yang sama, menggunakan maksud baik yang sama untuk memperlakukan dirimu, kamu bisa mengerti?”
Selesai bicara, anton merasa nada bicaranya sedikit keras, segera menjelaskan, “Sebenarnya hanya intuisiku saja, wanita seperti Gabby dari keluarga dan tuntutan diri sendiri yang tidak buruk, tanpa sebab mendekatimu, baik terhadapmu, aku selalu merasa tidak begitu sederhana, orang seperti dia, biasa sifatnya sangat dingin dan congkak. Namun dalam sekejap dia menjadi ramah, apa kamu tidak merasa aneh? Pokoknya kamu sendiri harus lebih hati-hati, harus waspada pada setiap hal, jangan terlalu bodoh dan hanya tahu bersikap baik pada orang, kasih hati dan jantung pada orang lain, ehm?”
Sampai terakhir, anton merasa dirinya seperti sedikit keterlaluan, namun intuisi dia selama ini selalu tepat, kata-kata yang terkubur dalam hatinya, tidak diutarakan, dia akan merasa tidak tenang, selalu merasa gelisah. Dan sekarang, setelah dia langsung bicara tatap muka dengan fanie, baru merasa dirinya sangat lega!
“Ini” fanie termangu, sementara tidak tahu bagaimana menjawabnya.
Tadinya baik-baik saja, tiba-tiba anton muncul dan mengatakan ini semua pada dirinya, bagaimana bisa meminta dia tenang?
Dalam hidup ini kejadian yang tidak terduga lah yang paling ditakutkan.
“Tentu saja, jika sampai terakhir tidak terjadi masalah apapun, maka anggap saja aku seorang anjing yang mencoba mebangkap tikus, suka mencampuri urusan orang lain, sendiri terlalu banyak pikir yang bukan-bukan! Namun jika Gabby memang mempunyai maksud lain terhadapmu, maka kamu memang harus hati-hati!” Saat ini anton sama sekali berdiri di pihak Fanie, dan mengkuatirkan dirinya.
“Baiklah, selanjutnya aku akan lebih memperhatikan lagi!” Akhirnya, apa boleh buat fanie hanya bisa menyetujuinya, apalagi anton juga demi kebaikan dirinya, dan tidak ada tujuan lain.
Meskipun Fanie merasa maksud baik dari anton yang mengingatkan dirinya ini sedikit tidak bisa dimengerti, namun melihat dia yang menaruh perhatian pada dirinya, jadi berusaha untuk menerima.
Hanya saja, saat mereka baru saja membahas topik pembicaraan yang serius ini, Gabby yang di belakang telah memarkirkan mobilnya, sepanjang jalan sambil mendendang, dengan angkuh dia menuju kemari untuk mengabsen.
“Eh? Bukankah kamu harusnya di depanku? Mengapa masih ada di sini sekarang?” Gabby yang menyadari kehadiran Fanie.
“Tidak ada apa-apa, cuma bertemu dengan anton di sini, ngobrol sebentar, ayo pergi, kita naik sama-sama!” Fanie tahu diri untuk tidak banyak bicara lagi, tergesa-gesa kemudian bertiga jalan bersama langsung menuju tempat ruangan kerja.
Fanie baru saja menyalakan laptop, kemudian register aplikasi QQ, saat mereka bekerja di dalam kantor, perlu menggunakan aplikasi ini untuk menangani pekerjaan, tetapi tidak bisa untuk membuka halaman website.
__ADS_1
Segera di QQ Fanie menunjukkan adanya dialog percakapan.
“Fanie, kamu begitu pagi sudah berpapasan dengan Anton?”
Fanie buru-buru melihat, namun menyadari pesan tersebut ternyata dikirim oleh Gabby. Dia menoleh dan melihat ke arah posisi Gabby, dan mendapati Gabby juga sedang melihat ke sini, kemudian menunjuk laptop yang ada di atas meja dirinya.
Apa maksudnya, kalau ada yang ingin dikatakan, langsung di QQ saja.
Jelas sekali ini adalah alat komunikasi yang bersifat rahasia, lalu fanie membalasnya.
“Ketemunya pas absen, ada apa?”
Cepat sekali pesan baru muncul lagi.
“Tidak apa-apa, hanya merasa waktunya sangat kebetulan, apakah dia melihatmu ada di situ, jadi sengaja menunggumu! Sengaja untuk bisa ngobrol denganmu? Fanie, kamu tidak bisa menyangkal, Anton sebenarnya memang menaruh hati terhadapmu!”
fanie tidak bisa tidak mengusap keningnya, orang ini ungkit itu lagi! Apa dia tidak salah?
“Dari awal sudah kubilang padamu, aku dan dia tidak ada hubungan apa pun, pasti kamu sendiri yang berpikir bukan-bukan! Dan dia tidak pernah mengatakan sendiri di depan aku, kemungkinan besar kamu keliru!”
Anton menaruh hati padanya? Ini apa mungkin? Sekarang karena dugaan ini, membuat dia tidak bisa seperti dulu bersikap wajar dengan kemunculan anton, dan perhatian darinya.
“Aku sangat yakin, aku yakin tidak salah lihat! Pandangan mata anton terhadap dirimu,dan dengan orang lain, beda sama sekali!”
Fanie merasa kalau dia terus terbelit dengan dugaan ini, sebenarnya ada sedikit tidak bisa di mengerti, apa lagi dia ada tugas yang harus dikerjakan, bukankah begitu?
“Sudah jam kerja, aku masih ada pekerjaan, nanti baru kita ngobrol lagi!” Setelah mengetik beberapa baris huruf ini, tanpa ragu-ragu dia mengubah status QQ nya dalam kondisi sibuk.
Tetapi, pikirannya saat ini, malah sedikit menjadi kacau.
...----------------...
...Jangan Lupa Like dan Komenatar...
......Terima Kasih Atas dukungannya......
__ADS_1