
Fanie sama sekali tidak menduga Kalo Arya akan tiba-tiba menciumnya, dan menggunakan ciuman paksa yang mendominasi ini untuk menghentikannya mengatakan ketidak puasannya dan kejengkelnya.
Satu bulan lebih tidak bertemu, tak disangka pertama kali mereka berduaan adalah di dalam mobilnya, yang lebih tak dia sangka, Arya malah tiba-tiba mencium dirinya, meskipun di kota bandung ( vila ), mereka sering berciuman dan bisa dikatakan itu adalah hal yang biasa. Tapi bagaimanapun, hal ini sudah berlalu lebih dari satu bulan, oleh karena itu dia terlihat canggung dan panik.
Sebaliknya Arya malah semakin terampil.
Jadi, ini adalah perbedaan terbesar antara kedua orang ini.
Arya sudah menahannya selama satu bulan lebih, hari ini, dia baru bisa secara resmi muncul di hadapannya dan memberikan kejutan besar yang tak terduga kepadanya. Kenyataan membuktikan Fanie memang terkejut, dan semua yang dia lakukan, akhirnya terasa layak.
Awalnya, dia hanya ingin menggunakan cara yang mendominasi untuk langsung menghentikannya berbicara, tetapi siapa sangka begitu dia menciumnya dia seperti kecanduan, semua perasaan yang dulu seakan kembali.
Bibirnya lembut seperti dulu, begitu menciumnya, dia tidak bisa lagi melepaskannya dan juga tidak bisa meninggalkannya.
Tetapi satu-satunya kelemahan dari posisi tubuh saat ini adalah sulit baginya untuk mempertahankan posisi tubuh ini dalam waktu yang lama, oleh karena itu dia menuntunnya dan tidak melepaskannya, dia menuntunnya berbalik dengan perlahan, lalu dia menahannya di atas kursi belakang mobil sambil terus menciumnya.
Ciuman yang panjang dan dalam ini, dimulai dengan maksud menghukumnya, lalu menjadi sebuah kenikmatan, dan akhirnya membuatnya tidak bisa melepaskan diri dan tenggelam di dalamnya.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Fanie merasakan oksigen di paru-parunya, seakan dikuras semua oleh pria bossy yang berada di hadapannya ini, saat dia tidak bisa bernafas lagi, pria itu baru bersedia melepaskannya.
Bisa kembali menghirup udara segar tanpa perlu merasa tercekik, benar-benar sangat baik.
Wajah fanie sudah merah padam seperti udang yang sudah matang.
__ADS_1
Setelah melihat wajah wanita yang bak bunga Mawar ini dengan meminjam cahaya dari luar, Arya Putra baru merasakan kekesalannya sedikit menghilang.
“Ayo, duduk di depan!” Dia mencoba mendorongnya.
Fanie sedikit bingung, "Bukankah kamu punya supir pribadi? Kenapa? Hari ini supir pribadimu tidak datang? Dan bagaimana dengan pengawal di luar?"
Baiklah, dia memang mengurusi hal yang bukan urusannya.
"Ini Kota jakarta, bukan Kota Bandung, untuk sementara aku belum menemukan supir baru yang cocok, jadi tidak ada pilihan lain," jawab Arya Puta.
Karena tidak ada supir pribadi yang menyupirinya, dia harus mengemudi sendiri.
"Oh," jawab fanie tanpa banyak bertanya lagi, dan dia langsung pindah ke kursi depan.
fanie belum pernah melihat Arya mengendarai mobil ini. Arya punya mobil khusus yang dia gunakan sendiri, tapi kali ini, entah kenapa dia tidak mengendarai mobilnya sendiri.
( Fani tidak tau kalau arya bisa mengndarai mobil koldolak )
Mobil itu melaju meninggalkan tempat parkir bawah tanah itu dengan perlahan, mobil terus melaju sampai ke luar hotel dan ke jalan raya.
“Kamu antar aku ke University , tempat tinggalku, dekat sana.” Dia pikir Arya akan mengantarnya pulang, jadi dia langsung memberi tahukan alamatnya.
Diluar dugaannya, Arya tidak menagtakan apa-apa, dan hanya fokus mengemudi.
__ADS_1
Melihat dia seperti itu, fanie juga tidak terlalu menghiraukannya, terlebih saat ini pikirannya sangat kacau, terutama setelah ciuman panjang di kursi belakang tadi, bagaimana dia bisa membiarkannya.
Dia melamun memikirkannya, dan dalam sekejap pikirannya melayang jauh, ketika dia sadar dari lamunannya, dia melihat keluar jendela, tapi mendapati jalanan yang sedang mereka lewati sangat asing baginya.
“Kamu mau membawaku kemana?” Dia bergegas bertanya dengan waspada, “Ini bukan jalan kembali ke sekolah.”
Bibir tipis Arya Putra sedikit terangkat, dan mengucapkan beberapa kata.
"Siapa bilang kembali ke sekolahmu!"
“Kalau tidak kembali ke sekolahku, kita mau kemana?” tiba-tiba dia merasa gugup.
“Nanti saat kita sampai kamu juga akan tahu sendiri.” Arya tidak bicara panjang lebar, kelihatannya malam ini kesabarannya tidak baik, atau dia kelelahan.
“Tidak, kalau kamu tidak memberitahuku kamu mau membawaku ke mana , aku mau turun di sini, aku akan pulang naik taksi!” Sikapnya juga sangat tegas.
"Temperamenmu ini, kamu benar-benar minta di beri pelajaran! Fanie, lebih baik kamu jaga sikap sedikit, jangan membuatku marah! Meninggalkanmu di sini adalah hal kecil, tapi takutnya aku akan membuatmu sengsara!" ancamnya.
Gadis ini benar-benar tidak bisa membuatnya tenang.
"Kamu merasa hebat karena mengancam wanita yang tidak berdaya? Arya, dasar bajingan!" Dia sangat marah hingga ingin melompat, tentu saja, jika bukan karena kecepatan mobil, yang terus bertambah cepat. Dia rasa dia sudah membuka pintu mobil dan melompat.
Akhirnya, mobil itu berhenti di depan pintu sebuah perumahan kelas atas, saat Fanie menjulurkan kepalanya ke luar, dia melihat di papan depan pintu perumahan itu, bertuliskan dua kata "beautiful garden" berlapis emas yang sangat menyilaukan.
__ADS_1
Sedikit banyaknya dia pernah mendengar orang-orang di sekolahmya membahas soal Beautiful garden ini, misalnya, Beautiful garden ini adalah perumahan yang sangat mahal, lalu, orang yang bisa tinggal di dalamnya pasti orang yang sangat kaya dan berpengaruh.