Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 022 : Masuk Sekolah


__ADS_3

Pagi hari keesokan harinya, Stefanie duduk ke mobil yang khusus disiapkan oleh Arya untuknya, dan ada supir khusus untuk antar-jemput, supir itu adalah supir yang waktu itu mengantarkannya ke rumah sakit, oleh karena itu jika dibilang-bilang, Fanie juga tidaklah asing terhadap supir ini, ini bukanlah pertama kalinya mereka bertemu.


Setelah naik keatas mobil, Fanie langsung memberitahu tempat keberadaan sekolahnya.


"Non Fanie, sekolah ini lumayan bagus, cukup terkenal di kota ini, ada banyak siswa yang ingin masuk namun tidak bisa, aku punya seorang keponakan, tahun ini berencana untuk masuk kedalam sekolah ini, namun tidak tahu apakah dia akan bisa berhasil atau tidak."


Supir ini melihat Fanie hanya wanita cantik yang polos saja dan tidak seperti wanita cantik yang banyak pamer yang biasa dia antar jemput, wanita muda itu semua mengandalkan dirinya sedikit terhitung cantik dan juga mempunyai latar belakang yang cukup. mereka sungguh tidak memandang siapapun.


Kali ini wanita cantik yang dibawa pulang oleh Direktur Arya terlihat alim, kemarin ketika duduk di mobilnya, dia diam saja, dan tidak banyak berkata, dan juga tidak memilah milih, terlihat sangatlah membuat orang suka.


Jadi, barulah kali ini supir duluan memecahkan keheningan didalam mobil.


"Masih lumayan! Keponakanmu harus semangat!" Fanie tersenyum.


Sebenarnya sekolahnya itu hanya menerima murid yang sangat terbatas setiap tahunnya, ditambah lagi adalah sekolah terkenal, jadi lebih susah untuk masuk, dipikir-pikir, bukankah dulu dirinya juga menghabiskan banyak waktu barulah bisa berhasil masuk kedalam universitas terkenal ini.


Mengenai identitasnya yang masih adalah seorang pelajar, Fanie sedikit menolah, dia menolak karena dia tidak ingin terlalu banyak orang di samping Arya tahu bahwa dia masih seorang murid,


bagaimanapun juga sebagai seorang murid yang baik tugas utamanya adalah belajar dengan baik, dan tidak mempunyai pemikiran lain, namun sekarang dia malah mencari orang kaya, bagaimanapun juga ini bukanlah sebuah hal yang patut dibanggakan.


Selama ini, ujian serta lingkungan keluarganya membuatnya sangatlah menolak akan menjadi simpanan orang.


Namun dia tidak menyangka bahwa suatu hari dirinya akan menjadi satu dari orang seperti itu, dan karena uang, dia berurusan dengan dunia yang berantakan ini.


Supir ini adalah orang ahli, setelah sembarangan berbincang beberapa kalimat dan melihat gadis ini tidak tertarik, dia juga tahu diri dan diam.


"Pak, berhenti disini saja, aku turun disini!"


Supir itu memandang kearah jalanan yang masih sangatlah jauh dan berkata, "Tidak Jangan, jika turun disini masih saja belum sampai pintu sekolahmu, masih ada jarak yang tidaklah pendek, aku bisa langsung mengantarmu hingga ke depan sekolah, lagi pula tadi padi bos arya mengingatkan aku untuk mengantarkan kamu hingga aman ke sekolah, melihatmu dengan mata kepalaku sendiri tiba disekolah barulah boleh pergi."


Fanie punya rencana sendiri, "Tidak perlu, aku bisa berjalan sendiri, benar, tidak perlu menambah masalahmu! Oh iya, Jika Arya menanyakannya, kamu langsung bilang saja aku sudah masuk kedalam pintu sekolah dengan aman, saja, aku sering jalan lewat jalan ini, aku sangatlah familiar terhadap jalan ini!"


Dia sebenarnya takut jika diantarkan ke depan sekolah, dan dikenali oleh temannya maka tidak baik, bagaimanapun juga, mobil khusus dari Arya ini juga termasuk mobil mewah, mobil sebagus ini sekali tiba disekolah pasti akan menarik perhatian para teman dan penjaga sekolah, jadi dia merasa dirinya seharusnya sedikit lebih diam-diam saja, dan turun dari sini saja.


Tentu saja, supir itu tidak akan mengerti pemikirannya.

__ADS_1


"Tapi jika begini benar-benar tidak terlalu baik! Bagaimana boleh aku membohongi Direktur Arya ? Aku…." Supir itu masih ingin mengatakan sesuatu, namun Fanie sudah memegang keputusan dan langsung menarik pintu mobil lalu turun dengan cepat.


"Sampai jumpa! Terima kasih! Nanti sore kamu menjemput ku disini jam setengah 7 tetap ditempat ini!" Selesai berkata, Fanie langsung pergi tanpa menunggu supir menjawabnya.


Sipir itu menghempaskan nafasnya menatapi gadis muda yang berlarian itu.


"Gadis yang sungguh baik, mengapa tidak mau belajar dengan baik dan berurusan dengan orang yang bermain dengan banyak wanita seperti Direktur Arya !"


Didalam hatinya, boss nya, yaitu Direktur Arya, semuanya baik, hanya saja kehidupan pribadinya sungguh tidak dijaga, wanita yang diganti terus disampingnya bagaikan kecepatan mengganti pakaian.


Gadis yang baik dan ceria seperti ini berada ditangan Direktur Arya nanti pasti akan pergi dengan sakit hati.


Karena menurutnya, Boss Arya ini dan gadis muda ini sama sekali bukanlah orang yang satu jalur, mereka bukanlah satu dunia, perbedaan mereka sungguh besar, jadi tidak mempunyai hasil yang baik juga didalam dugaan mereka, dia tidak memandang baik mereka.


Boleh dibilang pemikirannya terlalu kuno atau mungkin old fashion, selama ini dia selalu mempercayai ini, barang yang tidak cocok tidak akan bertahan lama, perbedaan hubungan mereka berdua bukankah seperti begitu?


Namun dia juga hanya berani berkata seperti ini ketika tidak ada orang, lalu dia mengeluh, sebenarnya seluruh kejadian ini, dia hanya orang luar yang boleh ada dan boleh juga tidak ada.


Setelah itu, dia menyetir dengan tenang untuk pergi.


Dia berbeda dengan mahasiswi lain yang terikat dengan kekayaan dan barang mewah, disaat seperti begini, mahasiswi lainnya pasti akan terus saja memamerkannya, dan menunjukkan bahwa pemasukannya yang tidaklah sedikit yang berasal dari kesenangan material dan kepuasan hati.


Dia malah menyembunyikan dan takut orang lain tahu karena dia masih ingin melewati masa terakhir didalam kuliahan dengan tenang, hingga setelah satu bulan kemudian dan ujiannya selesai, mungkin saja ini adalah saatnya dia meninggalkan tempat ini.


Satu bulan kemudian, yang harus dia jalani adalah ujian untuk melanjutkan s2.


Ini juga adalah poin penting untuk merubah nasibnya, baginya, ini adalah sebuah ujian yang sangat penting, kakaknya sudah lama berharap besar terhadapnya, jadi dia tidak boleh membuat kakaknya kecewa.


"Semangat, Fanie, kamu pasti bias!" Sebelum masuk kedalam pintu sekolah, Fanie diam-diam menyemangati dirinya sendiri.


Karena liburan selama beberapa hari ini baru kembali ke sekolah, rasanya tentu saja akan sedikit berbeda.


Tapi, Fanie juga belum sempat lega, dengan cepat dia menyadari bahwa ketika dia masuk kedalam gedung kelas tempat jurusannya berada, seluruh suasana kelas berbeda drastic, awalnya ketika akan masuk, dia jelas merasakan kedekatan teman-temannya dan serta gossip sana sini, diskusi sana sini.


Tapi sepertinya dia masuk tidak pada waktunya, karena dia jelas merasakan bahwa ketika dia masuk kedalam kelas, teman-temannya yang awalnya masih sedang berbisik langsung diam.

__ADS_1


Jangan-jangan kemunculannya memang untuk membuat suasana menjadi buruk?


Tapi, dulu tidak seperti begini, dulu meskipun temannya didalam jurusannya memang tidaklah banyak, namun setidaknya hubungannya dengan teman-teman itu juga terhitung baik, bisa belajar Bersama, nilai belajarnya begitu bagus, tentu saja adalah murid teladan dimata guru, dan merupakan orang yang dipuji, oleh karena itu tidak banyak orang yang suka dekat dengannya, bagaimanapun juga ini adalah kuliahan, sudah tidak seperti ketika SMA, waktu semuanya dijaga dengan ketat dan semua tindakannya berdasarkan insting.


Fanie mencari sebuah tempat yang sedikit kebelakang, dulu dia sangatlah tidak suka dengan posisi belakang, karena kebelakang berarti harus menjauh dengan meja guru, dan ketika guru sedang mengajar dengan serius di depan, murid-murid lainnya pasti ada yang berbisik atau mungkin bermain sesuatu, dan akan mempengaruhi dia, oleh karena itu dulu dia terbiasa untuk memilih tempat duduk yang lebih depan.


Tapi hari ini juga bukan karena tempat baris depan tidak ada, tapi harus melewati banyak murid, dia merasa suasana didalam kelas hari ini sedikit aneh, oleh karena itu dia juga malu untuk terus berjalan begitu saja.


Baris belakang ya belakang saja, asalkan dia berusaha untuk tidak membuatnya tidak fokus, mendengar pelajaran dimana saja bukannya sama saja? Dia menasehati dirinya sendiri seperti ini.


Tapi sekalipun dia memilih untuk duduk ditempat belakang, tapi sepertinya masih da murid yang akan diam-diam menoleh dan berpura-pura tidak sengaja meliriknya, tampang bodohnya itu mengira bahwa dirinya menyamar dengan baik namun malah terlihat dengan jelas dimata Fanie.


Dan di tatapan itu ada banyak yang tanpa sadar membawa tatapan merendahkan, Fanie tidak tahu mengapa hari ini teman-temannya begitu memperhatikannya, ini sungguh aneh.


Akhirnya kelas sudah selesai, dia membereskan barangnya dan akan pergi ke toilet.


Toilet wanita di universitas dipisahkan satu persatu, dan untuk melindungi privasi setiap murid wanita, setiap kamar ada kunci yang bisa dikunci dari dalam, oleh karena itu, ketika kamu mengunci sendiri didalam, tidak ada yang tahu bahwa kamu berada dikamar yang mana.


Dan didalam ruangan yang kecil itu, akhirnya Fanie mempunyai kesempatan untuk mengetahui mengapa tatapan orang lain terhadapnya berbeda.


"Apakah kamu lihat tadi? Murid teladan itu, yang bisa mendapatkan beasiswa terus dari sekolah itu, kabarnya kondisi keluarganya sangatlah miskin, dia masih saja punya muka untuk datang lagi masuk kelas hari ini, dan melihat tampang serius mendengarkan kelasnya itu, sungguh terlalu palsu dan berpura-pura, benar kan?"


Awalnya Fanie tidak tahu murid diluar sana sedang membicarakan murid miskin sepertinya, meskipun dia selalu tidak suka dengan gossip seperti ini, namun tidak ada cara lain, sekarang dia tengah berada didalam salah satu kamar toilet dan mengatasi "permasalahan penting , perkataan yang tidak enak didengar itu lalu terdengar olehnya.


"Iya, aku juga melihatnya! Dulu tidak merasakannya, namun bukankah sekarang dia sedang berpura-pura? Sudah mendapatkan orang kaya saja masih tidak memakai pakaian yang bagusan sedikit, namun malah masih berpakaian baisa seperti dulu, aku tidak percaya orang kaya yang dia dapat itu bahkan tidak punya uang untuk membelikannya pakaian, ini jelas sedang berpura-pura, tidak tahu kepada siapa dia berakting."


Ada murid wanita lainnya langsung menjawab akan ketidakpuasannya.


"Iya, pasti, dia tidak mau lepas tangan orang kaya diluar sana dan didalam sekolah dia masih ingin terlihat polos dan jika berkesempatan berpacaran dengan lelaki tampan bukankah itu dia menang banyak? Semuanya untung? Percintaan dan kekayaan dia dapatkan semua, ini baru namanya strategi, ini baru namanya sukses, apakah kalian mengerti?"


Meskipun dia berkata seperti itu, namun nada bicaranya jelas merendahkan.


Sekali mendengar ini, Fanie melirik pakaian dirinya sendiri, karena dia merasa sepertinya orang yang dibicarakan mereka sepertinya berhubungan dengan dirinya sendiri, benar saja, hari ini ketika dia keluar, dia mengenakan pakaian lamanya yang biasa dia pakai untuk sekolah, yang sangatlah biasa sekali, model yang biasa dan bahan yang murahan, karena itu dia beli dari jalanan, tentu saja tidak akan bagus sekali.


Ditambah lagi tatapan merendahkan dari teman-temannya hari ini, dia sepertinya langsung mengerti sesuatu.

__ADS_1


Jangan-jangan orang yang didiskusikan adalah dia?


__ADS_2