
Bibi Leni sengaja menambahkan 2 jenis sayur sebab dia telah mengetahui berita tentang Fanie diterima di universitas, sehingga makan malamnya lebih mewah daripada biasanya.
Arya mengambil 2 botol arak simpanannya sendiri serta memilih 2 gelas arak, diletakkan di meja makan.
Ketika Fanie menyimpan surat pemberitahuan dan turun ke bawah, dia melihat meja makan telah siap dengan makanan lezat dan arak anggur, wangi masakan bahkan tercium, membuatnya lapar.
Setelah mempersiapkan segalanya, Bibi Leni meninggalkan ruangan lebih awal.
Tentu saja momen penting atau pantas dirayakan seperti ini adalah waktunya sepasang kekasih ini saling mengekspresikan kasihnya, bi Leni sangat sadar dirinya sebagai orang luar, sehingga meninggalkan ruangan, agar dapat memberikan kesempatan lebih baik bagi anak muda ini untuk berduaan.
“Sepertinya masakan malam ini agak sederhana.” Jika bukan mengikuti keinginan wanita bodoh ini untuk makan di villa, Arya pasti sudah menelepon untuk memesan tempat di restoran bergengsi.
Tentu saja kebahagiaan sebesar ini harus dirayakan dengan baik.
“Lebih mewah daripada biasanya, seperti bi leni menambahkan 2 jenis sayur, apakah kamu menyadarinya?” Fanie malahan sangat puas, dengan perayaan seperti ini dengan masakan di meja makan, jauh lebih meriah dari pada perayaan abangnya untuk dia.
“Kamu wanita bodoh, mengapa semudah ini merasa puas? Haiya, sungguh mudah dihidupi.” Arya menertawainya, kemudian pergi mencari pembuka botol, membuka kedua botol arak anggur yang disimpannya dengan susah payah.
Hanya terlihat dia mengambil sebuah gelas menuangkan setengah gelas lebih arak, kemudian menuangkan lagi ke gelas lainnya, mendorong salah satu gelas ke hadapan Fanie.
“Ini buatku? Arak anggur, aku tidak tahu bisa minum atau tidak, setelah minum mabukkah?” Dia seumur hidupnya jarang sekali minum arak anggur, hanya pada saat seperti ini akan mencicipi sekedarnya saja.
“Takut apa, tidak perlu takut juga jika mabuk! Ini minum di rumah villa, jika kamu mabuk tidak perlu takut tidak ada tempat untuk kamu tidur!” Arya merasa lucu, terkadang otak wanita bodoh ini memang demikian sederhana.
“Tetapi jika mabuk, aku takut akan bertindak tidak pantas!” Dia tetap merasa ragu.
“Pernahkah kamu bertindak aneh karena mabuk? Bagaimana sikap kamu saat mabuk?” Arya tidak memperdulikannya, dia mengangkat gelasnya dan mencicipi seteguk.
Caranya meminum arak anggur sungguh berkelas, dinikmati perlahan-lahan, gerakannya juga sangat elegan, dari jauh terlihat bagaikan seorang bangasawan tampan ataupun gentlemen.
“Aku tidak ingat yang dulu, juga tidak tahu.” Fanie menggelengkan kepala dengan linglung.
“Jika begitu kamu coba dulu rasanya? Aku sengaja memilih arak buah hari ini, rasanya lebih manis, cocok untuk gadis muda sepertimu yang jarang minum arak!” Arya sangat mengerti untuk menikmati hidup, tentu saja juga sangat mengerti arak anggur.
__ADS_1
“Oh ya?” Setelah mendengarnya, fanie pun tergoda untuk mencobanya.
Arya mengangkat bahunya yang artinya jika tidak percaya dia bisa mencicipinya sendiri.
Fanie tidak tahan dengan dorongan seperti ini, perlahan mengangkat gelas di depannya, kemudian belajar dari dia dengan sikap anggun mencicipi seteguk dulu, ternyata sungguh sangat manis, namun memiliki citarasa lebih banyak dibandingkan arak buah biasa, intinya rasanya sangat enak, sungguh cocok untuk gadis muda sepertinya yang jarang minum arak anggur.
“Akhirnya percaya padaku? Kapankah aku membohongimu atau mencelakaimu?” Arya mengangkat alisnya, merasa tidak senang.
“Sesungguuhnya aku harus berterima kasih padamu untuk hasil bagus dari ujian kali ini serta surat pemberitahuan penerimaan mahasiswa, ayo Arya , aku bersulang untukmu, anggap saja terima kasih telah menjagaku dan memaklumiku belakangan ini!” Orang bersukacita ketika bahagia, tentu saja ini dia juga sedang bersuka cita.
“Ok, aku terima sementara untuk terima kasih ini!”
Mereka berdua mengangkat gelas dan mengadukannya dengan pelan, kemudian kembali ke bibir pemiliknya.
“Bukankah seharusnya aku bersulang untukmu juga, semoga masa depanmu cerah! Tiba di kota , pasti ada ruang yang lebih besar dan baik untuk perkembanganmu yang sedang menantimu.”
Mereka berdua bersulang lagi kemudian mencicipi sedikit.
Dengan saling bersulang seperti itu segelas demi segelas, dengan cepat kedua botol arak di meja makan telah habis, namun keduanya yang sedang senang merasa belum cukup minum.
“Kamu tunggu, aku ambil lagi!” Arya sudah terbiasa minum arak, kemampuan minum araknya juga luar biasa, menghabiskan sebotol arak baginya masih jauh dari menyenangkan dan sama sekali tidak mabuk, dia masih sepenuhnya sadar.
Tempat penyimpanan arak berada di lantai 1 yang dekat dengan ruang makan, begitu dia bangun, Fanie yang mulai mabuk juga ikut bangun, “Aku ikut pergi denganmu, aku belum ada kesempatan untuk melihat arak anggur koleksimu.”
Dia tidak pernah tahu sebelumnya dia gemar koleksi arak anggur, juga tidak pernah tahu dia menyimpan arak anggur di lantai 1, dia tidak pernah mengetahui tentang ruang penyimpanan, juga tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihatnya.
“Jika kamu suka ikut masuk saja!” Arya juga tidak menolaknya, pada dasarnya rasa penasarannya harus dipenuhi juga.
Ketika pintu ruang penyimpanan terbuka, bagaikan masuk ke dunia lain, dalam ruang kecil ini terdapat dekorasi dan penempatan barang yang berbeda, menyuruhnya tidak bisa menggambarkan pandangan di depan matanya, mendadak dia teringat rak arak anggur di mall besar, betul rak kayu seperti ini dengan arak anggur yang tersusun rapi untuk dinikmati.
Ilustrasi : Rak Bir
__ADS_1
Di antaranya juga ada bungkusan dan kotak yang indah, tercium juga aroma arak anggur yang manis.
“Di sini sangat bagus.” Tentunya pada awal pembuatan rak kayu serta meja bar mini untuk penyimpanan arak anggur menguraskan banyak pikiran dan uang.
“Tentu saja, ini adalah salah satu tempat kebanggaanku! Dulu ketika aku kerja di kantor hingga tengah malam, keluar untuk mencari udara segar atau terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur lagi, aku suka datang kemari menikmati segelas arak anggur.” Dia sama sekali tidak menutupi kegemaran dirinya terhadap arak dan tempat ini.
“Tetapi minum arak anggur adalah pemborosan.” Walaupun arak anggur enak rasanya namun tidak murah.
Dia tersenyum datar kemudian mengambil 2 botol arak.
“Minum di luar atau di sini?” Dia menggoyangkan kedua botol arak anggur di tangannya.
“Minum di sini saja!” Sesungguhnya ini pertama kali dia melihat tempat penyimpanan arak seperti ini, rasanya belum puas sehingga ingin merasakan menikmati arak di sini, mungkinkah berbeda dengan minum di luar, tolong maafkan gadis miskin seperti dia yang tidak banyak mengetahui dunia luar.
“Boleh, aku sudah bilang, kamu yang menentukan hari ini, aku ikuti kamu!” Arya tidak menolak sarannya, hanya balik badan mencari 2 gelas arak bersih di ruangan penyimpanan ini.
Di tengah ruang penyimpanan ini ada 1 deret sofa kulit, di tengah sofa dipajang 1 set teko teh berbentuk panjang, dulu jika senggang dia paling suka datang kemari minum arak anggur.
“Aku bilang kalian orang kaya sungguh pandai menikmati hidup.” Fanie sekali lagi mendesah.
“Asalkan mau berusaha, kelak kamu juga akan menjadi orang kaya!”
Kedua gelas arak kembali beradu, arak yang wangi pun masuk ke dalam mulut masing-masing.
Arya, pernahkah ada yang memberitahumu kamu juga lumayan baik ketika tidak bersikap sombong dan memaksakan kehendak, seperti sekarang kamu juga lembut dan pengertian, juga bersikap gentlemen, baik dalam segalanya hingga bagaikan tidak nyata!” Setelah setengah botol arak masuk ke dalam perut, Fanie mulai banyak bicara.
Tentu saja saat itu dia sudah mabuk 70-80%.
Orang yang mabuk akan banyak bicara, dia adalah jenis orang yang jika mabuk akan jadi bawel.
“Oh ya? Belum pernah ada orang yang berani berkata seperti ini kepadaku, kamu orang pertama!” Arya tidak marah mendengar ucapan jujurnya saat mabuk, malahan dia seperti sedang merenung.
“Aku sudah bilang kan, kamu biasanya sombong dan memaksakan kehendak, siapa yang berani bilang kepadamu tentang kejelekanmu!” Dia juga berani jujur karena sudah mabuk.
__ADS_1
“Jika tidak sombong dan memaksakan kehendak bagaimana bisa menekanmu? Bukankah kamu akan memanjat naik ke kepalaku?” Dia tidak beranggapan sifat sombong dan memaksakan kehendak dalam dirinya tidak baik, sebaliknya malahan bisa membantunya untuk bersikap lebih tenang dalm mengambil banyak keputusan dalam bisnis.