Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 124 : Undangan Wakil CEO Leo untuk Asisten Meriando


__ADS_3

Sekeluarnya dari kantor HRD, wakil CEO Leo ini masih dalam keadaan linglung, semua yang terjadi, masih tidak diketahui apa alasan jelas yang pasti di balik semua itu, bahkan pemimpin bagian HRD pun, juga bersikap tidak jelas, tidak tahu apa karena tidak bisa mengatakannya, atau berhubungan dengan urusan dalam.


Intinya, semakin semua ini misterius, semakin membuatnya penasaran.


Tapi, dari pimpinan bagian HRD itu, juga mendapatkan sebuah kabar yang sangat berguna tentang masalah pemecatan ini, pertama-tama diawali dari asisten pribadi presiden yang baru datang itu.


Mengenai alasan asisten pribadi presiden baru berbuat demikian, mereka sudah menanyakannya, tapi sayang, asisten pribadi itu hanya menyuruh mereka untuk percaya seutuhnya, dan tidak membiarkan mereka bertanya lebih banyak lagi.


Tentu saja, ini adalah sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh para petinggi perusahaan, para bawahan sama sekali tidak mengerti ini semua.


Meriando sebagai asisten pribadi presiden baru, hari ini tiba-tiba mendapatkan sebuah undangan makan, yang tentunya, bagi Meriando, undangan yang datang dengan sangat tiba-tiba. Tapi bagi wakil CEO Leo, ini semua sudah dia pertimbangkan sangat lama.


Undangan kali ini, yang pertama adalah untuk mencari tahu mengenai Julia, yang kedua, dia juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk menjalin hubungan dengan asisten pribadi presdir yang baru, anggap saja untuk mempererat tali persaudaraan, karena presdir yang baru ini masuk ke dalam perusahaan ini lewat pintu belakang, sambil membawa saham, tapi malah membuatnya tidak dapat mereka terima semudah itu.


Tentu saja, dulu, tidak hanya Wakil CEO Leo, bahkan orang petinggi lainnya pun juga tidak berhenti mencoba untuk mendekatkan diri kepada Presdir yang baru datang itu, tapi sayang sekali, orang itu tidak memberi kesempatan kepada siapa pun untuk mendekatinya, saat sedang rapat dengan para petinggi di kantor sekali pun, dia juga tetap mempertahankan sikap profesionalnya.


Secara relatif, asisten pribadi Presdir tampaknya jauh lebih ramah.


Karena itu, tanpa mengatakan apa pun, Meriando pun menyetujui undangan dari Wakil CEO Leo dari Departemen Bisnis, dan saat malam tiba, dia pun datang tepat waktu menghadiri undangan tersebut.


Demi untuk mencapai maksud hatinya, Wakil CEO Leo ini secara khusus memesan sebuah ruangan VIP, tanpa ada sedkit pun kecerobohan.


Tapi, karena Meriando sering mengikuti Boss Besar Arya, jadi Meri pun sudah terbiasa dengan tempat VIP seperti ini, dan tidak begitu menikmatinya, lagi pula dia sendiri juga pernah pergi ke tempat lain yang jauh lebih mewah dari pada ini.


Dia juga hanyalah seorang asisten pribadi kecil, dan hanya ini yang bisa dia pamerkan barang hanya sedikit, walaupun Meri sendiri pun tidak ada niat untuk menyombongkan diri.


"Wakil CEO Leo, mengapa begitu sungkan? Hanya makan saja di luar, mengapa memilih tempat yang begitu bagus." Saat Meriando sampai ke tempat itu, ternyata Wakil CEO Leo sudah menunggu di dalam.


Wakil CEO Leo bergegas bangkit berdiri dan mempersilahkannya masuk, "Sudah seharusnya, tolong jangan merendah, aku tahu kamu terus berada bersama dengan Boss Arya, beberapa tahun ini pastilah sudah menemui tempat-tempat lain yang jauh lebih bagus dari tempat ini."


Untuk menjaga kesopanan satu sama lain, mereka pun duduk bersama.

__ADS_1


"Wakil CEO Leo sendiri merupakan orang sibuk, dengan undangan ini, juga tidak tahu ada masalah apa?" Meriando ini sepertinya adalah tipe seseorang yang langsung menuju ke inti tanpa basa-basi, ini sepertinya adalah buah yang dihasilkan saat berada di samping Boss Besar Arya putra dalam waktu yang lama.


"Aduh, Asisten Meriando, anda sangat langsung sekali, tapi begini juga bagus, saya suka! Mari, kita bicarakan sambil makan, bagaimana?" Karena Wakil CEO Leo datang lebih awal, maka dia sudah terlebuh dahulu memesan makanan, jadi makanan pun disajikan dengan sangat cepat, dan tidak membuat Meri membuang waktu untuk menunggu makanan disajikan.


"Asisten Meriando, apa mau minum anggur?? Mau anggur putih, atau anggur merah?" Jika tidak ada alkohol di atas meja makan, itu sama bisa disebut makan besar.


"Anggur merah sedikit saja, aku datang membawa mobil sendiri, sekarang pengecekan kadar alkohol menjadi semakin ketat, aku tidak berani minum anggur putihnya! Tentu, juga mudah menjadi salah paham!" meri tampaknya memiliki temperamen yang cukup ketat, hal yang sama berlaku dalam hal munum minuman beralkohol juga.


"Baiklah kalau begitu, berikan sebotol anggur merah!" Wakil CEO Leo dengan cepat memberi perintah, dan dengan sangat cepat seorang pelayang pun datang.


Di atas meja makan, sering kali merupakan tempat terbaik untuk membangun hubungan pribadi, dalam hal ini, Wakil CEO Leo telah menempatkan perkataan terkenal ini ke tahap yang ekstrem.


"Asisten Meriando ini tentunya sudah ada di samping Presdir Arya selama beberapa tahun bukan, aku lihat hubungan kerja sama di antaramu dan Presdir Arya terlihat sangat cocok!" Wakil CEO Leo mencoba untuk bertanya dengan akrab.


"Masih cukup bagus lah!" Meri menyahut sambil tersenyum, tidak ada yang disebut mabuk karena anggur, saat dia tahu bahwa dia akan makan di tempat ini, dia sudah bisa menebak bahwa Wakil CEO Leo hanya sekedar mengajaknya makan saja melainkan ada maksud lain tertentu.


"Dengar-dengar dulu Presdir Arya bekerja mengelola bisnis di kota bandung, dan membuat kota bandung berkembang dengan sangat pesat, mengapa sekarang berpikir untuk pindah ke kota jakarta inu ? Dan juga malah memilih perusahaan kami ini!" Jangan kira karena Wakil CEO Leo jarang berada di kantor dia tak tahu apa-apa, perihal masalah tentang para petinggi ini, dia paham cukup banyak.


"Bisa jadi karena Presdir Arya tiba-tiba menginginkan perubahan suasana, tentu saja juga sangat mungkin, dia juga ingin membuat perubahan di kota lain.." Meri menjawab dengan sangat profesional, sebenarnya tentang ini, dia juga tidak tahu mengapa Bos Besar ini tiba-tiba ingin pindah bekerja dari kota bandung ke kota ini , apa ini sungguh sekedar hanya demi wanita bernama fanie itu?


"Tidak kusangka Wakil CEO Leo ternyata cukup tertarik dengan Presdir Arya!" Meriando tersenyum dengan maksud untuk mencairkan suasana.


"Apa itu salah? Di dalam kantor, siapa pun juga merasa tertarik dengan Presdir Arya, tapi sayangnya, biasanya Presdir Arya sangatlah sibuk, ingin membuat janjinya pun, juga tidak tahu apakah bisa kesampaian atau tidak." Wakil CEO Leo sendiri juga bukannya tidak pernah berpikir untuk tidak mengobrol dengan Presdir Arya ini, tapi sayang sekali, belum ada pintu yang terbuka baginya.


"Betul sekali, Presdir Arya memang sangatlah sibuk!" Sebenarnya meri sendiri paham dengan sangat, jika misalnya pun Boss Besar Arya tidak sedang sibuk sekali pun, dia juga tidak akan mungkin mengiyakan ajakan makan orang-orang ini dengan sembarangan.


Karena undangan-undangan seperti ini di mata Bos Besar Arya, hanyalah suatu kegiatan yang menyia-nyiakan waktu pribadinya.


"Ada satu hal lagi, karena aku ini seseorang yang menjamu Asisten Meriando secara pribadi, tentu saja, yang ku bicarakan termasuk pribadi, tapi juga ada hubungannya dengan pekerjaan, tapi jika dibicarakan di dalam kantor, sepertinya tidak begitu leluasa, maka dari itu barulah aku terpikir akan cara ini, untuk mengundang Asisten Meriando datang ke sini!" Wakil CEO Leo pun kembali mencoba untuk mengobrol.


Dia menerima permintaan tolong orang, sekarang ini dia belum masuk ke topik utama yang sesungguhnya untuk hari ini.

__ADS_1


"Bagus, bagus!" Meri sambil mengecap anggur merah nya, lalu menanti kelanjutannya dengan tenang.


"Bukankah kantor baru-baru ini mengeluarkan seorang anak magang? Dengar-dengar itu adalah perintah dari Asisten Meriando ? Tapi menurutku, Asisten Meriando yang bermartabat tinggi tidak akan mungkin mempersulit kehidupan seorang anak magang bukan, lagi pula bila saja anak magang ini sungguh melakukan suatu kesalahan di perusahaa, menurut aturan perusahaan bukankah ia juga seharusnya menerima hukuman dari kelompok magang, mengapa bisa langsung mendapat perhatian dari Asisten Meriando." Wakil CEO Leo menanyakan semua pertanyaan yang dipendamnya di hadapan Asisten Meriando.


Sebuah senyum tipis menyungging di bibir Meri, ternyata memang dia orang yang tidak baik, sepertinya Wakil CEO Leo ini pun juga dimintai tolong oleh orang, dan datang ke sni untuk menyelidikinya.


Jadi, Wakil CEO Leo ini adalah jaring pengaman Julia di dalam perusahaan?


Jika memang begitu adanya, tidak heran jika Julia si anak magang itu, berlagak dengan sangat pongah dan congkak di perusahaan.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada Wakil CEO Leo, apakah anda berhubungan keluarga dengan Julia ini?" Meri juga tidak berbasa-basi.


"Bukan, bukan begitu!" Raut wajah Wakil CEO Leo pun serentak berubah, dan dengan tegas menyangkalnya.


"Kalau bukan karena hubungan keluarga, maka pasti karena dimintai tolong oleh seseorang! Agaknya orang yang menemui Wakil CEO Leo juga bukanlah orang yang sesederhana itu, maka, Julia ini, di kota ini memiliki beberapa panutan, beberapa relasi, atau bisa dikatakan keluarga terpandang ?" Meri merupakan orang yang cerdas, tentu dia bisa membayangkan yang ada di belakang Julia .


Wajah Wakil CEO Leo tampak bingung, dalam sesaat dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Wakil CEO Leo tidak mengatakan apa-apa, itu berarti tebakanku benar, iya kan?" Meri tersenyum simpul, lalu melanjutkan, "Karena menerima permintaan tolong seseorang, Wakil CEO Leo pun dengan hangat mempersiapkan ini semua, karena sepertinya jika Wakil CEO Leo tidak membantu teman itu, maka akan menimbulkan suatu kewalahan."


"Sebenarnya, temanku itu juga ingin tahu kejadian sebenarnya saja, tentu saja itu jika Asisten Meriando tidak keberatan." Wakil CEO Leo berkata dengan agak malu.


"Kejadian sebenarnya? Juga bukannya tidak boleh dikatakan! Awalnya aku juga tidak ingin mengatakannya, karena hal ini, juga bukanlah suatu hal yang luar biasa, jika diutarakan, tidak akan baik untuk semua orang, tapi sungguh, sebagian orang tidak bisa menyadari diri sendiri ketika melakukan suatu kesalahan, tidak ingin dia disalahkan, eh, ini sungguh tidak bisa ditolong lagi!" Meriando berkata dengan tak berdaya.


Wakil CEO Leo yang ada di hadapannya, seketika pun wajahnya memucat, bukankah ini sama saja dengan menampar wajahnya sendiri?


"Tentu saja, jika nanti Wakil CEO Leo ada waktu luang, silahkan melihat sendiri ke ruangan CCTV perusahaan, lalu periksalah rekaman CCTV akhir-akhir ini, dan melihat sendiri bagaimana performa Julia di perusahaan selama magang, maka anda akan bisa memahami mengapa perusahaan tidak bisa memaafkannya, kemampuan besar atau kekcil, itu bisa dibetulkan melalui ketekunan dan bimbingan, tapi jika sifatnya buruk, maka itu sudah kelewat batas! Lihatlah dengan seksama di CCTV perfoma nya di kelompok magang ketika sebelum dipecat, kemudian lihatlah pula dia yang membuat keributan besar di bagian HRD dan juga kelompok magangnya, aku rasa, kamu akan mengerti!"


Meri tidak mengatakannya dengan jelas, tapi langsung menunjuk ke bukti yang lebih konkret yaitu rekaman CCTV.


Dia menyuruh bagian HRD untuk mengeluarkannya, lalu tidak mengikuti kejadian yang mengikutinya kah? Apa dia tidak mengikuti perkembangan kondisi itu? Salah.

__ADS_1


Kamera CCTV yang ada di bagian HRD, jika kamera CCTV yang ada di kantor kelompok anak magang, dari awal dia sudah melihatnya sendiri.


"Asisten Meriando, apakah tidak ada suatu kesalahpahaman dengan apa yang kamu lihat?" Wakil CEO Leo perlahan bertanya.


__ADS_2