Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 121 : Kemarahan Arya


__ADS_3

Jangan sampai dua orang ini bertengkar di dalam mobil! Kalau tidak, siapa yang harus dia bela nanti?


Yang memberi gaji setiap bulan, yang merekrutnya secara langsung adalah Boss Besar Arya ini, tapi secara pribadi, hubungan dia dengan non fanie yang cantik ini juga baik, sepertinya tidak baik kalau dia memihak salah satu dari mereka, sepertinya serba salah, membingungkan sekali.


Meskipun sepanjang perjalanan tidak saling berbicara, jalan ini tetaplah jalan pulang ke rumah seperti biasa, namun saat ini, pemandangan jalan di luar jendela tidak seramai dulu.


Mungkin karena suasana hati yang berbeda, fanie yang hari ini merasa terpukul beberapa kali, sekarang dia sudah bagaikan ikan yang terbaring di atas talenan dan menunggu dipotong kapan saja, sudah tidak punya tenaga sedikit pun.


Dengan doa dari dalam hati Sam, akhirnya mobil sampai di vila beautifull Garden dengan selamat.


Boss besar Arya dan Stefanie masih tidak saling bicara, keduanya juga tidak saling memandang, Sam menggaruk kepala gelisah, apakah ini sedang perang dingin? Ternyata Boss Besar Arya ini, saat dia tidak bicaralah yang paling membuat orang takut dan tegang!


Kalau kamu melakukan kesalahan, setidaknya dia masih akan mengomel dengan keras, demikian baru membuat orang merasa lebih nyaman, tapi kalau dia tidak mengatakan apa pun, langsung bersikap cuek dan tidak peduli, membiarkan kamu kebingungan sendiri begitu, hukuman seperti inilah yang akan membuat hati kamu tidak nyaman.


Setelah masuk ke dalam villa, Arya langsung naik ke lantai dua, awalnya fanie juga ingin naik ke lantai dua untuk mandi, menghilangkan penat di kepala, tapi sekarang dia hanya ingin sendirian, tidak ingin berbicara dengan siapa pun, biasanya orang kalau suasana hati sedang tidak bagus, atau sedang sedih, seringkali hanya ingin sendirian, siapa pun jangan mempedulikannya, siapa pun jangan mengganggunya, membiarkan dia diam-diam mengobati lukanya.


arya naik ke lantai dua dan langsung masuk ke ruang kerjanya, lalu segera menelepon ke Meeiando.


Saat Meri juga baru pulang ke rumah tidak lama sudah mendapat panggilan dari Boss Arya.


“Kamu selidiki sebenarnya apa yang terjadi di grup magang sore hari ini, dan apakah karena ada masalah tertentu sehingga tidak bisa pulang kerja tepat waktu?” Arya selalu bisa menebak sesuatu dengan tepat, hari ini bisa terlambat begitu lama, pasti karena terjadi sesuatu yang tidak ia ketahui, serta ada hubungannya dengan fanie.


Awalnya Meri tidak mengerti mengapa presdir yang merupakan orang utama ini mau menyelidiki grup magang yang hanya karyawan kecil, perusahaan yang demikian besar, juga ada sekian banyak divisi, bagaimana hanya grup magang kecil begitu sampai menarik perhatian Boss Besar Arya ini, tapi kemudian setelah dipikir-pikir, bukankah non fanie ada di dalam grup magang tersebut? Pasti karena wanita itu, jadi Boss Arya sampai mencari tahu.


Kalau memang Boss Arya sudah memerintah demikian, maka pasti ada sesuatu di balik ini, jadi Meri tidak berani bertele-tele, hanya bisa menyanggupi dengan wajah pahit, mematikan telepon, kemudian tergesa-gesa kembali ke perusahaan untuk memeriksa rekaman CCTV .


Saat sedang duduk di ruang CCTV, ditemani oleh satpam yang sedang mencari rekaman di tempat grup anak magang, tiba-tiba Meri merasa kejadian ini sepertinya pernah terjadi.


Kali ini dengan sebelumnya dia datang ke universitas fanie untuk memeriksa rekaman CCTV, bukankah mirip sekali?


Tidak tahu kenapa mendadak Meri merasa tidak tenang, jangan-jangan masalah kali ini juga kurang lebih sama dengan masalah pembulian di sekolah yang sebelumnya?


Ah, non fanie ini selalu menimbulkan masalah, sungguh orang yang merepotkan! Dia sendiri tidak inisiatif membuat onar, tapi masalah timbul karena dia.


“Asisten meri, ini data rekaman di grup anak magang sore ini, anda ingin menonton dari mana? Atau dari jam berapa?”Tanya satpam tersebut dengan serius.


“Dari jam masuk kerja di sore saja!” Siang tadi, non fanie ini masih datang ke ruangan Boss Arya, keduanya masih makan siang bersama, jadi masalah tersebut pasti terjadi setelah masuk kerja di sore.


“Baik.” Satpam mulai mengatur waktu rekaman, “Sudah, sudah selesai diatur.”


Satpam tersebut memberikan tempat duduknya, Meri pun duduk tanpa sungkan, kedua matanya menatap lurus ke layar, setelah mengamati beberapa saat, tidak tampak ada yang janggal, hanya saja kenapa dengan Satpam ini, apakah dia ingin terus berdiri di sampingnya dan menemaninya melihat semua rekaman?


Kalau dia tidak pergi, bagaimana dia bisa menonton dengan fokus? Serta, dia terus berdiri di sampingnya, apa maksudnya?


“Aku nonton sendiri saja di sini, kamu boleh melanjutkan pekerjaan kamu!” Ujar Meri dengan agak tidak nyaman.


Saat ini, satpam itu baru menyadari sepertinya dirinya tidak seharusnya tetap di sini.

__ADS_1


“Kalau begitu, Asisten meri, aku keliling di luar dulu, kamu pelan-pelan periksa di sini.” Satpam itu langsung segera pergi.


Meri baru merasa lebih nyaman, “Kalau tahu dari awal, mengapa masih di sini, alangkah baiknya kalau dari awal bisa sadar diri dan pergi! Juga tidak perlu memboroskan air ludahku untuk bicara!” Ucap Meri dengan gusar.


Tapi, dengan cepat dia sudah mulai berkonsentrasi lagi ke tugas utamanya, dia duduk tegak, lalu mengamati layar lagi, seolah sangat takut akan kelewatan informasi yang berguna.


Untungnya masalah terjadi tidak lama setelah masuk kerja. Oleh karena itu tanpa menunggu lama, Meri sudah mendapat jawaban.


Di dalam video tersebut, dua anak magang baru sedang beradu mulut, rekaman CCTV tersebut juga merekam suara, jadi Meri langsung membesarkan volume suara, meskipun masih tidak bisa mendengar dengan sangat jelas, tapi tetap bisa mendengar apa yang dibicarakan.


Dari dua anak magang baru yang beradu mulut ini, salah satunya adalah fanie, dan pakaian yang ia kenakan saat bertengkar adalah setelan jas kantoran model terbaru di musim itu, yang ia beli dengan menyetir sendiri ke mall besar yang tidak jauh dari ini, mau tidak mau harus dikatakan, setelan jas kantoran ini lebih cantik daripada yang sebelumnya ia pakai! Sungguh harga menentukan kualitas! Merk terkenal memang berbeda.


Dengan cepat ia kembali memfokuskan diri ke layar.


Meri penasaran sekali apa yang ditengarkan, tidak disangka ada anak magang baru yang begitu beraninya membuat onar, setelah mendengar kata pancingan dan sindiran tersebut, dia sendiri juga merasa marah sekali. Tapi kalau anak magang ini bilang dipelihara, aduh, memang menghina sekali.


Bahkan dia curiga, jangan-jangan anak magang baru ini sudah tahu sesuatu atau melihat sesuatu dengan mata kepalanya sendiri, jadi dia mengungkit soal dipelihara.


Tapi tebakan hanyalah tebakan, dia segera mengeluarkan flashdisk baru dari tasnya, kemudian menyalin cuplikan rekaman tersebut.


Videonya tidak panjang, untungnya kemudian Anton yang sebagai penanggung jawab grup magang muncul dan memarahi mereka sebentar, barulah masalah ini berakhir begitu saja.


Di dalam ruang kerjanya, Arya menerima rekaman video yang dikirimkan Meri di laptopnya, setelah menontonnya sendiri, kepalan tangannya meninju meja kerja, sampai gelas di atas meja bergetar sedikit.


“Dasar, wanita gila mana ini, berani-beraninya!”


Urat pelipisnya tampak jelas, awalnya dia masih tidak mengerti kenapa setiap kali masuk ke ruangan kantornya, wanita bodoh itu selalu menyelinap seperti pencuri, apalagi saat di tempat parkir, dia mengira fanie hanya terlalu sensitif, tidak disangka memang benar karena masalah dipelihara, dia dikritik oleh orang lain.


Arya merasa kalau dirinya tidak melakukan sesuatu untuk wanitanya, dia akan merasa bersalah terhadap dirinya sendiri, lebih merasa bersalah lagi terhadap fanie.


“Meri, besok kamu beritahu bagian personalia, segera pecat wanita yang membuat onar ini!” Karena memang masih masa magang, tentunya bisa dibereskan dengan gampang.


Kali ini tanpa bertele-tele, Meri langsung mengiyakan, bahkan dia yang asisten kecil saja merasa wanita ini harus diberi sanksi, dia sendiri juga tidak tahan melihatnya, apalagi Boss Besar Arya? Lagi pula Boss Besar Arya adalah majikan yang tidak pernah tahu apa itu mengalah!


Arya adalah presdir baru, dengan kekuasaan presdirnya, tentunya punya hak langsung memecat anak magang.


Meri tidak sabar, tidak sabar setelah pemberitahuan disebarkan besok, apakah wanita lagak itu masih akan berlagak, berani-beraninya dia sewenang-wenang?


Setelah membereskan semua ini, Arya meninggalkan ruang kerja dan kembali ke kamarnya, saat ini di atas ranjang besar dalam kamar tersebut, wanita mungil yang berwajah letih sudah mandi, serta meringkuk di situ.


Sekarang dia sudah membaringkan diri dengan pelan, berbaring di samping fanie, hatinya merasa agak tidak tega.


Ternyata dia begitu lama turun ke bawah setelah pulang kerja adalah karena dibuli oleh wanita lain di grup magang, tapi mengapa, dia masih tidak belajar untuk membalas dengan berani? Siapa yang membuat dirinya tidak nyaman, maka dirinya juga akan membuat orang itu tidak nyaman! Arya adalah jenis orang yang akan melakukan pembalasan setimpal, ada dendam harus dibalas. Dan kapan wanita ini juga bisa belajar demikian juga? Mengerti untuk melindungi diri sendiri di saat yang tepat, ini adalah pelajaran wajib.


Tapi, untungnya sekarang di samping fanie ada dirinya, bukankah begitu? Tidak masalah jika fanie tidak bisa, dirinya bisa menjadi pohon besar di belakangnya, memberikan sandaran untuknya.


Fanie sudah tertidur, tapi dahinya tetap berkerut, sama sekali tidak gembira, tidak tenang.

__ADS_1


Emosi Arya sepanjang perjalanan pulang tadi, saat ini sudah hilang semua.


Wanita bodoh ini, selalu bisa memancing emosinya dengan mudah, tapi juga bisa memadamkannya dengan mudah, setiap tingkah lakunya, setiap tutur katanya, selalu mempengaruhi perasaan dia.


Tapi yang bernama Anton itu, tidakkan belakangan ini dia terlalu dekat sama wanitanya?


Dia sendiri juga seorang pria, tatapan mata Anton ke wanitanya berbeda ketika menatap ke orang lain, dia tahu jelas, pria bernama Anton ini pasti punya perasaan tertentu dengan wanitanya.


Kelihatannya dia harus banyak mengantisipasi orang ini.


Hari sudah malam, tapi dia masih tidak bisa terlelap, sedangkan orang yang disampingnya baru mulai terlelap dengan tenang di dalam pelukan eratnya.


Keesokan harinya, baru saja Fanie sampai di perusahaan, sudah merasakan suasana yang berbeda dari biasanya, di papan pengumuman sana sepertinya tertempel pemberitahuan terbaru, serta banyak karyawan berkerumun di sana.


“Apakah ada kegiatan atau jadwal baru dari perusahaan? Pagi-pagi sudah seramai ini!” Kerumunan seperti ini selalu membuat setiap orang berminat untuk bergabung, tentunya dia juga tidak terkecuali.


Namun baru saja mendekat, dia sudah dikelilingi oleh berbagai komentar.


Ternyata pemberitahuan pemecatan karyawan, dan orang yang dipecat adalah Julia yang hari itu bertengkar dengannya.


Julia yang dipecat itu karena sebelumnya tidak tahu apa-apa, juga baru tahu setelah datang ke perusahaan dan melihat pemberitahuan tersebut, seketika ia menjadi linglung.


Karena dipecat oleh perusahaan, jadi tidak ada prosedur rumit yang harus dijalani.


Keluar dari ruang divisi personalia, Julia masih emosi dan tidak terima, ia langsung datang ke tempat anak magang.


Tentu saja di belakangnya diikuti oleh dua orang satpam dan satu karyawan divisi personalia.


Saat Julia kembali ke tempat duduknya, fanie diam-diam melirik ke Julia, tanpa diduga Julia ternyata juga sedang melihat ke arahnya, dalam sekejap mata mereka saling berpandangan tanpa sengaja.


Bau Amis di udara semakin meningkat, dua orang yang baru saja cekcok kemarin, saat ini pastinya sudah menjadi musuh yang saling bertemu.


fanie hanya agak mengkhawatirkan Julia saja, hal memalukan seperti dipecat, kalaudia jadi Julia juga pasti malu untuk masuk ke kantor lagi.


Dia bersumpah, dia sama sekali tidak bermaksud menertawakan Julia.


Tapi Julia malah tidak berpikir demikian, saat ini Juila memandang fanie sebagai musuh besar.


“fanie, sini kamu!” Julia tidak tahan lagi, didepan semua orang dia langsung membentak ke fanie.


Dibentak seperti itu, faine refleks membeku, jari yang tadinya sedang mengetik di keyboard langsung berhenti.


“Julia, apa yang ingin kamu lakukan?” Dia berdiri dari kursinya dengan perlahan, meskipun dia simpati dengan keadaan Julia sekarang, tapi bukan berarti dia takut dengan anak magang yang usianya kurang lebih dengannya.


Sebaliknya, sifat pantang tunduk dan harga dirinya yang tinggi, membuat dia lebih peka dari orang lain.


“Harusnya kamu tahu jelas apa yang ingin aku lakukan, fanie, aku tanya sama kamu, apakah aku dipecat ada hubungannya dengan pertengkaran kemarin, apakah ada hubungannya sama kamu?” Tanya Julia sambil melotot.

__ADS_1


......................



__ADS_2