
Di saat yang bersamaan, jika dibandingkan dengan keramaian di dalam ruangan sekretaris, Fanie yang berada di ruangan Arya pun sedikit cemas.
"Apakah semua sekretarismu adalah perempuan?"
Sekretaris yang baru saja masuk terlihat sangat cantik hingga bisa membutakan mata fanie.
Bukan hanya lekuk tubuhnya yang ramping, dan setelan jas yang dikenakannya pun membuatnya terlihat sangat bermartabat dan sopan. Wajah sekretaris tersebut juga sangat cantik. Benar-benar seorang wanita cantik.
Arya tertegun dan menjawab, "kenapa? Kamu memiliki masalah dengan itu?
Sekretaris dia memang semuanya merupakan sekretaris perempuan yang sangat cantik. Tentu saja selain Meri yang merupakan laki-laki menjabat sebagai asisten pribadiny walau panggilan nama nya terdengar seperti nama wanita.
"Bagaimana mungkin aku berani memiliki masalah dengan urusanmu? Memang benar semua pria suka melihat wanita cantik. Bahkan sekretarisnya pun harus sekretaris yang cantik. Dengan begitu, jika sedang bekerja, suasana hatimu pasti sangat bahagia. Tentu saja juga begitu perhatian, hingga kopi pun sudah dibawakan untukmu." Entah kenapa dia merasa sedikit tidak senang.
Seharunya dia tidak datang, begitu banyak sekretaris yang cantik di perusahaan ini, apakah dia masih bisa kelaparan karena tidak ada makanan untuk makan siang?
Dia tidak perlu berbicara, bahkan tanpa perlu memerintahnya pun, mereka pasti akan dengan senang hati membawakannya makan siang!
__ADS_1
Entah berasal darimana hatinya muncul suatu perasaan cemburu, rasa cemburu ini muncull dengan tiba-tiba, membuat emosinya menjadi kacau.
"Mengapa aku merasakan adanya kecemburuan di dalam perkataanmu ini?" Arya tersenyum ke arah dia. Siapa yang menyangka, tiba-tiba dia beranjak dan berjalan jauh.
"Jika tidak ada urusan lain, aku akan pulang terlebih dahulu!" Lalu tanpa melihat ke arah Arya, fanie pun buru-buru berlari ke arah pintu ruangan.
Arya terlambat selangkah ketika ingin menahan dia, wanita bodoh itu saking bodohnya sudah berlari keluar terlebih dahulu.
Sebenarnya dia ingin menghampiri dia dan menjahilinya. Tetapi tidak menyangka reaksi dia akan begitu besar.
"Wanita ini benar-benar merepotkan!" Dia menghela nafas dan berjalan kembali ke arah mejanya. Tetapi dia membalikkan badannya dan menatap ke arah jendela.
fanie berlari keluar dari ruangan Arya dengan cemas, takut dia akan mengejarnya, dan berlari langsung ke lift khusus, hingga masuk ke dalam lift, dia dengan terengah-engah menopang pada lift dan melihat cerminan dirinya yang begitu mengenaskan. Seketika emosinya menjadi kacau.
"fanie, apakah kamu tidak sadar diri dengan dirimu? Kamu lihatlah dengan jelas! Apakah kamu masih tidak mengetahui posisimu dengan jelas? Jelas-jelas kamu hanya alat yang digunakan untuk mendapatkan keturunan, begitu anak itu lahir, kamu harus menghilang dari kehidupan dia!"
Mengapa dirinya begitu mengenaskan, begitu menyedihkan? Jangan-jangan dia memang sudah memiliki perasaan lain terhadapnya?
__ADS_1
Tetapi dirinya sudah akan meninggalkan tempat ini, dia sudah mau pergi ke Kota untuk memulai kehidupan baru, kehidupan lain yang tidak ada keberadaan dia di dalamnya.
Untung saja lift khusus ini tidak perlu berhenti pada setiap lantai, jjka tidak, keadaan dia seperti sekarang ini terlihat seperti orang gila!
Jam yang dijanjikan dengan supir hanyalah setengah jam, sepertinya sudah lebih dari satu jam.
Tetapi supirnya sangat baik, meskipun jamnya sudah lewat, dia tetap menunggunya di tempat parkiran.
Begitu fanie sampai di lantai dasar dan keluar dari lift, emosi dia sudah kembali tenang dan bisa berjalan keluar dari gedung seperti biasanya.
"Non Fanie, di sini!" Sang supir meihat dia pun bergegas menurunkan jendela dan melambaikan tangan ke arah dia.
Arya yang berada di ketinggian pun menghela nafas lega setelah melihat pemandangan di bawahnya ini.
Begitu menolehkan kepalanya, dia melihat termos yang berada di atas meja. Bahkan saat wanita itu pergi pun, dia lupa membawanya. Dia menggelengkan kepala dengan tidak berdaya, apakah dirinya yang sudah terlalu memanjakan wanita bodoh ini?
"Non Fanie, apakah sekarang kita langsung kembali ke villa?" Sang supir begitu melihat ekspresi tidak senang fanie pun tidak berani untuk memulai pembicaraan, hanya berani bertanya saja.
__ADS_1
"Pergi ke rumah sakit terlebih dahulu!" Untuk saat ini, dia tidak ingin kembali ke villa, lagi pula di sana juga bukan rumahnya. Hanya rumah milik dia, sedangkan dirinya hanya tinggal di sana selama beberapa saat saja.