Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 64 : Sup Penghilang Mabuk


__ADS_3

Akhirnya dengan tubuh besarnya dia menekan tubuh kecilnya di sofa.


“Tidak masalah tidak keluar, tetapi ini kamu sendiri yang minta!” Dia dengan sikap dingin mengancam, dia mengetahui jelas reaksi dari tubuhnya daripada orang lain.


Fanie yang kasihan, dia yang mabuk saat ini belum menyadari dirinya sekali lagi jatuh dalam ‘pelukan’ seseorang dan tidak dapat melepaskan diri.


“Sungguh manis!” Dia mencium tepat di bibir merah yang masih ada bekas wangi dan manisnya arak anggur.


Ciuman ini bagaikan petir yang menghancurkan pohon kelapa hingga menjadi debu, tidak terbendungkan! Dengan cepat mereka berdua bergulingan dan bertindihan di sofa.


Fanie yang mabuk tidak memiliki pengontrolan diri seperti biasanya, dengan kerjasamanya badan semakin sehati, semakin membuat Arya tidak bisa melepaskan diri.


Setelah kejadian ini, mereka basah kuyup oleh keringat.


Arya penuh kepuasan, kelihatannya sangat bersemangat, sama sekali tidak lelah.


“Sepertinya membawamu ke sini dan memberimu minum arak anggur bermanfaat juga!” Dia sangat kaget, kaget dengan sikapnya yang berani di sini. Tentu saja, akhirnya menjadi keuntungan bagi dia sendiri, dia seharusnya jangan terlalu senang!


Membuang beban dari paradigma tradisi kuno, hanya menikmati segala keindahan di depan matanya sepenuh hati, bekerjasama dengan kompak, hanya saja Fanie yang mabuk, dirinya tidak sadar, dalam seluruh proses ini, ujung bibir Arya tersenyum terus hingga hampir jadi miring!


Keringatnya membasahi rambutnya, setelah kejadian itu dia dengan nurut berada dalam pelukannya, mungkin terlalu lelah, namun mungkin juga terlalu banyak minum arak anggur, ini reaksinya ketika arak naik ke otak, sekarang wajahnya merah membara, dia bersedia dipeluk, polos dan nurut bagaikan boneka porselen.

__ADS_1


Namun keringat di seluruh tubuh membuat Arya agak tidak nyaman, badannya sendiri juga, dia selama ini agak reseh, sehingga tidak sanggup menahannya.


“Jalan, aku bawa kamu naik ke atas untuk mandi!”


Bi leni tidak tahu ngumpet kemana, seluruh lantai 1 tidak terlihat 1 orang pun, ini mempermudah Arya, dia naik ke atas dengan setengah telanjang, dia hanya menutupi tubuh wanita yang mabuk dengan 1 jaket, kemudian digendong naik ke lantai 2 villa, masuk ke dalam kamar mandi kamar utama.


“Jika kamu nurut setiap hari, ha ha, arak anggur di ruang penyimpananku tidak keberatan dihabiskan beberapa botol olehmu!” Jika setiap hari mendapatkan keuntungan seperti ini, dia akan bangun dari mimpi dengan tersenyum.


Tetapi hari ini dia bicara sembarangan, dia tidak mengerti banyak, umpama mengharapkan dia hanya orang biasa, intinya dia tidak mengerti sama sekali. Tetapi, semua ini tidak penting.


Dia terbiasa mengutamakan kepentingan dirinya, pendapat dirinya dan keputusan dirinya merupakan arah paradigmanya, pendapat orang lain sama sekali tidak penting.


Tentu saja dalam dunia bisnis berkat sifatnya danketeguhannya sehingga dia mendapatkan keberhasilan besar.


Ini pertama kali Fanie minum sebanyak ini, juga pertama kali Fanie merasakan penderitaan akibat mabuk berat.


Keesokan paginya kepalanya sakit berat setelah bangun tidur.


Bi Leni naik ke lantai atas dengan panik, mengetuk pintu kamar utama hingga mengagetkan dirinya yang masih sempoyongan.


“Masuk!”

__ADS_1


Dia tidak bisa turun dari ranjang, kepalanya sangat sakit, mengingat di dalam villa tiada orang lain sehingga langsung menyuruhnya masuk.


“Aduh, Non Fani, apakah kamu sakit kepala?” bi Leni membawakan sup penghilang mabuk, “Ayo, cepat minum sup penghilang mabuk ini!”


“Bi Leni, kenapa kamu tahu aku sakit kepala?” Fanie masih bingung, belum paham, Bi leni tidak punya kemampuan khusus, juga tidak mengetahui isi hatinya, bagaimana bi leni bisa mengetahui dia sakit.


“Aduh, ini sederhana, tentu saja ketika Den Arya keluar pagi khusus berpesan, lagi pula Den Arya juga bilang, kamu kemungkinan bangunnya telat, jika lewat jam 10, aku diminta naik ke atas untuk membangunkanmu, takut terjadi apa-apa karena semalam kamu minum terlalu banyak! Jika tidak, mengapa aku tiba-tiba naik ke atas? Den Arya bersikap baik terhadap kamu, penuh perhatian.” Bibi Leni tersenyum.


“Oh, ternyata dia berpesan.” Dia tahu bi Leni tidak mungkin mengetahuinya tanpa alasan, “Jadi, dia pagi-pagi sudah pergi ke kantor?”


“Ya, pagi-pagi sudah pergi, dia bawa mobil sendiri.” bi leni mendinginkan sup penghilang mabuk, langsung meletakkannya di meja ranjang, “Non Fanie, minumlah selagi hangat! Setelah minum akan merasa lebih enak!”


fanie minum sup dengan nurut, dia merasa kepalanya lebih ringan setelah minum, tidak sesakit sebelumnya, “Baguslah, sepertinya berguna juga.”


“Tentu saja. Tetapi bibi beritahu kamu, kamu gadis muda harus memperhatikan kesehatan sendiri, walaupun arak anggur enak, juga jangan rakus! Waktu muda masih sehat tidak merasakan apapun, ketika berusia tua, semua penyakit yang tersimpan akan datang mencarimu, kamu akan menderita!” Bi leni melihat Fanie yang menderita, merasa kasihan untuknya.


“Hm, lain kali aku akan perhatikan, bukankah kemarin terlalu bahagia? Karena terlalu bahagia sehingga lupa diri, tidak sadar minum banyak.” Sekarang dipikirkan lagi arak anggur buah sungguh manis di mulut, namun akibatnya sangat parah, membuat orang mabuk tanpa sadar.


“Semalam adalah hari baik, pantas untuk dirayakan! Tetapi lain kali harus perhatikan, jangan minum terlalu banyak lain kali, sangat merusak badan!” Setelah Bibi Leni menasehatinya lagi, baru membawa pergi mangkuk kosong.


fanie bersandar di ranjang dengan malas, kehidupan yang santai seperti ini dalam beberapa hari sungguh membuatnya bosan. Pada saat sakit, ada sup penghilang mabuk dari bibi leni yang penuh perhatian, masih ada omelan yang penuh perhatian, dia sungguh merasa sangat puas.

__ADS_1


__ADS_2