Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 69 : kapan ada kesempatan agar aku dapat mencicipi masakanmu?


__ADS_3

"Kenapa kamu bisa datang?" Melihat kedatangan Fanie, dia dengan cepat melempar pulpen yang ada di tangannya dan keluar dari tumpukan berkas yang menggunung.


"Kenapa? Tidak suka jika aku datang kemari untuk mencarimu?" Ini merupakan pertama kalinya fanie datang ke ruangan dia. Ruangan dia sangat besar, pencahayaan yang sempurna dan gaya dekorasinya memiliki kemewahan yang sederhana dengan sedikit rasa dingin, seperti dirinya yang dominan dan kuat.


"Hanye sedikit terkejut saja." Perkataan dia masih saja sedikit.


"Aku mendengar dari Bibi Leni bilang bahwa kamu jika di kantor suka lupa makan siang dan jika kamu makan pun selalu memesan makanan luar. Meskipun makanan luar ini bisa mengenyangkan perut tetapi bagaimana pun juga itu merupakan makanan luar, tidak bernutrisi. Lalu kebetulan hari ini aku memiliki waktu luang dan tidak memiliki pekerjaan, sehingga aku membawakan kamu makan siang, kebetulan, tadi aku bertemu dengan Meri di lantai bawah, dia mengatakan kamu belum makan siang." fanie menggoyang-goyangkan termos yang ada di tangannya untuk menunjukkan bahwa dia sendiri yang membawakan makan siang kemari.


Jika dia tidak mengungkit makan siang, Arya tidak merasakan perutnya lapar. Begitu dia mulai bekerja, dia selalu lupa waktu, terkadang dia sibuk hingga sore hari dan baru menyadari ternyata dirinya tidak makan siang, semakin berlanjut kebiasaan ini membuat dia terkena penyakit lambung.


"Datang sejauh ini, pasti supir yang datang mengantarmu bukan?" Sudut bibir Arya terangkat, kelihataannya suasana hatinya sedang baik.


"Iya, jika bukan karena supir, aku mana mungkin mengetahui keberadaan perusahaanmu." Dia tidak membicarakan mengenai dia dicegat oleh resepsionis karena ini merupakan peraturan perusahaan. Seperti yang dikatakan resepsionis tersebut. Jika setiap orang ingin bertemu dengan Arya dan bisa bertemu dengannya, bukannya Arya akan semakin sibuk?


Di tengah ruangan terdapat sofa kulit yang panjang, Arya membawa fanie ke sana.


"Kamu duduk terlebih dahulu! Sepertinya sekretaris sedang pergi makan di jam segini. Kamu ingin minum apa? Air atau kopi?" Arya bertanya kepadanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terserah." Dia tidak pernah terlalu memilih-milih.


"Aku keluar untuk melihatnya!" Arya dengan cepat mendorong pintu dan pergi keluar. Selang beberapa saat, dia membawa secangkir kopi dari luar untuk Fanie.


"Kamu tidak perlu mengurusi aku, sebaiknya kamu duduk dan makan siangmu terlebih dahulu! Ini semua merupakan masakan bibi Leni loh, aku hanya bertugas untuk mengantarnya! Jika kamu ingin berterima kasih, berterima kasihlah kepada Bibi Leni!" Fanie berinisiatif membuka termos yang dibawanya, lalu mengeluarkan sumpit dari dalam tasnya.


"Bagaimana denganmu? Apakah sudah makan?" Arya melihat nasi putih, iga Sapu dan sayur-sayuran, terlihat sangat menggugah selera.


"Aku sudah makan terlebih dahulu di villa sebelum datang kemari! Kamu makanlah dengan pelan-pelan!" Fanie melambaikan tangannya dan sedikit menggerakkan tubuhnya ke belakang untuk membuat lebih banyak ruang agar pria yang sibuk dapat duduk di sofa dengan lebih nyaman.


Siapa yang menyangka dia akan mendekat dan menjawab, "lalu apa masakan andalanmu?"


Fanie tertegun dan dengan cepat mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, "menu andalan aku ya, sebenarnya aku bisa membuat banyak macam sayuran, meskipun hasilnya tidak terlalu bagus, tetapi tetap bisa dimakan!"


"Kalau begitu kapan ada kesempatan agar aku dapat mencicipi masakanmu?" Dia lebih tertarik dengan masakan dia.


"Benarkah? Kita bicarakan itu lain kali!" Dengan cepat ekspresi fanie menjadi muram, sudah tidak lama lagi dia akan pergi meninggalkan Kota Bandung ini, sepertinya tidak akan ada lagi kesempatan seperti itu.

__ADS_1


"Apanya yang lain kali? Lebih cepat lebih baik. Besok saja!" Arya dengan cepat membuat keputusan untuk dia.


"Besok? Apa aku tidak salah dengar? Waktunya begitu mepet, apakah kamu tidak memberiku waktu untuk persiapan?" Fanie diam-diam mengutuk dirinya sendiri, siapa yang menyuruh dia berbicara omong kosong di depan dia. Dia tidak bisa memasak satu pun, habislah sudah, bukannya dia akan mempermalukan dirinya sendiri?


"Oke kalau begitu besok, besok di waktu yang sama, kamu masak sendiri dan membawanya kemari!" Arya sudah mengambil keputusan dengan sendirinya.


Jika memang ada masakan rumah yang akan diantar dari villa kemari, untuk apa dia harus pergi makan makanan luar yang tidak bernutrisi itu?


"Apa harus membuatnya?" Ekspresi fanie muram, sudah dalam jangka waktu yang lama dia tidak memasak, sepertinya dia akan sedikit kagok.


Aryq melirik dia, tatapannya memiliki arti, 'menurutmu?'


"Baiklah, aku akan membuatnya!"


Pada akhirnya karena tidak memiliki ruang untuk berdiskusi, dia pun memutuskan untuk memasak. Bukannya hanya memasak dua tiga macam sayur saja? Dia bisa memasaknya.


Cih, kita tinggal melihat apakah pria ini berani menghabiskan makanan di depannya. Jika tidak sengaja membuat masakan 'gelap', jangan salahkan dia!

__ADS_1


__ADS_2