Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 114 : Trik


__ADS_3

“Makan bersama teman di luar?” Dan seperti yang diduga, Anton menyapa dia begitu melihat dirinya masuk ke kantor.


Fanie tidak tahu harus mengangguk, atau menggeleng, yang pasti apa pun yang dia lakukan semuanya terasa tidak tepat.


“Ada apa? Wajahmu terlihat tidak sehat? Aku lihat sebelum makan, bukankah Gabby telah mencarimu? Kamu tidak ikut dia makan di luar? Dia hampir tidak pernah ke kantin karyawan.” Ternyata adegan tadi sudah diperhatikan oleh Anton dari awal.


“Aku baik-baik saja, hanya saja sedikit mengantuk dan lelah, jika tidak ada hal lain, aku ingin kembali dulu ke tempatku untuk menelungkup sebentar!” Fanie sengaja menunjukkan sikap mengantuk, mengambil kesempatan ini untuk menghindari Anton.


Semakin sering berhubungan, semakin membuat hatinya menjadi tidak tenang, takut hal yang dikatakan oleh Gabby, terakhir akan menjadi nyata dan benar. Kalau begitu, bagaimana dia harus menanggapinya, bagaimana bisa menerimanya?


Maka itu, apakah lebih baik menjaga jarak yang tepat, atau paling baik seperti sekarang ini, siapa pun tidak akan terlebih dahulu menghancurkan keseimbangan ini.


“Oh, kalau begitu kamu segera kembali untuk istirahat!” Meskipun Anton adalah pria yang memiliki pemikiran kasar, namun tidak tahu mengapa samar-samar dia mampu merasakan sikap fanie pada dirinya, ada sedikit renggang dan acuh tak acuh. Ketika mereka bergaul secara pribadi, tidak lagi bisa seperti yang sudah-sudah saling berhadapan dengan tenang, sengaja atau tidak sengaja fanie akan menghindari tatapannya.


Dia tidak tahu apakah dirinya yang berpikir terlalu banyak, tapi kenyataanya memang begitu, sesaat dia menjadi risau.


Gabby kembali dari makan siang, awalnya memang ingin mencari fanie lagi untuk berbicara, namun menemukan dia sedang istirahat dan telungkup di atas meja, sementara dia membatalkan niatnya.


Sampai waktu pulang kerja, Gabby tetap lanjut untuk menunggu, kali ini dia melihat dengan mata kepala sendiri karyawan magang fanie duduk di samping kemudi presdir baru, dan presdir baru yang tampan dan kaya itu terakhir yang turun ke parkiran, dia mengikuti sepanjang jalan, terakhir dia mengikuti sampai ke pintu gerbang kawasan beautifull Garden.


Melalui dua hari penguntitan ini, dia memastikan, Fanie mengikuti CEO Arya yang tampan dan kaya ini, bersama-sama masuk ke kawasan beautifull Garden.


Selang sehari kemudian, dia ingin pura-pura pergi untuk mencari seorang rekan bagian personalia, membujuknya, mengantarkan makanan kecil, kemudian mencari tahu resume lamaran kerja karyawan magang baru fanie, dan jabatan yang pernah dijabat oleh presdir baru CEO Arya. Pertama yang perlu dia sampingkan adalah melihat apakah mereka berdua memiliki hubungan saudara, namun hasilnya malah tidak ada.


Data mereka berdua, sama sekali berbeda, hanya saja dua orang ini datang dari kota Bandung, bagian ini menarik perhatiannya.


Mungkinkah, mereka berdua sudah kenal sewaktu di kota Bandung?


Hal ini membuat hatinya resah dan pikiran kacau, terakhir dia memutuskan untuk tidak menghiraukan dua orang ini, pokoknya orang yang disukai oleh Gabby, walaupun harus dengan cara merebut, dia juga akan merebutnya!

__ADS_1


Tidak salah, pertama kali di welcoming party, saat bertemu dengan presdir baru yang tampan dan kaya ini, samar-samar membuat hatinya bergetar, dia yang dewasa, dia yang elegan, ada lagi seluruh tubuhnya dari bawah hingga atas penuh dengan kharisma tinggi dan sempurna, dan juga samar-samar memperlihatkan aura raja dan pengaruh yang kuat, semuanya membuat dia tergila-gila dan menggetarkan hatinya.


Mengatakan dia jatuh cinta pandangan pertama, juga tidak termasuk, rasa getar di hatinya datang begitu cepat, padahal waktu itu belum bisa dibilang mengenal dia, terlebih lagi memahami tapi sudah jatuh cinta.


“Nona Gabby, untuk apa kamu mencari tahu tentang presdir baru? Jangan-jangan kamu punya maksud lain terhadap CEO Arya yang baru datang ini?” Rekan bagian personalia yang kurang lebih sama umurnya dengan Gabby, tanpa segan mulai berkelakar, semua juga masih gadis muda, wajar ada sedikit mabuk pada CEO Arya yang begitu tampan dan kaya.


“Mana ada? Apa yang kamu bicarakan?” Beban pikiran Gabby terlihat oleh orang lain membuat dirinya tidak leluasa, segera wajahnya akan menjadi merah yang mencurigakan.


“Buat apa malu untuk mengakui, aku kasih tahu, dalam gedung perusahaan kita ini, tidak tahu berapa banyak karyawan gadis muda yang tergila-gila pada CEO Arya ini, kalau kamu memang punya pikiran seperti itu, aku peringatkan lebih baik kamu cepat bertindak, kalau tidak hati-hati akan direbut yang lain, siapa cepat dia dapat! Sampai saat itu sudah terlambat untuk menyesal!” kata rekan kerja ini dengan berbisik di samping telinga Gabby.


“Apakah pasarannya memang begitu baik?” Hati Gabby tertegun, kalau begitu sasaran saingannya benar tidak sedikit, tampaknya dia harus segera mulai bertindak.


“Bukannya aku ingin menakutimu, kita berdua begitu dekat, ada berita apa, akan kuberitahu dan tidak akan kusembunyikan, siapa yang suruh kita berdua adalah rekan baik.”


Keluar dari bagian personalia, Gabby semakin memperkuat pemikirannya untuk berani berinisiatif mengejar CEO Arya yang tampan dan kaya itu.


Tengah hari, Meri sedang ingin menelepon untuk memesan makanan, siapa yang tahu, seorang sekretaris wanita sedang membawa kotak makanan porsi besar kemari.


“Tidak tahu, yang mengantar juga tidak bilang apa-apa, hanya memintaku untuk tanda tangan tanda terima, dan meminta aku jangan lupa menyerahkannya, untuk yang lain, aku juga tidak sempat untuk bertanya lebih banyak!” ucap sekretaris dengan wajah tidak bersalah, dari awal hingga akhir dia hanya bertanggung jawab untuk menerimanya saja.


“Kalau begitu sungguh aneh, makanan Restaurant biasanya tidak gampang dipesan, usahanya sangat ramai sekali, biasanya juga terlalu sibuk, sebenarnya siapa yang begitu berbaik hati?” Untuk sesaat Meri tidak bisa menebak.


Tapi, hanya bisa diterima dulu makanannya, kemudian dibawa ke dalam baru dibicarakan lagi.


Sebagaimana bisa diduga, sewaktu makanan dibawa ke dalam, dalam sedetik segera menarik perhatian Boss Besar Arya.


“Hari ini kamu pergi ke Restaurant untuk beli makanan? Tetapi, mengapa cuma satu porsi?” Saat itu kebetulan Boss Besar Arya sedang mengangkat kepalanya, melihat label pada kantong makanan.


Refleks dia mengira, asisten pribadi mewakili dirinya mengganti sebuah restoran kelas satu untuk pesan makanan.

__ADS_1


Meri dengan dahi mengernyit menjawab, “CEO Arya, ini makanan bukan aku yang pesan, sekretaris yang meminta aku bawa masuk untukmu, tidak tahu siapa yang memesan makanan ini untuk anda!” Dia hanya bisa menjawab dengan jujur.


“Orang lain yang bantu pesan, siapa?” Boss Besar Arya menghentikan pekerjaan dan alisnya mengkerut.


“Tidak tahu, sekretaris tadi juga mengatakan, dia juga tidak tahu, yang mengantar juga tidak berkata apa pun, kemudian juga sudah dibayar di muka.” Meri juga menunjukkan tidak bisa menebak siapa orang misterius yang pesan makanan ini.


“Sudah dibayar? Juga tidak meninggalkan nama? Menarik!” Arya merenungkan kata-kata yang dikatakan oleh asisten pribadi.


“CEO Arya, jadi menurut anda bagaimana dengan makanan ini? Mau taruh di sini, atau? Ada lagi, makan siang anda dan nona fanie, apa masih perlu aku pesan lagi?” tanya Meri dengan hati-hati.


Sebagai asisten pribadi, lebih-lebih asisten pribadi CEO Arya yang tampan dan kaya, salah satu tugasnya adalah bertanggung jawab mewakili CEO Arya untuk menahan orang yang tergila-gila padanya. Tentu saja, ketika di kota ini , Meri sudah sering mengurus masalah seperti ini, namun yang mengantar juga tidak meninggalkan nama, baru pertama kali bertemu seperti ini.


“Bawa keluar! Terserah kamu bagaimana urusnya!” sahut CEO Arya dengan tenang, tanpa menyentuhnya, tidak terlihat sedikitpun senang atau gembira di wajahnya.


Dibawa keluar? Seketika Meri merasa sulit.


Dia harus bagaimana? Dibawa keluar, maksudnya langsung dibuang? Tapi, ini adalah makanan dari Restaurant, seberapa mahal harga makanan restoran mereka tidak perlu dibilang lagi, dan ada kalanya walaupun ada uang, belum tentu bisa dapat antrian, karena usaha restoran ini memang sangat ramai sekali!


Dulu Meri juga pernah kepikiran pesan makanan di restoran ini untuk Boss Besar Arya , namun karena waktu untuk mengirim makanan, tidak bisa tepat waktu, sehingga bagi dia yang ada gangguan penuh CoD, lebih baik memilih untuk melepaskan niat itu tanpa ragu.


Tetapi kalau dibuang, sepertinya sedikit sayang, dia menurut dan membawa makanan tersebut ke luar, kemudian meletakkan di atas meja kerjanya, dan segera menelepon untuk pesan makanan baru.


Saat dia selesai telepon dan kembali ke meja kerjanya, menemukan beberapa sekretaris wanita sedang mengelilingi meja kerjanya.


“Asisten bos, makanan ini kenapa dibawa keluar lagi? Jangan-jangan CEO Arya tidak mau?” Seorang sekretaris memperhatikan dan bertanya dengan berani.


Tanpa pikir panjang, Meri langsung menjawab, “Iya, mana mungkin CEO arya menerima makanan seperti ini? Siapa pengirimnya sampai sekarang belum jelas, apa lagi CEO Arya kita tidak kekurangan makanan! Kalau dia sendiri ingin, apa tidak bisa pesan sendiri, benar tidak?”


“Kalau begitu, makanan ini tidak ada yang mau? Aiya, perutku sangat lapar, dan makanan kantin karyawan tidak enak. Kalau makanan ini tidak ada yang mau, apa aku boleh membawanya? Hehe, lagi pula sayang kalau di buang, kabarnya harga makanan restoran ini juga tidak murah, dan juga tidak gampang dipesan!”

__ADS_1


Ada seorang sekretaris yang memang penggila makanan, pandangan mata yang berbinar, dari awal sudah mengamati makanan tersebut.


__ADS_2