
Hanya saja ketika dia meninggalkan tempat ini menuju kota Jakarta takutnya tidak bisa menemukan Bi Leni yang ramah, juga tidak ada sup penghilang mabuk yang hangat, juga tidak bisa mendengar omelan yang akrab.
Ketika meninggalkan tempat ini, tidak ada pria bernama Arya Puta yang pergi kekerja setiap pagi buta, sebelum pergi kerja selalu berpesan pada pembantu, menyuruh pembantu untuk memasak obat herbal penguat stamina tubuh untuknya.
Tiba di kota jatata, juga tidak ada supir khusus untuknya, jika dia ingin pergi ke suatu tempat takutnya dia harus berdesakan di bis atau Angkot atau menghabiskan uang untuk naik ojeg.
Intiinya setelah tiba di kota , kehidupannya dan segalanya yang dimiliki sekarang akan kembali seperti dulu, dia harus kembali pada dunia asalnya, dunia yang miskin dan biasa.
Menjelang siang hari, bibi Leni menerima telepon dari kantor Arya.
“Apakah Fanie sudah bangun? Apakah sudah minum sup penghilang mabuk?”
Ternyata Arya keluar pagi hari ke kantor, hingga saat ini masih teringat wanita bodoh yang mabuk di villanya, jika bukan karena sibuk berbagai rapat dan pekerjaan belakangan ini, dia ingin sekali mengendarai mobil sendiri pulang, melihat dia dan tahu dia baik-baik saja baru bisa tenang, dia baru bisa lanjut kerja di kantor dengan konsentrasi.
Sepanjang pagi dia tidak bisa konsentrasi dan selalu khawatir.
Tetapi wanita bodoh itu bahkan tidak menelepon memberikan kabar.
Dalam ingatannya sepertinya catatan tentang wanita itu meneleponnya terlebih dahulu sangatlah sedikit, apakah menelepon dia duluan sangat repot baginya?
Dia tidak tahu fanie jarang menelepon dia bukan karena tidak ingin menelepon, melainkan takut teleponnya akan merepotkan ataupun mengganggunya.
__ADS_1
Umpama fanie berpikir dia mungkin sedang bekerja ataupun rapat, jika dia menelepon tentu akan mengganggu, gangguan yang tidak disambut. Oleh sebab itu, jika memungkinkan dia akan sebisanya tidak mengganggunya, tidak menelepon dia.
bi leni segera menjawab dengan jujur, “Sudah minum, Den, Anda tenang saja wae , Non Fanie baik-baik saja wae, aku sudah naik ke lantai 2 lihat dia, walaupun saat itu wajahnya pucat, tetapi semangatnya masih bagus, masih mengobrol sebentar denganku, sepertinya saat ini sedang mandi.”
“Baguslah, untuk siang kamu masakkan makanan berkuah dan hambar untuknya, lihat dia makan sedikit! Jangan biarkan dia sembarangan jalan-jalan jika tidak ada urusan!” Dia menambahkan 1 kalimat itu di bagian akhir.
“Baik Den, saya ingat semuanya, pasti ikuti keinginanmu, menjaganya dengan baik!” bi leni mengingatnya dalam hati, mendesah juga pada saat bersamaan, den arya ini sungguh menyayangi Non fanie, orang super sibuk sepertinya masih menelepon pulang memperhatikan Fanie yang mabuk, adakah sup penghilang mabuk, perhatian dan pengertiaannya tidak bisa dilakukan oleh orang biasa.
Muda-mudi kota zaman sekarang semuanya tidak berpendirian dan tidak sabaran, siapa yang memiliki kesabaran untuk bersikap sedemikian baik pada orang lain.
fanie mandi lalu memilih gaun berwarna kalem, setelah keluar dari kamar mandi, dia baru merasa dirinya perlahan-lahan hidup kembali, pengaruh arak menghilang banyak dari tubuhnya.
“Non Fanie, kebetulan kamu datang! Tadi den Arya menelepon menanyakan tentang kondisimu, kemungkinan besar dia tidak tenang melihatmu sendirian di villa, semalam minum banyak pula.” bibi leni sifatnya terus terang, selalu mengatakan dengan jujur.
“Den arya menyuruhku memasak makanan yang tawar untukmu, paling bagus bubur tawar, katanya lambungmu pasti tidak enak setelah mabuk, harus makan yang hambar dan juga menyuruhku mengawasimu makan, menyuruhmu makan banyakan!” bibi leni menceritakan semua secara rinci.
“Ya sudah bubur tawar, saat ini biarpun ada semeja penuh makanan enak pun saya tidak sanggup makan!” Dia memang sudah merasa lambungnya tidak enak.
“Baiklah, siang aku masakan bubur tawar, kita ngobrol di rumah, jika kamu ingin makan apa, aku segera buatkan, tetapi tidak tahu Den arya makan apa di kantor, mungkinkah sibuk hingga lupa makan siang?” Tanpa sadar tiba-tiba bahan pembicaraan bibi leni beralih pada makan siang Arya.
“Dia? Dia tidak bisa pesan makanan? Lagipula biarpun dia tidak punya waktu, dia punya asisten pribadi, asisten pribadinya tentu saja akan mengurus urusan pribadinya, tenang saja, dia tidak mungkin membiarkan dirinya kelaparan!” Fanie menjawab dengan tidak jujur.
__ADS_1
Dia saat sibuk, dia juga tahu sepanjang hari sibuk rapat serta berbagai jenis pekerjaan, begitu sibuk mungkin saja lupa makan, berdasarkan sifatnya yang begitu ulet, seharusnya sudah sering lupa makan.
“Makanan pesanan tidak sehat, tidak sebanding buatan sendiri, lagipula tidak begitu bersih, hanya terlihat agak bagus.” Bibi leni berulang kali menggelengkan kepala, intinya dia sangat merendahkan makanan pesanan.
“Oh ya? Bibi leni, sepertinya tidak separah yang anda bilang!” Dulu dia terkadang pesan makanan luar, rasanya tidak menakutkan seperti itu.
“Bagaimana tidak? Hanya saja kalian anak muda tidak menyadarinya, karena ingin praktis dan cepat, apakah kalian tahu minyak apa yang dipakai mereka? Apakah minyak yang berkualitas? Sayurnya dicuci bersih tidak, terdapat banyak masalah bahaya dan kebersihan!” bibi leni menjelaskan secara rinci yang membuat orang tidak bisa menerimanya.
Tadinya Fanie menganggap pesan makanan lumayan bagus, tetapi setelah mendengar penjelasan Bibi Leni ini , dia mulai khawatir, “Jika demikian, Arya setiap hari pesan makanan di luar di kantor, jika terus berkepanjangan, bagaimana badannya bisa bertahan?”
Dia mulai khawatir padanya, sebab dia sering sekali makan di luar, hampir setiap hari pesan makanan di kantor.
“Atau begini saja, Non fanie, toh kamu hari ini santai kan? Siang aku akan buatkan beberapa sayur tawar, lalu kamu antarkan ke kantor?” bibi leni mendadak terpikirkan cara ini.
“Aku antar makanan untuknya ke kantor? Takutnya tidak baik!” Pikiran pertama fanie, dia segera menggelengkan kepala sekuat tenaga, dia tidak pernah masuk ke kantornya, bahkan tidak tahu kantornya berada dimana.
Dulu tidak ingin tahu, juga tidak merasa perlu tahu.
Tetapi sekarang kenyataannya memang tidak tahu.
“Mengapa tidak boleh, kamu belum pernah mengirim makanan untuk den Arya, kalian anak muda menamakannya sebagai apa ya, lumayan keren, oh ya, makan siang cinta, aku ingat!
__ADS_1
Jika kamu kirim sekali makan siang cinta, hatinya pasti sangat terharu, kelak akan berlipat ganda baik terhadapmu! Ikuti perkataan bibi, tidak akan salah, Bibi sudah berpengalaman, apakah mungkin akan mencelakaimu?” Bibi Leni yakin sarannya sangat bagus.