Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 023 : Meminta Izin


__ADS_3

Wajahnya pucat, untung saja saat ini dia sedang berada didalam kamar toilet, tidak ada yang tahu dia ada disini, dan berada pada sebuah ruangan kotak kecil dan mendengarkan seluruh perbincangan serta gosip mereka dengan jelas.


"Tapi, aku tidak ikhlas, tampang dia begini saja bisa mendapatkan orang kaya? Zaman ini apakah semua orang kaya itu begitu tidak memilah-milih kah? Sekalipun mau mencari siswa kuliahan untuk dijadikan simpanan, setidaknya juga dipilih-pilih dulu saja, dia yang tidak mempunyai dada dan juga tidak mempunyai pantat yang montok, sepertinya sekalipun menjadi simpanan orang, dia juga hanya bisa menjadi simpanan kakek-kakek yang sudah mau mencapai ayahnya."


"Iya, aku juga yakin seperti begitu, duh, zaman sekarang sungguh tidak biasa, apakah sekolah kita juga tidak mempedulikan hal seperti ini dan membiarkannya terus berkembang?"


Salah satu murid wanita sangatlah tidak puas, Apakah membiarkannya membawa kita-kita yang berpikiran polos menjadi jahat juga?


"Para kakek-kakek itu, sekalipun memberiku 1 miliar, aku juga tidak akan suka! Tapi jika orang itu mungkin tidak akan berpikir seperti itu ketika menerima beasiswa setiap tahunnya, bukankah sekolah selalu mengatakan keluarga mereka sangatlah miskin hingga bahkan tidak mempunyai biaya untuk hidup? Kali ini dia bertemu dengan orang kaya, sepertinya dia bisa makan sepuasnya!"


"Biasanya dia terlihat seorang gadis yang lumayan serius, bagaimana bisa langsung menjadi simpanan orang lain, benar-benar mendapatkan tanpa pengorbanan sungguh lebih cepat, memang benar sekali membuka kedua kakinya uangnya akan datang lebih cepat! Dibandingkan dengan belajar, kita kalah, dibandingkan dengan kemampuan memperoleh uang, sepertinya kita semua juga tidak bisa mengalahkannya.


Seterusnya mereka semua tertawa terbahak-bahak.


Mereka para murid jurusan kimia yang terlihat polos ini terus saja bergosip didalam toilet yang kecil ini, dan terus saja membicarakan segala rumor Fanie menjadi simpanan orang kaya.


Benar-benar kejadian baik tidak diketahui oleh orang luar, namun kejadian jahat diberitakan kemana-mana, sekalipun hal ini hanyalah sebuah gosip tidak benar, namun sepertinya juga tidak bisa dihentikan.


Fanie terus bersembunyi didalam toilet, dia marah dan juga malu.


Yang membuatnya malu adalah hal seprivasi ini mengapa bisa diketahui oleh murid disekolahnya? Kontrak antara dia dan Arya hanya diketahui oleh mereka berdua saja, sisanya yang tahu hanya ada Merindo saja, namun Meri adalah asisten Arya di kantornya, dan Meri seharusnya juga bukan tipe orang yang sembarangan menyebarkan beginian.


Fanie benar-benar tidak mengerti, dirinya sudah berusaha begitu merendah, bahkan dia tidak berani membiarkan mobil mengantar hingga kedepan pintu sekolah, tapi dari mana sebenarnya mereka mendapatkan informasi ini?


Ini membuat dia kecewa, dan yang membuatnya marah adalah para murid ini terlihat polos, namun mengapa mengatakan hal-hal yang begitu menjijikan, sungguh sangatlah buruk! Kali ini Fanie benar-benar merasakan sifat kejahatan manusia dan kejelekan manusia yang sebenarnya.


Dan juga mereka sepertinya sudah sangat tidak puas dengan dirinya sebagai murid teladan sudah menumpuk parah! Sekali ada gosip tentangnya seperti begini, para murid wanita itu langsung datang untuk menginjak dirinya, sungguh menjatuhkannya!


"Sebentar lagi akan melaksanakan ujian S2, aku mau lihat murid teladan ini apakah masih bisa sukses masuk, dengan adanya orang kaya, sepertinya dia juga tidak perlu begitu bekerja keras, orang kaya itu menjaganya dengan baik, dan tidak perlu mengkhawatirkan makan dan pakaian, tinggal menjadi seekor cacing makan beras saja sudah cukup, untuk apa ujian S2?"


Perkataan para wanita ini semakin tidak enak didengar, ini sudah lama melewati batas yang bisa diterima oleh Fanie.


Fanie terjongkok didalam toilet, dia terus saja mengigit bibirnya, kedua kakinya sudah mati rasa karena kelamaan jongkok, namun sekarang, dia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sendiri mengunci dalam toilet dalam jangka waktu begitu lama.

__ADS_1


Dia tidak bisa menerimanya, dia tidak bisa menerima ini semua, mengapa semua ini akan menjadi seperti ini? mengapa?


Hingga suara diluar sana perlahan menjauh, dan menghilang, Fanie tetap saja mengunci dirinya didalam kamar yang kecil ini, dan tidak tahan lalu mulai menangis.


dipikirnya, dulu, orang tuanya meninggalnya cepat, satu-satunya keluarga yang dia miliki adalah kakaknya, mereka hidup dengan saling menyemangati, kehidupan separah apapun juga pernah dialaminya, tidak ada makanan, mereka bisa kelaparan seharian penuh, musim dingin terlalu dingin, tidak ada selimut yang tebal, mereka mengenakan pakaian yang tipis dan sekalipun kedinginan hingga pucat, mereka juga tetap bertahan.


Namun sekarang dia sudah tidak kuat bertahan lagi!


Satu-satunya keluarga dia sudah tinggal kakaknya saja dan sekarang dia sakit parah! Dirumahnya juga tidak mempunyai pemasukan lannya, tabungan yang mereka punya sudah terpakai semuanya dirumah sakit dan meminjam banyak uang, biaya operasi sebesar 150 juta dan membayar sisa hutang jadi semua habis tanpa sisa 250 juta , bagi keluarga seperti mereka adalah sebuah angka yang tidak mungkin bisa dicapai, ini sungguh seolah menginginkan nyawa mereka kakak beradik!


Bagaimana ini? Dia tidak boleh membiarkan satu-satunya anggota keluarganya ini begini saja, waktu itu jika masih bisa menemukan cara kedua dan bisa mendapatkan 250 juta itu, Fanie berpikir bagaimanapun juga dirinya juga tidak akan mengorbankan malam pertamanya, tidak akan menjadi simpanan Arya, dan menandatangani kontrak tidak adil seperti itu, sama sekali tidak mungkin!


Sebelum itu, dia adalah seorang gadis yang baik dan menjaga diri, bahkan dia sama sekali tidak mempunyai seorang pacar, ciuman pertamanya saja bahkan masih belum diberikan kesiapapun.


Namun dalam waktu semalam, semuanya berubah, semuanya.


Awalnya semua kebaikan sirna.


Yang dia miliki juga perlahan menghilang, namun satu-satunya anggota keluarganya ini, kakak kandungnya ini, dia tidak boleh membiarkannya meninggalkna dirinya, tidak boleh!


Jika dia membiarkan dirinya sendiri terjatuh di toilet, maka hari ini seluruh sekolah pasti akan tambah sebuah lelucon besar.


Setelah keluar dari toilet, dia bertemu dengan seorang gadis yang satu sma dengannya dulu dikoridor, gadis itu bernama siska, biasanya hubungan mereka masih terhitung baik, bagaimanapun juga mereka dulunya satu sma.


"Siska, apakah kamu punya waktu atau tidak? Ada satu hal, aku ingin menanyakannya kepadamu!"


Dia bergegas memanggil Siska, seketika dia terpikiran Siska juga pasti sudah mendengar perihal dia menjadi simpanan orang, mungkin saja, Siska masih bisa tahu dari mana paling awal kabar ini keluar, lagi pula sekali ditanyakan juga tidak kenapa-kenapa, dia harus mencari tahu akan ini.


Tentu saja yang paling pentingnya adalah dia cukup percaya Siska adalah satu-satunya orang yang mungkin memberitahunya fakta disekolah ini.


Namun jelas bahwa Fanie terlalu berharap banyak terhadap teman lamanya ini , jelas terlihat orang itu juga tidak kuat menerima kepercayaan darinya.


"Ah, Fanie, aku masih ada urusan penting, aku harus segera pergi!" Awalnya Siska yang ingin pergi ke toilet karena bertemu dengan orang yang tidak seharusnya ditemui, dia bergegas memutarkan badannya pergi ketempat lain.

__ADS_1


"Aneh, Siska, bukankah kamu tadinya mau ke toilet? Mengapa kamu berlari kesana, disana juga tidak ada toilet." Meskipun dia sangatlah tidak puas dengan sikap Siska, namun dia masih saja mengingatkannya dengan baik hati.


Namun Siska yang yang terburu-buru untuk menghindar darinya mana mungkin bisa mendengar nasihatnya?


Faktanya, sekali dia berpikir ulang, rasanya Siska ini juga bersikap aneh terhadapnya.


Namun Siska sudah berlari menjauh, sekalipun dia ingin mengejarnya namun sepertinya juga sudah tidak sempat.


Dia lalu menghempaskan nafasnya, dia akhirnya pergi ke gedung guru dijurusannya, dan disalah satu kantor, dia bertemu dengan guru pembimbingnya.


Dia tidak lupa, hari ini datang kesekolah masih ada satu hal penting yang harus diselesaikan, yaitu besok harus izin ke sekolah.


"Guru, aku besok masih ada urusan dirumah, aku perlu izin satu hari."


Ketika dia mengatakan izin, dia menundukkan kepalanya, dia sedikit tidak berani bertatapan langsung dengan guru pembimbingnya.


Karena sebentar lagi akan mengikuti ujian S2, dan disaat ini, tidak ada guru pembimbing yang berharap melihat murid yang dibawanya minta izin sembarangan, minta izin satu hari ini melambangkan mungkin saja menjauh dari kesempatan untuk berhasil.


"Fanie, ada urusan penting apa dari keluargamu, dan butuh izin pada waktu seperti ini? sekarang adalah waktu paling penting, apakah kamu mengerti? Murid teladan sepertimu ini, telah ada harapan besar dari aku."


Benar saja, urusan minta izin tidak berjalan dengan sangat lancer.


"Maaf, guru, rumahku memang benar ada kejadian mendadak, kakakku sakit parah, dokter mengaturnya untuk menjalankan operasi untuknya besok, orang tuaku sudah tidak ada, keluargaku juga sudah tidak ada saudara yang di andal, jadi aku pergi minta izin satu hari ke rumah sakit namun tenang saja, setelah operasi kakakku selesai, aku akan segera memperkerjakan perawat untuknya, waktu selanjutnya ini tidak akan sembarangan aku buang lagi!" Fanie bergegas menjamin.


"Ternyata seperti itu, pantas saja! Aku sudah bilang, kamu ini dulu tidak akan sembarangan minta izin, kamu adalah anak yang pintar, kamu juga tahu yang mana yang penting, baiklah, hari ini aku kasih izin satu hari, dan lainnya jika kamu ada kesulitan dalam kehidupan, kamu juga boleh datang mencariku!"


Guru pembimbingnya itu biasanya sudah sangatlah perhatian terhadapnya, itu membuatnya sangatlah berterima kasih.


"Terima kasih guru!"


Setelah berhasil meminta izin, barulah Fanie pergi dari kantor dengan tenang.


Dia menundukkan kepalanya dan mengeluarkan hpnya, waktu terlihat masih sangat pagi, namun dia sepertinya sudah sedikit tidak tahan berada disekolah, apakah harus kembali ke kelas?

__ADS_1


Dia tidak ingin kembali, sepertinya ditempat itu sudah penuh dengan gossip tentangnya, dia kembali kekelas juga hanya mendapatkan sindiran dari para murid lainnya saja.


Terakhir, dia memegang buku ditangannya dan memilih untuk pergi ke bukit dibelakang sekolah, disana ada deretan pohon yang besar, dan halaman rumput yang hijau, dan setelah itu adalah sebuah sungai Jembatan sungai, sungai tidak mengalir dengan deras, dulu ketika tidak ada hal lain, dia paling suka berdiam disini duduk tenang atau mungkin melihat buku, tempat ini juga menjadi lahan untuk menenengkan hati baginya.


__ADS_2