Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 115 : Kamu bilang aku penjahat


__ADS_3

“Kasih kamu? Tidak bisa?” jawab Meri menolak.


“Mengapa? Bukannya CEO Arya tidak mau? Boros sekali!”


“Benar, boros sekali! Atau tidak lebih baik kasih kami saja, kami bisa bagi dan makan bersama!”


Beberapa sekretaris wanita ini biasanya memang penggila makanan, kali ini tidak mudah bisa mendapatkan makanan ini.


“Aku bilang tidak bisa ya tidak bisa, meskipun CEO Arya tidak mau makanan ini. Namun, dia juga memberi perintah jangan dibuang, sayang kalau dibuang, dan termasuk sudah diberikan padaku! Jadi, hari ini kalian tidak mendapat rejeki makan enak!”


Terakhir, para sekretaris juga tidak mempersulitnya lagi, makanan ini otomatis jatuh ke tangan Meri sendiri.


Seperti biasa Fanie diam-diam menyelinap ke ruangan kantor Arya, akhir-akhir ini perasaan gelisah akan ketahuan semakin bertambah kuat.


Arya masih tetap tenang seperti biasanya, tidak menunjukkan keanehan apa pun.


“Itu” fanie yang sedang makan, dengan ragu-ragu berniat untuk bicara.


“Kalau kamu ingin mengatakan tidak ingin makan siang bersamaku, maka tidak usah lanjut bicara lagi! Karena aku tidak mungkin akan menyetujuinya!” Arya dengan ringan melontarkan kata-kata tersebut dan langsung membuat dia menutup mulutnya.


Kebetulan fanie juga ingin dengan sabar berunding dengannya mengenai masalah ini, dia tiap hari harus sembunyi-sembunyi, segera akan terjadi masalah pada mentalnya.


“Kamu hanya peduli dengan dirimu sendiri, tiap hari memintaku datang ke kantormu, tapi pernah tidak kamu pikirkan, kamu begitu mencolok, identitas istimewa, aku harus hati-hati dan berhati-hati, takut suatu hari akan terjadi kesalahan, dan kelihatan oleh rekan kerja yang lain, kemudian akan tersebar ke seluruh perusahaan, sampai saat itu kamu baru melampiaskan amarah, baru merasa puas, begitu?” Ada sedikit amarah di hatinya.


“Tidak bisa ya tidak bisa! Kamu sekarang sudah berani tidak mendengarkan kata-kataku?” Arya emosi, menggebrak hingga sumpit di tangannya terlempar, makanan ini juga tidak bisa dilanjutkan lagi.


“Buat apa kamu marah seperti itu, apa aku mudah datang kesini sembunyi-sembunyi! Setiap hari seperti pencuri! Kamu yang enak, kamu duduk di sini tanpa bergerak, kamu tidak perlu melakukan apa pun, makanan ada asisten yang pesan, makan siang harus ada yang menemanimu makan!” Sambil bicara, rasa kesal dalam hatinya muncul tanpa sebab, tanpa sadar matanya juga menjadi merah.

__ADS_1


Tapi keluhannya ini terdengar oleh telinga Arya malah berubah menjadi maksud lain.


Ternyata, dia bukan atas kemauan dirinya sendiri dan bersedia untuk menemaninya makan siang! Dia terpaksa, takut dengan sikapnya yang dihormati, baru mau tidak mau harus datang.


“Benar, aku memang begitu! Lalu apa? Kamu tidak puas?” Arya berdiri perlahan, selangkah demi selangkah mendekati Fanie yang duduk di sofa.


fanie saat ini berteriak, tidak terasa dirinya sekali lagi menimbulkan kemarahan Besar Boss Arya ini.


Sepasang matanya menjadi merah, sepertinya sudah sangat marah.


“Tentu saja aku tidak puas, bukankah sekarang aku datang untuk berunding denganmu?” kata dia kesal, mengeluarkan rasa jengkelnya.


“Sangat bagus, kamu datang ke kota ini, kelihatannya sayap kamu juga sudah keras, bukankah begitu?” Dia telah mendesak fanie hingga sudut sofa, perawakan dia yang tinggi besar, melingkari fanie yang kecil di sudut sofa, sesaat membuat dia tidak bisa berkutik.


“Apa yang ingin kamu lakukan? Di sini adalah kantor kamu, kamu jangan sembarangan!” fanie mendongak dan bertatap dengan sepasang mata yang merah, tak kuasa menahan rasa dingin, dia yang biasanya serius sudah membuat orang dengan sendirinya akan muncul rasa hormat padanya, apalagi dia yang sedang marah, seperti singa yang memberontak, kapanpun bisa menyerang kemudian menggigitnya dengan ganas, menggigitmu hingga sekujur badan penuh luka dan menyedihkan!


Saat fanie menyadari adanya bahaya, dia baru teringat untuk menghindar, namun mana ada kesempatan untuk menghindar? Dia telah didesak oleh Arya yang sedang marah besar hingga ke sudut sofa, tidak bisa mundur, kabur dari depan lebih tidak ada kesempatan lagi.


Saat ini, dia sungguh sangat menyesal dan menderita dan merasa tidak bisa hidup.


Kalau saja dari awal tahu orang ini tidak bisa diajak bicara baik-baik, kalau saja tahu tabiatnya yang berubah-ubah, kalau saja tahu dirinya tidak boleh membuat dia marah, tapi justru semua ini masih saja terjadi, tapi dirinya sendiri justru tidak mau menerima begitu saja.


Dia semakin mendekat, hidungnya tercium aroma melon di tubuh fanie, dia tahu ini adalah sabun mandi kesukaan fanie, terbaur dengan aroma tubuhnya sendiri, malah aromanya menjadi sangat enak.


Tentu saja, masih ada aroma makanan yang mereka makan tadi, ini termasuk bau sedap makanan.


Kemudian, tubuhnya refleks ingin bertindak.

__ADS_1


“Aku datang ingin berunding denganmu saja.” Dia ditekan oleh pria yang berat bagai gunung ini, merasa udara yang ada di dadanya terpompa keluar, sekarang merasa sangat tidak nyaman, namun dia juga tahu, pemberontakannya tidak berguna sama sekali jika Arya tidak bersedia beranjak bangun.


Di depan dia yang kuat, dirinya bagaikan seekor burung kecil yang lemah, hanya bisa dikendalikan olehnya.


“fanie kamu sudah lupa, kamu lupa kamu mengikuti maksud semula aku! Sekarang ingin tawar menawar denganku, apakah ini menarik? Ehm? “ Lidah beracun Aryq, sekali lagi tanpa ampun menyerang dirinya.


“Benar, aku tidak berani lupa, dan aku juga tidak pernah lupa!” fanie menggigit bibirnya, dia sendiri yang memilih jalan ini, dia tidak pernah menyesalinya, terlebih tidak berani menyesal. Hanya bisa memaksakan diri untuk tetap bertahan, tidak peduli prosesnya begitu sulit, dia hanya bisa menahan sambil menggertakkan gigi.


“Tapi, aku juga manusia, aku seorang wanita yang hidup!” Ada saatnya dia tidak mampu menahan lagi, dia juga bukan manusia besi yang bisa menaklukkan semuanya.


“Kamu tahu kamu seorang wanita itu bagus, wanita memiliki kegunaan yang besar, tahu utnuk apa? Kalau kamu masih tidak jelas, maka sekarang apa boleh aku langsung menjalankan hak aku?”


“Arya, kamu sekarang menjadi penjahat di siang bolong, apa kamu tahu?” Dada fanie menjadi dingin, tunggu dirinya sadar sudah terlambat, dia marah hingga hanya bisa memukul pundak Arya dengan kuat, namun tubuh Arya memang kuat, dipukul seperti ini pun, sudah pasti seperti bermain dengan anak kecil, sama sekali tidak ada tenaga yang bisa melukai.


“Penjahat? Kamu bilang aku penjahat, baik, kelihatannya aku harus menunjukkan padamu, apa itu penjahat sungguhan!” Dia tersenyum jahat, sambil menundukkan kepalanya, benar-benar menggunakan kekuatan tubuhnya untuk menunjukkan sifat penjahat.


“Ah, apa yang ingin kamu lakukan?” fanie menjadi merinding, ingin menghentikan pria yang telah berubah menjadi harimau ini dari atas tubuhnya, namun sudah terlambat. Dia berhasil membangkitkan api kemarahan Arya, gairah dia, jika tidak membantu dia memadamkan api ini, maka akibatnya sangat mengerikan.


Arya sudah tidak peduli lagi, saat ini tidak membuatnya kenyang, dia tidak akan berhenti.


Dia yang dulu, kata orang adalah pria tampan baik yang tersohor sekali di kota Bandung, namun dia juga tersohor karena tidak mendekati wanita. Tentu saja, selain ada perjamuan yang sangat penting, wajar banyak rayuan yang tidak bisa dihindari. Namun dia menganggap daya pengendalian dirinya juga tidak terlalu baik, namun dia tetap bisa mengendalikan dengan mudah.


Tapi sekarang, dia malah tidak terkontrol lagi.


Ada kalanya karena satu dua patah kata fanie yang acuh tak acuh dan melawannya, bahkan tindakan kecil fanie yang tidak sabar, juga bisa memicu amarahnya.


Daya pengendalian dirinya, tidak pernah seburuk sekarang ini, tentu saja dia yang begitu berapi-api sekarang, benar-benar tidak menyadari hal itu di saat ini.

__ADS_1


__ADS_2