
Setelah selesai makan malam, Arya sendirian berjalan ke atas dan kembali ke ruang kerjanya.
Namun setelah kembali ke ruang kerja, hal pertama yang dia lakukan adalah menggunakan ponsel pribadinya untuk menelepon asisten pribadinya.
Meri sedang makan, ketika dia melihat sederetan angka yang menandakan telepon dari Boss Besar di layar ponselnya, dia seketika ingin melemparkan ponselnya, karena biasanya jika ponselnya berdering sekitar jam segini berarti dia akan segera memiliki tugas dan pekerjaan baru! Dengan begini, bisakah dia tidak depresi?
Namun, dia enggan melemparkan ponselnya, bahkan tidak berani untuk tidak menjawab telepon bossnya.
Pada akhirnya, dia mengangkat panggilan itu juga.
Bos Arya!"
“Mer, kamu harus memeriksa satu hal sekarang!” Tatapan Arya Putra ini kelihatan sangat serius dan suaranya sedikit lebih serius dari sebelumnya.
"Baik, Bos! Langsung saja perintahkan!" Jawab Meriando serius.
"Aku ingin kamu segera memeriksa mengapa Fanie bisa terluka di kampus hari ini? Aku curiga ini adalah kesengajaan orang, kemungkinan dia memiliki perselisihan atau konflik dengan teman sekelas lainnya di kampus, aku ingin segera tahu kejadian yang dialaminya di kampus hari ini!” Perintah Arya dingin.
"Apakah Nona Fanie terluka? Baik, Boss, aku akan segera pergi ke kampus untuk memeriksanya dan aku akan segera melaporkan hasilnya!" Jawab Meriando dengan tegas.
__ADS_1
Setelah mengakhiri telepon Boss Besar, Meriando menepuk wajah yang kelihatannya penuh keluhan.
Fanie lagi ?
Apakah Bos Besar ini benar-benar menyukainya? Kalau tidak, saat ini dia tidak akan menghabiskan begitu banyak perhatian pada Nona Fanie ini, bukannya hanya terluka saja, sejak kapan Bos Besar ini begitu peduli dengan hal-hal kecil pada wanita di sekitarnya? Ini sangat aneh!
Berdasarkan pengalamannya, dia merasa bahwa kali ini benar-benar berbeda, apakah kali ini Bos Arya ini benar-benar serius?
Meriando si meri ini sebenarnya sedikit bingung.
Meskipun dia bingung, dia tidak bisa menunda pekerjaan untuk memeriksa masalah ini, dia melihat tiga hidangan yang baru saja dia pesan di meja makan, yang baru saja dicicipinya beberapa suap, namun setelah menerima telepon ini, nafsu makannya langsung musnah.
Dia mengambil mantelnya dan memanggil pemilik restoran, setelah selesai membayar, dia pergi dengan tergesa-gesa menuju kampus Fanie.
Setelah Fanie selesai makan malam, dia naik ke atas dengan membawa buku-bukunya, lampu ruang kerja masih menyala, pintunya ditutup rapat, Fanie berjalan kembali ke kamar tidurnya.
Dia mandi terlebih dahulu kemudian memakai satu set piyama lengan panjang yang tertutup penuh, sehingga luka dan memar di tubuhnya dapat ditutupi dan tidak terlihat olwg Arya,.
Setelah Arya selesai menelepon Meri, dia duduk di kursi kerjanya, laptop yang dia gunakan untuk kerja ada di atas mejanya sedang terbuka, tetapi dia masih tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan di depannya.
__ADS_1
Entah kenapa, dia terus teringat adegan ketika dia membantu Fanie membersihkan luka dan mengoleskan obat di ruang tamu, dia juga teringat dirinya yang mengigit bibir akibat menahan sakit yang dirasakannya.
Dia mengepalkan tangannya kemudian memukul meja dengan pukulan yang sangat kuat.
“Sialan!” Siapa sebenarnya yang melalukan semua ini pada wanita milik Ku ? Apakah dia sudah bosan hidup?
Dia percaya pada kemampuan Meriando, namun saat ini dia sepertinya tidak bisa sabar menunggu lagi, bagaimana ini?
Fanie sedang belajar di kamar tidurnya, namun tiba-tiba terdengar sebuah suara aneh berasal dari ruang kerjanya, dia berdiri di depan pintu menatap pintu ruang kerja yang tertutup rapat dengan khawatir, dia bingung apakah harus berjalan kesana melihatnya? Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam mengingat suara aneh tadi?
Namun itu adalah ruang kerjanya. Bisnisnya rata-rata dimulai dari ratusan juta hingga milyaran, semua dokumennya adalah dokumen rahasia, dia sebagai orang luar tidak pernah masuk ke dalam ruang kerjanya, dan tidak berkeinginan untuk masuk kesana.
“Sudahlah, apa yang bisa terjadi padanya? Dia adalah orang dewasa, suara ini mungkin saja hanya suara barang terjatuh ke lantai? Fanie, kamu jangan menakuti dirimu sendiri!” Dia berdiri beberapa saat di depan pintu dan berjalan kembali ke meja rias.
Setelah dia tiba di meja rias, dia kembali memegang buku di tangannya ingin lanjut belajar, namun saat ini dia tidak bisa berkonsentrasi pada bukunya.
Dia mengurus bisnisnya sendiri, pekerjaannya memiliki beban yang cukup berat, saat dia sedang dalam suasana tidak baik, tidak ada orang yang mengantarkan segelas kopi atau susu untuknya, semakin dipikirkan dia semakin khawatir padanya kemudian dia bangkit kembali.
Kali ini dia meyakinkan dirinya untuk turun ke bawah mengambil susu.
__ADS_1