Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 026 : Apakah hanya berjalan saja bisa membuatmu terjatuh?


__ADS_3

Di depan gerbang kampus, supir Arya Putra sudah lama menunggu di sana.


Supirnya tidak ingin merepotkan Bos Besar Arya-nya yaitu Tuan Muda Arya mengenai hal kecil ini.


Namun, dikarenakan supirnya tidak memiliki nomor ponsel Fanie, dia tidak dapat menghubungi Fanie, apa lagi waktu yang disepakati mereka sudah berlalu lama, sebelumnya mobilnya parkir di persimpangan tadi pagi saat dia meninggalkan mobil dan sesuai dengan jadwal waktu yang disepakati.


Tetapi setelah supir menunggu beberapa saat di persimpangan dan tidak melihatnya, kemudian dia memutuskan untuk membawa mobilnya sampai di depan gerbang kampus.


Pintu depan kampus hanya ada satu, semua mahasiswa masuk dan keluar melalui pintu ini, dia menghentikan mobilnya di depan gerbang karena merupakan posisi termudah untuk dikenali dan posisi terbaik untuk menjemput orang.


Namun setelah dia terus menunggu lama, orang yang harus dijemputnya masih belum muncul, saat ini dia menjadi panik kemudian buru-buru menelepon Bos Arya, menunggu instruksi selanjutnya dari Boss Besar Arya.


Fanie berjalan keluar dari gerbang sekolah dan melihat sebuah mobil yang menonjol sedang parkir di pinggir jalan, tidak tahu kenapa, lebih dari satu atau bahkan ada belasan mobil mewah yang parkir di depan gerbang kampus, banyak juga yang berwarna hitam, tapi dia bisa sekilas langsung mengenali 'mobil khususnya' tersebut.


“Non Fanie, disini!” Supir telah melihat Fanie berjalan keluar dari gerbang sekolah dan melambaykan tangannya dengan cepat.


Sebenarnya Fanie sudah tahu bahwa mobilnya parkir di sini.


"Maaf telah menunggu lama, ada yang harus diselesaikan di kampus sehingga aku terlambat keluar!" Fanie meminta maaf kepada supir ketika menghampirinya.


Dia tahu bahwa supir telah lama menunggunya.


Dikarenakan dia tidak taat pada waktu yang sudah disepakati, sehingga menyiakan banyak waktu.


"Tidak apa-apa, aku hanya takut sesuatu yang terjadi padamu, jadi aku buru-buru menelepon Bos Arya, apakah Bos Arya menyalahkan Anda?" Supir sangat jujur padanya.


"Tidak, ayo kita pulang!" Fanie tidak ingin berdiri terlalu lama di depan kampus, lagi pula mobil ini terlalu mencolok, dia baru saja di gosipin di dalam kampus bahwa dirinya adalah wanita simpanan orang kaya, sehingga dia semakin hati-hati pada sekitaran takut meninggalkan bukti pada isu yang lagi tersebar di kampusnya saat ini.


“Baik!” Supir segera masuk ke dalam mobil bagian kemudi.


Ketika dia berada di kursi belakang, Fanie merasa lega, ketika dia berjalan keluar dari gerbang sekolah, dia merasakan kakinya terluka, karena saat dia berjalan terasa sakit, sehingga cara dia berjalan kurang lebih terlihat tidak normal, untungnya supir tadi tidak memperhatikannya, jika tidak, kemungkinan dia bisa diwawancarai dengan berbagai kekhawatiran yang ada.


"Jika dilihat dari luar, kampus disini sangat bagus, tidak heran keponakanku sangat ingin masuk kuliah di kampus ini, sebelumnya aku tidak punya kesempatan datang ke sini, namun hari ini aku akhirnya kesampaian juga.” Supir mengobrol dengannya di tengah jalan agar tidak terasa bosan.


“Lumayanlah! Jika dia benar-benar ingin kuliah disini, maka berusahalah! Tapi, sebenarnya, sekolah ini tidak sebaik yang dibayangkan di dunia luar, ada siswa yang perilakunya tidak baik karena masuk melalui jalan pintas, pada awalnya semua orang bisa melakukan apa saja, namun pada akhirnya mereka masih harus mengandalkan kemampuan sendiri untuk menahan diri! "Mungkin karena kejadian yang terjadi padanya hari ini membuat dirinya merasa jijik.


Sebenarnya kampus ini juga merupakan kampus idaman dia sebelumnya.


Tapi sekarang semua yang ada di kampus ini jelas mengecewakannya.

__ADS_1


“Jadi, apakah suasana kampus ini tidak begitu bagus?” Supir adalah orang yang cerdas juga, dia dengan cepat menangkap makna sensitif dari perkataannya.


"Bisa dikatakan begitu, ada berbagai kelompok orang di kampus, bahkan bisa lebih rumit dari pada dunia luar, tentu saja ini hanya merupakan jumlah yang sangat kecil." Lagi pula, setelah sebulan kemudian, selama dia bisa melewati sebulan ini, setelah dia menyelesaikan ujian untuk memasuki program pasca sarjana, dia dapat sepenuhnya meninggalkan kampus ini.


Awalnya, dia masih bisa melanjutkan pasca sarjana di kampus ini, tetapi setelah isunya tersebar luas, dia mendadak tidak ingin tinggal disini lagi, jika bisa, dia berharap untuk pergi sejauh mungkin, meninggalkan tempat ini sesegera mungkin, kemudian pergi ke tempat baru dan memulai hidup baru.


Tidak ada yang mengenalnya, tidak ada yang mengetahui masa lalunya, dia dapat menjadi sosok dirinya sendiri yang asli dan bisa semakin berusaha menjalankan hidupnya sebaik mungkin di sebuah tempat baru.


"Oh, serius? Kalau begitu aku akan memberitahu keponakanku, sebenarnya menurut pendapatku, ada banyak kampus yang bagus di dunia ini, mengapa harus berpatokan pada kampus satu ini, tapi keponakanku sedikit keras kepala, nanti aku akan membujuknya." Supir refleks terpengaruh pada keinginan keponakannya yang ingin kuliah di kampus ini, jika suasana kampusnya tidak baik, apa yang perlu dipertahankan lagi atas sikap keponakannya untuk kuliah di kampus ini?


Menurutnya, seseorang memiliki karakter yang bagus lebih penting daripada prestasi akademik.


Mobil dengan cepat melaju kembali ke villa di daerah pegunungan, Bibi Leni sudah sibuk di dalam villa.


“Non Fanie, kamu sudah pulang, apakah kamu lelah, apakah kamu ingin minum segelas jus segar, aku baru membuatnya setengah jam yang lalu.” Bibi Leni mendengar suara mobil dari luar sana, bergegas lari keluar dari villa.


"Boleh, berikan segelas pada supir juga, dia telah lama menungguku tadi." Fanie menambahkan dan tidak menolak tawaran Bibi Leni dan menyuruh supir masuk istirahat.


"Tidak, aku tidak perlu masuk, Bos Arya sebentar lagi akan pulang." Supir tidak mungkin masuk ke dalam kemudian menolak tawarannya dengan sopan.


“Tidak apa-apa, kalau begitu minumlah segelas jus!” Fanie hendak masuk ke dalam villa untuk mengambil jus, namun Bibi Leni sudah mengantar dua gelas dari dalam.


“Terima kasih Non Fanie!” Supir tersenyum senang ketika menerima segelas jus yang segar, dia telah lama bekerja sebagai supir Bos Arya, namun baru pertama kali mendapatkan perlakuan yang begitu baik yaitu diberi segelas jus segar. Tentu saja, ini bukan berarti Bos Besar Arya tidak baik kepadanya.


Sebenarnya sebagai supir dari Bos Besar Arya, gaji yang diberikan sangat memuaskan, tetapi bagaimana pun Bos Besar Arya adalah orang yang sibuk, dia tidak akan melakukan hal kecil seperti ini, bahkan sebelumnya banyak wanita lain yang pernah mengikuti Bos Besar Arya sangat memandang rendah dirinya sebagai supir, sehingga tidak mungkin ada yang memberinya jus segar.


Meskipun hanya segelas jus, Fanie jelas telah berhasil menaklukkan supir ini.


Setelah supir pergi, Fanie kembali masuk ke dalam villa dan hendak naik ke atas untuk mandi, saat itu juga Bibi Leni memperhatikan memar yang berada di sikunya.


"Oh, Non Fanie, apakah kamu terluka?"


Fanie tidak memperhatikan posisi lukanya, tetapi dia merasakan sedikit sakit, tidak hanya di sini namun juga pada posisi tubuhnya yang lain yang berusaha ditahannya.


"Mengapa bisa begini? Sepertinya luka tergores, mengapa kamu tidak berhati-hati?" Bibi Leni tampak kasihan padanya, "Ayo kesini, disini ada kotak P3K, aku akan membersihkan lukamu, lalu oleskan sedikit obat, jika tidak aku takut lukanya mudah terinfeksi dan meradang.


Kemudian Fanie dibawa paksa oleh Bibi Leni dan duduk di sofa di ruang tamu, Bibi Leni mengambil kotak P3k yang setelah dibuka memperlihatkan beraneka ragam obat-obatan, bahkan lengkap dengan alkohol dan kain kasa.


“Bagaimana mungkin villa ini memiliki kotak P3K yang begitu lengkap?” Tanya Fanie kaget.

__ADS_1


"Oh, den arya telah mengatakan bahwa harus disediakan disini, den arya memiliki bisnis besar, permintaannya tentu saja juga lebih luas dari pada orang lain, kami hanya bisa melakukan sesuai permintaannya!" Bibi Leni mengeluarkan alkoholnya.


"Kamu sabar ya, setelah alkohol menyentuh kulitmu akan terasa nyeri, tapi setelah itu semuanya akan baik-baik saja!"


Sebelum Bibi Leni membersihkan lukanya menggunakan alkohol, dia tidak lupa mengingatkannya terlebih dahulu.


Saat ini juga, pintu villa tiba-tiba terluka.


Ketika Fanie menoleh ke arah pintu, dia menemukan bahwa pemilik villa ini yaitu Bos Besar sudah pulang.


“Apa yang kalian lakukan?” Saat Arya memasuki villa, tatapannya yang tajam mulai mengarah pada sosok wanita kecilnya.


"Den, siku tangan Non Fanie sedikit terluka, aku sedang membersihkan lukanya dan mengoleskan obat." Bibi Leni menghentikan tangannya dan menjawabnya.


“Coba aku lihat!” Arya segera mempercepat langkahnya dari tiga langkah menjadi dua langkah menuju ke arah sofa ketika mendengar bahwa gadis kecilnya terluka.


Bibi Leni refleks bangkit dan berjalan ke samping.


Fanie tidak ingin dia mengetahui bahwa dirinya terluka, namun dia malah pulang ke rumah saat dirinya sedang di oleskan obat, sehingga dirinya pasrah karena tidak dapat menyembunyikan kondisinya.


Arya pelan-pelan mengangkat lengannya sehingga bisa melihat lukanya dengan jelas.


Dia bertanya dengan alis yang berkerut, "Bagaimana bisa begini? Kamu pergi kuliah dan pulang dengan kondisi seperti ini? Ini jelas bekas luka yang terjadi di tempat terbuka."


Lukanya tidak terlalu parah, hanya sedikit goresan, namun Arya tidak bisa menahan diri untuk tidak marah.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit luka goresan, tadi aku tidak sengaja terjatuh ketika berjalan kemudian sedikit terluka." Dia tidak ingin memberitahu Arya mengenai kejadian yang terjadi di kampusnya, dia bisa sendiri menghadapi segalanya.


"Tidak sengaja terjatuh ketika berjalan?


Kamu memang hebat!


Apakah hanya berjalan saja bisa membuatmu terjatuh?


Fanie, bisakah kamu mengatakan yang sejujurnya apa yang terjadi? Apakah seseorang mendorongmu terjatuh? Atau kamu berkelahi dengan orang? "Arya bukan anak-anak, alasan tidak sengaja terjatuh yang di gunakannya sangat tidak masuk akal, bagaimanapun dia tidak akan mempercayainya begitu saja.


“Tidak, tidak ada yang berkelahi denganku, aku benar-benar terjatuh sendiri !!


Sakit pada tubuhnya semakin terasa, namun pria ini masih berdiri di sini dan memarahinya dengan serius, sakitnya menjadi berlipat ganda.

__ADS_1


__ADS_2