Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 126 : Kecewa, sungguh sangat kecewa!


__ADS_3

"Julia, apa maksud ayahmu ini?" Dengan penuh tanda tanya, ibu Julia pun berpaling menghadap kepada putrinya dan bertanya kepadanya.


"Bu, aku juga tidak tahu apa maksud perkataan ayah." Dengan wajah tersakiti, Julia pun kemudian menghadap ke arah ayahnya dengan wajah memelas, :Yah, apa maksud perkataan ayah?"


"Lihatlah baik-baik!" Arto tidak berkenan untuk banyak bicara, hingga kehabisan kata-kata, bisa-bisanya dia mempunyai anak seperti ini, sebagai ayah, dia merasa sangat gagal!


Ponselnya dibuangnya begitu saja ke atas sofa di sebelahnya.


Julia berdiri tak bergeming, dengan curiga dia melihat ke arah ponsel itu, dia merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan, seolah ada sesuatu tentangnya yang tersimpan di dalam ponsel itu.


Dia tidak bergerak, tapi ibunya dengan tanggap mendekat ke sofa, dan dengan tangan gemetar dia memungut ponsel suaminya itu ke arahnya.


"Sayang, apa yang ada di dalam ponselmu ini?"


"Lihat-lihatlah sendiri video yang ada di dalam situ." Amarah Arto meledak-ledak, sorot mata penuh amarahnya menyorot dengan tajam.


Julia seketika terpaku, video? Pastinya buka video yang berhubungan dengannya bukan? Tapi, bagaimana bisa video itu sampai di ponsel ayahnya?


Demi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, ibu Julia tidak mengulur waktu lagi dan segera melihat-lihat video yang ada di ponsel suaminya, setelah memeriksa isi dari video itu, alhasil, memberinya suatu gambaran yang amat mencengangkan.


Julia meilhat ibunya yang tadinya tampak biasa-biasa saja, tapi tiba-tiba terdengarlah suara aneh dari video itu, setelah didengar-dengar, suara aneh itu, sepertinya adalah suaranya sendiri ketika sedang memaki-maki.


Wajahnya memucat, karena dia sudah mendengarnya, suara marah-marahnya itu, adalah saat setelah dia mendapatkan surat bahwa dia dipecat, dia menuju ke bagian HRD, dan membuat keributan besar di kelompok magangnya.


"Ibu" Tanpa sadar, dia pun tiba-tiba merasa takut.


Selama ini, selama dia di rumah, di hadapan ayah ibunya, dia selalu berperilaku seperti seorang gadis baik-baik dan penurut, jangankan memaki-maki orang dengan perkataan yang begitu kejam, bahkan sepatah kata kotor pun tidak pernah dia ucapkan.


Sekarang setelah kedua orang tua melihat isi dari video itu, mereka terlihat sangat-sangat kecewa.


"Jangan panggil aku ibu! Aku hanya akan bertanya satu kali ini saja, Julia, apakah orang yang ada di dalam video ini, sungguh adalah kamu? Sungguh Julia ku yang selama ini ku raat dan ku besarkan?" Ibu Julia tidak bisa mempercayai semua yang ada di depannya itu.


Putrinya yang biasanya selalu tampak berpendidikan itu, saat berada di luar, tiba-tiba berubah menjadi sesosok berandalan yang tidak ia kenali?


"Ibu, maafkan aku, saat itu otakku pasti bermasalah, jadi melakukan hal-hal seperti itu, tapi sekarang aku sudah menyesalinya, aku menyesal saat itu menjadi begitu agresif, aku juga terlalu marah, seketika kehilangan kendali akan diriku sendiri, barulah melakukan kesalahan seperti itu!" Dia segera menunduk dan mengakui kesalahannya, di hadapan fakta dan bukti keras ini, dia benar-benar tidak berdaya untuk menyangkal dirinya sendiri.


Sekarang ini, kedua orang tuanya, adalah harapan terakhir baginya.


Jika kedua orang tua nya juga kecewa kepadanya, maka, esok hari nya dia tidak akan lagi memiliki siapapun unuk bersandar.

__ADS_1


"Maksudmu, ini sungguh kamu yang melakukannya, iya? Julia, mengapa kamu begitu bodoh? Ayah dan ibu mengajarimu bagaimana dari kecil? Buku beberapa tahun ini, juga percuma kamu baca, percuma kamu pelajari!" Ibu Julia berkata dengan pedih.


Keluargaku hanya mempunyai seorang anak perempuan ini saja, anak semata wayang ini merupakan kesayangan kedua orang tuanya, secara alami mereka pun juga mengharapkan sesuatu yang istimewa dari Julia, tapi sekarang, bukannya melakukan sesuatu yang bisa mereka banggakan, justru membuat mereka merasa begitu kecewa dan marah.


"Ibu, aku memang salah, aku sungguh tahu bahwa aku ini salah!" Julia pun menundukan kepala sambil meremas tangannya.


"Sekarang kamu tahu, karena terbiasa memanjakannya, sekarang dia menjadi seperti ini kan? Di luar dia berulah, membuat keributan di kantor orang, lalu saat pulang, dia pun membohongi ayah ibunya, anak seperti ini, siapa yang akan mempercayainya nanti?" Sebagai kepala keluarga, tentunya Arto lah yang paling bergengsi.


"Ayah, aku bukannya sengaja, saat itu aku begitu emosi, si fanie itu, adalah yang memulai pertikaian denganku, dia juga tidak lebih baik dariku, tapi aku merasa tidak adil, tidak adil mengapa kantor hanya memecat aku seorang, mengapa dia juga tidak dipecat, saat adu mulut, bukan aku seorang yang ribut! Jadi, si fanie itu tentunya juga punya pendukung yang kuat di perusahaan!"


Sampai sekarang ini, Julia masih merasa tidak adil.


"Sekarang ini uruslah dirimu sendiri, jangan tunjuk orang lain! Kamu harus merenenungi dengan baik-baik kesalahanmu itu!" Arto pun menceramahinya.


"Tapi, aku juga sangat dirugikan, bukankah kamu ayah kandungku? Mengapa kamu tidak berdiri di kubu yang sama denganku, dan mewakiliku, atau jangan-jangan, kalian juga merasa bahwa si fanie benar, fanie itu tidak melakukan kesalahan apa pun?" Julia merasa diujung tanduk, bahkan orang tuanya sekalipun bahkan seolah berpihak pada Fanie.


Di dunia ini, siapa lagi yang akan berdiri dan melihat dari sudut pandangnya, membelanya?


Tidak ada, satu pun tidak ada.


Bahkan keluarganya pun tidak.


"Ayah, ibu, aku sudah bilang, kata-kata yang kuucapkan saat bertikai itu, itu semua hanyalah kata-kata yang kuucapkan tanpa melewati otak, semuanya itu hanya gertakan belaka! Mengapa kalian terus menerus tidak melepaskannya?" Sebenarnya Julia pun merasa, bahkan dia sendiri sepertinya tidak akan bisa mempertahankan keluarga ini.


"Luapan emosi belaka juga merupakan suatu kesalahan! Jika memang salah ya salah!" Ibu Julia lahir dalam keluarga dengan pengajaran ketat di rumah. Konsep di tulangnya masih sangat tradisional dan konservatif.


"Mengapa sekarang yang kalian pikirkan, bukan lagi masalah tentang pemecatanku! Kalian ini ayah ibuku, saat ini bukankah seharusnya mencari koneksi, untuk melihat bagaimana menyelesaikan situasi ini? Bisa tidak membuat perusahaan membatalkan pemecatanku? Ini barulah masalah yang sesungguhnya!" Julia bertanya secara geologis.


Arto mengungkapkan kemarahannya yang sebenarnya kepada putrinya yang tidak tahu bagaimana harus bertobat dan sangat fasih berbicara.


Hanya terdengar suara "PLAK", tamparan tangan penuh amarah Tangan Arto pun melayang.


Kemudian setelah suara tamparan yang jelas nan nyaring itu, terlihat bekas tamparan 5 jari tangan di wajah putih Julia .


Wajah yang terasa panas membara, dan suara yang mengiang di telinga, tiba-tiba membuatnya tesadar, bahkan Julia pun tidak memiliki kesempatan untuk menghindar, hanyalah sebuah tamparan keras, dan suara yang memekakan telinga, membuat pandangannya kabur, dan dia pun terhuyung lalu terjatuh.


Setelah sensasi tertamparnya, Julia masih tertegun, dia yang seorang permata keluarga ini hingga sekarang, ini pertama kalinya ayahnya memukulnya, dan memukulnya dengan amat keras pula.


"Ayah menamparku? Karena masalah seperti itu, ayah menamparku?" Julia yang tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini pun, secara natural merasa tidak bisa menerima hal yang menimpanya ini.

__ADS_1


"Aku ini ayahmu, aku dan ibumu membesarkanmu sampai sekarang, kamu bukannya berusaha untuk menjadi pribadi yang baik, malahan belajar yang tidak baik di luar sana, aku tentu juga punya hak untuk mendisiplinkanmu! Aku memukul mu, lalu kenapa?" Bagi Arto, meskipun dia kehilangan kendali dan menampar putrinya sendiri, dalam hati dia pun juga merasa menyesal, tapi sikap putrinya ini, sungguh membuatnya kehabisan kata-kata, rasa penyesalan yang timbul di hatinya pun, juga serentak lenyap begitu saja.


Sambil memegang wajahnya yang terasa sakit, Julia pun meneteskan air mata.


Dia berusaha untuk tegar, dia merasa tidak adil di luar, dan ssat pulang ke rumah sekali pun, dia juga menemui hal yang menyebalkan, hatinya tidak bisa menerimanya begitu saja.


Meskipun ibu Julia juga sangat menyayangi putri semata wayangnya itu, tapi, saat suaminya memberi pelajaran kepada putrinya, dia juga tidak berani memotong di tengahnya, menghindari kecurigaan akan memanjakan putrinya.


"Jika kamu tidak belajar untuk bicara baik-baik, lain kali aku tidak hanya akan menamparmu dengan tangan, aku akan memukulmu dengan tongkat!" Arto begitu marah hingga dia memuntahkan kata-kata itu, "Kamu menangis, menangisi apa?


Apa kamu masih punya muka untuk menangis di sini? Wajahku ayahmu ini, sudah kamu coreng, kamu pulang dan bahkan berbohong kepada ayah ibumu, apa kamu ini ornag? Kamu tidak mengatakan dengan jujur kepada kami, dan kamu dengan bodohnya menyuap orang, meminta pertolongan bicara baik-baik agar bisa dibantu dari dalam, sekarang video itu malah diberikan olehku dari orang luar."


Di depan putrinya, Arto tidak takut mengungkapkan kebenarannya.


"Karena kebohonganmu, hal yang kamu tutupi, semua orang sekarang pasti membenciku, dan mereka pasti tidak akan mau lagi berhubungan denganku, aku pun kehilangan relasi setinggi itu! Jika kamu tahu, untuk mempertahankan sebuah relasi, itu sangatlah tidak mudah, tapi untuk menhancurkan hubungan yang dibangun dengan keringat dan darah itu, dengan mudahnya hanya membutuhkan waktu sekejap!"


Julia mendengarkannya, dan akhirnya mengambil kesimpulan darinya.


Dengan air mata bercucuran dia pun berkata dengan terbata-bata, "Jadi, ayah sekarang ini begitu murka, hingga sampai menamparku, itu karena aku mempermalukan ayah, dan melukai martabatmu hingga kamu tidak bisa mendongakan kepala, ini adalah alasan marahmu yang sebenarnya, iya lan?"


Ternyata, di hati ayahnya, wajah dan nama, itu lebih penting dari padanya.


Keberadaannya sebagai putrinya ini, sebenarnya apa?


Arto hanya berdeham, dan tidak mengatakan balasan apa pun.


Saat ini, Julia menangis dan menutupi mulutnya, kemudian menuju ke pintu depan, dan berlari keluar.


Kecewa, sungguh sangat kecewa!


Di keluarga ini pun, sepertinya juga sudah tidak ada lagi tempat baginya untuk harus tinggal.


Dengan amarah yang menutup pandangannya, Julia berlari sekencang-kencangnya. Saat ibu Julia akhirnya merespon, dan akhirnya memutuskan untuk mencarinya, saat dikejar ke jalan,dia tidak melihat bayangan tubuh putrinya itu?


"Julia, Julia, kamu dimana? Jangan sampai kamu tidak bisa berpikir jernih!"


Tapi meskipun dia berteriak-teriak sekuat tenaga, putrinya itu tidak muncul.


"Julia, jangan menghilang seperti ini, jika tidak, bagaimana ibumu ini bisa terus hidup!" Kemudian, dia bersandar di sebuah tiang di pinggir jalan, matanya penuh dengan rasa kekhawatiran.

__ADS_1


Saat Arto mengejar keluar, dia hanya melihat istrinya yang bersandar pada sebuah tiang, dan menangis pilu tak henti.


__ADS_2