Cinta Merubah Segalanya

Cinta Merubah Segalanya
Bab 122 : Tidak tahu diri


__ADS_3

Fanie tertegun, lalu menjawab sambil tersenyum kecil, “Kamu mengira ada hubungannya dengan aku? Haha, kalau begitu aku sungguh berterima kasih kamu sudah menjunjung tinggi aku!”


“Kamu”, Julia emosi sekali, “Terus terang sama aku, apakah kamu punya sandaran di belakang perusahaan? Dan orang itu pasti yang latar belakangnya kuat! Kalau tidak, kemarin baru saja mempersulit dan bertengkar dengan kamu, kenapa hari ini tiba-tiba aku dipecat oleh perusahaan? Kalau bilang tidak ada hubungannya sama kamu, aku sungguh tidak percaya! Bahkan penanggung jawab divisi personalia juga mengabaikan aku, tidak berani terus terang, Fanie, sialan sekali kamu!”


Menyalahkan tanpa bukti begini, Fani pasti tidak bisa terima.


“Julia, meskipun kamu dipecat, aku juga sangat terkejut saat melihat pemberitahuan, di saat yang bersamaan aku juga simpati sama kamu, tapi tidak berarti kamu bia menyalahkan aku sesuka hati, atau menghina aku! Terjadi hal yang demikian, kamu dipecat oleh perusahaan, pertama, tidakkah seharusnya kamu menginstropeksi diri? Begitu banyak anak magang di perusahaan, kenapa tidak memecat yang lain, malah memecat kamu, apakah kamu tidak merasa penyebabnya adalah kamu sendiri?”


Awalnya fanie tidak ingin terlalu kasar, daripada nanti di bilang membuat Julia terpukul lagi, tapi sekarang, Julia malah begitu tidak tahu diri, sungguh lebih keterlaluan daripada kemarin, lebih galak lagi, sehingga membuat dia dalam sekejap tidak bisa bersabar.


“Iya, aku juga tidak mengerti, kemarin kita baru bertengkar, bicara soal bertengkar, bukankah tidak akan berbunyi kalau hanya dengan satu telapak tangan, aku sungguh tidak mengerti, kenapa yang dipecat hari ini hanya aku sendiri, kenapa tidak memecat kamu juga, bukankah ini benar-benar tidak adil?” Omel Julia ke fanie.


“Kamu sendiri yang dipecat, kenapa ujung-ujungnya melempar tanggung jawab ke aku, aneh kamu ini! Aku malas untuk beradu sama kamu!” Fanie agak sebal, di salahkan tanpa sebab, sungguh tidak tahan!


“Kenapa aneh, kemarin aku baru saja bertengkar sama kamu, hari ini sudah dipecat sama perusahaan, Fanie, pasti kamu dalang di balik ini, benar tidak? Kalau berani melakukan harus berani mengakui juga, sekarang di hadapanku kamu adalah seorang pengecut, mengakui perbuatan sendiri pun tidak berani! Tinggal langsung bilang saja ada seseorang yang membantu kamu di perusahaan, serta orang yang berkekuasaan tinggi, orang penting yang tidak boleh disinggung, dengan begitu aku baru puas!” Julia paling benci dengan orang yang perkataan lain dari perbuatannya.


“Tidak ada yang bisa aku bicarakan dengan kamu!” Fanie kembali ke tempat duduknya dengan emosi, dia membalas penyalahan tidak berdasarnya dengan diam.


Anton tidak tahan lagi, saat fanie baru saja duduk, melihat tatapan fanie yang disalahkan padahal sebenarnya tidak bersalah, dalam hatinya langsung menegang, tidak seharusnya dia tinggal diam saja, dia adalah penanggung jawab grup anak magang, dipandang dari hubungan pribadi maupun umum, dia tetap seharusnya melerai.


Sama seperti kemarin, setelah itu dia menyesal sekali.


“Julia, seharusnya kamu tetap menjaga cara bicara kamu! Semuanya teman kantor, bukankah tidak baik juga kalau kamu segalak ini? Apalagi sekarang kamu tidak punya bukti yang konkret untuk membuktikan masalah ini memang berkaitan dengan Fanie? Kamu langsung berasumsi seperti ini, juga tidak adil terhadap fanie.”


Namun nasihatnya malah mendapat sanggahan dari Julia.


“Tidak ada kaitannya dengan dia? Anton, kamu juga membela dia bukan? Biasanya kalian tidak terlalu banyak berkomunikasi, tapi kalian suka diam-diam mengobrol di lorong pintu darurat, jangan kira kau tidak tahu, dulu aku tidak mengatakannya karena tidak mau mempermalukan kamu sebagai seorang penanggung jawab, sekarang kalau memang kamu juga tidak memihak ke aku, kalau begitu untuk apa aku masih membantu kamu merahasiakannya!” Julia kehilangan kontrol, sama sekali kehilangan rasionalnya, sekali bicara langsung keceplosan rahasia yang ia temukan.


Mendengar dia bicara demikian, semua orang didalam ruangan situ terkejut dan langsung hening.


Diam-diam dalam hati Gabby merasa senang sambil menatap ke arah Fanie.


Fanie merasa sakit hati, kesal sampai tidak berhentinya menggertakkan gigi.


Dia dan Anton memang tidak jarang mengobrol di lorong pintu darurat, tapi hanya sapaan dan obrolan biasa, sekarang malah di lebih-lebihkan oleh orang yang bernama Julia ini, seolah-olah antara mereka ada hubungan gelap saja.


Ekspresi Anton juga berubah seketika, ia lekas menjelaskan, “Julia, kamu jangan bicara sembarangan di sini, aku adalah atasan dan kamu bawahan aku, terjadi masalah seperti ini ke kamu, aku juga turut bersedih, makanya aku pikir ingin menghibur kamu, tidak diduga kamu malah bicara sesuka hatinya di sini! Aku itu seorang pria, kamu menggosipkan aku masih mending, tapi kamu malah sampai membawa-bawa Fanie, sungguh tidak masuk akal!”

__ADS_1


Awalnya Anton masih lumayan simpati sama dia, tapi sekarang rasa simpati dan kasihan ini sudah hilang seiring dengan ceplas ceplosnya Julia.


“Semua yang terjadi hari ini adalah akibat perbuatanmu sendiri! Julia, kalau kamu terus berkeras kepala seperti ini, tidak akan ada orang yang akan kasihan dan menyesali kepergian kamu!”


“Lihat, baru saja dibilang ada sesuatu dengan Fanie, penanggung jawab yang biasanya kalem pun kehilangan kontrol! Ternyata memang lorong pintu darurat paling cocok untuk melakukan hal pribadi yang tidak diketahui orang lain!” Sekali lagi Julia mengatai mereka.“


“Tidak ada hal seperti itu, Julia, kuberitahu kamu, aku memang pernah memanggil fanie ke lorong pintu darurat, tapi tidak ada yang dirahasiakan antara kami, aku memanggilnya keluar hanya untuk menanyakan perasaannya magang di sini, serta sarannya mengenai pekerjaan di sini, kami berdua sama sekali tidak ada hubungan gelap atau pun hubungan pribadi, pikiran buruk di otakmu sendiri, jangan melibatkan orang lain!” Anton tidak pernah suka berkata kasar ke orang lain, juga tidak mau mempersulit orang yang memang sudah dalam kesusahan, tapi hari ini dia benar-benar marah sekali.


“Haha, kamu lihat, kamu lihat, mengaku saja, mengakui kalian diam-diam ketemu di lorong pintu darurat saja!” Saat ini Julia tertawa histeris bagaikan orang gila!


“Gila, benar-benar orang gila, kalian bantu dia bawa keluar barangnya! Kalau masih di sini terus dia akan menggangung semua orang yang sedang bekerja, apakah masih bisa bekerja dengan normal kalau dia membuat onar terus?” Tidak bisa menang dari wanita gila ini, Anton pun hanya bisa memerintah satpam yang di samping untuk bantu mengusir.


Satpam tersebut sangat kekar, satu di kanan dan satu di kiri datang, dengan cepat sudah membereskan semua barang Julia, mereka memasukkannya ke dalam kotak, dan membawa kotak tersebut sambil ingin membawa orangnya pergi.


“Jangan dorong aku! Dasar brengsek kalian, kalian semua orang jahat! Apa salahku, sebenarnya apa salahku, mengapa kalian seperti ini sama aku? Bukankah wanita itu yang bersalah? Kenapa kalian tidak memecatnya juga?”


Dia tidak rela dan berusaha meronta, tapi tubuhnya yang mungil dan lemah, yang sudah terbiasa manja di rumah dan perusahaan, bukanlah lawan satpam, semua penolakannya hanya sia-sia, hanya akan membuat orang lain merasa semakin jijik.


Satpam tidak sungkan-sungkan lagi sama dia, langsung ditariknya secara paksa, masing-masing mengangkat dari samping dan membawanya pergi dari situ.


Saat ini yang bisa dilakukan Julia hanyalah tidak berhentinya menjerit, tidak berhentinya mengecam, mengeluarkan semua ketidakpuasan dan ketidakrelaannya.


“Sudah, semuanya lanjutkan pekerjaan masing-masing, aku tidak berharap masalah ini mengganggu pekerjaan semuanya!” Anton menepuk tangannya untuk menarik perhatian semua orang, lalu memerintah dengan serius.


Sampai saat ini, tidak seorang pun berani berbicara lagi, hanya kembali ke tempat duduk masing-masing dengan diam dan mulai bekerja.


Dalam hati fanie merasa tidak nyaman sekali, dia sama sekali tidak tahu menahu soal Julia dipecat.


Tapi mengapa Julia berasumsi pasti ada hubungannya dengan dia? Serta tatapan mata Gabby yang aneh, samar-samar seperti memberinya isyarat. Semua ini jika digabungkan, mau tidak mau membuat dia mulai curiga.


Anton kembali ke tempat duduknya sendiri, ia tidak bisa menenangkan hatinya dalam sekejap, sehingga diam-diam dia mengamati anak-anak magang tersebut, untungnya ia melihat mereka sudah mulai fokus ke pekerjaan masing-masing.


Tapi ada beberapa hal yang sekali sudah meninggalkan bekas di hatinya, maka tidak bisa dihilangkan tanpa bekas dengan gampang.


Dia mulai memandang ke arah tempat duduk Fanie, ternyata Fanie sepertinya juga sedang fokus ke pekerjaannya, setelah dipikir-pikir, akhirnya dia menundukkan kepala mengeluarkan ponsel, dengan cepat mengetik sebuah pesan.


“fanie, maaf, aku tidak tahu soal kita mengobrol di lorong pintu darurat akan dilihat oleh Julia, juga tidak lebih menyangka lagi dia akan mengatakannya di depan banyak orang, aku sudah salah menilai dia!”

__ADS_1


Setelah mengirim ke Fanie, dia tetap tidak lebih santai.


Karena sekarang, dia tahu hanya satu kata maaf dari dirinya, mungkin tidak bisa menyelesaikan semua masalah, juga tidak bisa membuat suasana hati fanie membaik.


Beberapa kali ia memanggil fanie mengobrol di lorong pintu darurat, sekarang kalau dipikir-pikir memang dirinya kurang berpikir cermat, karena dia sendiri tidak pernah menduga hal ini akan dijadikan senjata untuk menyerang fanie.


Dia juga tidak pernah menduga akan membuat fanie begitu dipersulit karena hal ini.


Namun sekarang, justru karena dia secara sepihak beberapa kali mengajak fanie bicara di lorong pintu darurat, sehingga Julia menggunakan hal ini untuk membuktikan dia dan fanie punya hubungan yang dirahasiakan.


Ponsel fanie berdering, dia tahu itu adalah dering pesan masuk, diambilnya ponsel dengan sebal, tapi sekali lihat baru menyadari bukanlah pesan tidak penting, melainkan pesan permintaan maaf dari Anton.


Anton meminta maaf kepadanya, tapi, apakah yang dia perlukan atau pedulikan adalah satu kata maaf ini?


Tidak, bukan.


Dia tahu, terjadi hal seperti ini, tidak seharusnya menyalahkan Anton, karena setiap kali dia memanggilnya keluar, hanya menanyakan soal pekerjaan, serta memperhatikan makan siang dan lainnya, yang ditanyakan hanyalah hal sepele yang umum-umum saja, sama sekali tidak seperti yang dimaksud Julia.


Tapi, mengapa dalam hatinya masih begitu tidak senang?


Dia tidak senang karena Julia sudah membeberkan kekurangannya di depan umum, merendahkan dirinya.


“Seharusnya dari awal aku menyadari tempat seperti lorong pintu darurat itu bukanlah tempat yang aman, kalau bukan dilihat dan dibeberkan oleh Julia, cepat atau lambat juga akan dilihat oleh teman kantor yang lain, jadi ini adalah hal yang akan terjadi cepat atau pun lambat, kalau tahu dari awal akan seperti ini, mungkin aku tidak akan seceroboh ini memilih tempat yang tidak aman untuk berbicara dengan kamu, semua ini karena kecerobohan aku, maaf!”


Selanjutnya, fanie mendapat isi pesan permintaan maaf yang panjang dari anton.


Tanpa sadar fanie tersenyum pahit, anton ini selalu saja begitu gentle, sebenarnya ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan dia, karena dia memanggilnya keluar juga untuk memperhatikannya.


Kalau tidak peduli dengannya, maka dia tidak perlu secara langsung mencarinya, karena memperhatikan keadaan pekerjaan dan kehidupan pribadi bawahan juga bukanlah sesuatu yang wajib dilakukan seorang penanggung jawab.


Logika memberitahunya ini tidak ada kaitannya dengan anton, tapi perasaan memberitahunya kalau anton tidak mencarinya, tidak memanggil dia keluar sendiri, bukankah akan bisa menghindar dari situasi canggung seperti ini?


Terhadap perkataan Julia, meskipun mereka sudah memberikan banyak penjelasan, tapi masalahnya, bukankah masalah seperti ini semakin dijelaskan malah semakin seperti menutup-nutupi? Mana bisa dijelaskan dengan sejelas-jelasnya?


Akhirnya fanie menebalkan muka membalas pesan anton.


“Tidak apa-apa, kamu tidak perlu sampai membuat aku dan temanku kesal karena Julia!

__ADS_1


Keberadaan Julia sangatlah tidak penting, kenapa perlu peduli dengan bicaranya yang sembarangan itu?


Iya, akhirnya dengan tidak gampang dia bisa berpikir jernih, yang namanya gosip hanyalah isu yang tidak nyata, kalau memang gosip yang tidak benar, suatu hari nanti pasti akan hilang sendiri, sekarang dia tidak perlu terlalu bersedih untuk masalah ini.


__ADS_2