
"Salah paham? Tidak, jika kamu tidak percaya kata-kataku, nanti cobalah kamu periksa sendiri rekaman CCTV nya, dengan kedudukanmu sekarang, saat meminta rekaman ini kepada petugas keamanan, mereka pasti akan bekerja sama denganmu sepenuhnya, dan lagi, karena hari ini Wakil CEO Leo berinisiatif untuk mengundangku, ada beberapa hal, yang kurasa juga harus kukatakan kepada Wakil CEO Leo, hal ini, sangat kebetulan sekali, adalah pendapat CEO Arya putra yang baru saja diutarakan, keputusan akan pemecatan ini, jika disupervisi oleh CEO Arya sendiri, aku hanyalah menyampaikan saja, jika Wakil CEO Leo dan teman Wakil CEO Leo, merasa tidak bisa menerima keputusan ini sekarang, akan lebih baik jika anda menganggap anda kurang beruntung, dan kebetulan terkena imbasnya, tapi jika tetap bersikeras untuk membuat masalah, aku khawatir CEO Arya tidak akan semudah itu melepaskannya!"
meri ini sudah menolak atau memperingatkan, perkataannya sangatlah jelas, Wakil CEO Leo ini juga adalah seorang yang cerdas, pembicaraannya sudah mencapai ke tahap ini, jika dia masih tidak berhenti untuk menggalinya, maka itu berarti dia sedang mendeklarasikan perang dengan CEO Arya yang baru datang itu!
Hanyalah menerima permintaan tolong seseorang saja, dia tidak mungkin hanya demi perihal ini, memutuskan untuk merelakan posisinya yang sudah dengan tidak mudah dia dapatkan ini.
"Sungguh terima kasih atas peringatan dari Asisten Meriando, nanti aku akan mencoba memperhatikan rekaman CCTV itu dengan seksama, Arto ini benar-benar, bagaimana watak asli anak semata wayangnya pun dia tidak mengerti? Masih pula mendatangiku, dan berlagak kasihan dan prihatin di hadapanku, aku juga dengan begitu mudahnya percaya dengan semua yang dikatakannya?" Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Wakil CEO Leo pun segera membuat garis menjauh yang jelas dengan Arto temannya itu.
Meri melanjutkan makan dan minum anggur merah, "Baguslah jika kamu mengerti! Ada beberapa hal, yang tidak bisa dikatakan sembarangan, tentu saja, pembicaraan di ruang makann ini, aku harap Wakil CEO Leo bisa melupakannya setelah ini semua."
Dengan kata lain, jika hal ini sampai tersalur keluar, pastinya akan membawa pengaruh yang buruk.
"Itu, tentu saja aku paham, aku tidak akan berbicara sembarangan." Wakil CEO Leo pun bergegas menyahutnya, punggungnya penuh dengan keringat dingin.
"Kalau begitu sudah tidak ada pertanyaan lagi bukan? Jika tidak ada, apakah aku boleh pergi?" Meri merasa jika dia harus berada di sini lebih lama lagi, dia akan kehilangan nafsu makannya.
"Jangan dulu, Asisten Meriando, makanan lezat di atas meja ini, sama sekali belum disentuh, aku tidak akan lagi mengungkit tentang orang yang mengecewakan itu, ya? Duduklah, kita santap makanan ini dengan tenang!" Wakil CEO Leo pun bergegas menarik Meriando untuk kembali duduk.
Saat seperti ini, jika dia sungguh membiarkan Meriando pergi begitu saja, bukankah dia sama saja dengan menyalahi orang kepercayaan Presdir?"
"Sungguh hanya untuk makan saja? TIdak membicarakan hal lain?" Meri mengernyitkan dahi dan bertanya.
"Tentu, hanya makan saja, hal lain tidak akan dibicarakan, tidak mengobrol juga tidak boleh kah?" Wakil CEO Leo ini jelas sudah kehabisan kata-kata, dia tidak menyangka asisten kecil seperti ini, ternyata juga merupakan seseorang yang sulit berbicara.
Tapi, siapa juga yang menyuruhnya ikut campur urusan orang lain? Demi sekotak Hadiah, dengan mudahnya dia menerima permintaan tolong orang, ini saja sudah menyalahi asisten ini.
"Baiklah kalau begitu, makan saja, boleh! Bagaimana pun juga nanti kita akan bekerja di perusahaan yang sama, menunduk tak melihat, mendongak akan bertemu, kalau aku, di perusahaan tidak ingin membuat suatu hubungan relasi yang rumit dengan para petinggi, bagaimana pun juga, itu juga tidak ada manfaatnya bagiku, di saat yang sama, aku juga tidak ingin Wakil CEO Leo menganggapku seperti seseorang yang spesial, tentang hal ini, kita anggap saja sudah lewat, besok saat bertemu, masih bisa makan bersama sebagai teman dekat, bagaimana menurutmu?"
Sebagai asisten pribadi Bos Besar Arya, Meri termasuk berjiwa toleran tinggi.
"Ini tentu sangatlah bagus, yang dikatakan Asisten Meriando ini benar adanya, besok ketika sedang senggang, di saat semua sedang ada waktu luang, bisa membuat janji keluar untuk minum teh bersama-sama, kemudian pergi mencari hiburan." Wakil CEO Leo mengatakannya dengan lega dan bahagia.
Mereka berdua pun akhirnya menghabiskan makan mereka kali itu.
Setelah keluar dari ruang VIP, dan berpisah dengan Meriando, tanpa berpikir dua kali Wakil CEO Leo pun segera menelepon bawahannya, dan menyuruhnya untuk memeriksa hasil rekaman CCTV, kemudian menyuruhnya untuk langsung melaporkan kepadanya, atau menyalin beberapa potongan video yang penting untuk diberikan kepadanya.
__ADS_1
Bawahannya itu pun segera menyalin video rekaman CCTV dan mengirimkannya ke ponsel Wakil CEO Leo, setelah wakil CEO Leo melihatnya, dia nyaris saja membanting ponselnya.
Wajahnya tampak penuh dengan amrah, dia pun segera menelepon Arti, sambil mengirimkan video itu kepadanya.
Sebelum Arto sempat melihat dengan seksama isi dari video itu, dia sudah menerima panggilan telepon dari Wakil CEO Leo.
"Lihatlah baik-baik kelakuan Julia anakmu selama di kantor, sengaja mempersulit suatu masalah, tidak bisa menyelesaikan urusan dengan baik, mempengaruhi kinerja pekerjaan, membuat keributan di bagian HRD, membuat keributan di bagian kelompok magang nya sendiri, perlakuan begini, apakah pantas untuk dilakukan oleh seorang perempuan berkarir? Arto, kamu sungguh mengecewakanku! Memang dia itu anak semata wayangmu, tapi kamu juga tidak bisa memahami sifatnya, apa kamu sebagai ayahnya, tidak mengerti akan hal itu? Atau, kamu tahu segalanya, tapi masih menutupinya dariku, lalu memintaku untuk mencarikan lubang untuk kalian di dalam perusahaan, aku juga sangat bodoh, bisa-bisanya aku mempercayaimu begitu saja!"
Wakil CEO Leo sangat murka, konsekuensinya sangatlah berat.
"CEO Leo, apa maksudnya, mengapa aku tidak mengerti?" Sekarang ini Arti masih tidak mengerti.
"Tidak perlu banyak bicara, gambaran-gambaran di video itu, kamu tonton dan nikmatilah!" Wakil CEO Leo pun dengan marah mengakhiri perbincangan yang tidak mengenakan itu.
Setelah ini dia yakin tidak akan lagi pernah berurusan dengan Arto, tentu saja dia tambah tidak mau menerima suapan orang.
Dia nyaris saja, menghanguskan perjuangannya selama ini, jika itu terjadi kepada siapa dia akan mengeluh?
Di sisi lain Arto tercengang, masih tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi, setelah menutup teleponnya, dia pun segera membuka video yang dikirimkan ke ponselnya.
"Anak tak berpendidikan ini!"
Saat Julia berlari pulang sambil menangis, dia sama sekali tidak menyinggung tentang semua ini, dia hanya berkata bahwa dia di ganggu dan dipecat oleh perusahaan, dan masih pula berkata bahwa dia tidak melakukan kesalahan besar apa pun selama dia bekerja di kantor, jadi mengapa kanotr memecatnya pun, dia sendiri juga tidak mengerti.
JIka diurutkan dari awal, ternyata bocah ini, bahkan tidak mengatakan yang sejujurnya pada ayahnya sendiri.
Kata-kata memaki orang itu, dia sama sekali tidak menyangka, apakah anak perempuan yang dirawat dan dibesarkannya itu sungguh bisa mengatakan kata-kata kotor seperti itu? Bahkan dia yang sudah berumur lebih dari setengah abad pun saat mendengar kata-kata kotor itu merasa sangat malu hingga telinga dan wajahnya memerah.
Tapi anaknya yang masih belia itu, bisa mengatakan hal seperti itu, tanpa menutupi apa pun seakan tanpa rasa malu sedikit pun.
Dia tidak lagi berniat untuk berada di luar terlalu lama, dia segera menyetir mboilnya dengan kecepatan penuh untuk pulang.
Sesampainya di rumah, dia tidak melihat bayangan Anaknya di lantai satu, begitu membalik badan, istrinya yang juga adalah ibu dari Julia menyambutnya.
"Hari ini mengapa pulang awal sekali? Apa kah ada perkembangan baru tentang Julia?"
__ADS_1
Akhir-akhir ini, karena masalah putrinya, ibu Julia pun ikut khawatir tak henti.
"Hm, kemana anak kurang ajar itu? Dimana dia?" Mengungkit tentang anak kurang ajar, amarah Arto kembali meledak-ledak.
"Ayah, ada apa? Julia sekarang ada di kamarnya, atau mau aku panggilkan dia sekarang juga?"
Dengan tidak sabar Arto menunjuk ke lantai atas sambil berteriak: "Pergi, pergi dan panggilkan anak kurang ajar itu ke sini!"
Amarahnya meluap-luap, wajahnya di luar, hampir saja hilang karena anak kurang ajar itu, setelah hari ini bagaimana dia akan melangkahkan kaki keluar? Hari ini dia kehilangan relasi dengan seseorang sepenting Wakil CEO Leo, nantinya dia tidak akan lagi mendapat perlindungan, ini sungguh suatu hal yang buruk.
Ibu Julia yang melihat suaminya begitu murka, juga tidak berani mengatakan apa-apa, dan segera naik untuk membangunkan Julia yang masih tidur.
Julia yang masih dalam keadaan setengah sadar itu pun terbangun kemudian turun mengikuti ibunya.
Siapa yang tahu, Arto yang dulunya melihat anak kurang ajarnya ini dengan penuh kasih dan kelembutan, berubah menjadi galak dan penuh amarah: "Tidur, tidur,tidur, sepanjang hari di rumah kerjaan hanya tidur! Kamu juga tidak tahu bagaimana kacaunya di luar, kamu hanya tahu tidur dan tidur saja di rumah!"
Amarah Arto sungguh memuncak, suaranya pun menggelegar memenuhi seisi rumah.
"Sayang, ada apa, bicaralah baik-baik dengan Julia, ya? Marah-marah dengan suara keras begini, bisa terdengar oleh tetangga kanan kiri, bukankah itu akan membuat keluarga kita malu?" Ibu Julia jugalah seseorang yang suka menjaga imej luarnya.
"Semua ini tidak luput darimu, karena kamu terlalu memanjakannya, sekarang aku sedang mengajarinya dengan tegas, kamu pun muncul dan melindunginya sejak dia kecil, kamu juga tidak melihat dia tumbuh menjadi seperti apa! Anak perempuan mengikuti contoh ibunya! Semua ini adalah kesalahanmu sebagai ibu!" Ada amarah Arto yang tidak bisa ditumpahkannya ke anaknya, dan lalu dia beralih dan berteriak dengan marah kepada istrinya.
"Mana ada aku memanjakan Julia? Aku hanya berkata dengan logika, kamu tidak puas dengan apa, kamu bisa langsung mengatakannya kepada anakmu, tunjukan kepadanya, dan suruhlah agar dia mau merubahnya, kamu datang dan berteriak dengan hal-hal yang tidak relevan, apa itu berguna?" Ibu Julia Liu pun ikut naik pitam, emosi suaminya, selama ini bisa dianggap cukup bagus, mengapa hari ini tiba-tiba emosinya meledak-ledak?
Seorang pria berjuang di luar untuk bekerja, terkadang memang tidak mudah, dia sebagai istrinya juga tahu itu, juga bisa memberi pertimbangan yang tepat.
Tapi, juga tidak bisa segegabah ini.
"Kamu bisa terus memanjakannya dan terus memanjakannya, dan suatu hari nanti akan menyakitinya! Cepat atau lambat, kamu akan menyesal!" Bahkan sekarang Arto pun melihat semua yang dilakukan istrinya tidak benar.
Jadi di saat suasana hati seseorang sedang buruk, mungkin apa pun yang dilihatnya dianggapnya tidak baik.
"Bicaralah dengan baik-baik, masalah tentang Julia , bagiaman hasilnya? Bukankah kamu sudah menyuap seseorang untuk menyelidikinya? Apa sudah ada hasilnya?" Untung saja, ibu Julia tampak tenang dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Keanehan suaminya hari ini, kemungkinan besar ada hubungannya dengan masalah putrinya, jadi dia sebagai ibu, juga masih memberati putrinya itu.
__ADS_1
"Cih, tanyakanlah pada putri kesayanganmu itu hal menarik apa yang sudah dia lakukan di perusahaan?" Arto mengungkitnya dengan marah.