
Ketika Naira sedang berada di kamarnya,tiba-tiba Naira dipanggil oleh Fatimah.
"Naira"kata Fatimah sambil menaiki tangga.
"Ada apa?"tanya Naira sambil keluar dari kamar dan bergegas menemui Fatimah.
"Naira,diruang tamu ada Attar, tolong kamu temui sebentar dan bawakan teh hangat beserta kue kering, bibi akan memanggil pamanmu jika sudah selesai sholat"kata Fatimah sambil menuruni tangga.
"Baik,bibi"kata Naira sambil menuruni tangga dan segera ke dapur.
Lima menit Attar menunggu,akhirnya Naira datang sambil membawa nampan kecil yang berisi teh panas dan kue kering.
"Silahkan dicicipi teh dan kuenya"kata Naira sambil menundukkan kepalanya.
"Terimakasih"sahut Attar.
"Pamanmu dimana?"tanya Attar.
"Paman saya sedang sholat"ucap Naira sambil melirik Attar.
"Sudah lama menunggu Attar"kata Zainal yang baru datang itu.
"Tidak juga"sahut Attar sambil melirik Naira.
"Ada perlu apa?"tanya Zainal.
"Begini,saya disuruh Abi untuk mengantarkan surat ini kepada bapak"kata Attar sambil menyerahkan lampiran beberapa surat.
"Terima kasih"sahut Zainal.
"Silahkan diminum tehnya"kata Zainal.
"Iya"ucap Attar sambil mengambil teh dan langsung diminumnya.
"Saya pulang dulu,takut nanti kemalaman, Assalamu'alaikum"kata Attar sambil mencium tangan Zainal.
"Waalaikumsalam"sahut Zainal.
Ketika Attar sudah pulang,Naira segera menghampiri pamannya yang sedang melihat tv diruang tengah.
"Paman,apa boleh Naira minjam telepon paman untuk menelpon ayah dan ibu,karena telepon Naira rusak"kata Naira sambil menatap pamannya.
"Silahkan,ini ponselnya"kata Zainal sambil memberikan Naira ponsel.
Naira segera mencari nomor ayahnya yang ada dikontak telepon pamannya,dan segera menghubungi ayahnya.
"Ada apa kakak?"tanya ayah Naira dari seberang sana.
"Ini diminum obatnya dulu"kata ibunya dari seberang sana.
"Ayah sakit ya,ayah sakit apa?"tanya Naira.
"Putri ayah ya yang menelepon,ayah tidak sakit cuma lelah saja"sahut ayahnya.
"Tapi suara ayah kok beda"kata Naira dengan khawatirnya.
"Mungkin perasaan kamu saja"kata ayah Naira.
"Cepat,berikan teleponnya kepada pamanmu,ayah mau ngomong"ucap ayahnya sambil menahan batuk.
"Iya,ayah"sahut Naira.
"Paman,ayah ingin berbicara dengan paman"kata Naira sambil memberikan ponsel kepada pamannya.
"Cepat kamu tidur,besok kamu akan ke sekolah"kata Zainal sambil melihat Naira masih berdiri.
"Iya paman,selamat malam"sahut Naira sambil pergi dan menaiki tangga.
__ADS_1
********
Keesokan harinya,saat Naira menuruni tangga ia melewati kamar paman dan bibinya,dan tak sengaja Naira mendengar percakapan mereka berdua.
"Mas,seandainya putri kita masih hidup,pasti sekarang sudah sebesar Naira"kata Fatimah sambil bertata rias di depan cermin.
"Iya sayang,itu sudah kehendak Allah,tapi kita masih diberi penglihatan untuk menatap mata putri kita"sahut Zainal sambil mau membuka pintu kamarnya.
Mendengar pintu kamar pamannya akan terbuka,Naira segera bersembunyi dibawah tangga.
"Apa yang dikatakan paman tadi,masih diberi penglihatan untuk menatap mata putrinya,sedangkan putrinya sudah meninggal? Sepertinya paman dan bibi menyimpan rahasia tentang putrinya? apa mungkin ayah dan ibu juga mengetahui nya"tanya hati Naira yang tidak karuan saat ini.
Saat Naira sedang bersembunyi,Zainal dan Fatimah memanggil Naira,namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Mas,Naira tidak ada di kamarnya"kata Fatimah dengan perasaan panik.
"Sebentar saya cari disana dulu"kata Zainal.
"Apa ada Naira disana Mas?"tanya Fatimah dengan khawatirnya.
"Tidak ada"kata Zainal.
"Terus dimana Naira berada?"tanya Fatimah yang sedang bingung.
"Naira"teriak Zainal dengan sangat nyaring sehingga membuat Naira sadar dari lamunannya.
"Ada apa paman?"tanya Naira yang keluar dari bawah tangga.
"Kamu dari mana saja,kami nyariin kamu"kata Fatimah.
"Maaf,Naira habis dari kamar mandi"sahut Naira.
"Ya sudah,ayuk kita berangkat nanti telat lagi"kata Zainal.
"Bibi,saya mau berangkat ke pesantren dulu,Assalamu'alaikum"kata Naira sambil mencium tangan Fatimah.
**********
Saat Naira dan pamannya memasuki gerbang pesantren,Naira melihat Attar sedang menyapu ranting pohon dan daun-daun yang sudah kering.
Begitu juga dengan Attar yang melihat Naira baru datang bersama bapak Zainal.
"Naira,kamu ke kelas saja duluan,paman mau ke ruang kantor ustadz Riduan"kata Zainal sambil meninggalkan Naira sendiri.
"Iya paman"sahut Naira sambil berjalan.
"Naira tunggu"kata Attar sambil menghampiri Naira.
"Ada apa?"tanya Naira.
"saya baru beli dua tasbih,satu untuk saya dan satu lagi untuk kamu,agar kamu bisa terus mengingat Allah"kata Attar.
"Terimakasih"sahut Naira sambil berjalan menuju kelasnya.
"Sama-sama"kata Attar dengan suara lembut.
"Sepertinya ada yang lagi sedang jatuh cinta nih"kata Iqbal kepada Attar.
"Diam saja kamu,ikuti alurnya saja"sahut Attar.
"Kalian berdua mau ngobrol,atau menyapu halaman"kata Abi Attar sambil melihat mereka sedang berbicara.
"Sedang menyapu Abi"sahut Attar sambil tersenyum.
"Lanjutkan menyapunya"sahut Abi Attar.
Didalam ruangan,Naira tampak memperhatikan tasbih yang diberikan Attar kepadanya.
__ADS_1
"Tasbih baru ya"kata Lusy yang sudah datang dari awal.
"Iya diberi Attar"sahut Naira.
"Kamu jangan terlalu dekat dengan Attar,karena waktu itu Attar akan dijodohkan dengan Azizah"sahut Lusy.
"Benarkah"sahut Naira sambil terkejut.
"Iya,Abi Attar berteman sejak kecil dengan Ayahnya Azizah,oleh karena itu Attar dan Azizah di jodohkan"kata Lusy sambil memandangi Naira.
"Apakah Azizah pernah diberi sesuatu oleh Attar?"tanya Naira.
"Sepertinya tidak pernah sih,kalaupun Azizah diberi sesuatu oleh Attar pasti dia bercerita kepadaku"sahut Lusy.
"Attar itu orangnya seperti apa sih?"tanya Naira sambil menatap Lusy.
"Attar itu orangnya baik dan juga lemah lembut,dan banyak santri putri yang menyukainya,dan siapa pun nanti yang menjadi istri Attar pasti hidupnya bahagia"sahut Lusy.
"Udah ganteng,sopan,baik,pintar,Sholeh lagi.Siapa sih yang gak mau menjadi istrinya Attar"kata Lusy kepada Naira.
"Pasti lagi ngomongin Muhammad Attar Maulana iyakan"kata Azizah yang baru datang.
"Iya"jawab Naira.
"Emang benar kamu dijodohkan dengan Attar?"tanya Naira kepada Azizah.
"Iya,Abi Attar dan ayahku adalah berteman sejak kecil dan juga ayahku yang membantu Abi Attar untuk membangun pesantren ini"sahut Azizah sambil mau mengambil Al-Qur'an.
"Pasti Akmal juga akan dijodohkan dengan Bella,karena mamanya berteman dengan bunda Bella,jadi yang dikatakan Bella waktu itu memang benar"kata hatinya Naira.
"Aku kangen dengan kamu Akmal,kamu lagi ngapain disana"kata hati Naira sambil melihat gelang pemberian Akmal yang masih melekat di pergelangan tangannya.
"Naira kamu lagi haidnya,kenapa tidak mengambil Al-Qur'an?"tanya Azizah.
"Tidak kok, saya tadi melamun"sahut Naira sambil mengambil Al-Qur'an yang berada di dalam lemari.
*******
Didalam ruang perpustakaan,Naira sedang asyik memilih buku yang akan ia baca,melihat Naira yang sedang sibuk memilih buku,Attar datang dari belakang Naira dan segera memberikan Naira sebuah buku.
"Naira,baca buku ini saja"kata Attar sambil memberikan buku tentang indahnya pernikahan.
"Tidak perlu,saya tidak ingin terlalu cepat memikirkan tentang itu"sahut Naira.
"Kenapa?"tanya Attar sambil melihat Naira sedang asyik mencari buku yang ia inginkan.
"Umur saya baru 17 tahun"sahut Naira.
"Alhamdulillah,akhirnya saya menemukan buku ini juga"kata Naira sambil duduk di kursi.
"Buku apa Naira?"tanya Attar sambil melihat Naira membaca buku itu.
"Buku sejarah kisah Baginda Nabi Muhammad S.A.W"sahut Naira.
"Attar apa saya boleh bertanya?"tanya Naira.
"Boleh,mau tanya apa?"tanya Attar.
"Saya dengar dari teman, memang benar kamu dijodohkan dengan Azizah"kata Naira sambil membuka buku.
"Iya,Abi saya yang menjodohkan,tapi tetap saja pilihan ada ditangan saya,kan saya yang menjalani rumah tangga,bukan Abi saya"sahut Attar.
"Sebaiknya,kita jaga jarak saja,saya takut Azizah salah paham dengan saya,kalau begitu saya pamit keluar dulu, Assalamu'alaikum"kata Naira sambil berjalan keluar dari ruang perpustakaan.
"Waalaikumsalam"sahut Attar sambil melihat Naira berjalan.
*Bersambung*
__ADS_1