Cinta Naira

Cinta Naira
Kepergian Ayah Naira


__ADS_3

Ayah Naira dimakamkan ditempat kelahirannya yang tidak jauh dari rumah Zainal. Ia dimakamkan disebelah kakek dan neneknya Naira. Ketika semua pelayat sudah pulang hanya tersisa Naira dan keluarganya saja yang masih berada disana.


"Ibu,yuk kita pulang"ajak Naira.


"Ibu masih ingin disini"sahut Rahmawati sambil meneteskan air mata.


"Nita,yuk kita pulang duluan,nanti ibu dan Naira nyusul"ajak Fatimah yang menggandeng tangan Nita.


"Iya bibi"sahut Nita.


"Ibu,kita ikhlaskan kepergian ayah"kata Naira.


"Ibu, yuk kita pulang"ajak Naira.


"Iya sayang"kata Rahmawati sambil berjalan meninggalkan makam suaminya.


Setelah sampai dirumah Zainal,Fatimah segera mandi dan menyiapkan keperluan pengajian yang akan diadakan dirumah Zainal.


"Naira, bawa ibumu masuk kedalam kamar"kata Firda.


"Iya tante"sahut Naira sambil membawa ibunya kedalam kamar.


"Ibu, Naira keluar sebentar, jika ibu butuh sesuatu, ibu bisa panggil Naira"ucap Naira sambil keluar kamar.


"Paman, dimana Nita?"tanya Naira yang melihat Zainal sedang minum kopi.


"Nita dengan Attar diruang tamu"sahut Zainal.


"Nita"panggil Naira sambil berjalan kearah ruang tamu.


"Ada apa kakak Naira?"tanya Nita yang duduk disebelah Attar.


"temenin ibu didalam kamar"sahut Naira sambil memandangi Nita.


"Baik"sahut Nita sambil berjalan meninggalkan Attar dan Naira diruang tamu.


"Dimana Abi dan ummi?"tanya Naira sambil duduk di sofa.


"Abi dan ummi sudah pulang duluan"sahut Attar.


"Apa kamu akan menikah dengan dokter Akmal?"tanya Attar sambil menatap mata Naira.


"Saya belum memikirkannya, karena kepergian ayah saya belum genap 100 hari"sahut Naira.


"Maaf jika saya bertanya seperti itu"ucap Attar.


"Tidak apa-apa, saya mengerti perasaan kak Attar"sahut Naira.


"Naira"panggil paman yang melihat Naira dan Attar sedang mengobrol.


"Ada apa paman?"tanya Naira.


"Bantu bibi dan tante Firda di dapur"sahut Zainal.


"Baik"kata Naira sambil menatap Attar.


"Paman,kalau begitu saya pamit pulang dulu, Assalamu'alaikum"kata Attar sambil mencium tangan Zainal.


"Waalaikumsalam"sahut Zainal.


      ********


Didalam kantor Abi dan ummi sedang mengobrol bersama tiba-tiba Attar datang dari balik pintu.


"Assalamu'alaikum"kata Attar.


"Waalaikumsalam"sahut Abi dan ummi.


"Kenapa kamu murung begitu?"tanya Abi yang melihat Attar bersandar di sofa.


"Tidak apa-apa Abi,saya cuma lelah saja"sahut Attar.


"Ya sudah,ummi mau kerumah bapak Zainal dulu mau membantu mempersiapkan pengajian almarhum ayah Naira, Assalamu'alaikum"sahut ummi sambil keluar dari kantor.


"Waalaikumsalam"sahut Abi dan Attar.


"Attar, Abi tahu kamu ada masalah yang kamu hadapi,coba ceritakan kepada Abi, Abi siap mendengarkan kamu"kata Abi sambil menatap Attar.


"Kenapa Abi tahu bahwa Attar ada masalah?"tanya Attar.

__ADS_1


"Ya jelas Abi tahu,kan Attar anaknya Abi"sahut Abi.


"Almarhum ayah Naira menjodohkan Naira dengan dokter Akmal"sahut Attar.


"Abi tahu perasaan kamu, tapi jodoh itu sudah diatur oleh Allah, bisa jadi kamu jodohnya Naira"sahut Abi sambil melihat Attar.


"Maaf ya, Abi mau menemui ustadz Riduan dulu"kata Abi.


Ketika Naira sedang mengepel lantai, tiba-tiba dokter Akmal datang dan berdiri didepan pintu.


"Assalamu'alaikum"kata dokter Akmal yang melihat Naira mengepel lantai.


"Waalaikumsalam"sahut Naira


"Akmal,silahkan duduk"kata Naira.


"Terimakasih"sahut dokter Akmal.


"Kamu tahu dari mana alamat rumah saya disini?"tanya Naira.


"Dari rumah sakit"sahut Akmal malu-malu.


"Naira, siapa yang datang"kata Rahmawati sambil berjalan kearah ruang tamu.


"Dokter Akmal"sahut Naira.


"Kenapa kamu tidak mengambil air minum untuk dokter Akmal"kata Rahmawati.


"Astaga saya lupa, tunggu sebentar ya"sahut Naira.


"Tidak usah repot-repot"kata dokter Akmal.


"Tidak apa-apa"kata Rahmawati.


"Bagaimana dengan keadaan ibu?"tanya dokter Akmal.


"Alhamdulillah, keadaan ibu baik-baik saja"sahut Rahmawati.


"Syukurlah, kalau ibu baik-baik saja"sahut dokter Akmal.


"Silahkan diminum tehnya"kata Naira sambil meletakkan gelas didepan Akmal.


"Dimana Nita?"tanya dokter Akmal.


"Nita, tidak boleh begitu dengan kakak Akmal"sahut Rahmawati.


"Saya membawakan ini untuk Nita"kata  dokter Akmal sambil memberikan kantong plastik warna putih.


"Apa isinya?"tanya Naira.


"Wow, cantik sekali tas dan tempat pensilnya, terimakasih kakak Akmal"sahut Nita.


"Sama-sama"sahut Akmal.


"Ara dimana, apa dia tidak ikut kesini?"tanya Nita.


"Ara sedang liburan"sahut Akmal.


"Siapa Ara?"tanya Naira.


"Ara itu teman sekelas Nita dan juga adik kandung dokter Akmal"sahut Rahmawati.


"Benarkah"kata Naira.


Saat mereka mengobrol, tiba-tiba ummi khasanah datang dari balik pintu.


"Assalamu'alaikum"kata ummi yang melihat mereka sedang duduk di ruang tamu.


"Waalaikumsalam"sahut Naira sambil mencium tangan ummi Khasanah.


"Siapa laki-laki itu?"tanya ummi khasanah yang melihat Akmal.


"Dia dokter Akmal, calon suaminya Naira"sahut Rahmawati yang membuat ummi terkejut.


"Benarkah Naira?"tanya ummi.


"Naira, saya pamit pulang dulu, karena saya harus pergi kerumah sakit, Assalamu'alaikum"kata Akmal sambil mencium tangan Rahmawati.


"Waalaikumsalam"sahut Rahmawati.

__ADS_1


"Yuk, kita ke dapur"kata Rahmawati kepada ummi khasanah.


"Iya"balas ummi dengan senyum.


"Ummi, kapan datang?"tanya Zainal sambil mencium tangan ummi khasanah.


"Baru saja"sahut ummi Khasanah.


"Silahkan duduk dulu"kata Zainal yang duduk diruang tengah.


"Apa saya boleh bertanya?"tanya ummi kepada Zainal.


"Boleh ummi, mau bertanya apa?"tanya Zainal.


"Apakah dokter Akmal itu calon suaminya Naira?"tanya ummi khasanah.


"Saya tidak tahu tentang itu, ummi bisa bertanya langsung kepada Naira"sahut Zainal yang tidak ingin membuat ummi kecewa.


"Silahkan diminum tehnya"kata Firda.


"Terimakasih"sahut ummi.


"Nita, apa kamu membeli tas baru?"tanya Firda yang duduk diseberang ummi khasanah.


"Tidak, calon kakak ipar yang memberikannya"sahut Nita tersenyum.


"Siapa calon kakak ipar Nita?"tanya ummi khasanah.


"Kakak dokter"sahut Nita.


"Nita"panggil Naira dari dalam kamar.


"Ada apa?"tanya Nita yang berlari masuk kamar.


"Kalau didepan ummi, Nita tidak boleh berbicara mengenai dokter Akmal, mengerti"kata Naira sambil melihat ummi khasanah diruang tengah.


"Iya kak, maafkan Nita"sahut Nita sambil meninggalkan Naira didalam kamar.


"Kenapa saya bertemu dengan Akmal dalam keadaan seperti ini, apakah Akmal masih menyukai saya lagi"kata hati Naira.


"Bagaimana dengan Attar, jika saya menikah dengan Akmal?kenapa saya dipertemukan lagi dengan Akmal,ketika saya ingin memulai menjalin hubungan dengan Attar"


  **********


Diruang tengah, terlihat Akmal masih terbayang dengan Naira,ia tidak menyangka bahwa ia akan menikah dengan perempuan yang selama ini ia cintai. Disaat Akmal sedang asyik nonton TV, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Assalamu'alaikum"kata mama Akmal.


"Waalaikumsalam"sahut Akmal.


"Bagaimana dengan pekerjaan kamu disana?"tanya papanya dari seberang sana.


"Alhamdulillah, pekerjaan Akmal lancar disini"kata Akmal.


"Kapan mama dan papa akan pulang?"tanya Akmal.


"Seminggu lagi mama dan papa akan pulang"sahut papanya.


"Cepat pulang, Akmal akan mengenalkan calon istri Akmal kepada mama dan papa"sahut Akmal sambil tertawa.


"Benarkah, jangan membohongi mama dan papamu"sahut mamanya dengan perasaan senang.


"Benar, Akmal tidak bohong"sahut Akmal.


"Alhamdulillah, anak papa tidak jomblo lagi"kata papanya.


"Apakah perempuan itu bisa memasak?"tanya mamanya.


"Lihat saja nanti"sahut Akmal sambil tertawa.


"Ya sudah, mama tidak sabar ingin bertemu dengan calon menantu, dua hari lagi mama dan papa akan pulang"sahut mamanya.


"Cepat banget, katanya seminggu lagi"kata Akmal sambil tertawa.


"Mama tidak sabar ingin melihat calon istrimu"kata mamanya.


"Akmal, kalau memilih istri jangan seperti mamamu"sahut papanya.


"Kenapa?"tanya Akmal sambil tertawa.

__ADS_1


"Mamamu galak"sahut papa sambil tertawa.


*Bersambung*


__ADS_2