Cinta Naira

Cinta Naira
Menghadapi menantu seperti Bella


__ADS_3

Ketika Attar memasuki kantor,ia heran melihat kursi yang menjadi tempat duduk Naira,ditempati oleh Azizah.


"Dimana Naira?apa hari ini dia tidak masuk lagi?".


"Tidak tahu, sudah tiga hari Naira tidak masuk dan Abi menyuruh saya untuk menempati kursi ini"


"Dimana Abi?".


"Abi, berada dihalaman pesantren bersama bapak Zainal".


Attar segera berlari dan menghampiri Abi yang sedang berbicara dengan Zainal.


"Abi"teriak Attar.


"Ada apa?"


"Kenapa kursi Naira ditempati oleh Azizah?"


"Naira mengundurkan diri untuk tidak mengajar lagi"


"Kenapa?"


"Abi tidak tahu"


"Apa paman Zainal mengetahui kenapa Naira mengundurkan diri?".


"Saya baru tahu hari ini kalau Naira mengundurkan diri".


"Yuk, kita pergi ke sana"ajak Abi kepada Zainal yang meninggalkan Attar sendiri.


"Saya harus menemui Naira dirumahnya"ungkap Attar yang langsung keluar dari pintu gerbang menggunakan sepeda motor.


Singkat cerita sampailah Attar dirumah Naira yang besar dan pintu pagar rumahnya yang masih terkunci gembok. Rumah itu adalah rumah yang diberikan Akmal kepada Naira.


"Naira.."teriak Attar dari luar pagar,namun tidak ada jawaban atas teriaknya.


"Naira.."teriaknya lagi sampai mengetok pagar rumah Naira menggunakan batu kecil.


Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya Attar pulang,ia pulang bukan ke pesantren tapi ia pergi kerumah sakit untuk menemui dokter Akmal,ia berpikir pasti dokter Akmal yang menyembunyikan Naira dan keluarganya. Dan saat Attar sampai dirumah sakit,ia berteriak seperti orang gila sampai membuat kekacauan di rumah sakit.


"Dokter Akmal.."teriak Attar yang mulai membuat suster disana ketakutan.


"Anda mencari siapa?"tanya seorang dokter yang menghampiri Attar.


"Dimana dokter Akmal?".


"Dia berada diruang sana, yuk ikuti saya"tanpa basa-basi Attar segera mengikuti dokter itu hingga berhenti disebuah ruangan yang digunakan khusus dokter.


Disana Attar melihat dokter Akmal sedang berbicara dengan anggota pasien.


"Dokter Akmal ada yang mencari mu"ungkap dokter itu sambil menjauh dari Attar.


"Iya sebentar"


"Attar"dokter Akmal yang kaget pasalnya tanpa aba-aba,Attar sudah melayangkan tamparan ke wajah Akmal.


"Kenapa kamu menyembunyikan Naira dari aku?"


"Apa maksudmu kamu?"tanya Akmal yang juga membalas tamparan dari Attar.


"Kemana kamu menyembunyikan Naira?"

__ADS_1


"Aku tidak menyembunyikan Naira"


"Benarkah, jika kamu tidak menyembunyikan Naira, kemana Naira dan ibunya pergi?"


"Naira pergi dari rumah"terkejut Akmal yang mendengar perkataan Attar,dan segera ia berlari menuju mobilnya.


"Jadi dokter Akmal tidak menyembunyikan Naira, terus Naira pergi kemana?"kata hati Attar.


Setelah pulang dari rumah sakit Attar segera kembali ke pesantren. Ia duduk didalam perpustakaan tempat yang biasa Naira tempati. Saat Attar membersihkan berkas-berkas yang berserakan diatas meja Naira,ia melihat undangan pernikahan yang tercantum namanya dengan Azizah.


"Siapa yang membuat undangan pernikahan ini?apa ini yang membuat Naira pergi dari rumah?"tanya Attar yang langsung keluar dari perpustakaan dan menghampiri Azizah yang berada didalam kantor.


"Apa kamu yang membuat undangan ini dan memberikannya kepada Naira?"


"Bukan,saya"jawab Azizah.


"Jangan bohong kamu"bentak Attar dengan melemparkan undangan itu kemuka Azizah.


"Ummi yang buat undangan itu dan memberikannya kepada Naira"


"Mengapa ummi melakukan semua ini?"


"Ummi melakukan semua ini untuk menyelamatkan pesantren ini, ummi tidak mau dengan keberadaan Naira, kamu tidak bisa melupakannya"


"Apakah ummi selama ini hanya memikirkan pesantren ini?bukan memikirkan perasaan anakmu ini"


"Ummi selalu memikirkan kamu, tapi ummi tidak bisa melihat Abi kamu menangis tiap malam karena memikirkan nasib pesantren ini"


"Terserah ummi saja"membuat Attar pergi dari pesantren.


   ******


"Ada apa kamu marah-marah begitu?"baru juga datang Mirna sudah melihat muka Bella seperti kebakaran.


"Bunda, tahu tidak dengan Rania, Rania itu kembarannya Naira. Dia tahu semuanya tentang aku"ungkap bella dengan kesal.


"Terus.."


"Terus Rania meminta uang 100 juta, ya aku beri untuk menutup mulutnya"


"Uang dari mana kamu?"


"Iya, uang dari mertua aku, untung saja dompet mertua aku ketinggalan dimeja kantornya. Jadi aku ambil deh kartu ATM nya"


"Apa kamu tahu nomor pin nya?"


"Awalnya aku tidak tahu, tapi ternyata tanggal pernikahan mereka".


"Oh begitu, cepat kamu kembalikan kartu ATM nya. Nanti mereka bisa curiga sama kamu"


"Iya bunda"


"Bagaimana dengan Rania?"


"Sepertinya mereka pergi jauh"


"Bagus kalau mereka pergi jauh, setidaknya rencana kita tidak ada yang menganggu"senyum licik dari Mirna.


"Alhamdulillah, aku sudah berhasil masuk ke kantor papa mertuaku,tapi aku belum mendapatkan dokumen itu".


"Kamu harus bisa mendapatkan dokumen itu".

__ADS_1


"Sepertinya dokumen perusahaan mereka tidak berada kantor. Apa jangan-jangan disimpan dirumah mereka?"tanya batin Bella.


"Mungkin didalam lemari atau laci meja"ujar Mirna yang menyakinkan putrinya.


"Aku harus bisa masuk kedalam kamar mertuaku".


"Bunda selalu berdoa agar kamu berhasil mendapatkan dokumen itu".


"Terimakasih bunda".


      *****


"Dari mana kamu, jam segini baru pulang?"tanya Sisca yang melihat menantunya baru datang dengan mengendap-endap.


Sisca yang kini kewalahan menghadapi tingkah laku menantunya yang tidak lain adalah Bella,ya semenjak Bella menikah dengan putranya Akmal. Akmal sering menghabiskan waktunya dirumah sakit dan jarang Pulang kerumah kecuali sekedar makan.


"Itu ma, dari rumah bunda. Bunda kangen dengan saya"dengan suara gugup Bella yang mematung didepan pintu masuk.


"Untuk apa kamu menghabiskan uang 100 juta?"tanya papa mertua yang sedang menatap Bella ingin masuk kamar.


Sekejap Bella kaget mendengar papa Mertuanya,yang ia tahu bahwa mertuanya waktu itu tidak ada didalam kantor alis waktu jam istirahat,kenapa papa mertuanya tahu mengenai ia menghabiskan uang 100 juta. "Habislah aku"kata hati Bella yang campur aduk.


"Apa kamu tidak dengar perkataan papa?"yang membuat Bella sadar dari lamunannya.


"Itu..,untuk membeli perlengkapan bayi,kan sebentar lagi mau lahiran".


"Sebanyak itu kamu membeli perlengkapan bayi sampai habis uang 100 juta"teriak mertuanya yang membuat kuping Bella sakit mendengarkannya.


"Tidak habis kok papa, masih ada tersisa di ATM aku sekitar 50 juta"Bella yang takut akan kemarahan mertuanya kini ia hanya bisa menundukkan kepalanya dan sekaligus berbohong mengenai uang tersebut.


"Mana sisa uangnya?"tanya papa dengan suara lantang.


"Ada dikartu ATM"sahutnya dengan takut.


"Besok papa minta, kamu mentransfer uang 50 juta itu  ke rekening saya"sahut mertua yang membanting pintu kamar dengan suara keras.


Bruk!


"Ampun saya menghadapi sikap menantu kamu itu"ujar suaminya dengan nada marah.


"Mama juga pusing papa, menghadapi sikap Bella seperti itu. Sudah bangun kesiangan dan malas lagi"ujar Sisca menambahkan.


Ketika Sisca dan Anton saling membuang kekesalan masing-masing terhadap menantunya, tiba-tiba Bella mengetuk pintu kamar mertuanya.


Tok..tok..tok.


"Ada apa?"tanya mertuanya yang dulu bersikap baik memohon ingin ia menjadi menantu,kini berubah menjadi macan yang siap memangsa Bella. Melihat kemarahan dimuka ibu mertuanya kini dengan merasa takut ia tahan untuk menanyakan keberadaan suaminya Akmal.


"Itu..anu.."dengan gugup suara Bella.


"Itu apa?"tanya mertuanya dengan mata melotot kearah Bella.


"Mama, Akmal kemana?kenapa malam ini tidak pulang lagi?"


"Akmal lembur dirumah sakit"sahutnya Sisca sambil membanting pintu kamarnya.


Bruk!


"Dasar nenek lampir, bisanya cuma marah terus, bisa gila aku disini"kata Bella yang emosi.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2